
BAB VI
MENGISLAMKAN PEWARIS ILMU JENGGOLO
Semua yang tidak kesakitan, mulai tegang. Mereka tahu, betapa kesaktian Ki Sipang. Meski usianya belum tua, tapi ilmu kanoragan yang dimiliki cukup menakutkan. Dengan bekal ilmu kesaktiannya itu, cukup mudah bagi Ki Sipang untuk mengumpulkan cantrik dan anak buah.
Lalu mereka menjadi berandalan pengangguran. Kerja mereka mengganggu orang-orang di jalanan, di sawah, atau di pasar. Tempat favorit mereka, ya di sebuah kali kecil ini. Karena ini memang satu-satunya jalan yang bisa dilintasi.
Mereka bukanlah begundal kelas kakap. Mereka hanya meminta uang atau bahan makanan seperlunya saja.
Sebenarnya, kesaktian Ki Sipang cukup menggetarkan dunia persilatan, meski namanya tak setenar Pendekar Gunung Tidar. Siapa yang pernah bertarung dengan Ki Sipang, barulah mengakui bahwa Ki Sipang mempunyai ilmu tataran sempurna.
Mungkin karena bawaan ilmunya, yang mengharuskan dia tak boleh menjadi orang besar atau pejabat inilah, Ki Sipang menjadi begundal kelas kampung.
Dan, sepanjang sepak terjangnya menjadi begundal, baru kali ini mendapatkan lawan yang menurut dia, mempunyai ilmu kesaktian. Maklum, selama berkarir sebagai begundal uang recehan, tak ada satu pun yang mempunyai ilmu kesaktian luar biasa. Kalau pun ada, mereka tentu enggan bertarung melawan Ki Sipang, karena yang diminta hanya sedikit saja. Ki Sipang tak pernah meminta harta banyak, dia hanya meminta secukupnya, untuk dia dan anak buahnya saja.
Hanya saja, sikapnya yang sok jagoan itu, yang menjadikan orang-orang enggan berurusan dengan kelompok Ki Sipang.
Dan kali ini, Ki Sipang dibuat marah oleh ulah Sunan Kembang Kuning. Meski dalam posisi tidur, dia bisa membuat beberapa anak buahnya kelojotan sakit.
Ki Sipang merapal mantra, tangan ditangkupkan.
Semua tambah tegang.
Perlahan, dari tangkupan tangan itu, keluar asap putih. Kian lama kian banyak. Ketika asap putih seakan berhembus kencang dari telapak tangan Ki Sipang, saat itulah tenaga yang terkumpul di telapak tangan sudah di titik puncak dan siap untuk dihantamkan.
“Hei Bungkuk, terimalah ini pukulan aji-aji *** Baung Rancak ini,” teriak Ki Sipang, sambil berlari ke arah Sunan Kembang Kuning yang masih tidur, bertelekan tongkat.
Ki Sipang bergerak sangat cepat.
Beberapa anak buahnya, terkesiap kaget dan kagum. Tak salah jika mereka mengikuti Ki Sipang, sebagai penerus ilmu-ilmu lawas Jenggolo itu.
Tangan Ki Sipang memilih punuk Sunan Kembang Kuning untuk dipukul, sedangkan satu tangan lagi memilih bagian kepala untuk dihajar. Harapannya, tenaga dalam yang masuk lewat punuk dan juga dari kepala, akan bertemu di bagian leher.
Dengan pertemuan dua tenaga dalam besar dari tangan kiri dan tangan ini, bisa menyebabkan pembuluh darah di bagian leher akan pecah. Bahkan bisa ambyar, jika sekiranya yang terkena pukulan hanya orang biasa saja.
Anak buah Ki Sipang yang tak mengerti tentang ilmu aji-aji *** Baung Rancak ini, sudah dibuat kagum. Apalagi jika seandainya mereka tahu, gaya serangan rahasia yang bertujuan khusus untuk mengoyak leher, layaknya anjing hutan mengoyak leher mangsanya itu.
Jarak antara Sunan Kembang Kuning yang masih tidur dengan dengan Ki Sipang semakin dekat. Dan jarak antara tangan penuh tenaga dalam dengan sasaran semakin dekat.
"Blar!"
Muncul suara sangat kencang, sebelum dua telapak tangan Ki Sipang menyentuh punuk dan kepala.
Dan tiba-tiba saja, tubuh Ki Sipang terpental.
Berguling-guling beberapa kali.
Diam tak bergerak.
Beberapa anak buah Ki Sipang yang melihat, hanya bisa melongo dan tak berani bergerak.
Karena muncul suara ledakan kencang itu, menjadikan Sunan Kembang Kuning terbangun dari tidurnya.
Dia mengerjap-ngerjap matanya, dan melihat sekeliling.
"Kalian semua kena apa?"
Yang ditanya hanya diam. Sebagian mengerang kesakitan sambil kelojotan di tanah, sebagian lagi dia mematung, dan Ki Sipang tak sadarkan diri.
Tertatih Sunan Kembang Kuning mendatangi satu persatu yang kesakitan. Mengurut sedikit demi sedikit, hingga satu per satu tak kesakitan. Karena kelelahan, mereka akhirnya tertidur semua.
"Eh, angger, ini tadi ada apa? Kok pada kesakitan semua?" tanya Sunan Kembang Kuning, kepada beberapa orang yang hanya bisa melongo.
Ditanya seperti itu, semua menunduk ketakutan.
Sunan Kembang Kuning akhirnya memilih duduk-duduk di dekat mereka, sementara beberapa anak buah Ki Sipang masih tersadar, memilih tetap menunduk.
“Angger semua, agaknya tadi kalian memukul saya ya?”
Akhirnya, semua menunduk.
“Angger, selama kalian suka usil, kalian tak akan mengerti arti hidup. Siapa pemimpin kalian?”
Semua menunjuk ke arah Ki Sipang yang pingsan.
__ADS_1
“Oh, yang tadi tiduran di jalan?”
Semua mengangguk.
Sunan Kembang Kuning atau Rejo menatap lamat-lamat ke arah Ki Sipang.
“Saya melihat, ada bakat luar biasa pada pemimpin kalian. Dari bentuk tulang dan postur tubuhnya, sepertinya dia sudah terlatih. Siapa gurunya?”
Tak ada yang menjawab.
“Tentunya, dia tak mungkin belajar sendiri. Pasti ada gurunya, siapa gurunya, tolong dijawab.”
Satu orang berani menjawab.
“Guru, Kakang Sipang adalah, Kiai Wulung Sunggi. Beliau pertapa di sebuah candi. Katanya, beliau adalah penguasa ilmu Jenggolo. Satu ilmu tingkat tinggi, dan tiada tanding di sini.”
Rejo atau Sunan Kembang Kuning diam sesaat.
Semua menunduk.
“Jika teman-teman kalian sudah tersadar, apa kalian mau mengantar saya kepada Kiai Wulung Sunggi. Saya ingin kenalan,” pinta Rejo.
Semua terdiam.
Sebenarnya, semua tahu, siapa sejatinya Kiai Wulung Sunggi. Dia adalah pertapa aneh. Di mana, sikap dan perilakunya sulit diduga.
Kadang, sangat murah senyum, sangat dermawan, namun di lain hari, dia menjelma menjadi sosok yang bengis, dan tak segan-segan melukai, meski tak pernah membunuh orang lain.
Hanya orang yang bernyali besar saja, yang berani mendatangi Kiai Wulung Sunggi. Sebab, dengan sikap yang tak bisa ditebak ini, menjadikan warga ketakutan. Pas enak hatinya, maka, orang yang datang akan banyak mendapat hadiah atau pengajaran ilmu tingkat tinggi.
Semua menunduk.
“Apa? Kalian tak berani?”
Semua mengangguk.
“Baiklah, saya hanya minta tolong diantarkan saja. Jika saya sudah ketemu, silakan kalian meninggalkan kami. Sungguh, saya ingin kenalan sama dia.”
Semua menunduk, dan diam. Rejo juga memilih diam, lalu tertidur.
Agak lama, satu per satu anak buah Ki Sipang bangun dari tidur, dan yang paling akhir adalah Ki Sipang sendiri.
“Ada apa ini? Kenapa si bungkuk ini masih di sini? Saya kena apa?” tanya Ki Sipang kepada anak buahnya.
“Tadi, Kakang pingsan, setelah memukul Si Mbah ini,” jawab satu anbak buahnya.
“Kurrrrraang ajjjar,” teriak Ki Sipang, hendak memukul lagi Rejo, yang tertidur.
Untungnya, anak buah Ki Sipang segera menghalangi.
"Kang, jangan main pukul. Tadi sampeyan semaput, usai memukul Si Mbah ini," teriak satu warga.
Ki Sipang segera menarik pukulannya.
"Benarkah?"
"Benar. Tadi sampeyan, sempat semaput usai memukul si Mbah ini."
"Saya tak sadar. Memang ilmu warisan Jenggolo ini, kalau sedang digunakan, membuat si pemilik tak sadar, dan akhirnya dikuasai ilmu ini. Ilmu ini baru berhenti, setelah lawan bisa dihancurkan dan dikalahkan. Barulah saat itu, bisa sadar. Jadi, dalam pertarungan tadi, saya kalah?"
"Benar. Begitu Kakang memukul, langsung terjengkang dan semaput."
Mendengar cerita ini, Ki Sipang keder.
Dia memilih menuruti anak buahnya.
"Trus, kenapa kalian semua masih di sini?"
"Anu, Kakang. SI Mbah ini, minta diantar kepada Kiai Wulung Sunggi, guru Kakang. Katanya, Dia ingin kenalan."
"Hah!"
"Benar, Kakang. Dia tadi ngomong seperti itu, lalu tertidur karena menunggu semuanya siuman. Teman-teman kita yang sakit, juga disembuhkan oleh Si Mbah ini. Mungkin lebih baik, kita antar saja kepada Kiai Wulung Sunggi."
"Saya sendiri tak berani mendatangi guru. Trus bagaimana ini? Dia kan tidur, kita tinggalkan saja. Toh dia kan tidak tahu," ajak Ki Sipang.
__ADS_1
Sepertinya, Ki Sipang juga keder.
"Apa sebaiknya kita antar saja. Setelah mereka bertemu, kita segera lari menjauh."
"Apa kamu tak tahu, guru saya itu, Kiai Wulung Sunggi, bisa membunuh orang hanya dengan menjentikkan jari, meski orangnya tak ada di situ? Bagaimana kalau beliau marah, membunuh kita satu per satu?"
"Iya sih...., mohon maaf Kakang. Saya sih penasaran, sama si Mbah ini. Bagaimana ya, hasil pertemuan antara Si Mbah dengan Kiai Wulung Sunggi? Itu saja."
"Tapi, nyawa kita jadi taruhan."
"Kalau saya sih, ingin pergi dari sini."
Ki Sipang benar-benar memutuskan hendak pergi begitu saja dari tempat itu.
"Siapa yang mau ikut, ayo berdiri."
Anehnya, meski berniat berdiri, seakan pantat dan telapak kaki mereka menempel ketat di tanah. Jangankan untuk berdiri, menarik telapak kaki dari tanah saja mereka tak bisa.
Semua tesentak kaget.
Tak ingin terjadi pada diri, masing-masing pun melemaskan tubuhnya. Santai, sembari menunggu Sunan Kembang Kuning bangun.
Begitu Sunan Kembang Kuning bangun, semua segera duduk menunduk. Tak terkecuali Ki Sipang.
“Oh, saya tertidur toh? Dan semua menunggu saya ya?” tanya Sunan Kembang Kuning.
Semua mengangguk.
“Ki Sipang mana?”
“Saya Mbah,” kata Sipang, sambil menunduk ketakutan.
“Tadi, saya tanya kepada teman-temanmu, saya minta diantar ke gurumu. Siapa tadi namanya?”
“Kiai Wulung Sunggi, Mbah.”
“Oh, iya.... saya ingin kenalan.”
“Baiklah Mbah. Kami bersedia mengantar, tapi, izinkan kami hanya menunjukkan dari jarak jauh saja, sebab, kami takut.”
“Kenapa harus takut? Bukankah engkau adalah muridnya?”
“Benar, Mbah. Saya muridnya. Begitu saya menyelesaikan jurus-jurus, saya langsung diusir. Bahkan Guru mengancam, kalau sampai saya mendekat, saya akan dibunuhnya.”
“Waduh.... kok kejam begitu?”
“Benar, Mbah. Guru Kiai Wulung Sunggi, kalau ingin membunuh orang, tinggal menjentikkan jari. Untuk itu, orang-orang tak berani mendekat. Semua pada ketakutan. Kami takut, Mbah.”
“Oh, begitu... ya?”
“Berapa yang sudah dibunuh?”
“Tidak tahu, Mbah.”
“Tidak tahu, apa belum ada?”
“Tidak tahu.”
“Jadi, belum terbukti jika Kiai Wulung Sunggi membunuh orang, kan? Kenapa pada ketakutan semua?”
“Karena memang seperti itu cerita yang beredar.”
“Ha ha ha, kalian ini pada ketakutan, karena sesuatu yang belum tentu benar. Kalau memang ada yang dibunuh, berarti kan ada mayatnya. Baiklah, antar saya ke sana ya. Tapi, saya akan salat dulu.”
Tertatih Sunan Kembang Kuning menuju ke kali kecil, dengan sangat kesulitan, dia berupaya berwudlu dengan sempurna.
“Mbah, melakukan apa?”
“Wudlu. Ini harus dilakukan sebelum Sembahyang. Wudlu ini untuk menyucikan dari hadas kecil, semisal usai pipis. Karena saya akan menyembang yang Maha Suci, maka saya juga harus suci.”
Lalu, Sunan Kembang Kuning mengerjakan salat. Cukup kesulitan bagi sang sunan untuk rukuk dan sujud. Namun, sungguh, ini dilakukan sangat tenang, dan terkesan dinikmati.
Ki Sipang dan anak buahnya mengamati dengan heran.
Lebih-lebih dengan melihat gerakan yang tenang, kalem, dan sangat syahdu ini.
__ADS_1
Mereka mengikuti seluruh gerakan salat, dan mereka kagum.
Usai salat, Sunan Kembang Kuning pun melanjutkan dengan wiridan. Dia melakukan dengan sauara kencang, agar bisa didengar oleh Ki Sipang dan teman-temannya.