BODYGUARD SANG SUNAN

BODYGUARD SANG SUNAN
episode 7c: Pedanda Ditolong Ikan Mas


__ADS_3

“Coba kalian angkat,” kata Resi Wishnu Santara, sambil dia berjongkok, mengamati pangkal satu tiang gubuk.


Begitu diangkat. Bergeming.


Tak bergerak sama sekali.


“Hmmm. Unjuk kesaktian ya.....”


Resi Wishnu Santara duduk bersila menghadap ke gubuk.


Sang Resi segera bersemedi.


Lima orang segera mundur.


Mereka tahu, jika Resi Wishnu Santara sudah bersemadi, berarti mengeluarkan ilmunya tertinggi.


Hawa putih mulai mengepul dari ubun-ubun Sang Resi.


Semua tegang. Tak tahu, sang resi bakal mengeluarkan ilmu apa.


Dari dua pundak resi, juga muncul asap putih.


Semua tambah 4. Asap putih kian tebal, dan mulai menjelma seperti kabut.


Tubuh Sang Resi ditelan kabut.


Lima orang tambah mundur.


Gubuk juga akhirnya terselimuti keseluruhan oleh asap putih yang kian deras keluar dari sekujur tubuh sang resi.


Lima orang tak lagi bisa melihat kecuali asap putih tebal.


Kadang muncul kilatan-kilatan kecil, seakan terjadi benturan.


Sekian lama kemudian.


“Blar!”


Suara ledakan muncul dari pusat kepulan kabut. Kabut langsung menghilang.


Lima orang melihat ubuh Sang Resi terkapar.


Kelimanya menyerbu maju untuk menolong sang Resi.


Darah segar mengalir dari ujung bibir sang resi, yang pingsan.


Mereka berilima membopongnya, untuk ditidurkan di gubuk Sunan Kembang Kuning.


Namun, begitu tubuh sang resi direbahkan. Tak bisa diangkat lagi, seakan menempel dan menyatu dengan lantai bambu.


Lima orang ini kelabakan.


Empat orang akhirnya disuruh Pak Lurah memanggil seluruh pedanda.


Ada tujuh pedanda berilmu tinggi yang akhirnya datang.


Mereka semua tertegun, sebab, mereka tak merasakan adanya getaran lawan. Semua biasa saja, seakan tanpa aliran tenaga dalam. Namun, bagaimana mungkin Resi Wishnu Santara bisa pingsan?


Meski telah mendengarkan cerita ke lima saksi mata, tujuh resi ini juga kebingungan bagaimana mengatasinya.


Jangankan untuk mengangkat gubuk, untuk mengangkat tubuh Resi Wishnu dari lantai gubuk saja, mereka tak mampu.


Berbagai upaya telah dilakukan, semua ilmu telah dikerahkan, tapi tetap saja tak mampu mengatasi masalah.


Tujuh resi ini wajahnya pucat. Mereka merasa dilecehkan, tapi tak mampu harus melakukan apa.


Menjelang malam, semua menyerah.


Sebanyak 12 orang ini, duduk di sekitar gubuk tanpa berkata apa pun. Mereka menunggui Resi Wishnu Santara yang masih terkapar di lantai gubuk terbuka itu.


Dalam hati mereka sangat marah, tapi apa daya.


Tepat tengah malam, terlihat sosok tertatih mendekati gubuk, dengan memegang oncor.


“Oh, bapak-bapak semua. Saya tunggu di gunung sana, karena gubug ini akan dipindahkan ke sana. Hingga malam, ternyata belum dipindah. Ya saya ke sini lagi.”


12 orang itu masih diam.


“Lho, ada yang tidur di gubuk?”


“Mohon maaf, Mbah. Beliau adalah Resi Wishnu Santara, resi tersakti di sini. Beliau sedang pingsan,” kata Pak Lurah.


“Kenapa pingsan?”


“Kami tak tahu, saat Resi mengerahkan ilmunya, muncul asap putih dan menjadi kabut tebal. Usai terjadi ledakan, tiba-tiba kami melihat tubuh Resi sudah pingsan. Lalu kami tidurkan di gubuk.”


“Jadi, Resi belum bangun?”


“Belum Mbah.”


“Saya bantu boleh?”


“Boleh Mbah.”


Sunan Kembang Kuning mendekati tubuh sang Resi.


“Resi Wishnu ini terkena hantaman ilmunya sendiri. Dia saat ini dikuasai oleh ilmunya sendiri. Jadi, ini pingsan tak wajar. Meski pun selama satu tahun, tak akan bisa siuman.”

__ADS_1


“Lalu, harus bagaimana Mbah?”


“Ya ilmunya harus dibuang. Selama ini, ilmunya berhasil dikuasai. Tapi, tadi, saat mengerahkan ilmunya untuk memindahkan gubuk saya, dia dikuasai ilmu. Sekarang, ilmunya yang mengatur dirinya.”


“Lalu, kok bisa menempel ketat di lantai gubuk itu, kena apa Mbah?”


“Wah, yang itu saya tidak tahu. Masa sih, menempel di lantai.”


Lalu, Sunan Kembang Kuning mencoba menyeret tubuh Resi Wishnu Santara lebih ke pinggir.


Terlihat cukup mudah.


“Bagaimana mungkin?” semua yang melihat hanya bisa melongo.


Semua pedanda dibuat kaget.


Bagaimana mungkin Si Mbah bungkuk ini dengan mudahnya menyeret tubuh Resi Wishnu Santana ke pinggir gubuk.


Sunan Kembang Kuning mengernyitkan dahinya, begitu mengetahui kondisi sang resi.


“Tak mudah. Resi mengerahkan seluruh ilmunya, tanpa menyisakan sedikit pun untuk persiapan seandainya terjadi hal tidak diinginkan.Sekarang, dia benar-benar dikuasai ilmunya.”


“Lantas bagaimana Mbah?”


“Saya harus mengerahkan ilmu yang menjadi padanannya Resi Wishnu.”


Semua terdiam.


“Mohon agak mundur ke belakang.”


Tanpa disuruh lagi, semua mundur.


Tegang.


Sunan Kembang Kuning segera membuka jurusnya.


Tangannya direntangkan. Perlahan, dari ubun-ubun Sang Sunan mengeluarkan asap putih tipis. Kian lama, dengus nafas sang sunan seakan keluar api, kian lama kian membesar.


Tubuh Sang Sunan tak terlihat lagi, dan yang ada hanya gulungan api.


Sejenak kemudian, Sang Sunan merangkul tubuh Resi Wishnu.


Tak terlihat. Hanya gulungan api menyelimuti keduanya. Anehnya, api itu tak membakar atap welit, meskipun mengenai dan terkesan berkobar.


Agak lama api itu menutupi tubuh keduanya.


Dari kepulan api membesar itu, mulai keluar asap putih dalam jumlah yang tak lazim.


Kepulan asap putih mengaburkan bara api.


Kian lama, asap putih itu menghilang dan api pun mulai mengecil.


Nafas si Mbah ngos-ngosan.


“Mohon maaf, dengan terpaksa saya mengusir seluruh ilmu yang dimiliki Resi Wishnu. Ini saya lakukan, agar tubuh Resi Wishnu tidak dikuasai ilmu, dan bisa segera sadar.”


Sunan Kembang Kuning beringsut turun dari gubuk, dan menuju ke sungai untuk bersuci.


Semua mata mengikuti.


Usai berwudlu, Sunan Kembang Kuning kembali ke gubuk. Dibawanya setangkup air kali. Lalu air itu dibasuhkan ke muka Resi Wishnu.


Perlahan, Sang Resi menggerakkan tangan dan kakinya secara kaku. Tanda dia siuman dari pingsannya.


Semua masih tegang.


“Kanjeng Resi, bagaimana rasa tubuhnya?”


Resi Wishnu masih seperti orang bingung.


Dia menoleh ke kiri dan ke kanan, lalu tatapan matanya tertuju kepada seluruh pedanda, dan juga Pak Lurah, serta 4 warga yang masih melongo.


“Sebenarnya, apa yang terjadi?” tanya Resi Wishnu.


“Sudahlah Kanjeng Resi, yang penting Kanjeng Resi sehat dan bisa memimpin umat lagi,” kata Sunan Kembang Kuning, sambil mengajak Resi Wishnu duduk.


“Kalau masih pusing, silakan rebahan lagi. Kalau sudah tidak pusing, silakan mencoba berjalan.”


Resi Wishnu tak menjawab.


Dia belum mengetahui bahwa seluruh ilmunya telah dilenyapkan dari tubuhnya.


Perlahan, seakan dia menyiapkan aji-aji yang dipunyai.


Hanya saja, aji-aji itu tak bisa muncul.


“Ada apa ini?” pikir dia.


“Yang penting Kanjeng Resi sehat dulu.”


Dan memang, ketika kaki Resi Wishnu menginjakkan kaki ke tanah, dia terhuyung hendak jatuh. Seakan bayi yang baru belajar berjalan.


Para pedanda bergegas membantu memegangi tubuh sang junjungan.


Sunan Kembang Kuning memilih duduk di gubuknya. Hanya melihat.


Dibiarkan para pedanda itu mengajari Resi Wishnu berjalan menuju ke kali.

__ADS_1


Resi Wishnu ingin mencelupkan kakinya ke air kali yang dingin, serta merapal ilmunya.


Nyatanya, saat kakinya telah mencelup ke kali, dan rapalan mantra dibaca, tak memberikan efek apapun.


“Pak Lurah, sebenarnya apa yang terjadi pada diriku?”


Pak Lurah segera menjura hormat, dan mulai menyeritakan semua kejadian secara runtun dari awal hingga akhir.


“Jadi, sekarang saya tak mempunyai ilmu apa pun?”


“Benar, Kanjeng Resi. Kalau tidak begitu, Kanjeng Resi tak akan bangun dari pingsan.”


“Masa sih? Benarkah saya kalah?”


“Benar, Kanjeng Resi.”


“Saya tak percaya.”


“Nyatanya, sekarang Kanjeng Resi bisa siuman.”


“Saya ingin membunuh si Mbah keparat itu.”


“Pakai ilmu apa, Kanjeng Resi? Kami semua tak berani.”


Tiba-tiba terdengar teriakan dari arah gubuk.


“Saya mendengar apa yang kalian omongan di sana. Kalau ingin membunuh saya, silakan saja. Tapi, syaratnya, kalian harus bisa membunuh ikan mas yang berenang di depan kalian. Silakan lakukan, dengan cara apa saja,” teriak Sunan Kembang Kuning dari arah gubuk.


Orang-orang yang berkerumun di sekitaran kali, cukup kaget.


Memang, di depannya, terlihat ikan mas berenang berputar-putar.


Satu pedanda mengambil sebuah ranting.


Ikan berenang itu dipukul sekeras-kerasnya, disertai dengan tenaga dalam.


“Blar!”


Ledakan muncul ketika ranting itu mengenai air kali.


Bukannya ikan mas itu yang terkapar, malahan satu pedanda ini terlempar dan menderita luka hebat di tangan. Seakan terkilir, tapi tak terlihat area tangan mana yang terkilir.


Dia teriak-teriak sekencangnya menahan sakit.


Semua tercenung.


Ikan mas terus berenang berputar-putar di situ-situ saja.


Pedanda bingung, pak Lurah apalagi.


Mereka cukup panik, dikarenakan pedanda yang memukul ikan dadi memegangi tangannya sambil terus teriak-teriak.


Peristiwa ini sudah membuat keder bagi semuanya untuk unjuk kesaktian.


“Masukkan teman kalian yang sakit ke dalam air dingin itu,” teriak Sunan Kembang Kuning dari arahg gubuk.


Serta-merta mereka mengangkat pedanda yang teriak-teriak itu, dan dibopong ke dalam air.


Air dingin menyerapi tubuhnya.


Perlahan, rasa sakit itu berkurang.


Sementara ikan emas itu berenang-renang di sekitarnya. Ikan mas beberapa kali mengelilinginya.


“Masukkan tangannya yang sakit ke air!” perintah Sunan Kembang Kuning dari arah gubuk.


Serta merta lengan yang seakan terkilir itu dimasukkan air.


Ikan mas mendekati.


Semua mata memandang ke arah ikan mas.


Mulut ikan mas itu mulai menggigiti permukaan kulit sang pedanda.


Uniknya., usai digigit ikan, rasa sakitnya berkurang jauh.


Usai beberapa gigitan, pedanda ini langsung sembuh. Bahkan badannya terasa segar.


Pedanda dengan basah kuyup ini, berjalan menuju ke arah gubuk. Semua pandangan mengikuti.


“Mbah.... saya sudah merasakan betapa sakitnya, dan betapa saktinya Mbah. Saya harus melakukan apa? Agar saya bisa mengikuti Mbah. Apapun akan saya lakukan.”


“Kalau ingin ikut saya, ucapkan kalimat syahadat. Yaitu pengakuan bertuhan Allah dan pengakuan bernabi Muhammad.”


“Saya mau.”


Maka, diajarilah pedanda ini mengucapkan dua kalimat syahadat.


“Satu teman kalian telah memilih Islam. Selanjutnya terserah, kalian semua.”


Semua gamang.


“Baiklah. Kalau begitu? Bagaimana ini? Jadi memindah gubuk saya ini apa tidak? Apa saya tidak boleh tinggal di gubuk ini?”


Semua tak berani menjawab.


“Bagaimana Pak Lurah, apa saya harus pindah dari gubuk ini?”

__ADS_1


Pak lurah hanya berani melirik pedanda di sampingnya.


Pedanda juga melirik ke arah Pak Lurah.


__ADS_2