BODYGUARD SANG SUNAN

BODYGUARD SANG SUNAN
episode 3b: Ditantang Tarung Resi


__ADS_3

"Mbah Resi, saya dan Mbah di sini mempunyai tujuan sama, yaitu bagaimana menyelesaikan masalah air kolam Segaran yang berubah warna menjadi merah ini, buat apa kita bertarung? Silakan Mbah Resi melakukan sesuai dengan garis ilmu yang Mbah yakini dan kuasai, saya pun melakukan sesuai garis ilmu saya. Bukankah tujuan kita sama, yaitu bagaimana menjadikan air kolam menjadi jernih lagi?"


"Iya, tapi jangan engkau pamer ibadah di depan warga!"


"Siapa yang pamer? Kami, sebagai orang muslim, melaksanakan salat, yaitu menyembah kepada Sang Hyang tunggal, yaitu Allah swt, sebanyak lima kali dalam sehari. Tentu saja, dengan tata cara yang sudah digariskan. Saya tidak bisa menyembah tuhan saya dengan cara kalian, demikian sebaliknya."


"Ah. Banyak omong kamu!"


Tib-tiba saja, Resi mengirim pukulan tenaga dalam jarak jauh.


Warga yang berkerumun terpental.


Rejo merasakan hal ini, namun hanya tergeser duduknya sedikit.


"Mohon Mbah Resi tak usah diteruskan. Dari pada Mbah Resi malu jika saya kalahkan."


"Kurang ajar. Anak muda tak tahu sopan santun."


"Lho, bukankah Mbah Resi yang tak punya sopan santun. Dengan tiba-tiba begitu saja menyerang saya, tanpa sebab apapun?"


Teriak Rejo.


Harapan Rejo, teriakan ini didengar oleh orang-orang di sekeliling kolam Segaran.


Sang Resi tambah marah.


Dan memang tujuan Rejo tercapai.


Semua mata akhirnya memandang ke arah Rejo dan resi ini.


"Kurang ajar, engkau anak muda. Tidak menghormati orang tua. Saya ini pertapa!"


"Mbah Resi yang sebenarnya kurang ajar. Sebagai sosok pertapa, semestinya mbah bisa menekan hawa nafsu, termasuk kemarahan. Bukan malah membuat meletup dan runyam seperti ini."


Resi semakin marah tak tertahankan.


"Mbah Resi, bukankah kita tadi ndak ada apa-apa. Saya hanya melaksanakan salat sesuai keyakinan saya, dan memberikan penjelasan kepada warga, lha kok Mbah Resi malah menantang saya. Ya sudah, kalau Mbah Resi mengajak saya bertarung, saya tak akan mundur."


Sang Resi segera duduk bersila dan siap melancarkan serangan.


"Oh, Mbah Resi hendak mengeluarkan jurus suci dari Gunung Penanggungan. Saya tahu itu. Baik, saya juga akan mengeluarkan jurus suci dari Gunung Tidar."


Rejo segera memraktikkan jurus yang diajarkan Resi Swadaraya.


"Ingat Mbah Resi, ketika saya memainkan jurus ini, berarti saya tak bisa berhenti dan tidak ada main-main lagi."


Begitu mendengar disebut nama Gunung Tidar, sang Resi mulai menampakkan wajah takut.


"Mbah Resi takut?"


Sang Resi diam.

__ADS_1


"Ayo serang saya!" teriak Rejo, dengan harapan bisa mengundang perhatian orang-orang yang ada di bibir kolam.


Rejo pun segera beringsut bangun, dan membuka kuda-kuda yang sama persis dengan gaya sang Resi.


Tentu saja sang Resi kaget.


"Anak muda, bagaimana mungkin engkau mengetahui ilmu suci Tlatah angker Penanggungan?"


"Mbah Resi. Tentu Jenengan butuh puluhan tahun untuk melatih ilmu ini, mungkin bahkan saya belum lahir. Dan saya tahu kehebatan ilmu ini. Bukankah seperti ini!" teriak Rejo, sambil memukul sebuah pohon yang cukup besar, yang tak jauh dari kolam.


"Duar!"


Suara yang muncul cukup memekakkan telinga.


Tak lama, daun-daun yang ada di pohon itu mulai menguning dan perlahan satu per satu rontok.


Semua mata terbelalak melihat adegan ini.


Resi mulai ciut nyali, dan keringat dingin mengalir di wajahnya. Dia tak menyangka, ada anak semuda itu sudah menguasai ilmu tingkat tinggi dari Tlatah angker Penanggungan.


"Anak muda, siapa kamu?"


Rejo tak menjawabnya.


"Wahai orang-orang di bibir kolam, ketahuilah. Ilmu yang saya peragakan barusan tak lebih dari sihir. Ini, saya tunjukkan ilmu yang sebenarnya," teriak Rejo.


Rejo segera merubah sikap kuda-kudanya.


Kali ini, dia sebenarnya hanya meniru-niru gerak Kanjeng Syech Subakir yang pernah diingatnya.


"Duar!"


Suara yang muncul juga cukup memekakkan telinga.


Sebenarnya, Rejo tak tahu, efek dari pukulannya itu apa.


Tiba-tiba, ada seakan angin berputar di sekitar pohon. Daun-daun yang tadinya berguguran, terangkat semua. Dan perlahan, kembali ke tempatnya. Daun itu menempel lagi di tempatnya, dan warnanya kembali hijau.


Sebenarnya, Rejo sendiri juga kaget dengan gerakan yang hanya sekedar meniru Syech Subakir itu. Tapi, nyatanya, bisa mengembalikan daun ke tempatnya.


Rejo melihat kedua telapak tangannya dengan keheranan.


Semua mata kian terbelalak.


Sang Resi tak berkutik. Diam tertunduk.


"Ini baru ilmu sebenarnya. Ikan-ikan di kolam ini, juga terkena sihir, seperti daun tadi. Ikan-ikan itu sebenarnya tak mati!" teriak Rejo.


Rejo sendiri heran, dia kok bisa ngomong seperti itu.


Kanjeng Syech Jumadil Kubro yang melihat dari jauh, hanya manggut-manggut dan tersenyum.

__ADS_1


Sebaliknya, para pendekar terperanjat. Mereka tak menyangka, ada pemuda asing dan belum pernah mereka temui di tletah Majapahit timur, Ujung Galuh hingga Blambangan yang mempunyai ilmu sehebat ini.


Sementara warga kampung hanya bisa berdecak kagum. Mereka mulai menghakimi, bahwa sang pemuda adalah titisan dewa.


"Wahai Mbah Resi, apa Jenengan masih ingin bertarung? Sekali lagi, Saya, Pendekar Gunung Tidar siap melayani pertarungan! Saya penerus ilmu Resi Swadaraya siap melayani pertarungan!" teriak Rejo.


Begitu disebut nama Resi Swadaraya, bukan hanya sang Resi yang terperanjat. Semua yang hadir di bibir kolam tak kalah terperanjat. Siapa yang tak kenal dengan kebengisan Resi Swadaraya?


Efeknya memang luar biasa. Bukan hanya Sang Resi yang menghatur sembah dengan gemetaran karena takut. Semua warga yang ada di pinggir kolam, termasuk pendekar maupun pertapa, juga ikutan menghatur sembah. Hanya satu orang saja yang tidak menghatur sembah, yaitu Kanjeng Syech Jumadil Kubro.


Syech Jumadil Kubro menganggukkan kepala, sambil mengacungkan jempol.


Rejo membalas dengan menjura hormat.


Beberapa warga sempat melirik ke arah Rejo yang menjura hormat, sedangkan yang lainnya menunduk dalam-dalam. Beberapa warga yang meliirik Rejo itu, segera menolehkan pandangannya ke arah yang dituju Rejo saat menjura hormat.


Tampaklah Kanjeng Syech Jumadil Kubro, yang jubahnya melambai-lambai dimainkan angin.


Warga ini pun mempunyai pikiran seragam.


"Sang titisan dewa saja menghormat kepada orang berjubah itu. Jangan-jangan dia adalah Dewa."


Usai menghormat kepad Syech Jumadil Kubro, Rejo segera berteriak kencang.


"Kolam Segaran berubah warna ini, adalah urusan saya. Ini menjadi pertarungan saya. Tidak ada kaitannya dengan dewa. Jadi, tak perlu kalian semua membakar dupa dan kemenyan di sini. Untuk itu pula, para resi, para pendekar dan para pertapa, tidak perlu kalian ada di sini. Silakan kembali ke rumah masing-masing. Ini menjadi urusan saya," teriak Rejo.


Semua tak berani menatap Rejo.


Semua tetap menunduk takdim.


"Kalau begitu, semua bubar!"


Satu per satu, orang-orang yang ada di pinggir kolam beringsut mundur dan menjauh.


Agak lama kemudian, hanya tinggal Rejo sendirian.


Syech Jumadil Kubro juga sudah tidak tampak.


Rejo lalu duduk termenung di bibir kolam.


Matanya tertuju kepada pojokan kolam, di mana warna air lebih kelam daripada seluruh isi kolam.


Adapun Syech Jumadil Kubro kembali ke tempat di mana dia tinggal. Tempat berupa pendopo ini, memang pemberian dari Raja demi menghormati Syech Jumadil Kubro.


Kanjeng Syech biasanya memanfaatkan tempat ini untuk istirahat, jika sedang berada di Majapahit.


Langkah Kanjeng Syech menuju rumahnya ini, ternyata diikuti orang-orang yang tadi sempat melirik saat Rejo menjura hormat kepada Kanjeng Syech Jumadil Kubro.


Baru saja Kanjeng Syech merebahkan badan di sebuah dipan panjang depan pendopo, beberapa orang menjura hormat, dan mohon diizinkan masuk.


"Ada apa kalian semua ini?"

__ADS_1


"Mohon ampun, Kanjeng. Kami mohon diberi keselamatan hidup, karena kami meyakini Panjenengan adalah jelmaan dewa," kata salah satu orang yang hadir.


"Hah! Saya adalah jelmaan dewa? Dari mana kalian mendapatkan pendapat gila seperti itu?"


__ADS_2