BODYGUARD SANG SUNAN

BODYGUARD SANG SUNAN
episode 3g: Tenaga Dalam Embusan Angin


__ADS_3

Ketika dia menghimpun tenaga dalam maksimal, kerap sekujur tubuhnya terasa kesemutan. Bahkan permukaan kulit Rejo memerah. Seakan-akan dari pori-rorinya merembes darah.


Rejo awalnya memang tak peduli, karena dia berkonsentrasi khusus untuk menemukan cara menaklukkan buah kelapa bergelembung. Namun, beberapa warga yang melihat Rejo di siang hari mengingatkan bahwa kulitnya berdarah.


Rejo sendiri tak merasakan sakit, ataupun keanehan pada dirinya.


Bahkan, Rejo merasakan sangat bugar.


"Hanya saja, saya merasakan kesemutan di bawah kulit. Ada apa ini. Kadang terasa seperti sengatan lebah. Saya malah tak tahu kalau kulit saya mengeluarkan darah sangat lembut. Saya kira keringat."


"Tetapi, kalau memang yang keluar ini adalah darah, tentunya semakin hari semakin lemah, karena banyak darah yang keluar. Nyatanya, saya baik-baik saja."


"Kalau bukan darah, berarti ini keringat. Tapi, kenapa berwarna merah?"


Rejo merenung untuk mencari jawab atas kejadian aneh yang menimpa dirinya.


"Jangan-jangan, karena saya terlalu lama berendam di air Kolam Segaran yang berwarna merah? Memang saat berendam dulu, kerap warna merah air kolam masuk ke kulit, sehingga bagian bawah tubuh ini berwarna merah. Kalau itu memang benar, berarti warna merah air kolam ini meresap di tubuh ini."


"Lalu. Karena apa kesemutan atau sengatan lebah yang terasa di bawah kulit?"


"Jangan-jangan karena pengaruh warna merah di bawah kulit ini? Kalau memang benar seperti itu, bagaimana saya bisa menghilangkan pengaruh warna marah ini? Apa perlu saya netralkan? Ataukah saya biarkan saya? Yang jelas tubuh saya rasanya semakin bugar."


Mendapat keanehan dalam tubuhnya, lama-lama Rejo merasa risih, sebab, sangat aneh jika orang mendapati keringatnya berwarna merah seakan darah. Rejo mau tak mau meletakkan dulu upaya menemukan cara menembakkan tenaga dalam untuk melubangi batang pohon waru.


Dia mengalihkan perhatian bagaimana cara menghilangkan keringat merah dan menghilangkan rasa kesemutan atau sengatan lebah.


Untuk itu, Rejo memilih duduk bersila di tempat teduh. Dia berusaha mengenal setiap jengkal anggota tubuhnya. Termasuk yang ada di bawah kulit. Upaya ini tak terlalu menghabiskan waktu, sebab Rejo sudah terbiasa bersemadi.


"Jadi, ada semacam ruang antara kulit tubuh ini, dengan daging di bawahnya. Ruang itu terisi semacam cairan. Jangan-jangan itu adalah air merah dari Kolam Segaran? Lalu, bagaimana saya harus membuangnya? Apa perlu saya melukai kulit ini agar cairan itu bisa keluar semua?"


"Saya rasa tidak. Meski masuknya melalui lubang-lubang kecil di kulit, tentu ada cara mengeluarkan cairan merah ini, tanpa harus melukai kulit. Bukankah melukai diri sendiri itu berdosa?"


"Yang jelas, sekarang saya sudah tahu bahwa tubuh ini memang ada yang tidak normal. Saya harus menjadikannya normal."


Upaya yang dilakukan Rejo, mencoba membangkitkan tenaga dalam yang umumnya melalui pernafasan, kini melalui kulit.


Rejo sendiri kaget.


Ketika dia merasakan desiran angin melalui permukaan kulit, tak disangka, dengan begitu saja terkumpul tenaga dalam cukup besar di sekujur tubuhnya.


"Allahu Akbar!"


Dilakukan lagi dengan konsentrasi cukup tinggi. Rejo merasakan ada aliran hangat di bawah kulitnya, ada sengatan lebah semakin bertubi, ada seakan aliran air yang cukup deras di bawah kulitnya. Berputar-putar menerjang seluruh bawah permukaan kulit.


"Insya Allah. Ini memang jawabnya."


Rejo bersemangat.


Dengan cara baru untuk menghimpun tenaga dalam, yaitu hanya dengan merasakan desiran angin, rejo mengumpulkan tenaga dalam di ujung jari telunjuknya.


Lalu ditembakkan ke arah lantai dari batu kali.


"Duak!"


Rejo sendiri terbengong melihat efek dari tembakan tenaga dalamnya.


Bukan hanya lubang sebesar jari yang tercipta, tapi satu kotak batu kali itu hancur, lalu batu kali yang ada di bawahnya tertembus juga, membentuk lubang sebesar jari telunjuk. Cukup dalam.


Uniknya, batu yang hancur menjadi pasir itu, berwarna merah.


Orak cerdas Rejo segera bisa menemukan jawabnya.


"Jadi, sebenarnya, yang terkumpul di bawah kulit saya ini sebenarnya cadangan tenaga dalam. Allahu akbar."


Rejo menjadi bersemangat untuk segera mencoba ditembakkan ke arah batang pohon waru.


Dia melakukan hal serupa, yaitu merasakan desiran angin. Ketika tenaga dalam sudah terkumpul banyak di ujung jari telunjuknya, langsung ditembakkan ke arah batang pohon bambu.


"Krak!"


Bukannya berlubang, tapi patah.


Rejo menatap bingung.


"Apa yang salah?"


"Tentunya, tenaga dalam yang terkumpul cukup besar untuk melubangi batang pohon waru. Meski saya kumpulkan di ujung jari, tetapi, ketika mengenai batang waru, tenaga dalam itu membesar. Mungkin ini jawabnya. Jadi, pohon waru bukannya berlubang, tapi patah."


"Tetapi, kenapa ketika saya mengerahkan tenaga dalam yang saya latih di gunung Tidar, tetap mengecil sebesar jari saat mengenai batang pohon Waru?"

__ADS_1


Rejo berfikir keras lagi.


Dia memilih tidak coba-coba, hingga dia benar-benar menemukan jawabnya.


"Bisa jadi karena kecepatan lontaran tenaga dalam yang berbeda. Tenaga dalam dari Gunung tidar yang saya gunakan sudah pada titik maksimal, jadi, kecepatannya sangat tinggi. Maka, dia tak bisa dipengaruhi desiran angin, dan tenaga dalam itu tetap utuh saat mengenai batang pohon waru. Hanya saja, kekuatannya tak mampu melubangi batang pohon waru, karena memang tenaga dalam Gunung Tidar bisa diserap batang pohon waru."


"Sedangkan tenaga dalam aneh warna merah ini, bangkit melalui desiran angin. Meski bobot tenaga dalam ini sebenarnya sudah bisa melubangi batnag pohon waru, tetapi kecepatannya belum maksimal. Karenanya, ketika saya tembakkan ke arah batang waru, desiran udara membuat tenaga dalam berpendar. Karenanya, bukan menjadikan batang pohon waru berlubang, malahan patah. Ini juga disebabkan karena batang waru tidak bisa menyerap tenaga dalam aneh ini."


"Jadi, untuk bisa melubangi batang pohon waru dengan tenaga dalam warna merah ini, maka saya harus melipatgandakan kecepatan tenaga dalam. Begitu ditembakkan, desiran angin tak bisa membuatnya berpendar. Dengan kata lain, saya harus melontarkan tenaga dalam dengan kecepatan yang lebih besar daripada kecepatan angin."


Rejo tersenyum gembira.


"Jadi, sekarang saya harus menemukan cara, bagaimana melipatgandakan tenaga dalam, yang hanya mengandalkan desiran angin ini."


"Desiran angin?"


"Desiran angin?"


"Desiran angin?"


Rejo mengucapkan kata-kata itu berkali-kali, sembari berfikir keras.


"Jadi, ketika desiran angin sangat kencang, maka tenaga dalam yang terkumpul juga sangat kencang. Ini artinya, saya harus menunggu angin berhembus sangat kencang agar bisa mengumpulkan tenaga dalam yang besar pula."


"Kapan ada angin besar? Dan seberapa lama saya harus menunggu"


Rejo garuk-garuk kepala.


"Yah, baiklah. Kalau angin tak mendatangi saya, maka saya yang mendatangi angin."


Rejo lalu merentangkan dua tangannya. Dan dia mulai memutar tubuhnya. Semakin lama semakin kencang layaknya gasing. Bahkan, daun-daun di sekitarnya berterbangan karena terkena hembusan angin dari putaran tubuh Rejo.


Saat berputar, Rejo merasakan tenaga dalam di ujung jarinya sangat besar bahkan dia tak lagi mampu menahan. Tenaga dalam itu akhirnya ditembakkan ke angkasa.


Tak disangka.


Ketika tenaga dalam itu mengenai gulungan awan di angkasa sana, muncul ledakan layaknya guntur.


"Blar!"


Suara memekakkan telinga muncul dari angkasa, membuat semua penduduk kaget dan keluar rumah..


Mereka heran, sebab, siang itu suasana cerah. Langit hanya dihiasi gulungan awan di beberapa tempat saja.


"Allahu akbar," desah Rejo.


"Bagus Nak, engkau telah menemukan jawabnya," sepasang mata memerhatikan tingkah laku Rejo sedari tadi, dari kejauhan.


Itulah Kanjeng Syech Jumadil Kubro, yang mengajak lima santrinya, untuk mengamati Rejo.


"Kalian semua lihat. Apakah salah, kami, para pendakwah di tanah Jawa ini memilih dia sebagai penerus perjuangan kami?"


"Tidak. Sungguh tidak, Kanjeng Syech. Kami melihat sendiri kehebatan anak muda itu," tutur satu santri.


Rejo menebar pandangan ke sekeliling.


Warga sekitar keluar rumah, untuk mengetahui penyebab ledakan dahsyat di angkasa. Semua mendongak ke atas. Yang dilihat hanya awan dan langit cerah warna biru.


Rejo duduk di bibir kolam, agar tidak menjadi perhatian warga yang terlihat kebingungan dan celingukan itu.


Rejo menunggu semua warga masuk ke dalam rumahnya lagi.


"Ilmu apa ini? Allahu Akbar. Saya tak pernah mempelajari, tetapi, kenapa bisa masuk ke dalam diri saya. Sepanjang hidup saya, tak pernah belajar menghimpun tenaga dalam dari hembusan angin. Sungguh, saya tak tahu, ilmu macam apa ini, atau siapa yang mengajari saya."


Rejo masih sabar menunggu sampai warga kampung semua masuk ke rumah masing-masing.


Kanjeng Syech Jumadil Kubro mengajak lima santrinya untuk sembunyi, agar tidak diketahui Rejo.


"Saya juga penasaran, apa yang akan dilakukan Rejo selanjutnya. Sebaiknya kita juga bersembunyi. Kalau Rejo tahu ada kita di sekitar kolam, dia akan mengurungkan niatnya. Apa kalian semua ingin mengetahui apa yang akan dilakukan anak itu?" tanya Kanjeng Syech Jumadil Kubro.


"Benar, Kanjeng Syech."


Mereka beringsut di balik rimbunan rumput.


Rejo akhirnya berdiri lagi, setelah memastikan tidak menarik perhatian beberapa orang yang masih terlihat.


Rejo kembali merentangkan tangannya, posisi jari telunjuk diacungkan. Rejo mulai memutar tubuhnya.


Kian lama kian seperti gasing. Dan Rejo merasakan beban sangat berat di ujung jari kanan, tanda ujung jari itu sudah dipenuhi tenaga dalam dahsyat.

__ADS_1


Dalam posisi berputar, Rejo sulit membidik sasaran batang waru. Dia tak ingin tembakan tenaga dalamnya, meleset dan mengenai sesuatu yang dia sendiri tak tahu.


Karena sudah tak mampu menahan, terpaksa jari telunjuk itu ditembakkan ke angkasa lagi.


"Blar!"


Muncul ledakan yang sama kencangnya dengan ledakan pertama, di angkasa.


Orang-orang dibuat kaget lagi, dan keluar rumah lagi.


Mereka mendongak ke atas lagi.


Cepat-cepat Rejo duduk di pinggir kolam, seakan tidak tahu apa-apa. Dengan napas yang masih ngos-ngosan.


Rejo ikut-ikutan mendongak ke atas, seakan juga mencari sumber ledakan di angkasa.


Syech Jumadil Kubro dan lima santrinya cekikikan melihat tingkah polah Rejo, yang memang lucu ini.


Tetapi, warga sekitar sudah tak percaya lagi dengan 'kondisi' langit yang cerah. Semua mata mulai menatap ke arah Rejo.


Rejo celingukan dan garuk-garuk kepala, ditatap orang sebanyak itu, dari berbagai penjuru.


Untungnya, orang-orang sudah maklum dengan kelakuan Rejo yang aneh-aneh. Meski dianggap orang sinting, tapi semua mengakui kehebatan ilmu Rejo.


"Hoi, Nak. Jangan bikin kaget orang," teriak satu warga.


Rejo hanya tersenyum kecut sambil mengangguk.


Rejo agak ragu untuk mencoba kali ke tiga. Takut dia tak mampu mengendalikan tumpukan tenaga dalam di ujung jarinya.


"Setidaknya, saya sudah tahu, bahwa ada tenaga luar biasa yang bisa diserap dari desiran angin."


"Angin...."


"Angin..." rejo berkata-kata sendiri, sambil berfikir keras.


"Tenaga dalam ini, berasal dari kekuatan angin, sedangkan buah kelapa bergelembung itu ada di dalam kolam. Jadi, apa mungkin kekuatan angin bisa menembus air? Layaknya anak panah yang ditembakkan ke air. Memang awalnya terlihat sangat kencang. Begitu seluruh anak panah tercelup air, maka kecepatannya akan hilang secara cepat. Saya kira, sehebat apapun saya mengumpulkan tenaga dalam di ujung jari, lalu saya tembakkan ke buah kelapa yang ada di dasar kolam, jangan-jangan kekuatannya hilang terserap air."


"Saya kira, lidi yang diberikan Kanjeng Syech Jumadil Kubro sebagai petunjuk awal saja. Yaitu, saya harus menyiapkan tenaga dalam seruncing lidi untuk ditembakkan. Tetapi, saya juga harus bisa membelah air kolam ini sehingga tampak buah kelapa di dasarnya. Barulah sayta tembak buah kelapa itu dengan lontaran tenaga dalam."


"Jadi, saya harus menemukan cara bagaimana menampakkan buah kelapa yang ada di dasar kolam."


"bagaimana kalau buah kelapa itu saya ambil begitu saja, lalu saya buang?"


"Ah, saya tidak berani. Bukankah sudah puluhan pendekar dan pertapa mati gara-gara gegabah menangani buah kelapa bergelembung itu."


Rejo merenung. Mencari titik temu antara kekuatan angin dan kekuatan air. Akhirnya, Rejo membayangkan prahara dan badai di lautan. "Badai bisa disebabkan karena hembusan angin yang sangat kencang, atau karena dorongan dari dalam air."


"Jadi, jika angin berhembus sangat kencang di atas permukaan air, hanya akan menyebabkan gelombang. Sehebat apapun gelombang itu, tentu tak akan bisa mencapai titik dasar, karena energi air juga akan mempertahankan agar tetap menyatu. Kalaupun tenaga dalam ini saya tembakkan ke permukaan air, tentu tak bisa mencapai dasar kolam."


"Jadi, yang paling mungkin adalah pusaran air. Tentu ujung dari pusaran ini bisa mencapai dasar. Jika memungkinkan, buah kelapa itu akan terlihat. Tetapi, bagaimana caranya membuat pusaran air? Lalu, bagaimana caranya agar buah kelapa tak ikut arus air yang berputar?"


Rejo membandingkan dengan gerakan memutar tadi, yang sempat membuat daun-daun berterbangan.


"Hampir sama, intinya, harus berputar. Hanya saja, titik putarnya yang diubah. Jika tadi, ruang putar saya hanya sebatas panjang tangan yang merentang, sehingga bisa menghasilkan hembusan angin yang sudah sebegitu kencang.Maka, jika saya ingin membuat pusaran air dengan bantuan tenaga angin di kolam ini, saya harus membuat lingkaran yang besar, yaitu, seluar Kolam Segaran ini. Jadi, saya harus berlari sekencang-kencangnya memutari kolam ini, sembari mengumpulkan tenaga dalam dari hembusan angin. Tenaga dalam itu saya tembakkan terus menerus ke permukaan air, searah dengan saya berlari. Maka, lambat laun akan memunculkan arus berputar, dan semakin membesar hingga bisa membuat pusaran air."


"Hanya saja, bagaimana pusaran air itu bisa saya arahkan ke buah kelapa di dasar kali?"


Buah kepala itu sudah saya ikat dengan tali, dan kemungkinan kecil hanyut, namun, bagaimana caranya agar buah kelapa itu, tetap di dasar kali? Ah... lebih baik saya coba dulu membuat pusaran air."


Rejo segera memulai berlari mengitari Kolam Segaran.


Kanjeng Syech Jumadil Kubro mengajak lima santrinya sembunyi.


"Nak... engkau memang cerdas. Engkau hendak mengetahui apa dan bagaimana buah kelapa itu, dengan cara engkau tak masuk ke dalam air. Sungguh, satu upaya yang sejengkal lagi membuahkan hasil."


Rejo berlari sembari merentangkan kedua tangannya, layaknya burung terbang.


Sesekali ujung jari kirinya, ditembakkan ke permukaan air di pinggir kolam. Muncul gelombang yang searah dengan lari Rejo. Satu putaran, sudah terlihat gelombang air memutari kolam, dengan titik putar di tengah kolam.


Rejo kian kencang berlari dan kian sering menembakkan jari telunjuknya ke arah permukaan air. Gelombang tercipta semakin besar dan putarannya semakin cepat.


Rejo memutari kolam ini terus menerus hingga benar-benar muncul pusaran air di pusat kolam. Sekarang, Rejo berupaya mengarahkan pusaran air ke titik buah kelapa di dasar kali. Rejo meyakini, buah kelapa itu tak ikut arus. Sambil terus berlari mengitari kolam. Jika pusaran air itu menjauh dari titik buah kelapa, Rejo sesekali menembakkan tenaga dalam lebih besar, sehingga secara perlahan demi perlahan, titik pusaran air itu bergeser menuju ke titik buah kelapa.


Sebenarnya buah kelapa itu terletak agak di pinggir kolam. Dan ini menyulitkan Rejo mengendalikan pusaran air.


Rejo meyakini buah kepala itu tak berubah letak, dikarenakan ikan yang mati mengambang berbulan-bulan pun tak ikut arus air. Ini menandakan bahwa ikan-ikan yang masih terlihat segar, meski terus mengambang itu, terkena teluh tingkat tinggi. Ini alasan kenapa ikan-ikan mengambang itu tak terseret arus.


Teknik Rejo ini membuat Kanjng Syech Jumadil Kubro berdecak kagum.

__ADS_1


"Sebenarnya, bisa saja dia membuat gelombang memutar itu, dengan menembakkan tenaga dalam di permukaan air, di satu arah secara terus menerus, maka akan muncul gelombang. Dan kecenderungan gelombang akan berputar. Tahu kenapa itu tidak dilakukan Rejo?" bisik Kanjeng Syech Jumadil Kubro kepada lima santrinya.


Kelima santri menggeleng.


__ADS_2