
Rejo segera beranjak ke arah tiga macan. Dielusnya leher tiga macan itu. Seakan meminta izin untuk meninggalkan mereka barang sejenak.
Tiga macan menjilat-jilati tangan Rejo, seakan memberi izin.
Rejo beranjak dan mulai menuruni tebing.
“Ya Allah, ilmu ganas ini yang sebenarnya ingin saya singkirkan dari dalam tubuh ini, lha kok sekarang malah saya harus melakukannya,” gumam Rejo seakan mengeluh.
Di bibir kawah, Rejo sebenarnya sudah merasakan kepanasan alang kepalang, hanya saja, dia menetapkan hati.
“Jika Kiai Lembu Areng bisa masuk ke dalam kawah, artinya, manusia lain, termasuk saya juga bisa.”
Rejo lalu memeragakan jurus-jurus warisan Resiu Swadaraya.
Perlahan, tubuh Rejo terasa membara.
Kian lama bara tubuh Rejo semakin menguat.
Tredengar auman tiga macan, yang ternyata ikut melihat dari puncak gunung Galunggung.
Rejo segera menghentikan gerakannya, dan mendongak.
Tangan Rejo melambai ke arah tiga macan, yang menjadi teman perjalanannya itu.
Tiga macan tetap mengaum, seakan mereka ketakutan melihat tubuh Rejo yang membara.
“Bagaimana ini?”
“Ayo, masuklah ke dalam kawah, cepat!” teriakan Kiai Lembu Areng dari dalam kawah.
“Sebentar Kiai, tiga macan yang menemani saya ketakutan, melihat tubuh saya mulai mengeluarkan api.”
“Engkau pilih macan, atau pilih saya?” teriak Kiai Lembu Areng lagi.
Rejo segera beranjak menapaki tebing lagi, dan menemui macan.
Begitu tiba di puncak, tiga macan segera menyambur Rejo, sambil menggesek-gesekkan kepala di paha Rejo.
“Tolonglah, engkau bertiga tak usah mengaum. Saya ingin mencari ilmu dari Kiai Lembu Areng. Beliau itu orang hebat, dan sangat tinggi ilmunya. Jika saya tidak masuk ke dalam rumahnya, tentu beliau tak mau menularkan ilmunya kepada saya,” kata Rejo sambil mengelus leher macan-macan itu.
Tentu saja, macan tak mengerti apa yang diomongkan Rejo. Mereka hanya mengandalkan insting sebagai hewan buas yang mempunyai anggota kelompok saja.
Ketika Rejo, yang dianggap sebagai anggota kelompok, tubuhnya membara, dan tentu saja aroma tubuhnya pun berubah, tiga macan ini bereaksi.
Rejo melihat ke arah kawah lagi, lalu melihat ke arah tiga macan.
Rejo gamang.
Sebagai manusia, dia bisa saja segera memraktikkan jurus-jurus warisan Resi Swadaraya, dan ketika tubuhnya sudah penuh kobaran api, dia masuk ke dalam kawah.
Namun, sebagai seorang sahabat macan, dia tak tega melihat tiga ekor macan yang menemani perjalanannya ini.
“Ayo, segera engkau masuk ke dalam kawah!” teriak Kiai Lembu Areng lagi.
Rejo tak menjawab.
Dan, akhirnya Rejo memilih jalan tengah.
Dia tetap bertandang ke rumah gua di dalam kawah, namun, dia tak memraktikkan jurus warisan Resi Swadaraya.
“Namun, bagaimana caranya?”
Rejo duduk bersila, dan segera mengatur napas.
Rejo mencoba memraktikkan jurus-jurus ganas itu hanya dalam angan-angan, dengan membayangkan saja.
Memang mempunyai dampak. Tubuhnya terasa panas, namun tidak mengeluarkan bara. Dan yang terpenting, tiga macan tak memberikan reaksi. Mereka tetap duduk tenang, sambil menjilat-jilat kaki depannya.
“Apakah dengan panas seperti ini, saya mampu masuk ke dalam kawah? Apakah baju saya tak akan terbakar? Dan apakah kulit saya tak melepuh jika memasuki kawah yang sangat panas itu?”
Rejo tak ingin mati konyol. Dia ingin benar-benar menguasai cara agar aman.
“Jika saya tak mampu menandingi panas kawah, tentunya, saya harus bisa menghalau panas kawah, tapi apa mungkin?”
“Ayo cepetan masuk ke rumah saya!” teriakan dari arah dalam kawah.
Rejo tak memedulikan.
Rejo terus merenung.
“Tentunya, api bisa disandingkan dengan air dingin, agar kembali normal. Jadi, ketika panas kawah sudah terasa, maka tubuh ini harus semakin dingin dan harus seperti es, ketika sudah di dalam kawah. Maka, suhu sekitar saya tentu kembali normal, dan baju saya tidak terbakar. Lalu, bagaimana cara agar bisa memunculkan hawa sangat dingin dari dalam tubuh ini?"
__ADS_1
Rejo merenung lagi.
“Ah, apa salahnya mencoba,” gumam Rejo sambil berdiri.
Rejo berpikiran bahwa, ketika dia memeragakan jurus-jurus maut dari gunung Tidar, maka yang muncul adalah hawa panas, bahkan dengus nafas pun bisa mengeluarkan api, maka, ketika gerakan jurus itu dibalik, yaitu dari akhir menuju ke awal, tentunya akan mengeluarkan hawa dingin.
Rejo pun mulai memeragakan jurus, namun secara kebalikan.
Memang, kelihatan sangat lucu dan unik. Tiada pukulan, tiada tendangan. Yang ada hanyalah pukulan yang ditarik, tendangan yang urung.
Rejo melakukan dengan bersemangat dan konsentrasi tinggi, karena dia melakukan gerakan tapi harus mengingat jurus-jurus itu dari kebalikannya.
Tak terasa, suhu tubuh Rejo semakin menurun dan terus menurun.
“Bagus. Saya akan menuruni kawah, kalau tubuh ini nyaris membeku.”
Dan memang, tiga macan tak mengaum lagi. Mereka hanya melihat dalam posisi duduk sambil menjilat-jilat bulunya.
Rejo terus bergerak aneh.
Dan suhu tubuhnya terus menurun.
Hanya saja, Rejo mempertahankan detak jantungnya stabil, dan tetap hangat.
Ketika tubuh Rejo benar-benar nyaris membeku, dia segera bergerak menuruni tebing.
Di dekat kawah, Rejo segera bergerak aneh lagi, demi menurunkan suhu tubuhnya.
Ketika tubuh Rejo sudah mendekati beku, Rejo memaksakan kakinya mulai menuruni tebing di lubang kawah Gunung Galunggung.
“Cos!”
Rejo segera menarik kakinya lagi.
Seakan kakinya meleleh terkena panas luar biasa.
“Allahu Akbar.”
“Kalau saya hanya menjadikan setengah beku, mungkin kaki saya benar-benar meleleh. Jadi, saya harus benar-benar membuat kaki saya beku. Dan saya harus bisa mencapai mulut gua di lubang kawah, yang jaraknya sedepa dari mulut lubang ini. Namun, bagaimana caranya agar saya tidak meleleh di dalam gua. Tentunya, di dalam gua itu sangat panas.”
Rejo akhirnya bergerak aneh lagi. Dan memang Rejo menjadikan kakinya benar-benar beku. Bahkan Rejo kian menurunkan suhu di kakinya, hingga yang bisa digerakkan hanya dengkulnya saja, sedangkan persendian di mata kaki, benar-benar sudah kaku.
Barulah Rejo mulai menuruni tebing di lubang kawah.
“Cos!”
Perlahan tapi pasti, Rejo menuruni tebing.
Karena memang jaraknya dekat dengan bibir tebing, Rejo dengan mudah sampai ke mulut gua.
Agak masuk ke dalam, dia sudah disambut Kiai Lembu Areng.
“Selamat Ngger. Engkau berhasil masuk ke sini,” kata Kiai Lembu Areng.
Kian masuk ke dalam gua, yang dirasakan Rejo sebaliknya.
Bukannya panas membara seperti di mulut gua, tapi dingin luar biasa.
“Allahu Akbar. Kanjeng Kiai, di sini kok dingin sekali?”
“Iya memang benar. Engkau dapat pelajaran apa dari rumah saya ini?”
Rejo terdiam.
Kiai Lembu Areng melanjutkan bicara, memberi jawaban.
“Nak, pelajaran dari rumah saya ini, janganlah melihat seseorang itu dari bentuk fisik luarnya saja. Tapi, selami pemikirannya, selami hatinya, selami akhlaqnya. Jika hanya melihat tampilan fisik, banyak yang tertipu.”
Rejo menunduk.
“Ngger. Seperti yang engkau dengar, bahwa saya ini adalah orang kejam, sadis. Bahkan, bisa jadi kesadisan saya melebihi gurunya, Resi Swadaraya yang terkenal seantero Jawa itu. Saya tahu, suara di luar gunung menyebut, jika saya keluar gunung, adalah untuk membunuh, bahkan mencacah tubuh orang-orang. Itu yang membuat mereka takut kepada saya. Bukan itu saja, untuk menyebut nama saya saja, mereka tak berani. Saya tahu itu,” kata Kiai Lembu Areng.
Rejo menunduk.
Rejo masih terheran-heran, meski pintu masuk gua yang menjadi rumah Kiai Lembu Areng ini, harus melalui lubang kawah yang panas, toh ternyata di dalam gua, suhunya dingin, bahkan sejuk. Bahkan, untuk udara pun segar.
“Ngger. Sekarang engkau bisa melihat sendiri, apa yang saya lakukan di sini.”
Rejo tetap menunduk. Tak terasa muncul rasa keder dalam diri Rejo.
“Lihatlah, rumah ini. Ada apa saja?”
__ADS_1
Rejo memberanikan diri melihat sekeliling.
Tak ada apapun. Yang ada hanya sebuah batu datar seukuran sajadah.
“Yah. Disitu, tempat saya bermunajat kepada Allah swt.”
“Mohon maaf Kanjeng Kiai, lalu, dari mana udara segar ini muncul, sedangkan di luar sangat sesak dengan bau menyengat. Belum lagi uap dari kawah gunung.”
“Nak, engkau lihat lubang seukuran jendela itu? Lubang itu mengarah kepada gua di tebing di gunung ini. Hembusan angin sangat kencang yang menerpa masuk ke gua di tembing itu, masuk hingga ke sini. Jadi, engkau lihat sendiri. Saya bukan orang yang sakti seperti dibicarakan orang-orang. Tentunya, jika saya terlalu banyak menghirup udara beracun di puncak gunung Galunggung, tentu saya juga pusing, mungkin juga akan mati. Dan saya bisa menapaki lubang kawah yang panas, tentu bukan karena saya mengerahkan kesaktian, tapi karena kaki ini sudah terlalu terbiasa menapak benda panas, jadi tak terasa.”
Rejo terhenyak.
“Tentu engkau berfikir, bagaimana mungkin baju ini tak terbakar karena terkena panas tinggi? Ya tentu saja saya celup air. Itu lihat di pojokan gua ini, ada telaga kecil. Hanya saja, kulit ini tak tahan, sehingga menjadikan kulit saya menghitam.”
“Jadi, apakah saya sakti? Toh semua yang saya lakukan sangat manusiawi. Saya awalnya kerap keluar dari gua ini, untuk menjalankan salat Jumat. Tetapi, ketika saya datang, jemaah yang jumlahnya masih sedikit itu langsung buyar ketakutan. Jadi, saya serba salah.”
”Saya tak tahu, siapa yang menyebarkan isu saya kejam, sadis dan suka membunuh. Bahkan, beberapa wali di tanah Jawa ini, sempat termakan isu, dan hendak menghukum saya. Tapi, ketika beliau-beliau saya undang untuk masuk ke rumah saya ini, mereka tidak mau. Lalu, banyak utusan dari beliau, yang dipesani untuk membunuh saya. Tapi, karena sudah mendengarkan cerita tentang kebengisan saya, menjadikan mereka ketakutan sendiri. Lalu, ketika saya tanya, tak ada satu pun yang jujur, kecuali dirimu saja. Untuk itu,saya sangat takjub dengan keberanianmu itu.”
“Sudahlah, sekarang, apa yang ingin engkau ketahui atau lakukan. Jika ingin membunuh tubuh renta ini, silakan.”
Rejo berani memandang wajah Kiai Lembu Areng.
“Setelah mengetahui keseharian Panjenengan, dengan alasan apa saya harus membunuh Panjenengan?”
“Ya ndak tau, terserah kamu saja.”
“Kanjeng Kiai, boleh saya bertanya?”
“Silakan.”
“Siapa sebenarnya Kanjeng Kiai Lembu Areng ini?”
“Ya, saya ya Kiai Lembu Areng. Itu nama yang diberikan orang-orang kepada saya.”
“Angger. Sebenarnya umur saya sudah sangat renta. Mungkin karena hawa di gua inilah, yang menjadikan saya awet muda. Jadi, tubuh ini sebenarnya sudah tidak kuat lagi menahan nafsu. Hanya saja, Allah menakdirkan saya masih hidup sampai sekarang. Untuk itu, andai ada orang yang benar-benar membunuh saya, saya malah berterima kasih kepadanya. Mungkin sudah takdir Allah, saya harus mati dibunuh.”
“Mohon maaf, Kanjeng Kiai. Tak mungkin saya membunuh Panjenengan, karena memang tidak ada urusan hak. Toh saya melihat sendiri, Kanjeng Kiai bukan seperti yang diomongkan orang-orang. Saya hanya ingin tahu, Kanjeng Kiai ini sebenarnya siapa?” tanya Rejo memberanikan diri.
“Apakah itu perlu?”
Rejo terdiam.
Makam Syekh Quro di Kampung Pulobata, Kecamatan Lemahabang, Kabupaten Karawang
“Jika memang demikian, tak apa-apa. Saya adalah salah satu cucu murid Syech Quro. Saya tidak diajari apapun oleh beliau, karena terlalu kecil. Tugas saya hanya membersihkan kapal, dan tak pernah mendapatkan ilmu apapun dari beliau.”
Rejo yang tak mengerti tentang sejarah, hanya diam saja, mendengar dan menyimak.
“Eyang Quro datang ke tanah Jawa ini, dengan mengajak murid-muridnya. Saya adalah putra dari salahsatu murid beliau. Abi saya adalah Syekh Abdul Rahman, satu murid Eyang Quro yang sangat menaruh perhatian kepada ilmu Fiqh. Jadi, bapak saya tidak bisa ilmu kesaktian sama sekali. Beliau juga melarang saya belajar ilmu beladiri, dan ilmu hikmah. Jika saya mencuri-curi dengar dari pembicaraan para santri Syech Quro, beliau sangat marah bahkan memukul saya. Satu ketika, di depan Kanjeng Syech Quro, Abi sempat berujar, engkau boleh belajar ilmu hikmah, jika engkau bisa memasuki lubang kawah gunung.”
“Saya melihat ke arah Syech Quro, beliau hanya tersenyum dan menganggukkan kepala. Rasanya, saat itu, saya ingin segera cepat dewasa dan bisa menuju gunung untuk masuk ke lubang kawah gunung.”
“Namun, Abi selalu marah-marah, ketika saya mengajukan diri untuk pergi ke gunung. Hingga satu ketika Abi mengatakan, saya boleh pergi ke gunung berapi, asal bisa menghatamkan beberapa kitab fiqh. Dan Abi sendiri yang akan menguji saya.”
“Maka, sejak saat itu saya mengubur rapat-rapat keinginan untuk memelajari ilmu kejadukan, ilmu sufi. Dan saya mulai memelajari, menghafal, dan memehami dengan benar, isi kitab fiqh. Butuh sekitar lima tahunan saya menghatamkan beberapa kitab itu. Dan memang, saya diuji sendiri oleh Abi di depan Syech Quro. Abi memberi pertanyaan yang sangat sulit, dan itu adalah upaya untuk mempersulit saya. Namun, saya berhasil menjawab. Dan Kanjeng Syech Quro malah mencegah Abi untuk memberikan pertanyaan-pertayaan yang tak mungkin saya jawab dari sumber kitab fiqh yang saya hatamkan.”
“Saat itu, Syech Quro mengatakan, sudahlah, biarkan anakmu pergi ke gunung, pasrahkan kepada Allah swt. Saya pun berpamitan kepada seluruh penguni pesantren Syech Quro di Tanjung Pura, Karawang. Saya memilih gunung Merapi, karena memang kawahnya menggelegak.”
“Di gunung Merapi, saya bingung. Bagaimana mungkin manusia bisa masuk ke dalam kawah gunung yang membara? Saya pun memilih bertapa di Gunung Merapi. Bukan untuk mengejar ilmu, tapi menunggu orang sakti yang mau mengajari saya untuk bisa masuk ke dalam kawah gunung.”
“Gurumu, Resi Swadaraya, pernah mampir di pertapaan saya. Dia bersedia mengajarkan ilmu agar saya bisa masuk ke kawah gunung, tapi dengan syarat, saya harus mengikuti agama dia. Tentu saja, saya menolak. Lebih baik saya tidak bisa menuruni kawah gunung daripada keluar dari Islam.”
“Lalu beliau menantang saya bertarung. Tentu saja saya menolak, karena memang saya tidak pernah belajar ilmu kanuragan. Beliau tak percaya, karena beliau merasa saya dipenuhi dengan kekuatan yang tak terlihat. Saya pun tertawa. Karena itu tak mungkin.”
“Memang, pertarungan antara saya dan Resi Swadaraya benar-benar terjadi. Tubuh Resi Swadaraya berubah menjadi api berkobar. Tentu saja, saya ketakutan luar biasa. Saya hanya bisa berlari menjauh, tapi resi Swadaraya terus mengejar, dan beberapa kali memukul. Memang saya bisa menghindar atau menangkis sekenanya. Uniknya, tangan atau kaki saya tak sakit atau melepuh, meski bersentuhan dengan api di tubuh Resi Swadaraya. Akhirnya pertarungan kami berhenti dengan sendirinya. Hanya satu kata yang terucap dari mulut Resi Swadaraya, bahwa saya hebat. Saya berfikir, apanya yang hebat? Lha saya memang tak bisa pencak silat.”
“Saya sendiri heran, saya kok bisa menangkis dan berkelit. Padahal, semua tahu, resi Swadaraya yang gurumu itu, termasuk salah satu orang tersakti di tanah Jawa. Ilmunya bengis. Semua tahu, jika sudah berurusan dengan Resi Swadaraya, maka hanya kematian yang akan diterima. Nyatanya, saya bisa menghindar dari seluruh serangan gurumu itu. Sungguh, satu pengalaman yang tak mungkin bisa saya lupakan sampai saat ini.”
Rejo memandang dengan takjub.
“Nak, janganlah engkau melihat saya seperti orang yang hebat. Sungguh, tidak ada orang hebat di sini. Bukan saja saya, engkau pun tak hebat. Yang maha hebat hanya Allah swt.”
“Lalu, bagaimana ceritanya, Panjenengan bisa sampai ke Gunung Galunggung ini?”
“Nak, meski saya bisa menangkis api dari tubuh Resi Swadaraya, tidak menjadikan saya mempunyai kepercayaan diri untuk memasuki lubang kawah dengan gelegak bara di dalamnya. Sungguh saya masih diliputi ketakutan. Karena itu, saya melanjutkan pertapaan saya di Gunung Galunggung ini.”
“Hanya saja, kabar memang cepat tersiar. Keberhasilan saya untuk tetap hidup meski bertarung melawan Resi Swadaraya, sudah didengar seluruh antero dunia persilatan. Maka, sepanjang saya tinggal di Gunung Merapi, yang saya dapatkan hanyalah tantangan demi tantangan bertarung. Umumnya, dari para pendekar yang masih keder melawan Resi Swadaraya. Mereka mencoba untuk melawan saya.”
Rejo diam. Kanjeng Kiai Lembu Areng menghela napas.
__ADS_1
“Berpuluh orang sakti telah menantang saya. Padahal, saya tidak bisa ilmu pencak silat sama sekali. Saya tidak punya kesaktian. Tetapi, semua peristiwa yang saya alami, kian menguatkan iman saya. Bayangkan, bagaimana mungkin saya harus menghadapi orang-orang sakti, bersenjata dan bernafsu membunuh. Dalam hitungan kekuatan, tentu saja semestinya saya sudah tewas di tangan mereka, tapi nyatanya, sampai bertemu engkau ini, saya masih hidup.”
Rejo tak sabar, ingin mendengar bagaimana cara Kiai Lembu Areng menghadapi orang sakti itu.