
Matanya terpejam. Dia duduk bersila, menjadikan dirinya seakan air. Mulai yang mengalir pelan, hingga air yang bergolak.
Begitu dia membuka mata, yang tampak adalah sang lawan dengan ilmu blekok yang siap menyerang.
Kali ini, gerakan tangan dan kaki Ki Sipang meliuk gemulai seperti air. Kadang mengeras dan cepat seperti air curah. Beberapa serangan dari Pendekar Blekok berhasil ditangkis dan dihindari.
Bahkan, kadang dia nyaris bisa menyarangkan pukulan.
Pertarungan jadi imbang dan terkesan sangat cepat.
Mata yang memandang, hanya melihat kilatan dan kelebatan tangan saja, dan tubuh yang berjumpalitan.
Semua ternganga kagum.
Pertarungan semakin berjalan seru dan kecepatan meningkat.
Seakan pertarungan itu tak berhenti.
Dan memang seperti keadaannya. Ki Sipang sangat bernafsu, karena dia merasa mendapat ilmu baru yang sangat dahsyat.
Santri Blekok pun demikian juga. Sepanjang hidupnya tak pernah belajar pencak silat, tiba-tiba saja dia bisa memeragakan jurus unik yang dahsyat.
Namun, Sunan Kembang Kuning tahu dengan benar, batas kekuatan yang dimiliki dua santrinya ini. Andai diteruskan, tentu tenaga akan terkuras habis, dan berbahaya untuk kesehatan keduanya.
“Coba engkau hentikan pertarungan mereka,” perintah Sunan Kembang Kuning kepada satu santri yang suka memandangi batu.
“Saya, Kanjeng Sunan?”
“Benar. Kamu.”
“Bagaimana mungkin saya bisa menghentikan gerakan yang secepat angin seperti itu?”
“Ya dengan ilmu yang engkau kuasai.”
“Saya punya ilmu apa?”
“Lho, bukankah engkau selama ini sangat tertarik kepada batu? Berarti engkau sekarang sudah menguasai ilmu batu. Ayo maju sana, dan pisah keduanya.”
Santri batu agak gamang.
Dia takut jika terkena pukulan.
“Kenapa harus takut. Ayo maju, hentikan gerakan mereka berdua.”
“Bagaimana caranya, Kanjeng Sunan.”
“Dengan ilmu batu yang engkau kuasai.”
“Saya takut.”
“Orang yang takut, akan mengalami kematian berkali-kali. Maju sana. Buang rasa takutmu.”
Karena memang disuruh sang guru, perlahan santri batu ini maju.
Dia ngeri menyaksikan gerakan secepat kilat yang diperagakan dua temannya.
“Ayo cepat, maju.”
Mau tak mau, santri batu mendekati arena pertarungan.
Entah bagaimana mulanya, tiba-tiba saja, dia berdiri tepat di tengah pertarungan itu.
Secara reflek dua lengannya menangkis pukulan yang datang. Dia tak merasakan sakit samasekali.
Kakinya begitu kokoh, seakan menancap di dalam tanah.
“Thak, buk!”
Berkali-kali dia menangkis.
Gantian tujuh temannya terbelalak.
Tiga orang dalam kancah pertarungan. Satu berada di tengah merusaha melerai dan menangkis.
Ki Sipang dan satri blekok tentu saja kaget, dan mulai mengedorkan serangan.
Meski begitu beberapa pukulan dan tendangan mengenai tubuh santri batu.
“Trak. Trak!”
Pukulan itu seakan menganai batu.
Tentu saja, tangan dan kaki Ki Sipang dan santri blekok kesakitan.
Dan perlahan mereka mulai menghentikan serangan.
Napas ketiganya ngos-ngosan, sambil memegang dengkul masing-masing.
“Bapak semua, sekarang kalian tahu ilmu kalian masing-masing. Untuk itu, dalam lima hari ke depan, silakan kalian berlatih sabung, antar kalian sendiri. Masing-masing harus merasakan bertarung. Dan yang dibutuhkan hanyalah keyakinan, bahwa kalian telah menguasai jurus baru, milik kalian masing-masing. Setelah itu, akan saya tantangkan Kiai Nogo Sowo, untuk kalian tantang bertarung,” kata Sunan Kembang Kuning, sambil tertatih memasuki gubuk.
Santri-santri saling berpandangan.
Seakan mereka tak percaya telah menguasai ilmu pencak silat aneh, yang mereka ciptakan sendiri.
“Kita semua tahu, tak pernah belajar pencak silat. Tapi kenapa kamu bisa bergerak begitu cepat?” tanya satu santri kepada temannya yang menguasai ilmu blekok.
“Saya sendiri juga tak tahu. Saya juga heran, bagaimana mungkin badanmu seperti batu yang sangat keras, sehingga tangan saya ini sakit saat memukulmu?” tanya santri blekok kepada santri batu.
“Allahu Akbar. Kita bisa begini, karena dibimbing Kanjeng Sunan. Andai kita melakukan sendiri, belum tentu kita mampu menjadi seperti sekarang.”
Dan mereka pun mulai bertarung dengan ilmu masing-masing. Mulai ilmu mencangkul, ilmu air, ilmu blekok, ilmu angin, ilmu daun. Dan tentu saja, yang menjadi penengah, ketika pertarungan memanas adalah santri batu.
“Lima hari sudah, kalian sudah berlatih bertarung. Sudah saatnya saya tantangkan kalian untuk melawan Kiai Nogo Sowo,” kata Sunan Kembang Kuning, sambil mengajak mereka semua ke dekat candi.
Dada murid Sunan Kembang Kuning ini berdebar kencang.
“Secepat ini?” pikir mereka.
Mereka tak bisa membayangkan, jika harus meladeni pertarungan melawan Kiai Nogo Sowo. Pertapa Kiai Wulung Sunggi atau Kiai Sedo Anyar pun tewas metika melawan Kiai Nogo Sowo. Bahkan Sunan Kembang Kuning, sang guru, menang pertarungan dengan muslihat cerdik. Apalagi mereka?
Semakin dekat ke arah candi, keringat dingin mulai bercucuran.
Dan, mau tak mau mereka satu per satu harus bertarung melawan Kiai Nogo Sowo. Mereka pun tahu, sang lawan tak bisa mati, karena dari kalangan setan.
“Bapak semua, para santri. Kalian tahu, akibat yang kalian tanggung jika kalah melawan Kiai Nogo Sowo. Yaitu mati, seperti yang terjadi pada Kiai Sedo Anyar. Untuk itu, sedapat mungkin, kalian jangan mati.”
“Ingat! Ini pertarungan kalian, saya tak akan membantu sama sekali. Saya hanya memanggilkan Kiai Nogo Sowo untuk keluar persembunyian, lalu menantangkan pertarungan untuk kalian. Ingat. Pertarungan ini, adalah pertarungan jantan. Satu lawan satu.”
Keringat dingin kian bercucuran.
Usai mengatakan hal itu, kaki Sunan Kembang Kuning langsung dihentakkan ke tanah tiga kali, disertai dengan aliran tenaga dalam terbesarnya.
“Drug..drug.. drug!”
“Kiai Nogo Sowo, keluarlah. Ada yang menantangmu bertarung sampai mati!” teriak Sunan Kembang Kuning.
Seluruh santrinya gemetaran.
Memang, tak lama, tanah bergetar keras.
Dari sebuah sudut candi, terkuaklah tanah, seperti terjadi ledakan. Dari pusat ledakan itu, muncul ular raksasa. Itulah Kiai Nogo Sowo.
“Siapa yang menantangku?” teriak Kiai Nogo Sowo, sambil menyemburkan api dari mulutnya.
“Itu mereka sembilan orang. Pilih lawanmu satu per satu. Pertarungan baru berhenti, kalau engkau memang menyuruh berhenti.”
__ADS_1
“Hah! Benarkah seperti itu? Ha ha ha. Akan satu bunuh satu per satu kalian,” teriak Kiai Nogo Sowo.
Keringat dingin mengucur di seluruh tubuh semua santri ini.
“Ha ha ha. Jadi saya disuruh memilih siapa yang akan saya bunuh terlebih dulu? Baik... saya memilih yang paling tua itu. Hai si Mbah tua, maju ke sini, biar aku kunyah tubuhmu,” teriak Kiai Nogo Sowo.
Yang dipanggil tak lain adalah pendekar cangkul, tubuhnya gemetaran.
Dia melihat ke arah sang guru, Sunan Kembang Kuning.
Sang sunan mengangguk.
Dia ketakutan luar biasa, karena membayangkan tubuhnya akan dikunyah mentah-mentah oleh ular raksasa yang dipanggil Kiai Nogo Sowo.
“Teman-teman semua, dan Kanjeng Sunan. Saya meminta maaf atas segala kesalahan saya. Sekiranya, ini adalah hari terakhir saya melihat dunia.”
Semua tak menjawab. Semua menunduk, juga didera ketakutan.
Kanjeng Sunan Kembang Kuning mengangguk sambil tersenyum.
“Ingat latihanmu selama ini. Jangan engkau membuat gerakan di luar dari latihanmu. Itu kunci kemenanganmu,” pesan Sunan Kembang Kuning.
“Ayo, maju bertarung sana. Jangan permalukan saya.”
Perlahan, si mbah ini melangkah menuju ke arah Kiai Nogo Sowo.
Kiai Nogo Sowo masih melingkarkan tubuhnya. Dari mulutnya keluar asap, bahkan api saat dia mendengus.
“Ya Allah, lindungilah hamba-Mu ini,” bisik si pendekar cangkul, dengan dengkul gemetaran.
Untungnya dia tak terkencing-kencing.
Dia tak tahu, harus memulai dari mana. Menyerang atau bertahan.
Jarak masih jauh dari posisi Kiai Nogo Sowo.
Tiba-tiba saja, dia berinisiatif untuk membuat gerakan mencangkul tanah. Perlahan dia bergeser menuju ke arah Kiai Nogo Sowo.
“Ha ha ha. Engkau ini melakukan gerakan apa? Ilmu apa itu? Jadi engkau hanya belajar itu kepada si bungkuk itu?”
Si pendekar cangkul tak menggubris. Dia tetap melakukan gerakan yang sama berulang-ulang, sambil mendekati posisi Kiai Nogo Soro.
“Bersiaplah menjemput kematianmu!” teriak Kiai Nogo Sowo.
Dia segera membuka mulutnya lebar-lebar untuk mencaplok tubuh si Pendekar Cangkul.
Jarak semakin dekat.
Api dari mulut Kiai Nogo Sowo semakin membara dan berhembus.
Tak tahan melihat kehebatan lawannya, Pendekar Cangkul ini memilih memejamkan mata.
Dan dia yakin bakal mati di mulut Kiai Nogo Sowo.Tubuh Kiai Nogo Sowo sudah melesat dengan mulut ternganga.
Mata teman-temannya terbelalak.
Mereka yakin, sang pendekar cangkul bakal dicaplok Kiai Nogo Sowo.
Jarak sudah sangat dekat.
Tak mungkin bagi pendekar cangkul untuk menghindar.
Bagaimana mungkin dia menghindar? Karena posisi matanya terpejam.
Ketka mulut Kiai Nogo Sowo sudah sangat dekat, dan tiba-tiba.
“Blar!”
Tanah di dekat kaki Pendekar Cangkul seperti terkena cangkul. Besarnya, sebongkahan cangkulan.
Bongkahan tanah itu melesat sangat kencang ke arah mulut Kiai Nogo Sowo.
“Blar!”
Bongkahan tanah itu seperti tertumbuk tenaga dalam luar biasa.
Kiai Nogo Sowo terkaget-kaget.
Dia menggeliat, dan berguling menjauh.
Mulutnya seperti terkena ledakan meriam.
Satu taringnya tepat ditengah, seperti goyang.
Teman-temannya kaget. Matanya terbelalak.
“Allohu Akbar,” teriak mereka.
Mendengar teriakan temannya, si pendekar cangkul berani membuka matanya. Apalagi dia tadi terkaget-kaget muncul dua suara ledakan luar biasa kencang.
Dilihat tubuhnya masih segar bugar dan tidak dalam caplokan Kiai Nogo Sowo.
Dia melihat Kiai Nogo Sowo bergulingan.
“Dia tadi kena apa?” gumam pendekar cangkul bingung.
Maklum, dia tadi memejamkan mata rapat-rapat. Jadi, tak tahu apa yang terjadi.
Dilihatnya, tanah di depannya ada ceruk, seperti tercangkul.
Dan tak jauh darinya, ada bongkahan tanah yang tadi menghantam mulut Kiai Nogo Sowo.
Dia masih terbingung-bingung, tapi Kiai Nogo Sowo sudah menyiapkan serangan lanjutan.
“Punya ilmu segitu saja dipamerkan. Terimalah kematianmu,” teriak Kiai Nogo Sowo.
Kali ini, dia mengandalkan serangan dari ekornya.
Ekor itu sudah dipenuhi dengan tenaga dalam, dan hendak disabetkan kepada si pendekar cangkul.
Pendekar cangkul pun tetap melakukan gerakan monoton yang sama, seperti mencangkul.
Ekor Kiai Nogo Sowo disabetkan! Mengarah ke betis pendekar cangkul.
Kali ini, pendekar cangkul melihat, dan mulai didera ketakutan.
Kalau saja dia tak memegang teguh perintah gurunya, untuk melakukan gerakan yang sama berulang-ulang, tentu dia sudah lari tunggang-langgang.
“Saya tak akan lari... saya tak akan lari,” gumam si pendekar cangkul, dengan kian meneguhkan kakinya ke tanah.
Dia tetap mengulang gerakan mencangkul, sembari melihat ekor Kiai Nogo Sowo melesat cepat ke arah betisnya.
Di saat genting itu...
“Blar!”
“Blar!”
“Blar!”
Tiga bongkahan tanah seperti tercangkul melesak dari tanah.
Ketiganya mengenai ekor Kiai Nogo Sowo secara berurutan.
“Blar!”
__ADS_1
“Blar!”
“Blar!”
“Addoooooow!” teriak kiai Nogo Sowo.
Dia segera menarik ekornya, dan bergulingan kelojotan karena merasa nyeri luar biasa di bagian ekornya.
Pendekar cangkul sendiri kaget.
Baru kali ini dia melihat peristiwa aneh. Tanah bisa seakan tercangkul dan menghantam musuh.
“Bapak, jangan hanya bertahan. Serang musuhmu!” teriak Sunan Kembang Kuning.
“Kanjeng Sunan, bagaimana caranya?” gantian teriakan pendekar cangkul.
“Engkau hanya perlu mengandalkan mata, dan pikiranmu saja!”
Pendekar cangkul bingung. Apa yang dimaksud mengandalkan mata dan pikiran saja itu.
Tak sengaja, dia melihat ke arah lawannya, Kiai Nogo Sowo yang mulai melingkarkan lagi tubuhnya. Dia berusaha menyembunyikan ekornya yang masih nyeri, agar terhindar dari hantaman tanah lagi.
Pendekar cangkul melihat ke arah tubuh melingkar itu.
Dia merasa, ada celah empuk untuk diserang. Dia pun berpikir akan menyerang badan Kiai Nogo Sowo.
“Blar!”
Tiba-tiba saja, tanah di dekatnya seperti tercangkul dan melesak ke arah tubuh Kiai Nogo Sowo yang dilihat Pendekar Cangkul.
“Oh, jadi ini maksudnya, mengandalkan mata dan pikiran? Baik akan saya coba,” guman sang pendekar cangkul sendirian.
Dia mulai percaya diri.
Tubuhnya bergerak perlahan menuju ke arah Kiai Nogo Sowo yang melingkarkan diri.
Api dari mulut Kiai Nogo Sowo semakin membesar, namun, Pendekar Cangkul tak merasa panas samasekali, meski diterpa api.
Kali ini, sang pendekar tak mengincar lubang mulut yang mengeluarkan api itu. Namun, sasarannya adalah persendian rahang. Sang Pendekar Cangkul tahu, andai persendian rahang ular ini terkena, maka dia tak akan leluasa membuka mulutnya.
“Blar!”
Sebongkah tanah seakan tercangkul dan melesak ke arah rahang Kiai Nogo Sowo. Hanya saja, serangan ini dengan mudah dihindarkan.
Beberapa kali mencoba menyerang di tempat yang sama, Kiai Nogo Sowo tetap bisa menghindar dengan mudah. Bahkan sesekali balas menyerang.
Hanya saja, pertahanan berupa menyerang dengan bongkahan tanah, cukup efektif.
Serangan maupun caplokan Kiai Nogo Sowo dengan mudah bisa dihindarkan.
“Kalau saya melakukan ini, tentu pertarungan ini akan berlangsung lama, dan tenaga saya habis. Saya harus bisa menyudahi. Namun, bagaimana caranya?” pikir Pendekar Cangkul.
“Yang paling mudah adalah, memancing Kiai Nogo Sowo untuk menyerang dulu. Barulah nanti, dalam posisi menyerang, dia pasti lemah dalam pertahanan. Saat itulah saya menyerang titik lemahnya.”
Maka, Pendekar Cangkul pun mengambil keputusan besar. Yaitu, memberikan ruang terbuka untuk diserang. Khususnya, untuk dicaplok oleh Kiai Nogo Sowo.
Namun, sang Pendekar Cangkul sebenarnya telah menyiapkan gerakan mencangkul dengan sepenuh tenaga.
Caranya, dia memperlambat geraknya, dan memberi kesan kelelahan.
Demi melihat sang lawan gerakannya melambat, Kiai Nogo Sowo benar-benar mengira sang lawan kelelahan. Dan siap-siap melakukan serangan.
Umpan pendekar cangkul termakan. Kiai Nogo Sowo secepat itu pula menyerang dengan mulut menganga.
Dalam jarak yang sangat dekat, dalam hitungan detik saja, kepala Pendekar Cangkul bisa-bisa sudah masuk ke mulut Kiai Nogo Sowo.
Semua yang melihat terbelalak matanya.
Sudah terbayang kengerian.
Di saat genting itu, tiba-tiba Pendekar Cangkul membuat gerakan sangat sangat anggun dan cepat.
“Blar!”
Sebongkah tanah terangkat.
Melesak sangat cepat ke rahang kiri Kiai Nogo Sowo.
Kiai Nogo Sowo tak menyangka, sang lawan masih mempunyai tenaga luar biasa besar.
Tak mungkin bagi Kiai Nogo Sowo menghindar. Bahkan untuk mengerahkan tenaga dalam agar bisa meminimalisir resiko.
Tak pelak, bongkahan tanah itu menghantam rahang sebelah kiri Kiai Nogo Sowo.
"Blar!"
"Addooooohhhhhh."
Teriakan Kiai Nogo Sowo begitu kencang. Dia merasakan sangat nyeri di bagian persendian rahang kirinya. Mulutnya tak bisa lagi menutup. Terus menganga.
Kiai Nogo Sowo kelojotan di tanah.
Sang Pendekar Cangkul menghentikan gerakannya, dan dia mematung.
Dia sendiri tak menyangka, bisa mengalahkan Kiai Nogo Sowo begitu mudahnya.
Dia merasa takjub dengan ilmu yang dikuasainya sendiri. Bagaimana tidak. Setiap hari hanya membantu petani mencangkul tanah, ternyata, bisa menjelma menjadi ilmu unik yang sangat dahsyat.
Dia menatap terus ke arah Kiai Nogo Sowo yang tetap kelojotan di tanah.
Sembilan mata juga terbelalak. Mereka tak menyangka, temannya begitu mudah mengalahkan Kiai Nogo Sowo. Padahal, mereka tahu, Kiai Nogo Sowo sosok setan yang menguasai ilmu silat tingkat tinggi. Juga tak bisa mati.
Karena kelojotan tak henti-henti, tertatih-tatih Sunan Kembang Kuning mendekati Kiai Nogo Sowo. Lalu mengurut bagian rahang Kiai Nogo Sowo yang sakit.
Satu tangan memegang rahang bagian bawah yang tak bisa digerakkan.
Dengan pengerahan tenaga dalam yang besar, rahang bawah itu segera dikatupkan.
"Krak!"
Bunyi rahang itu ketika dikatupkan.
Kini, Kiai Nogo Sowo sudah bisa menutup mulutnya.
"Ampun..... tobat..... aku mengaku kalah," kata Kiai Nogo Sowo.
“Lho, bukankah engkau ingin membunuh seluruh santri saya. Masih melawan satu orang saja, engkau sudah mengaku kalah.”
“Selama aku menjadi jawara di kawasan Jenggolo ini, belum pernah menemukan ilmu aneh seperti itu. Hantaman tanah yang mengenaiku, seperti sengatan kilat yang sangat menyakitkan. Lebih-lebih ketika bongkahan tanah itu terkena rahang ini. Sangat menyakitkan,” teriak Kiai Nogo Sowo, sembari gusar.
Sunan Kembang Kuning semakin mendekat ke kepala Kiai Nogo Sowo.
“Ini, saya kasih tahu ya.... santri saya itu, menguasai ilmu tidak sama. Kalau yang engkau lawan tadi, dia belajar ilmu dari petani yang mencangkul tanah. Ada juga lho yang belajar dari burung blekok, belajar dari aliran sungai, bahkan ada yang belajar dari batu. Engkau pilih saja salah satunya. Siapa tahu, mereka bisa kamu bunuh,” bisik Sunan Kembang Kuning kepada Kiai Nogo Sowo.
“Apa? Benarkah yang engkau bisikkan ini?”
“Buat apa saya bohong. Siapa tahu, di antara santri, ada yang penguasaan ilmunya belum mumpuni. Sudah, engkau pilih satu untuk dilawan. Lihatlah mereka, dengan wajah ketakutan.”
Memang, yang dilihat Kiai Nogo Sowo, santri-santri terlihat dengan wajah gusar.
“Benar juga, sepertnya. Baik, saya akan memilih satu. Sepertinya, melawan dengan orang yang belajar dari blekok, cukup mudah untuk dikalahkan. Mana muridmu yang belajar kepada blekok?”
“Tuh. Yang di pojok.”
Setelah mengatakan itu, Sunan Kembang Kuning segera minggir.
__ADS_1