BODYGUARD SANG SUNAN

BODYGUARD SANG SUNAN
episode 6b: Kiai Wulung Sunggi Jadi Muallaf


__ADS_3

Rasa iba dirasakan sembilan santri sang Sunan, melihat Kiai Wulung Sunggi terjerembab berkali-kali. Wajahnya sudah penuh tanah bercampur peluh.


Menempuh jarak yang pendek itu, cukup lama bagi Kiai Wulung Sunggi sampai di hadapan Sunan Kembang Kuning atau Rejo.


Begitu di hadapannya, langsung Kiai Wulung Sunggi menjura hormat, dalam posisi duduk bersila.


Wajahnya yang penuh tanah dan peluh, menunduk takdim di hadapan sang sunan.


“Kanjeng Kiai, ada apa sebenarnya? Buat apa Kanjeng Kiai menunduk seperti itu?”


“Mohon maaf, Kanjeng Sunan, saya melakukan ini, karena memang saya harus melakukannya.”


“Iya, karena apa?”


“Karena saya sudah tahu, siapa Panjenengan sebenarnya?”


“Dari siapa?”


“Tidak dari siapa-siapa?”


“Tidak mungkin. Tentu ada yang memberitahu.”


“Mungkin dari wisik, atau entah dari apa saya tidak tahu.”


“Kanjeng Kiai, bukankah setingkat pertapa seperti Jenengan, pintu-pintu kegaiban telah terbuka, dan tentu jenengan tahu siapa yang datang kepada Jenengan. Bisakah Jenengan ceritakan kepada kami?”


“Tentu. Saya melakukan ini, karena saya mempunyai keyakinan sangat kuat, atas beberapa peristiwa yang saya alami sepanjang saya bertapa di sini.”


“Ceritakanlah. Kami akan mendengar, dan memetik pelajaran dari hidup Jenengan.”


“Kanjeng Sunan. Saya adalah pertapa. Penjaga ilmu kasekten dan ilmu pengetahuan kerajaan Jenggala. Saya adalah pewaris ke lima sebagai penjaga ilmu Jenggala ini. Jika tidak ada penerus secara utuh seluruh ilmu Jenggala ini, maka semua berakhir di saya, ketika saya mati.”


Semua diam.


“Dalam tapa brata, tiba-tiba hadir seseorang dengan ditemani burung garuda raksasa, yang berjalan beriringan. Di hadapan saya, dia mengatakan bernama Prabu Airlangga. Bapak dari penguasa Jenggala dan Daha. Saya pun bersimpuh takdim.”


“Dia memberi petuah kepada saya, bahwa masa keemasan Jenggala dan Daha harus dibangkitkan lagi. Saya ditunjuk sebagai pengemban misi membangkitkan kejayaan Jenggala, karena saya sebagai pewaris ilmu pengetahuan dan ilmu kanoragan.”


“Namun, saya bertanya, kenapa harus saya?”


“Kanjeng Prabu Airlangga hanya mengatakan, ini titah sang Prabu.”


“Saya tak berani membantah, tapi saya hanya mengandalkan akal sehat saja. Bagaimana mungkin, saya yang tak ada garis keturunan dari Sang Prabu mengemban misi yang rasanya tak mungkin saya lakukan di tubuh renta ini. Juga saya rasa, kenapa Prabu Airlangga yang sudah meninggal ratusan tahun lalu, datang begitu saja kepada saya. Kenapa kok tidak datang kepada Raja Jenggala sendiri, untuk memberikan petuah, untuk melakukan tindakan ini dan itu, agar Jenggala tak runtuh. Bagi saya, ini sangat aneh. Mungkinkah, membangkitkan sebuah kerajaan besar, dengan ilmu yang saya kuasai seorang diri?”


“Bagi saya, rasanya tak mungkin.”


Semua diam menyimak.


“Prabu Airlangga datang kepada saya beberapa kali di waktu yang berbeda. Dan satu ketika, ketika Prabu Airlangga sedang memberikan wejangan kepada saya, datang dua macan, yang sama besar. Sejak dari jauh, dua macan sudah menggeram-geram.”


“Anehnya, Prabu Airlangga dan Garuda raksasa segera pamit.”


Ternyata, dua macan ini hanya melewati saya begitu saja, dan berlalu masuk ke pedalaman.”


“Sejak saat itu, Prabu Airlangga tak pernah datang lagi. Semakin saya meningkatkan tapa brata saya, tetap saja, Prabu Airlangga tak datang. Saya kangen dan sangat rindu wejangan beliau.”


“Namun, di sela kegalauan saya itu, datang sosok pertapa. Badannya legam, kakinya tajam. Bahkan sampai bisa melobangi batu. Saya melihat sendiri. Di hadapan saya, dia mengatakan, bahwa antara saya dan dia sama-sama pertapa. Hanya saja, dia mengatakan, bahwa tempat saya bakal di neraka, sedangkan tempat dia, masih ada kemungkinan masuk surga.”


“Saya tanya kenapa?”


“Dia menjawab, karena saya memilih jalan yang memang mengarah ke neraka.”


“Lalu, jalan apa menuju surga?”


“Dia menjawab, jalan yang dibawa para Cagak Tanah Jawa. Pilar tanah Jawa. Yaitu walisanga”


“Saya tanya, siapa walisanga?”


“Dia menjawab, para pendekar, para pertapa, dan para raja, yang mengajarkan jalan benar menuju surga.”


“Saya bertanya, bagaimana saya bisa bertemu mereka?”


“Dia menjawab, semua karena takdir. Jika saya ditakdirkan menuju surga, maka saya akan bertemu satu di antara mereka, atau murid-murid mereka.”


“Saya tanya, seperti apa murid mereka?”


“Dia menjawab, saya tidak tahu jalannya takdir. Tapi, saya kenal satu di antaranya, yaitu orangnya bungkuk, dan cara berjalannya tertatih. Jika memang bertemu orang seperti ini, maka saya diminta untuk meminta pelajaran, jalan menuju surga.”


Semua tersentak, termasuk Sunan Kembang Kuning.


Sunan Kembang Kuning bertanya, “Siapa sebenarnya yang datang itu?”


“Yang datang kepada saya, mengaku bernama Kiai Lembu Areng, dari Kawah Gunung Galunggung. Untuk itulah, begitu Kanjeng Sunan mengatakan, kenal dengan Kiai Lembu Areng saya sempat tesentak dan menangis.”

__ADS_1


“Lebih-lebih Kanjeng Sunan mengatakan, bahwa Kanjeng Sunan bungkuk, dan cara berjalannya tertatih.”


Sembilan santri Sunan Kembang Kuning terhenyak.


“Beliau mengatakan apa? Setahu saya, dia tidak sakti. Bekal ilmunya hanyalah ilmu kejujuran,” tanya Sang Sunan.


“Beliau mengatakan, bahwa sepanjang hidup, saya ibaratnya bercocok tanam, tapi tak akan pernah bisa memetik buahnya. Sebab, yang bisa mengantarkan tanaman saya berbuah adalah sosok yang dipanggil Sunan Bungkuk. Dia berjalan tertatih, tapi mempunyai kecepatan luar biasa. Dia tak pernah menunjukkan ilmunya, padahal dia sakti mandraguna. Belajarlah kepada dia, agar engkau bisa memetik buah dari tanaman yang sepanjang hidup saya tanam.”


“Apa yang sebenarnya Kanjeng Kiai tanam?” tanya Sunan Kembang Kuning.


“Saya tidak menanam apapun. Saya hanya meyakini bahwa kerendahhatian akan membawa kepada ketinggian derajat. Saya juga tak percaya dengan banyak dewa dalam agama saya. Saya hanya percaya kepada satu dewa, tapi saya tak tahu namanya. Meski saya beragama Hindu, dan mengerjakan seluruh tata cara Hindu, saya tak menyembah kepada Brahma, Siwa atau Wisnu. Tapi, saya menyembah kepada satu Dewa, yang saya tak tahu namanya. Saya yakini, Sang Dewa yang belum saya kenal inilah, yang mengatur seluruh jagat raya.”


Semua menyimak.


“Tak lama, setelah mengutarakan hal itu, Kiai Lembu Areng berpamitan. Tapi, sempat saya cegah, karena saya ingin bertanya satu hal. Kanjeng Kiai berhenti, dan mengangguk kepala. Kepadanya, saya bertanya, benarkah yang datang kepada saya adalah Prabu Airlangga dan garuda tunggangannya?”


“Kanjeng Kiai Lembu Areng menjawab dengan tersenyum. Beliau balik bertanya kepada saya, menurutmu sendiri, apa benar yang datang kepadamu adalah Prabu Airlangga. Demikian Kiai Lembu Areng bertanya kepada saya.”


“Apa jawab Kanjeng Kiai,” tanya Sunan Kembang Kuning.


“Saya jawab, saya merasa, yang datang bukan Prabu Airlangga, karena semestinya beliau mendatangi raja-raja Jenggala dan Daha, bukan saya. Mendengar jawaban saya, Kiai Lembu Areng tersenyum. Lalu dia beranjak pergi.”


Sekarang, mungkin sudah tiba saatnya bagi saya untuk memanen apa yang selama ini saya tanam. Sudi kiranya Kanjeng Sunan membimbing saya untuk memetik buah dari yang selama ini saya tanam,” pinta Kiai Wulung Sunggi.


“Baik, saya mau mengajarkan apa yang saya ajarkan kepada bapak-bapak ini. Yaitu, jalan yang benar. Tapi, saya ingin bertanya dahulu, kenapa burung-burung mati?”


“Kanjeng Sunan, soal burung mati, itu bukan urusan saya. Tapi, entah siapa yang membikin mati. Saya hanya mengerahkan tenaga dalam saja, untuk mengumpulkan bangkai-bangkai burung itu di satu tempat, dari jarak jauh, agar tak bertebaran ke mana-mana.”


“Jadi, burung ini mati, bukan karena Kanjeng Kiai?”


“Bukan.”


“Saya di sini hanya bertapa brata, menunggu maut atau menunggu Sunan Bungkuk.”


“Tapi, saya kok merasakan ada getaran aneh di sini, ada bau anyir yang aneh juga.”


“Iya, Kanjeng Sunan. Awalnya, kami kira dari bangkai burung, ternyata tidak.”


“Saya sendiri tak tahu, kenapa burung itu mati. Saya juga tak peduli kenapa burung itu mati. Yang jelas, bau anyir ini sudah sangat lama. Bahkan, sejak saya bermukim di candi ini,” kata Kiai Wulung Sunggi.


Sunan Kembang Kuning memang menangkap gelagat yang aneh. Dia merasakan ada getaran aneh yang berasal dari dalam tanah.


“Mungkinkah, getaran ini yang menjadikan burung-burung ini tewas?” pikir Sunan Kembang Kuning.


“Tidak, Kanjeng Sunan. Saya kira hal ini wajar.”


“Sudah berapa lama, Kanjeng Kiai tinggal di sini?”


“Sejak muda.”


“Ki Sipang, berapa lama belajar ilmu Jenggala di sini?”


“Sejak kecil.”


“Apa yang Ki Sipang rasakan?”


“Ketika saya keluar dari kawasan ini, napas saya serasa lega.”


“Selain itu?”


“Saya suka usil dan mudah cepat marah.”


“Kanjeng Kiai sendiri merasakan apa?”


“Saya tidak merasakan apapun.”


“Baiklah. Saya merasakan ada hal aneh di sini. Khususnya dari dalam tanah. Mungkin, ada baiknya akan saya tangani. Tetapi, itu tak penting. Yang penting adalah, mari kita membimbing Kiai Wulung Sunggi untuk menjadi mualaf.”


Lalu, Sunan Kembang Kuning meminta sembilan santrinya untuk membopong Kiai Wulung Sunggi, ke sungai, untuk mandi.


Bukan itu saja, Kiai Wulung Sunggi diminta untuk memotong rambut panjangnya yang digelung ke atas. Selain itu, juga diminta merapikan seluruh alis, kumis dan jenggot.


Maka, sembilan santrinya pun secara hati-hati membopong Kiai Wulung Sunggi untuk mensucikan diri, dengan mandi keramas. Sudah bertahun-tahun tubuh Kiai WUlung Wunggi tak tesentuh air.


Begitu terjamah air, Kiai Wulung Sunggi menggigil alang kepalang. Demi tekatnya menjadi sosok muslim, Kiai Wulung Sunggi bersedia, meski dia menggigil kedinginan.


Seluruh daki di tubuhnya digosok dengan pasir.


Perlahan, daki di tubuhnya mulai terkikis.


Uniknya, begitu terkena air, perlahan, kaki yang tak bisa diluruskan, perlahan mulai bisa digerakkan.


Meski belum bisa berjalan, posisi kaki Kiai Wulung Sunggi, sudah bisa diluruskan, layaknya orang normal.

__ADS_1


Kiai Wulung Sunggi, dengan baju basah kuyup, dibopong lagi ke hadapan Sunan Kembang Kuning.


Mereka pun duduk melingkar.


Kiai Wulung Sunggi menangis sesegukan.


Secara perlahan, Sunan Kembang Kuning memberi petuah, dan menjelaskan apa itu Islam. Selanjutnya, Kiai Wulung Sunggi membaca kalimat syahadat.


“Alhamdulillah, Kanjeng Kiai kini telah menjadi muslim. Jadi, Kanjeng Kiai tak boleh lagi menyembah kepada dewa dengan cara Hindu, tapi menyembah Allah melalui salat, dan tapabrata bisa diganti dengan membaca wirid kalimat tayyibah.”


Hingga seharian, sembilan santri mengajari dan melayani Kiai Wulung Sunggi, termasuk melakukan salat berjamaah.


Seharian itu, Kiai Wulung Sunggi sangat menikmati hari pertama menjadi muslim.


Ketika usai salat Isya, Sunan Kembang Kuning meminta sepuluh orang ini, agak menjauhi candi.


“Saya akan mencari tahu, apa yang menyebabkan burung-burung mati mendadak. Tolong jangan ganggu saya,” pinta Sunan Kembang Kuning.


Maka, Kiai Wulung Sunggi pun dibopong menjauh.


Semua berdebar.


Menunggu, apa yang akan dilakukan Sang Sunan.


Sunan Kembang Kuning duduk bersila.


Perlahan, mulai muncul pendar sinar di sekitaran tubuhnya.


Kian menyilaukan.


Semua terperangah.


Lebih-lebih Kiai Wulung Sunggi. Meski dia menguasai ilmu pengetahuan dan kanoragan Jenggolo, yang terkenal dahsyat itu, belum pernah menemukan peristiwa tubuh berpijar seperti ini.


Pemandangan ini sungguh dinikmati begitu saja. Kiai Wulung Sunggi, sama sekali tak membuka ilmunya. Memang, dulu ketika muda, dia mendengar bahwa satu-satunya pertapa nyentrik yang bengis dan menakutkan, tubuhnya bisa berpijar. Dialah Resi Swadaraya yang tinggal di gunung Tidar. Kiai Wulung Sunggi, juga mendengar bahwa satu-satunya pewaris ilmu ini adalah satu pangeran dari kerajaan Mataram.


“Benarkah, Kanjeng Sunan ini adalah murid dari Resi Swadaraya? Kalau memang benar, betapa hebatnya ilmu Kanjeng Sunan. Sungguh, jalan tertatih bukan halangan sama sekali. Tapi, bagaimana mungkin ilmu yang penuh rapalan mantera Hindu bisa masuk ke dalam diri Kanjeng Sunan yang muslim?”


Meski tak mendapat jawaban, toh, Kiai Wulung Sunggi sangat menikmati pemandangan di depannya.


Tubuh Sunan Kembang Kuning sudah menjadi pijar sepenuhnya.


Tak berbentuk. Hanya kilatan sinar memendar ke mana-mana.


Jika melihat beberapa gerakan yang diperagakan, sungguh, tak terlihat jika Sunan Kembang Kuning adalah sosok yang berjalan tertatih.


Sembilan santrinya, tambah kian tak berani berbicara apapun. Mulut mereka ternganga karena kaget alang kepalang.


Meski mereka sudah menyangka bahwa ilmu Kanjeng Sunan Kembang Kuning sangat tinggi, namun, mereka tak menyangka jika sampai mempunyai tubuh yang bisa berpijar seperti ini.


Gerakan Sang Sunan semakin kencang dan sulit dikenali.


Satu kesempatan, tubuh renta yang hanya berlihat seperti api bergulung-gulung ini melompat setinggi-tingginya. Sebelum kaki hinggap di tanah, Sang Sunan menghempaskan pukulan tenaga dalam sekencang-kencangnya ke dalam tanah.


“Blar!”


Suara ledakan membahana.


“Keluar!” teriak Sang Sunan.


Tak terjadi apapun.


Hening.


Tubuh pijar Sang Sunan tidak meredup.


Sang Sunan melompat lagi setinggi-tingginya, dan diulang lagi pukulan ke arah tanah ke dua kali.


“Blar!”


Kali ini, ledakan tambah hebat.


“Keluar!” teriaknya, dengan suara parau.


Hampir saja, Kanjeng Sunan melompat lagi untuk mengirim pukulan kali ketiga, namun tanah yang dipijak sedikit bergetar. Beberapa batu candi terjatuh dari tempatnya.


Tanah mulai berekah.


Dari lubang sumur yang tak jauh dari candi, keluar seekor ular sebesar batang pohon kelapa.


Sepuluh orang terjingkat.


Perlahan, mereka seakan sepakat mulai beringsut kian menjauh.

__ADS_1


__ADS_2