
Sunan Kembang Kuning diam. Dua tangannya memegang bambu kuning. Matanya terpejam.
Kali ini, dia hendak mengeluarkan kemampuan yang didapat di Kolam Segaran, yaitu ilmu yang didapat dari Raja Majapahit, Prabu Wikrama Wardhana.
Tenaga dalam yang dikerahkan Sunan Kembang Kuning pun adalah tenaga dalam titipan dari Prabu Wikrama Wardhana, yang saat itu, mengarahkan Sunan Kembang Kuning untuk bertarung melawan anak keturunan Prabu Siliwangi dari Padjadjaran.
“Hai manusia bungkuk. Engkau itu mau apa? Aku tahu, ilmu yang engkau keluarkan adalah ilmu dari Wikrama Wardhana. Ilmu itu tak ada apa-apanya bagiku. Dengan ilmu itu kok kamu akan melawanku. Tewas akan engkau alami, ha ha ha,” kata Kiai Nogo Sowo ini.
Sunan Kembang Kuning tak menggubrisnya, dan terus menyiapkan tenaga dalam titipan Prabu Wikrama Wardhana, hingga pada kekuatan puncak.
“Ketahuilah wong bungkuk. Ilmu Wikrama Wardhana itu, aku yang mengajarkan kepadanya, saat bertapa di puncak Penanggungan. Lho kok sekarang akan engkau gunakan untuk menghantam aku, apa bisa. Baiklah, kalau itu maumu. Terimalah kematianmu,” desis Kiai Nogo Sowo.
Karena jarak antara Kiai Nogo Sowo dan Sunan Kembang Kuning terlalu dekat, menjadikan Sunan Kembang Kuning melenting cukup menjauh.
Melihat musuhnya berlari menjauh, sang ular pun gusar, dan segera mengeluarkan patukan pamungkas.
Kepala sang ular menjulur.
Lingkaran tubuhnya mulai mengendur.
Sunan Kembang Kuning tetap bergeser semakin menjauh.
Tubuh sang ular tak lagi melingkar, tapi memanjang.
Ini memang yang diharapkan Sunan Kembang Kuning.
Ular pun berhasil menjangkau tubuh Sunan Kembang Kuning.
Mulutnya dibuka lebar-lebar, dan dari mulutnya keluar asap upas serta desis yang mengandung tenaga dalam.
Ular menyerang.
Ular mengincar kepala Sang Sunan, untuk dicaplok.
Sang Sunan berkelit dengan menggeser tubuhnya ke samping.
Terkaman ular hanya menyapu angin.
Sunan Kembang kuning segera mengangkat tongkat bambu kuningnya. Dikerahkan seluruh tenaga dalam warisan Prabu Wikramawardhana di bambu itu, lalu dipukulkan keras-keras ke arah bagian belakang kepala ular.
“Buk!”
Suara cukup keras, ketika tongkat bambu itu mengenai badan ular.
Tidak memberikan efek apapun. Padahal, batu sebesar kerbau pun jika terkena pukulan itu, pasti hancur berkeping.
“Sudah saya katakan, ilmu Wikrama Wardhana itu, aku yang mengajarkan. Lha kok kamu pakai untuk menyerangku. Itu sia-sia, wahai lekaki bungkuk yang bodoh,” teriak Kiai Nogo Sowo.
Kepala Kiai Nogo Sowo segera membalik, dan menyerang lagi kepala Sunan Kembang Kuning.
Yang diserang pun, dengan cekatan mengelak. Lagi-lagi sedikit bergeser ke tempat aman.
Kali ini, Sunan Kembang Kuning menyiapkan sodokan dengan tongkat bambunya.
“Des!”
Sodokan itu mengenai tubuh sang ular.
Namun, tak memberikan efek apapun.
“Sudah aku katakan, ilmu itu tak ada apa-apanya.”
Serangan demi serangan dilakukan Kiai Nogo Sowo, tapi tetap saja bisa dihindari oleh Sunan Kembang Kuning, sambil mengirim pukulan.
Karena berkali-kali tetap menggunakan ilmu yang sama, Kiai Nogo Sowo pun mulai meremehkan Kanjeng Sunan Kembang Kuning.
“Hei Bungkuk, ilmu segitu hendak melawan aku?” teriak si ular Kiai Nogo Sowo.
Sembilan santrinya mulai didera ketakutan.
“Jangan-jangan Kanjeng Sunan kalah?”
Semua gusar.
Pertarungan terus berlangsung.
Meski Sunan Kembang Kuning berkali-kali bisa menggebuk tubuh si ular raksasa, namun agaknya tak memberikan pengaruh apapun.
Sang Ular pun kian bernafsu ingin segera menyudahi pertarungan.
Kiai Nogo Sowo meningkatkan serangan.
Tubuhnya meliuk-liuk.
Uap upas dari hidungnya kian banyak keluar.
Mulutnya mendesis kencang, ditambah lidahnya menjulur-julur panjang.
__ADS_1
Diserang sedemikian rupa, membuat Sunan Kembang Kuning sedikit terdesak, dan memilih menghindar dan menghindar.
Melihat sang Sunan terdesak, keringat dingin sembilan santri Sang Sunan mulai bercucuran.
“Ya Allah, berilah kemenangan kepada Junjungan kami, Sunan Kembang Kuning,” gumam satu di antaranya.
“Kalau sampai Kanjeng Sunan kalah, bagaimana cara kami melawan si ular siluman itu?” gumam lainnya.
Sunan Kembang Kuning semakin terdesak.
Dia tambah mundur, dan terus mundur. Ini membuat tubuh ular yang awalnya melingkar melindungi ekor, kian memanjang.
Ekor ikan tak terlindungi samasekali.
Sebenarnya, ini hanya trik yang dilakukan Sunan Kembang Kuning, agar bisa mengincar ekor Kiai Nogo Sowo.
Dalam satu kesempatan, ketika tubuh si Ular Kiai Nogo Sowo sudah benar-benar memanjang, dan bagian ekornya tak lagi terlindung samasekali, tiba-tiba, tubuh Sunan Kembang Kuning melenting tinggi ke atas.
“Kelihatan!” teriak dia.
Sembilan santri yang tubuhnya sudah basah karena keringat dingin ini, kaget.
Mereka tak menyangka, di saat terjepit, sang Sunan masih mempunyai tenaga cadangan yang begitu besar.
Tapi, Si Ular Kiai Nogo Sowo tetap saja meremehkan.
“Ha ha ha, engkau mau melakukan apa si bungkuk. Ilmumu sudah tak lagi mempan melawanku! Lakukan sesukamu!” teriak si ular siluman, dengan menyemburkan asap upas ke arah Sang Sunan yang sedang melayang.
Sunan Kembang Kuning pun segera memutar tongkatnya untuk mengusir asap upas yang mengarah kepada tubuhnya yang sedang melayang turun, mendekati ekor sang ular siluman.
Di saat jarak semakin dekat ekor ini, Sunan Kembang Kuning segera merubah cara bertarungnya. Dia merapal ilmu Sinjhi Cileungsi, satu ilmu aneh, yang didapat dari raja Padjajdjaran.
Ilmu yang sangat unik untuk mengatasi berbagai ilmu dari tanah Jawa. Ilmu yang hanya diwariskan kepada keturunan Raja, dan mengandalkan auman macan ini.
Begitu ekor si ular Siluman sudah dalam jangkauan gebukan, tiba-tiba saja Sang Sunan mengaum layaknya macan yang sedang marah.
“Wraaaaaaaaaaa.”
Tongkatnya pun diayun untuk menggebuk ekor Kiai Nogo Sowo.
Kiai Nogo Sowo, yang awalnya menganggap enteng ilmu sang lawan, kaget aleng kepalang. Tapi semua sudah terlambat.
“Buk!”
Tongkat Sang Sunan dipukulkan tepat di ujung ekor ular siluman.
“Wesssssss.”
Tubuhnya meluntir tak karuan.
Hampir saja, tubuh Sang Sunan terlilit.
Untungnya sang Sunan bisa menghindar dengan cermat.
Sang Sunan menjauh.
Dibiarkan tubuh ular siluman raksasa ini kelojotan berguling-guling di tanah.
Sembilan orang santri Sunan Kembang Kuning berteriak gembira, karena sang Guru bisa membuat ular siluman kelojotan.
“Kanjeng Sunan, apa sebaiknya tidak dibunuh saja?” tanya satu santri.
Sunan Kembang Kuning menoleh sebentar, lalu tetap lurus menatap ke arah ular yang masih kelojotan.
Agaknya, santri satu ini belum mengerti.
Dia mengajukan pertanyaan kali kedua.
Sunan Kembang Kuning juga melakukan hal yang sama. Menoleh sebentar, tanpa berkata apapun.
“Kanjeng Sunan, apa sebaiknya dihabisi saja,” kata dia kali ketiga.
“Engkau saja yang membunuh. Sana, bunuh ular itu,” jawab Sunan Kembang Kuning, sambil tertawa terkekeh.
Tentu saja, ini membuat satu santri terdiam.
Semua membisu. Perlahan, teriakan gembira itu mulai memudar.
Yang dilihat bukan lagi ular kelojotan, tapi sesuatu yang lebih mengerikan.
Seakan ular itu mengeluarkan tangan dan kaki.
Bentuknya mulai berubah.
“Anak-anak, kalian segera bersembunyi. Cari tempat yang aman. Cepat lari. Inilah pertarungan sebenarnya,” kata Sunan Kembang Kuning, sambil memberi isyarat dengan tongkatnya, agar para santri lari menjauh.
Sembilan orang ini langsung beranjak, berlarian menjauh. Mencari tempat bersembunyi yang dirasa paling aman. Ada yang bersembunyi di balik batu besar, pohon besar, bahkan ada yang masuk ke kubangan.
__ADS_1
“Kalian yang di balik batu, tak aman. Cari tempat sembunyi lainnya. Atau kalian kalian lari sejauh-jauhnya. Jangan di tempat ini,” teriak Sunan Kembang Kuning.
Santri yang ada di balik batu, termasuk yang sembunyi di kubangan, segera beringsut.
Mereka akhirnya sepakat untuk berlari sajauh-jauhnya, tapi masih bisa melihat ke arah candi.
“Belum aman!” teriak Sunan Kembang Kuning.
Tentu saja sembilan santri ini kaget.
Bagaimana mungkin, suara Sang Guru bisa mereka dengar dari jarak yang sedemikian jauh.
Akhirnya, semua sepakat lari sejauh-jauhnya, dan tak lagi melihat ke belakang.
“Nah, sekarang, tinggal kita berdua. Engkau sudah merasakan gebukanku. Tidakkah kita sudahi saja pertarungan ini?” tanya Sunan Kembang Kuning.
“Hei Bungkuk. Engkau telah membuatku marah. Tidak bisa begitu saja menyudahi pertarungan kita. Engkau akan aku kirim seperti resi kerempeng Wulung Sunggi itu. Sudahlah, mengakulah kalah, dan biarkan aku membunuhmu,” kata Kiai Nogo Sowo.
Kini, bentuk Kiai Nogo Sowo tidak lagi berujud ular, tapi, sosok berambut gimbal, berambut lebat sekujur tubuh, dan mata menyala. Dua taring menyembul sangat besar di ujung mulutnya.
“Bagaimana mungkin saya menyerah kepadamu, sedangkan engkau belum menunjukkan seberapa besar ilmumu. Belum tentu engkau dengan mudah mengalahkanku. Badanmu memang besar dan kekar, tapi engkau tak punya akal. Hanya manusia yang dibekali akal oleh Gusti Allah. Dengan akal itulah, saya dan manusia lain, bisa mengalahkanmu.”
“Pakai akal apa lagi. Engkau tadi telah menipuku, dengan mengeluarkan ilmu cadanganmu. Sekarang, engkau akan menipu apa lagi?”
“Ya tentu saja tak saya kasih tahukan ke kamu.”
“Ah.... ayo bertarung!”
Kiai Nogo Sowo mulai membuka kuda-kuda dengan dua kakinya yang kokoh dan berbulu lebat.
“Baik, jika engkau memang ingin bertarung. Saya ladeni.”
Sunan Kembang Kuning pun berjalan tertatih menuju ke bungkusannya.
Perlahan, diambilnya ikat kepala kuning, pemberian Sunan Ampel, sang Guru.
Begitu ikat kepala itu diikatkan di kepala, dan menyibakkan posisi rambutnya yang gondrong sebahu, perlahan, punuk di punggungnya menghilang.
Perlahan, berdirilah sosok gagah, dengan tongkat bambu di tangan kiri, dan tangan kanan menggenggam pedang bangsawan kerajaan Mataram Hindu.
“Kalau engkau bisa merubah dirimu dari ular menjadi sosok genderuwo. Saya pun bisa merubah diri, dari sosok bungkuk, menjadi seperti ini. Sekarang, inilah pertarungan yang sebenarnya.”
Demi melihat sosok gagah sebagai lawannya. Kiai Nogo Sowo tercenung.
Kiai Nogo Sowo yang sudah berubah ujud kepada aslinya, sosok gondoruwo ini, mulai berpikir. “Dengan kondisi jalan tertatih saja, sudah sebegitu gesit. Apalagi dengan tubuh tegap seperti itu? Akankah aku bisa mengalahkan orang ini?”
“Apa? Engkau takut melawan Saya?”
“Siapa takut?”
“Kalau begitu, serang saya!”
Sunan Kembang Kuning membuka kuda-kuda. Kali ini, dia menyiapkan ilmu yang disarikan dari berbagai pertemuannya dengan Syech Belabelu.
“Apa? Engkau takut?” tanya Sunan Kembang Kuning, karena melihat sang lawan tidak segera menggebraknya.
Kiai Nogo Sowo tak bergerak, meski dia sudah sebenarnya siap menyerang.
“Engkau tahu ilmu ini?”
Kiai Nogo Sowo tetap diam.
“Ini adalah ilmu warisan para wali tanah Jawa, Syech Belabelu. Tentunya engkau sudah mengetahuinya.”
Memang disengaja oleh Kanjeng Sunan Kembang Kuning, untuk menyampaikan hal ini. Tujuannya, tak lain agar menjauhkan dari pertarungan.
Menurut Kanjeng Sunan Kembang Kuning, bertarung melawan gondoruwo tak ada artinya. Pasalnya, tak mungkin dia mengalahkan atau membunuh setan, yang memang ditakdirkan berumur sampai hari kiamat. Juga tak mungkin dia mengislamkan setan, karena memang sudah kufur sejak zaman Nabi Adam. Jadi, buat apa bertarung.
“Ayo serang saya!” teriak Sunan Kembang Kuning.
Kiai Nogo Sowo tak segera menyerang.
“Kalau engkau tak menyerang. Biar saya saja yang mendahului. Bersiaplah!”
Sunan Kembang Kuning segera melesat. Tangan kiri memutar bambu kuning, dan tangan kanan siap menusukkan pedang.
Kiai Nogo Sowo kaget, dan bereaksi cepat.
Karena memang dia mempunyai kemampuan terbang dan kemampuan aneh-aneh lainnya, dengan mudah menghindari serangan Sunan Kembang Kuning.
“Hm. Engkau memang mudah menghidari serangan saya. Tapi, bagaimana dengan serangan yang ini,” teriak Sunan Kembang Kuning, dengan merubah serangannya.
Kali ini, dijadikan bambu kuningnya tumpuhan di tanah, dan tangan Kanjeng Sunan bergelantungan di bambu, dan dia memutar seperti gasing. Tangan kanannya memutar pedang. Dua putaran sangat kencang ini agak sulit ditebak.
Dengan poros as bambu kuning, putaran semakin kencang. Sesekali poros as itu ditarik lalu ditancapkan lagi di tanah, kian mendekati gondoruwo.
Kiai Nogo Sowo agak kebingungan, meski dia mempunyai kecepatan layaknya cahaya. Itu bisa dilakukan ketika dia berada di alam gaib. Tidak di alam nyata manusia seperti saat ini. Kecepatannya menurun drastis.
__ADS_1
Sebenarnya, gondoruwo bisa saja segera menghilang dan memasuki alam gaib, lalu menyerang Sunan Kembang Kuning dari alam gaib, tapi dia ragu. Akankah dia mampu membendung serangan, begitu dia memasuki alam manusia lagi. Bukankah untuk menyerang manusia di alam nyata, dia harus memasuki dulu alam manusia?
Jarak semakin dekat.