
"Karena dengan berlari mengitari kolam segaran ini, dia bisa mengumpulkan tenaga dalam melalui desiran angin yang menerpa dirinya, yang kedua, dia bisa menembakkan tenaga dalam ke arah permukaan air yang sebenarnya sudah muncul gelombang. Dengan demikian, kecepatan gelombang itu terus bertambah dan bertambah. Itu alasan kenapa dia bisa membuat pusaran air di kolam segaran ini."
Hampir hingga menjelang salat maghrib Rejo barulah bisa mengarahkan pusaran air sangat kencang ini, ke arah buah kelapa di dasar kolam. Tentu saja, Kolam segaran seperti kuali yang diguncang kencang-kencang. Air kecipakan ke mana-mana.
Rejo yang terus menerus berkonsentrasi di titik pusaran air, sambil terus berlari mengitari kolam, tak menyadari, ratusan mata mengawasi tingkah lakunya.
Penduduk setempat dibuat ketakutan, karena mereka merasakan getaran tanah di sekitar rumahnya. Untuk itu, mereka keluar rumah. Getaran tanah itu muncul karena Rejo terus-terusan menembakkan tenaga dalam ke arah permukaan air kolam.
Penduduk dibuat ternganga, dengan munculnya gelombang berputar yang mengeluarkan suara riak yang cukup kencang. Dan, Rejo terus-terusan berlari sambil sesekali mengarahkan jari telunjuknya ke kolam.
"Sedang apa anak muda itu, dia membuat kita semua tambah takut saja. Tanah menjadi bergetar. Kami kira terjadi gempa," kata satu warga, dan dibenarkan warga lain.
Namun, Rejo benar-benar sudah dikejar waktu, sebab waktu sudah menjelang gelap.
Tak mungkin dia mengetahui letak buah kelapa dalam kegelapan. Di sisi lain, Rejo merasa kelelahan teramat sangat. Namun, dia tak mau usahanya sia-sia.
Untuk itu, dia kian menambah kecepatan larinya. Dan, dia semakin sering menembakkan jari telunjuknya ke arah permukaan kolam.
Benar!
Pusaran air sangat besar itu benar-benar tepat di atas kelapa. Dan memang benar! Kelapa itu terlihat. Artinya, kelapa tak hanyut ikut arus air berputar.
Tali yang digunakan untuk mengikat buah kelapa bergelembung itu cukup kuat.
"Kelihatan!" teriak Rejo kegirangan.
Namun dia tak bisa menembakkan tenaga dalam ke arah buah kelapa itu, karena dirasa kurang.
Maka, Rejo memutuskan berlari satu putaran lagi, untuk mengumpulkan tenaga dalam sebesar-besarnya melalui kekuatan desiran angin.
Syech Jumadil Kubro dan lima santrinya tegang.
Mereka menahan napas, dan berdebar menunggu apa yang terjadi, jika Rejo menembakkan tenaga dalam, tepat ke arah buah kelapa di dasar kolam.
Rejo sudah berlari hampir satu putaran, tenaga dalam di telunjuknya sudah sangat banyak, dan siap ditembakkan ke arah buah kelapa.
Dan.....
Saatnya pun tiba.
Begitu melihat buah kelapa tepat di tengah pusaran air, Rejo menembakkan tenaga dalam maksimal ke arah itu.
Syech Jumadil Kubro dan lima santrinya terbelalak.
"Blar!"
Sinar biru sangat terang memancar dari buah kelapa.
Ratusan penduduk kaget atas suara memekak, dan mata mereka sesaat buta karena sinar biru menyilaukan itu.
Efek dari tembakan ini, Rejo terpental.
Berguling-guling.
Dia pingsan.
Syech Jumadil Kubro segera bereaksi cepat. Beserta lima santrinya, Kanjeng Syech yang tak muda lagi ini, berlari sekencangnya ke arah Rejo. Lima santrinya tak kuasa mengikuti.
Kanjeng Syech menghampiri tubuh Rejo, dan secepat itu pula menotok beberapa jalan darah di tubuh Rejo.
"Cepat, ambilkan daun waru," teriak Kanjeng Syech Jumadil Kubro kepada lima santrinya, yang hampir sampai.
Tak ayal, lima orang ini langsung balik arah menuju pohon waru, dan mengambil secara acak daun waru.
Daun-daun waru ini, oleh Syech Jumadil Kubro, diusap-usapkan di sekujur tubuh Rejo.
Saat itu, tubuh Rejo berwarna merah, seakan darah mengucur dari sekujur tubuhnya. Padahal, itu adalah keringat yang berwarna merah.
Usai digosok-gosok daun waru itu, perlahan warna kulit Rejo berubah menjadi biru, layaknya warna air kolam segaran.
"Anak ini terkena tenaga pantulan dari buah kelapa yang ditembak dengan tenaga dalamnya tadi. Kalau tidak segera dikeluarkan dari tubuhnya, anak ini bisa mati atau lumpuh seumur hidupnya."
Ketika seluruh tubuh Rejo sudah berwarna biru, termasuk ketika dibuka kelopak matanya, warna putih mata juga sudah berubah menjadi biru, Syech Jumadil Kubro menyuruh santrinya untuk mengangkat tubuh Rejo, lalu dibaringkan di undakan kolam segaran paling bawah. Jadi, sebagian tubuh Rejo terendam air. Hanya bagian kepalanya yang menyembul, agar bisa bernapas.
"Kanjeng Syech, apa anak muda itu tidak mati, dengan posisi seperti itu?" tanya satu santri, ketika diajak pergi meninggalkan Rejo sendirian.
"Tidak. Dia akan sembuh, dan dia akan mempunyai kekuatan jauh lebih besar dari sebelumnya. Ini cara Raja kalian menitipkan ilmunya kepada Rejo."
Perlahan, warna biru di tubuh Rejo memudar terkena air yang berwarna biru juga. Sejalan dengan normalnya warna tubuh Rejo, saat itu pula tubuh Rejo menyerap tenaga dalam yang luar biasa besar dari kolam Segaran.
Sejalan itu pula, warna biru air kolam segaran juga memudar.
Perlahan, demi perlahan, menjadi jernih.
Hanya saja, karena saat itu malam hari, perubahan warna air ini tidak kentara.
Ketika tengah malam, Rejo siuman dari pingsannya, dia merasakan tubuhnya sangat segar.
Rejo heran, kenapa dia berada di bibir kolam. Bahkan tubuhnya tercelum di air kolam.
"Siapa yang melakukan ini? Kenapa tubuh saya terasa sangat ringan?" gumam Rejo sendiri, sembari mengingat-ingat apa yang terjadi.
Rejo tak menyadari bahwa tindakannya menghantam buah kelapa bergelembung menjadikan semua menjadi normal.
Malam itu, ketika air menjadi jernih, ikan-ikan yang berbulan-bulan mengambang seperti mati, namun tubuhnya masih segar, perlahan seperti bangun dari tidurnya. Ikan-ikan perlahan bisa menggerakkan ekor dan siripnya, dan dia berenang menyelam.
Rejo segera mengambil air wudlu, dan mengerjakan salat ashar, maghrib dan isya, yang ditinggalkannya.
Lalu, Rejo menatap ke arah Kolam Segaran. Rasanya, ia ingin berlari mengitari kolam segaran lagi, dan membuat pusaran air, dengan tujuan ingin menembak buah kelapa bergelembung itu.
Hanya saja, malam tanpa bulan, menjadikan pandangan Rejo cukup terbatas. Dia tak menyadari, bahwa di pinggiran kolam segaran tak ada lagi ikan mengambang.
Rejo memutuskan untuk duduk-duduk saja di pinggir kolam, sembari wiridan hingga dia tertidur di situ juga.
Saat subuh sekali pun, Rejo masih belum menyadari bahwa kolam segaran sudah kembali normal.
Ketika kondisi mulai terang, barulah terlihat nyata. Itupun yang mengetahui warga kampung.
"Hoi, ikan-ikan kolam segaran sudah tak mengambang," teriak satu warga.
__ADS_1
"Air kolam sudah berubah jernih lagi. Dan sepertinya lebih jernih dari sebelumnya."
Mendengar teriakan ini, warga pun berbondong berlarian ke arah Kolam Segaran.
Semua ternganga melihat kejernihan air kolam. Bahkan, ikan-ikan yang berenang di dasar pun terlihat jelas.
Rejo tak kalah kagetnya.
Matanya terbelalak memandang apa yang ada di depannya.
Kolam Segaran sangat jernih. Tak lagi berwarna biru, dan ikan-ikan tampak berenang di dalam kolam.
"Allahu akbar. Akhirnya, saya berhasil juga."
Rejo melihat sebuah buah kelapa mengambang, dan masih dalam posisi terikat. Hanya saja, buah kelapa itu tak lagi berdesis mengeluarkan gelembung.
Warga segera berebut masuk ke dalam kolam. Mereka membasuh sekujur tubuhnya dengan air kolam. Padahal, kolam segaran sebenarnya untuk keputren, para putri Raja mandi.
Tak lama, warga mulai memasang sesaji di pinggir kolam. Mereka membakar dupa lagi, di pinggir kolam, sembari menghaturkan sembah kepada dewa. Mereka meyakini, jernihnya air ini karena dewa.
Setelah itu, kebanyakan mereka lalu menghaturkan sembah kepada Rejo. Karena mereka meyakini, rejo adalah titisan dewa.
"Hanya titisan dewa yang bisa mengembalikan air menjadi jernih," gumam warga.
Rejo bukannya bangga, malah dia melangkah menjauhi orang yang menghaturkan sembah kepada dia.
"Wahai semuanya, saya ini hanya pemuda biasa. Jangan menghatur sembah kepada saya," kata Rejo sembari mundur menjauh.
Belum lagi Rejo bisa menjauhi Kolam Segaran, dia dikejutkan datangnya rombongan pasukan yang mengamankan area Kolam Segaran.
Tampak dari jauh, kuda kerajaan mendekat dengan penungganbg yang tak lagi muda.
Dialah sang raja. Wikramawardhana. Yang lebih memilih kehidupan pertapa, meski tetap memerintah Majapahit.
"Nak. Benar kan, apa yang saya sampaikan. Engkau lebih sakti dari saya. Buktinya, engkau bisa mengembalikan air kolam kembali menjadi jernih. Selamat nak," kata sang Raja, sambil menepuk dua pundak Rejo, yang menjura hormat.
Rejo baru tahu, sosok yang ditantangnya bertarung sebenarnya sang penguasa Majapahit.
"Mohon ampun, Paduka, saya baru tahu jika Panjenengan adalah raja. Mohon maaf atas kelancangan saya ini."
"Tidak apa-apa. Sekarang, engkau temui gurumu, Kanjeng Syech Jumadil Kubro. Dia termasuk salahsatu sahabat saya. Biar Kanjeng Syech yang menjelaskan semuanya."
"Jadi....."
"Benar. Saya sebenarnya tahu dan mengerti tentang agama baru yang bernama Islam ini, dari sahabat saya, Kanjeng Syech Jumadil Kubro. Jadi, pertemuan kita sebelumnya, saya hanya mengetes kamu. Dan tentang sosokmu, saya juga sudah tahu dari Kanjeng Syech Jumadil Kubro."
"Hah....."
Rejo terkejut. Dia tak menyangka, bahwa sang lawan adu kesaktian ini, sudah kenal dengan Kanjeng Syech Jumadil Kubro. Sosok wali yang diikuti Rejo dalam beberapa perjalanannya di Jawa bagian tengah.
"Kanjeng resi, jika Kanjeng Resi sudah mengetahui kebenaran Islam, kenapa tidak masuk ke dalam agama yang diridlai Allah ini?" tanya Rejo memberanikan diri, dengan suara kencang.
Ini memang disengaja, agar penduduk Majapahit yang menunduk takdim di sepanjang jalan juga terdengar.
"Nak, agama adalah satu keyakinan. Hindu sudah menjadi agama Kerajaan ini, dan tak mungkin saya meninggalkan Hindu. Bagaimana dengan rakyat saya. Biarlah saya menjadi pertapa karena dengan keyakinan saya. Tentunya, saya juga akan memperoleh swarga sesuai dengan keyakinan saya," kata Wikramawardhana.
"Terserah Paduka resi saja. Yang penting saya sudah menyampaikan apa adanya. Jika ingin selamat dunia akhirat, sebaiknya, memeluk agama Islam," teriak Rejo, agar semua bisa rakyat yang bersimpuh itu bisa mendengarkan.
Rejo yang tak paham dunia ramalan ini, hanya garuk-garuk kepala.
"Ah, terserah resi saja. Saya tak paham."
"Ya sudahlah. Sekarang sudah terbukti engkau lebih sakti daripada saya. Engkau juga telah mengerti bahwa di tlatah Majapahit ini tak ada yang lebih sakti daripada engkau. Buktinya, banyak pertapa yang tewas karena mereka grusa-grusu. Sudah, saya pulang, dan engkau segera temui gurumu. Tanyakan kepada dia tentang apa saja yang tidak engkau ketahui."
Pasukan elit pun membuka jalan bagi sang Raja. Penduduk Majapahit masih bersimpuh takdim hingga Raja mereka hilang dari pandangan.
Begitu sang raja berlalu, giliran para penduduk bersimpuh ke arah Rejo.
Di mata penduduk, Rejo adalah titisan dewa.
Rejo yang risih dengan sikap penduduk ini, segera berlari menjauh dari Kolam Degaran.
Rejo menuju ke arah rumah Syech Jumadil Kubro, sebagaimana arah yang ditunjukkan raja.
Benar.
Rejo mendapatkan rumah yang cukup besar, berdinding benteng.
Begitu memasuki rumah itu, ada lima orang duduk di joglo. Kanjeng Syech Jumadil Kubro duduk di kursi panjang.
(Makam Syech Jumadil Kubro, di Kompleks Makam Troloyo, Trowulan, Mojokerto)
Agaknya, kedatangan Rejo sudah dinanti oleh Kanjeng Syech Jumadil Kubro.
"Assalamalaikum."
"Waalaikum salam."
Berenam mereka membalas salam Rejo.
Rejo agak kaget, dan melihat ke arah lima orang majapahit, yang bertelanjang dada ini.
"Nak, mereka berlima sudah menjadi muslim."
"Alhamdulillah."
Tak terasa, air mata Rejo menetes.
"Kenapa engkau menangis?"
Rejo segera menjura hormat, lalu duduk bersimpuh, berjejer dengan lima santri Kanjeng Syech Jumadil Kubro.
"Saya menangis, karena lima bapak-bapak ini bisa menerima hidayah, sedangkan Paduka Raja Majapahit yang ilmu pengetahuannya sangat tinggi, sebenarnya lebih bisa menerima hidayah."
"Urusan Hidayah, hanya Allah yang tahu."
Rejo diam.
__ADS_1
"Nak, saya tahu perjuanganmu mengembalikan air kolam Segaran menjadi jernih kembali. Sungguh, usaha yang cukup keras, namun sangat mengesankan. Tentunya, engkau sudah bertemu dengan Kakang Paduka Wikramawardhana?"
"Benar, Kanjeng Syech."
"Apa yang dikatakannya?"
"Saya disuruh bertanya kepada Kanjeng Syech."
"Oh begitu. Baiklah, apa yang ingin kamu tanyakan?"
Rejo bersemangat.
Lima santri juga bergairah. Mereka yakin akan mendapat pengetahuan baru.
"Kanjeng Syech. Apa benar, peristiwa di Jurang Jero dulu, yaitu Panjenengan menyuruh saya membuat kolam, bertujuan agar saya mempunyai bekal untuk menghadapi Paduka Raja Wikramawardhana?"
"Benar. Saya sudah menyiapkan kamu sejak dulu."
"Apa benar, ada unsur tenaga dalam, saat saya membuat kolam?"
"Benar. Saya tanamkan tanaga dalam melalui kesabaranmu saat mencari ikan, dan gerakan tenaga dalam itu, tak lain adalah gerakan menggali kolam. Itu langkah untuk menghadapi ilmu tingkat tinggi di kalangan Hindu."
Rejo tertegun.
"Nak, ketahuilah. Engkau telah lulus ujian pertama. Dalam dirimu kini mengalir tenaga dalam luar biasa. Sayangnya, semua bersumber dari tata cara Hindu. Sebagai seorang muslim, tentu engkau harus bisa menemukan cara bagaimana tenaga dalam itu berfungsi maksimal tanpa harus mengorbankan aqidah dan syariat."
Rejo diam.
"Jadi, tantangan dari Kakang Wikramawardhana adalah upaya beliau untuk menitipkan kekuatannya kepada dirimu. Dan engkau ternyata berhasil. Jadi, sebagai sosok linuwih, beliau sudah tahu bahwa dalam dirimu mengalir darah pendekar yang masih murni. Beliau sebenarnya titip ilmu kepada jasad wadagmu. Diawali warna air kolam segaran merah. Begitu engkau memasuki kolam secara terus menerus, sebenarnya, warna merah itu, perlahan meresap ke dalam dirimu. Gerakan seperti menggali lubang di dalam air, tak lain adalah menetralisir tenaga dalam warna merah itu, agar tak mempengaruhi dirimu."
"Jangan heran, sampai-sampai keringatmu pun berwarna merah. Itu karena sebegitu melekatnya tenaga dalam itu merasuk dalam dirimu."
"Ketika air kolam berwarna menjadi biru, itu hanyalah 'tipuan' belaka. Agar engkau mau mengeluarkan tenaga dalam terbesarmu, sebagai ujian terakhir untuk mengetahui bahwa tenaga dalam Kakang Wikramawardhana sudah merasuk dalam dirimu. Buktinya, begitu terkena tembakan tenaga dalammu, semua menjadi normal. Ikan-ikan hidup kembali, dan warna air kolam segeran lebih jernih dari sebelumnya."
"Jadi, saya harus melakukan apa? Sebenarnya, saya ingin mentralisir tenaga ganas yang kerap tak terkendali. Sehingga orang-orang bisa celaka karena ulah saya. Tetapi, sekarang malah saya mendapatkan tenaga dalam Hindu lain, yang membuat saya semakin tersiksa saja."
"Kenapa harus tersiksa?"
"Lalu, saya harus melakukan apa, Kanjeng Syech?"
"Bukankah engkau telah diberitahu, bahwa di tlatah Majapahit ini tidak ada lagi yang lebih sakti darimu. Jika engkau ingin mendapatkan lawan setara, bukankah engkau disarankan untuk pergi ke tlatah Siliwangi. Tantang keturunan Prabu Siliwangi untuk bertarung."
"Benar, Kanjeng Syech. Kata Prabu Wikramawardhana, ada orang sakti di tlatah Siliwangi sana."
"Ya sudah. Berangkat sana. Temukan dia. Tantang dia secara jantan."
"Memang benar. Kata Prabu Wikramawardhana, ada sosok yang mempunyai kesaktian dewa, di tanah Pajajaran. Dia adalah keturunan dari Prabu Siliwangi, satu negara yang pernah tunduk kepada Majapahit, tapi kini menjadi negara yang besar. Tapi siapa namanya?"
"Bisa jadi calon lawanmu sudah tak muda lagi. Tetapi, dia sangat sakti. Kalau tak salah namanya Raja Sangara. Dia adalah putra ketiga Prabu Siliwangi. Dua saudaranya tak kalah sakti. Yang pertama bernama Raden Walangsungsang, tapi di dunia persilatan dikenal dengan sebutan Kiai Kian Santang. Dan adiknya, berjenis perempuan, dia bernama Nyi Mas Rara Santang. Jika engkau bertemu ketiganya, dipastikan engkau akan mendapat lawan sepadan."
"Tetapi, apakah beliau berusia muda?"
"Tentu tidak, Rejo. Dia sudah tua. Jadi, sudah sangat kaya pengalamanan di dunia persilatan, maupun di dunia kenegaraan. Saya ramalkan engkau bakal kesulitan, jika menandingi kesaktian mereka. Yang bisa engkau lakukan adalah, engkau harus berbekal akal sehat. Hanya dengan kecerdasan belaka engkau akan bisa mengalahkan salah satu dari mereka. Sebaliknya, jika ketiganya bersama-sama menyerangmu, saya pastikan engkau bakal kalah telak."
Rejo tercenung.
"Sedemikian hebatkah ilmu mereka?"
"Ya. Kanjeng Prabu Wikramawardhana bukan tandingan salah satu di antara mereka."
Rejo sedikit tercekat.
Dia membayangkan, untuk mengalahkan ilmu kesaktian Prabu Wikramawardhana saja, dia sudah pontang-panting, apalagi melawan sosok yang menurut Kanjeng Syech Jumadil Kubro, bisa mengalahkan prabu Wikramawardhana dengan mudah.
"Engkau takut?"
Rejo diam.
"Tapi, bukankah engkau ingin menghilangkan sifat kebengisanmu? Tentu melawan mereka, engkau akan mendapat pelajaran setimpal.
Rejo diam.
"Itu bisa kau dapatkan, asal engkau tak mati di tangan mereka."
Rejo bersemangat. Dan dia ingin lebih jauh mengetahui calon lawannya.
"Kanjeng Syech, kira-kira seperti apa orang paling sakti di Jawa itu?"
Syech Jumadil Kubro tersenyum, melihat mimik muka Rejo yang tegang, namun penuh semangat itu.
"Calon lawanmu, entah itu, entah Kiai Kian Santang, atau Nyi Mas Rara Santang, atau Raja Sangara, ketiganya dibantu oleh siluman Macan Putih. Sebenarnya, siluman ini bukanlah milik mereka, tetapi mengabdi kepada Ayahanda mereka, yaitu Prabu Siliwangi. Siluman macan putih ini dikalahkan oleh Prabu Siliwangi dalam pertarungan adu kesaktian, di sebuah air terjun. Siluman macan putih, akhirnya tetap setia kepada Pajajaran, meski Prabu Siliwangi sudah mangkat. Untuk itu, engkau saya kira akan kesulitan menghadapinya. Belum lagi kesaktian yang dipunyai orang mereka. Sungguh, kalau terjadi pertarungan, engkau akan dihadapkan kepada hidup dan mati."
Rejo tertegun.
"Tetapi, yang perlu engkau ketahui, meski berilmu tinggi, mereka bertiga sudah memeluk agama Islam. Jadi, sesama muslim dilarang saling membunuh. Sebab, jika itu tejadi, maka yang dibunuh maupun yang membunuh, akan masuk neraka."
Rejo manggut-manggut. Ketegangan di wajahnya, mulai mengendur.
"Adakah kelemahannya?"
"Macan putih memang menduduki posisi paling puncak di tlatah persilatan Tanah Jawa. Dan tak ada lagi yang lebih hebat daripada macan putih. Yang bisa engkau lakukan adalah, api dilawan dengan api. Macan, dilawan dengan macan."
"Maksud Kanjeng Syech?"
"Engkau seharusnya menguasai ilmu macan, untuk menghadapi macan. Adakah ilmumu yang menyerupai macan?"
"Saya tidak tahu, Kanjeng Syech?"
"Engkau harus mengetahui, apa ilmu yang engkau kuasai."
"Caranya?"
"Saya tidak tahu. Temukan sendiri."
"Saya tidak tahu."
"Mungkin engkau perlu menemui Syech Belabelu lagi, untuk mengetahui jenis ilmumu itu. Dan Syech Belabelu, termasuk sosok yang menguasai ilmu macan. Engkau bisa belajar dari dia."
"Jadi, menurut Kanjeng Syech, sebaiknya saya bertemu Kanjeng Syech Belabelu lagi, sebelum saya ke Pajajaran?"
__ADS_1
"Tepat."
"Baiklah kanjeng Syech, saya segera berangkat."