BODYGUARD SANG SUNAN

BODYGUARD SANG SUNAN
episode 7j: Api Berpijar di Bukit Suci


__ADS_3

Betapa kagetnya Ki Sarono, begitu mendapat latihan langsung dari Sunan Kembang Kuning. Pasalnya, tampil sebagai guru pencak silat, sangat berbeda ketika Sunan Kembang Kuning sebagai imam.


Sangat tegas, tak ada tatapan lembut. Yang ada hanyalah sorot mata tajam, dan seakan tanpa belas kasihan.


“Pak Lurah, waktu kita tak banyak. Jadi, saya harap Pak Lurah bisa segera menguasai setiap ilmu yang saya ajarkan.”


Diawali dengan bagaimana mengeluarkan api dari tubuh.


Pak Lurah pun mengikuti gerak yang dilakukan Sunan Kembang Kuning. Gerakan demi gerakan, Pak Lurah merasakan tubuhnya mulai panas. Keringat bercucuran deras.


“Kanjeng Sunan, mohon berhenti sebentar.”


“Tidak, ikuti terus, Ladi engkau juga harus mengikuti,” teriak Sunan Kembang Kuning.


Maka dua orang itu pun secara serius mengikuti gerakan sang Sunan.


Tak lama, dengus napas Pak Lurah dan Ladi mulai memanas. Hidung serasa terbakar.


Dan di puncak kecapekan keduanya, malah dari nafas hidungnya berkobar api.


Kedua kaget.


“Hah, sesederhana ini belajar ilmu api?” pikir mereka.


“Jangan melamun. Terus bergerak. Hiraukan capek. Terus bergerak. Kunci dari ilmu ini adalah di saat capek. Ayo jangan berhenti,” teriak Sunan Kembang Kuning.


Matahari kian terik, menjadikan tubuh Ladi dan Pak Lurah semakin panas. Keringat langsung menguap.


Di saat tubuh mereka pada panas memuncak, dan rasanya kulit melepuh, rambut seakan terbakar, saat itulah, ada rasa sejuk mengalir dari pusar, lalu menyebar ke seluruh tubuh.


Padahal, dari tubuh mereka mulai berkobar api merah. Kian lama kian besar, dan anehnya, tubuh keduanya semakin terasa sejuk.


Karena rasa sejuk inilah, menjadikan Ladi dan Pak Lurah ketagihan dan ingin terus berlatih.


Api mulai membakar rumput dan pohon perdu di puncak bukit.


Sementara dari arah kampung, warga melihat kepulan asap hitam dari arah bukit.


Semua ketakutan.


Sebab, di bukit itu, dipercaya bersemayam Betara, dan dikeramatkan. Mereka meyakini bahwa kepulan asap hitam itu adalah tanda kemarahan dewa atas hadirnya gubuk di pinggir kali.


“Dewa akan turun ke bumi dan akan menghancurkan sendiri Sunan bungkuk itu,” demikian isu menyebar di kalangan penduduk.


Isu ini cepat menyebar. Dan para pedanda kian membubuhi cerita yang aneh-aneh.


Maka, di kalangan penduduk punya keyakinan tak lama lagi gubuk itu akan dihancurkan oleh Dewa melalui api di puncak bukit.


Mereka semakin getol ke pura dan sembahyang.


“Tunggulah kehancuran gubuk itu. Sudah tak ada yang bisa melawan, selain dewa sendiri,” kata pedanda kepada para umatnya.


Semua gembira.


Padahal, di puncak bukti suci itu, Pak Lurah dan Ladi kian menguasai ilmu api. Api kian membesar dan membakar apa saja.


“Saya kira sudah cukup untuk ilmu api. Sekarang kita akan belajar ilmu membeku.”


Tentu saja Pak Lurah dan Ladi kaget.


“Tahu kalian, apa tanda ilmu membeku ini berhasil?”


Pak Lurah dan Ladi menggeleng.


“Yaitu, kalian harus mengembalikan kondisi tanah di bukit ini menjadi subur lagi. Lihatlah sekeliling, kalian telah membakar rumput dan pohon-pohon pendek. Jadi, ilmu yang akan kalian pelajari adalah kebalikannya. Engkau harus menjadikan tanah di sini subur lagi.”


“Untuk mempelajari ilmu ini, saya tak akan memandu. Silakan Pak Lurah dan Pak ladi temukan sendiri caranya. Saya akan kembali ke gubuk. Lakukan setiap hari pada malam hari, usai salat isya.”


“Mudahnya begini. Untuk melatih api, kita berlatih pada siang hari yang terik, maka untuk melatih ilmu membeku, tentu dibutuhkan situasi yang dingin. Dan itu pada malam hari.”


“Bagaimana caranya, Kanjeng Sunan?”


“Bagaimana caramu menemukan panas api? Ya seperti itu pula caramu menemukan hawa sejuk dan membeku.”


Lalu, Sunan Kembang Kuning pun kembali ke gubuk, untuk mengajarkan ilmu agama kepada para mualaf yang jumlahnya tambah banyak.


Dan seperti biasa, Pak Lurah pamitan kepada istrinya untuk ronda setiap malam. Mampir dulu menemui para pedanda, lalu naik ke bukit untuk berlatih.


Umumnya, Ladi sudah menunggu.


“Bagaimana kita bisa menemukan ilmu beku?”


“Kita kan bisa ilmu membuat api, tentu dengan cara yang sama, kita bisa menemukan ilmu beku.”


Maka, mereka berdua pun mulai memeragakan gerak-gerak yang dipelajari dari Sunan Kembang Kuning.


Meski mereka menginginkan untuk menyerap hawa dingin di sekitar, namun yang keluar justru sebaliknya. Tubuh mereka mengeluarkan api.


Api itu sampai terlihat di kampung. Warga pun geger. Pedanda tersenyum karena meyakini api berkobar di puncak bukit itu, tak lain adalah dewa yang turun ke bumi.


Dewa akan membakar gubuk di pinggir kali, yang digunakan untuk Mbah Bungkuk dan pengikutnya.


“Ha ha ha, Dewa telah turun ke bumi Singosari, sebentar lagi dewa akan membakar gubuk. Rasakan Si Bungkuk itu,” kata pedanda kepada beberapa penduduk usai pesembayangan di candi.

__ADS_1


Semua yakin akan perkataan pedanda, karena memang melihat api begitu membara di bukit suci.


Mbah Bungkuk mendengar ini, karena memang antara persembayangan dan gubuk tidaklah jauh. Apalagi di malam hari, menjadikan suara bisa terdengar jelas.


“Kalian dengar suara pedanda itu?”


“Benar, Kanjeng Sunan.”


“Menurut kalian, apa benar demikian?”


“Tentu tidak Kanjeng Sunan. Kami hanya percaya kepada Allah SWT.”


“Baiklah kalau begitu.”


Semua malah mengeraskan suara dzikir, hingga sampai ke candi.


Pedanda sangat tersiksa dengan suara yang syahdu itu, namun keyakinan turunnya dewa menjadikan para pedanda dan pengikut agama Hindu, tak menghiraukan.


Padahal, beberapa di antara mereka malahan mengikuti dzikir itu di hati masing-masing.


“Bapak-bapak, selain kita mengagungkan Allah melalui dzikir, kita perlu belajar pencak silat, untuk menjaga kemungkinan jika terjadi serangan. Kita wajib melakukan pembelaan kalau diri terancam. Untuk itu, mulai besok malam, saya akan mengajarkan kalian semua pencak silat,” tutur Sunan Kembang Kuning.


“Tapi, kami lebih menyukai berdzikir.”


“Ada dzikir dalam pencak silat,” kata Sunan Kembang Kuning.


Semua terdiam.


Berarti semua menyatakan setuju.


“Ajak tetangga maupun saudara kalian, untuk berlatih. Kita akan melakukannya di tanah ladang yang tak terpakai,” kata Sunan Kembang Kuning.


Akhirnya, esok harinya memang dilakukan latihan pencak silat di ladang.


Beberapa penganut Hindu tampak ikut latihan. Mereka adalah tetangga atau saudara dari mualaf yang kagum atas kemampuan Si Mbah Bungkuk.


“Kita akan latihan pencak silat yang praktis-praktis saja. Karena usai kita sudah tua. Meski saya tertatih seperti ini, saya akan berusaha melatih kalian semua sebaik-baiknya,” kata Sang Sunan memulai latihan.


“Untuk pertama ini, kita akan berlatih memecah batu dengan kedua tangan kita.”


Mendengar ini, semua terperanjat.


Bagaimana mungkin?


Bukanlah ilmu memecah batu itu hanya bisa dilakukan oleh para pedanda setelah latihan begitu lama.


“Benarkah Kanjeng Sunan?”


“Benar. Sebelum tengah hari, saya harap kalian sudah bisa memecah batu. Sebesar apa pun itu.”


Belum lagi tengah hari, Sunan Kembang Kuning sudah menghentikan latihan.


“Kalian semua sudah bisa memecah batu. Cukup tarik napas tiga kali, lalu hembuskan pelan-pelan, siapkan dua jari telunjuk. Bayangkan jari telunjuk seakan ujung keris yang terbaik, goreskan di batu, maka batu itu akan terluka dalam. Kalau ingin memecah katu, cukup kalian pukulkan jari telunjuk itu ke batu, tak perlu kencang. Maka, batu akan ambyar.”


Maka, satu per satu mencari batu, dan mengikuti arahan yang diutarakan Sang Sunan.


Benar! Sekali pukul, batu itu ambyar berkeping.


Tentu saja semua kaget. Termasuk para penganut agama Hindu.


“Bagaimana mungkin?”


Begitu mudahnya memecahkan batu. Tanpa alat apapun.


“Kenapa para pedanda melakukan ini perlu latihan berpuluh tahun, sehingga mereka yang berhasil dinobatkan sebagai pengukir batu candi?”


“Kunci dari pemecah batu adalah olah pernapasan dan peregangan otot yang tepat. Bapak-bapak semua sudah mampu melaksanakan. Untuk latihan hari ini, kita sudahi saja. Besok, kita akan berlatih mencoba menenggelamkan orang, tanpa harus menyentuh dan menggali,” tutut Sunan Kembang Kuning.


Semua takjub atas kemampuan Kanjeng Sunan.


“Dan silakan Bapak-bapak semua tunjukkan kepada tetangga atau siapa pun,” tambah Kanjeng Sunan.


Maka, bapak-bapak tua ini pun pulang dengan perasaan sangat suka cita. Bayangkan, sehari latihan saja, sudah mampu memecahkan batu.


Mereka cepat-cepat pulang untuk menunjukkan hasil latihannya.


Bahkan beberapa di antara mereka malah berani pamer memecah dan mengukir batu di depan pedanda. Betapa kagetnya para pemuka agama ini.


“Kalian dapat ilmu itu pasti dari Si Bungkuk. Dia itu penyihir.”


“Lho, kenapa bapak pedanda marah. Bukannya tambah senang, kami bisa mengukir batu dengan jari? Bukankah kami bisa membantu membuat candi?”


“Kalian semua sudah dicekoki oleh Si Bungkuk. Ilmu memecah batu hanya boleh dipelajari oleh pedanda dengan seleksi yang sangat ketat. Kalau kalian bisa memecah batu, tentu ini ulah si bungkuk gila itu.”


“Pak Pedanda, kami malah merasa aneh. Kalau memang ilmu memecah batu ini tingkat tinggi dan dengan seleksi ketat, bagaimana kami bisa melakukan itu dengan sangat mudah. Cukup dengan berlatih selama pagi sampai menjelang siang saja, kami semua sudah bisa memecah batu. Jadi, ilmu tingkat tinggi pedanda ternyata ilmu rendahan saja bagi Kanjeng Sunan.”


Pedanda marah alang kepalang.


“Lho jangan marah kepada kami. Kami hanya berlatih. Marahlah kepada Kanjeng Sunan.”


Tentu saja, untuk membuat perhitungan melawan Sunan Kembang Kuning, para pedanda itu tak ada yang berani.


“Bapak Pedanda, kami tak tahu, apakah benar adanya para dewa kita saat ini turun di puncak bukit suci itu? Kalau ilmu tingkat tinggi kalian saja, setara dengan ilmu tingkat rendah Kanjeng Sunan, jangan-jangan, dewa kita juga akan dikalahkan dewanya Kanjeng Sunan?”

__ADS_1


Maka, orang-orang ini pun diusir oleh para pedanda.


Pedanda masih yakin, bahwa di puncak bukit suci, para dewa sedang menyiapkan serangan ke arah gubuk pinggir kali itu.


Bisa diduga, esok hari, pengikut latihan tambah banyak.


Sementara di puncak bukit, Ladi dan Pak Lurah masih belum bisa menemukan cara membuat semua membeku. Masih saja, gerakan yang diperagakan mengeluarkan api.


“Ladi, bagaimana ini?”


“Saya juga tak tahu, Pak Lurah.”


“Berkali-kali kita coba, ternyata, yang keluar tetap saja api. Mungkin ada yang salah.”


“Mungkin begini, Pak Lurah. Kita kan berlatih pada pagi sampai siang. Bagaimana kalau kita berlatih pada malam hari? Saat itu kan udara dingin?”


“Benar juga kamu Ladi. Lebih baik kita sudahi dulu latihan siang. Karena rasanya, tetap saja akan keluar api, padahal kita disuruh berlatih keluarkan hawa sejuk, kalau bisa sampai membeku.”


Maka pada malam berikutnya, Pak Lurah dan Ladi benar-benar berlatih pada malam hari yang dingin menusuk tulang.


Ketika Pak Lurah dan Ladi memeragakan jurusnya, tetap yang muncul bukan menambah hawa sejuk, malahan tubuh mereka tetap mengeluarkan api. Kian lama kian membesar.


Namun, warga dibuat kaget, dengan munculnya sinar api membara di puncak bukit.


Para pedanda senang, tak lama lagi, sang Dewa akan membakar gubuk, bahkan membakar rumah siapa pun pengikut si Mbah Bungkuk. Dan ini didengung-dengungkan kepada seluruh warga desa.


Tentu saja, ini menciptakan ketakutan demi ketakutan. Ada beberapa orang yang semula begitu bangga ikut berlatih pencak silat, mulai kendur, karena begitu didera ketakutan.


“Kanjeng Sunan, ini tidak bisa dibiarkan. Nanti lambat laun, mualaf yang kurang kuat iman akan kembali kafir, gara-gara ketakutan mereka akan turunnya dewa yang membakar.”


“Ya biar saja,” kata Sunan Kembang Kuning sambil tertawa terkekeh.


“Jika Allah mencabut hidayah, maka akan dimunculkan ketakutan demi ketakutan kepada hal yang tidak semestinya. Jelas, kalian tahu, dewa mereka tak lebih dari mahaluk ciptaan Allah. Kenapa harus takut kepada ciptaan, yang semestinya ditakuti kan penciptanya. Biar saja.”


“Tapi, kami melihat sendiri, setiap malam, ada api membesar dan mengecil di puncak bukit suci itu.”


“Ah, itu bukan bukit suci. Itu bukit biasa. Mungkin pada waktunya, semua akan tergambar jelas. Dan mungkin kalian akan bisa tertawa terkekeh seperti saya tadi.”


“Sudahlah, mari kita berlatih seperti biasanya. Jangan punya pikiran macam-macam. Suatu ketika, engkau akan bertemu dengan dewa yang bisa mengeluarkan api itu.”


“Benarkah, kami akan bertemu dewa di puncak bukit suci itu?”


“Benar... dan tak lama lagi. Ayo sekarang kita latihan melemaskan besi.”


“Hah!”


“Apa yang aneh? Kalian sudah bisa mengukir batu dengan tanganmu. Jadi, sangat mungkin kan, kita bisa melemaskan besi, layaknya para empu keris?”


“Benarkah?”


”Kok masih tidak percaya sih...”


Mereka pun mulai dipandu pernapasan demi pernapasan yang cukup unik. Mereka diminta menghafalkan secara benar cara pernapasan itu. Dan, hingga beberapa hari mereka hanya berlatih bernapas yang aneh itu. Kepala mereka pusing, bahkan muntah-muntah.


Namun, Sang Sunan tak segera menghentikan latihan yang itu-itu saja.


“Jangan putus asa, saya dulu juga harus muntah-muntah dulu, sebelum menguasai ilmu ini.”


“Kanjeng Sunan, sebenarnya, kita ini berlatih apa sih? Pertama ilmu mengukir batu, kedua ilmu melemaskan besi layaknya Mpu. Apa memang ini bertujuan untuk menandingi pedanda?”


“Jangan salah sangka, saya hanya ingin menunjukkan bahwa ilmu itu bukan untuk agama tertentu. Ilmu itu untuk semesta. Tak ada syarat apapun, yang penting, siapa pun yang mau, akan diberi oleh Allah SWT. Perkara, di dalam agama kalian, ada prasyarat tertentu, itu bukan urusan saya. Sudah teruslah kalian berlatih pernapasan.”


Satu per satu muntah-muntah tak tertahankan.


Namun, Sunan Kembang Kuning tetap menyuruh mereka terus berlatih.


Dan pada momen tertentu, dua orang tumbang. Bukan hanya muntah-muntah, melainkan kelojotan seakan tak bisa bernapas.


Semua gusar, dan menatap ke arah Sang Sunan.


“Biar saja.”


“Mereka tak bisa bernapas, Kanjeng Sunan.”


“Biar saja.”


Dua orang kelojotan campur air muntahan. Mereka sudah belepotan tak karuan.


Hingga satu kejadian, kepala mereka saling terantuk. Karena saking kerasnya, keduanya diam tak bergerak.


“Kanjeng Sunan... apakah mereka berdua mati?”


Kanjeng Sunan hanya tersenyum.


“Belum. Lihat mereka berdua masih bernapas.”


Beberapa orang hendak menolong.


“Jangan pegang!” teriak Sunan Kembang Kuning.


Semua langsung mundur.


“Ada apa Kanjeng Sunan?”

__ADS_1


“Biarkan mereka bangun sendiri.”


__ADS_2