BODYGUARD SANG SUNAN

BODYGUARD SANG SUNAN
episode 5d: Praktikkan Ilmu Melipat Bumi


__ADS_3

“Kanjeng Adipati, tugas saya adalah memberitahu tentang Islam semampu-mampu saya. Saya akui, tentu banyak yang tidak bisa saya ceritakan, karena memang pengetahuan saya tentang Islam masih sangat rendah. Jadi, saya kira, tak perlu Kanjeng Adipati mengetahui siapa nama saya,” jawab Rejo.


Didesak berkali-kali, tetap saja Rejo tak mau membuka jati diri, meski dalam hatinya sedih, karena harus membohongi sahabat baru yang telah menjadi karib itu.


“Pengawal, entah apa namanya. Seakan kita ini sudah kenal. Bahkan, dari nada suaramu, seakan saya sudah hapal. Siapa sebenarnya engkau ini? Apa kita pernah bertemu sebelumnya?”


Memang, Rejo tak bisa dikenali Ki Wiroseroyo, dikarenakan memang penampilannya berbeda. Saat ada punuk di punggung, suaranya tertekan sehingga seperti suara anak kecil. Pun tubuhnya terlihat kurus kering. Namun, dengan menggunakan ikat kepala ini, Rejo terlihat sangat gagah, tegas, dan memiliki suara yang berat.


“Apa Kanjeng Adipati merasa pernah bertemu saya sebelumnya?”


“Dalam hati saya mengatakan iya, tapi saya ingat-ingat, kok kita belum pernah bertemu.”


“Mungkin kita memang belum pernah bertemu. Lihatlah tubuh saya? Apa Kanjeng Adipati pernah melihat orang yang mempunyai tubuh seperti saya?”


Ki Wiroseroyo menggeleng.


“Sudahlah Kanjeng Adipati. Lebih baik saya bercerita tentang Islam saja, daripada kita bersitegang hal yang tak perlu.”


Lalu, Rejo menyeritakan semua pengetahuannya tentang Islam. Kadang Ki Wiroseroyo menanyakan sesuatu, dan dijawab ala kadarnya oleh Rejo. Karena memang itu yang dia bisa.


Dengan gaya penjelasan yang sederhana, Ki Wiroseroyo menyatakan tertarik kepada Islam.


Bahkan, di hari kedua, Ki Wiroseroyo sudah mengikuti gerakan salat yang dilakukan Rejo. Sengaja, dalam setiap salat, rejo mengeraskan suaranya, dengan harapan Ki Wiroseroyo bisa mengikuti dan akhirnya menghapal.


“Pengawal, kita kok cepat sekali akrab ya. Saya jadi ingat satu sahabat baru saya, namanya Rejo. Orangnya bungkuk, tapi dia sangat perhatian kepada saya. Sudah beberapa hari ini, dia tak ke sini. Biasanya sih, dia rutin ke sini, kalau tak datang, saya suruh prajurit untuk menjemputnya.”


Rejo diam.


“Pengawal, andai dia ada, akan saya ajak untuk memeluk Islam yang indah ini. Biar nanti engkau yang mengajari ya?”


Rejo diam.


Ki Wiroseroyo yang tak sabar, menyuruh prajuritnya menjemput Rejo di gubuknya. Namun, laporan yang disampaikan prajurit, gubuk Rejo dalam kondisi kosong.


“Kemana ya, sahabat saya itu. Jangan-jangan ada apa-apa?”


Ki Wiroseroyo menyuruh sebagian prajuritnya untuk menyusuri jalan-jalan dan hutan, siapa tahu bisa menemukan Rejo.


Rejo sang pengawal tetap diam.


Karena memang tak menemukan Rejo, Ki Wiroseroyo terlihat sangat kecewa, karena dia ingin segera mengabarkan bahwa ada agama yang sangat indah, yaitu Islam.


Pun Rejo mengajarkan kepada Ki Wiroseroyo untuk rutin melaksanakan salat lima waktu, termasuk beberapa wirid pendek. Memang Ki Wiroseroyo sangat antusias.


Itu dilakukan sampai hari ketiga. Di hari ke empat, saat mereka berdua duduk-duduk di pelataran istana sambil mengoobrolkan tentang islam, dari kejauhan sudah kelihatan orang-orang berduyun menuju Istana Ribang Kuning. Di antara orang-orang itu, ada pemuda berjubah. Dialah Raden Rahmat.


“Assalamualaikum.”


“Waalaikum Salam,” jawab Ki Wiroseroyo, berbareng dengan Rejo.


“Alhamdulillah. Dengan menjawab salam saya, sudah cukup jawaban bahwa Kanjeng Adipati memilih menjadi muslim,” kata Raden Rahmat, sambil menjura hormat.


Ki Wiroseroyo mengangguk, dan tesenyum gembira.


“Kanjeng Raden, kenapa orang-orang kampung mengikuti sampai ke sini?” tanya Ki Wiroseroyo.


Raden Rahmat menyeritakan, sejak diajarkan mantra sakti itu, para penonton dan penduduk Ribang Kuning, memraktikkan pada ayam-ayam yang dimiliki. Tak peduli kecil atau tua, selalu menang dalam sabung ayam.


Hanya saja, salah satu pasti kalah, ketika ayam yang diadu, keduanya dibacakan mantra sakti itu.


“Waktu berpapasan di jalan, mereka bertanya, mau kemana? Saya jawab akan ke Ribang Kuning, sebab Kanjeng Adipati akan mengajarkan mantra baru yang lebih hebat, dan bisa mengalahkan ayam yang dibacakan mantra sebelumnya.”


Rejo dan Ki Wiroseroyo diam, tanda mereka ingin segera mengetahui kelanjutannya.


“Mereka akhirnya memutuskan ikut ke sini. Umumnya, ayam yang diadu selalu menang. Untuk itu, mereka ingin mendapatkan mantra yang lebih sakti lagi.”


“Mohon maaf Kanjeng Raden, bukankah saya baru saja memeluk Islam, bagaimana saya bisa mengajarkan mantra kepada penduduk saya?"


“Ya, biar mereka istirahat sejenak di sini. Nanti biar saya yang berbicara kepada mereka.”


Usai semua diam, dan cukup istirahat, Raden Rahmat berbicara lantang.


“Bapak dan ibu sekalian, rupanya hari ini Kanjeng Adipati belum bisa mengajarkan mantra baru. Insya Allah, sepuluh hari lagi, beliau sudah bisa mengajarkan mantra baru. Tapi tempatnya tidak di sini, tapi di tempat yang tak jauh dari sini. Ada bangunan yang tak berpenghuni dan akan roboh. Di sanalah Kanjeng Adipati akan mengajarkan mantra baru. Ingat ya bapak, ibu, sepuluh hari lagi. Untuk itu, silakan Bapak Ibu kembali ke rumah dulu.”


Pada penduduk Ribang Kuning pun secara ikhlas beringsut pulang.

__ADS_1


Tinggallan Raden Rahmat, Rejo dan Ki Wiroseroyo.


“Bagaimana Kanjeng Adipati, sudah ikhlas dan mantap memeluk Islam?”


“Insya Allah, dalam tiga hari, pengawal Kanjeng raden mengajarkan banyak hal tentang Islam. Saya sekeluarga sudah memeluk agama yang Indah ini.”


“Alhamdulillah.”


“Berarti, Kanjeng Adipati sudah siap mengajak penduduk sini untuk memeluk agama Islam pula?”


“Nah itu masalahnya. Kanjeng Raden mengatakan, sepuluh hari lagi saya akan mengajarkan mantra kepada penduduk. Saya harus mengajarkan apa? Pengetahuan saya tentang Islam, tak sebagus pengawal Kanjeng Raden.”


“Insya Allah, dalam sepuluh hari lagi, Kanjeng Adipati siap.”


“Bagaimana caranya?”


“Ya tentu saja belajar.”


“Bagaimana caranya?”


“Belajar. Bukan saja Kanjeng Adipati yang belajar, tapi juga mengawal saya.”


Raut muka Rejo langsung sumringah.


“Kanjeng Raden tadi mengatakan, saya akan mengajarkan mantra itu di tempat di mana bangunannya hampir roboh itu?”


“Benar. Itulah masjid, yang letaknya tak jauh dari sini. Masjid itu, adalah masjid pertama yang saya buat dengan bambu. Sayang, tidak ada yang mengurusnya, hingga sekarang hampir roboh. Saya berharap, Kanjeng Adipati yang mengurus dan menghidupkan lagi masjid itu, untuk mengajarkan Islam kepada penduduk.”


Ki Wiroseroyo masih bingung.


“Sudahlah. Ini adalah pengawal saya, dan dia yang akan menemani Kanjeng Raden belajar di tempat saya.”


“Kanjeng Raden, saya mempunyai seorang sahabat, bernama Rejo. Saya ingin mengenalkan Islam kepadanya, dan kalau bisa saya mengajak dia untuk belajar ke tempat Kanjeng Raden. Hanya saja, dia bungkuk dan kalau berjalan tertatih. Sudah beberapa hari ini dia tak datang ke sini. Prajurit sudah saya suruh untuk mencarinya di berbagai lokasi dan hutan, juga tak ketemu. Omong-omong, di mana tempat Kanjeng Raden?"


“Di Ampel Denta, dan para santri memanggil saya dengan panggilan Sunan Ampel.”


“Jadi.... Kanjeng Raden ini Sunan Ampel?” tanya Ki Wiroseroyo dengan mata terbelalak.


Rejo pun ikut terperanjat. Memang selama ini dia hanya mengenal nama Raden Rahmat. Untuk nama Sunan Ampel yang cukup menggegerkan tlatah Majapahit, ternyata usianya masih muda.


“Ya, inilah saya.”


Keduanya terdiam.


“Kanjeng Bungkul, sudah kerap disapa Sunan Bungkul. Selain mengajarkan ilmu kanoragan di istananya, Sunan Bungkul juga mengajarkan agama Islam.”


“Jadi? Kanjeng Adipati Bungkul sudah memeluk Islam?”


“Sudah lama. Dan kini santrinya lumayan banyak.”


Rejo dan Ki Wiroseroyo memilih diam.


“Nah, Kanjeng Adipati. Sudah saatnya untuk membuka jati diri. Bapak, tolong lepaskan ikat kepala kuning yang Bapak kenakan,” pinta Raden Rahmat kepada Rejo.


Rejo pun menyopot ikat kepalanya.


Begitu ikat kepala itu lepas dari kepala Rejo, perlahan, muncul punuk di punggung, dan kian lama kian besar. Hingga akhirnya terjelmalah sosok Rejo yang ringkih.


Ki Wiroseroyo kaget alang-kepalang. Dia tak menyangka, sosok pengawal gagah itu tak lain adalah sahabatnya. Dia tak menyangka, bahwa selama tiga hari ini, sang sahabat tak jauh darinya.


Ki Wiroseroyo langsung memeluk erat Rejo dan menangis sesegukan, tiada henti.


“Saya sudah menduga, saya sudah menduga. Sungguh saya sudah menduga. Sebab, prajurit tak pernah menemukan Adi Rejo. Gaya bicara saat menjadi pengawal pun nyaris sama. Dan hati ini tak bisa dibohongi, kita sebenarnya dekat, sangat dekat,” gumam Ki Wiroseroyo di antara sesegukan tangisnya.


Usai puas memeluk sang sahabat, keduanya pun menghadapkan wajah ke arah Sunan Ampel.


“Bagaimana caranya, kami bisa sampai ke Ampel Denta. Lebih-lebih kondisi Adi Rejo, tak mungkin berjalan cepat.”


“Bapak Rejo. Mohon maaf, saat berangkat ke sini tadi, saya mampir ke gubuk bapak, dan mengambil satu bakiak, yang saya taruh di bawah bayang. Adapun satu bakiak saya, saya tinggal di sini. Mana ayam kate yang bertarung itu?”


“Kami biarkan lepas di lingkungan istana ini.”


Ki Wiroseroyo menyuruh prajurit menangkap ayam kate itu.


Setelah dielus Sunan Ampel, ayam kate itu kembali menjadi satu bakiak.

__ADS_1


Ki Wiroseroyo dan prajurit terbelalak.


“Bapak Rejo dan Kanjeng Adipati Ki Wiroseroyo, untuk bisa sampai ke Ampel Denta, sebenarnya bakiak ini mengandung Ilmu Ngelipet Bumi. Jadi, sangat cepat sampai ke tempat tujuan. Caranya, dua kaki hinggap di satu sandal. Jangan lupa berpelukan. Satu bakiak untuk Kanjeng Aripati Ki Wiroseroyo dan satu bakian untuk Bapak Rejo.”


Sunan Ampel menyuruh mereka untuk mencoba.


Betul saja, begitu dua kaki hinggap di satu bakiak, dan mereka saling berpelukan, tiba-tiba saja mereka sudah sampai di pelataran Masjid Ampel.


Segera mereka melepas bakiak.


Mereka terkagum-kagum dengan banyaknya santri yang mengaji.


Puas mengamati masjid dan pesantren Ampel Denta, mereka berdua hinggap di bakiak itu lagi.


Secepat itu pula, mereka sudah sampai ke Istana Ribang Kuning.


“Allahu Akbar!” teriak mereka berdua.


Raden Rahmat pamit, dan berpesan, besoknya, Ki Wiroseroyo dan Rejo dimints untuk mulai belajardi Ampel Dento.


Ketika keduanya bertemu di Masjid Ampel, Sunan Ampel menyilakan keduanya duduk di samping sang Sunan.


“Para santri semua, dua bapak ini adalah penyambung perjuangan siar Islam. Insya Allah, Ki Wiroseroyo ini, akan mengembangkan Islam di tanah perdikannya, yaitu Ribang Kuning, sedangkan Rejo, akan saya tugaskan menyiarkan Islam di wilayah selatan Jawa,” kata Sunan Ampel mengenalkan dua ‘pendatang baru’ di masjid Ampel ini.


“Saya ingin, dua bapak ini segera saja menyiarkan Islam. Setidaknya, setelah sepuluh hari ke depan.”


Semua terdiam, tapi dalam hati bertanya, apa mungkin? Sebab, mereka saya yang sudah belajar bertahun-tahun di Pesantren Ampel, belum cukup mumpuni dalam ilmu agama, apalagi dalam waktu sepuluh hari?


“Para santri, Bapak Ki Wiroseroyo ini adalah satu pembela Majapahit, seperti Kiai Bungkul. Mereka berdua diberi tanah perdikan yang tarlalu jauh. Harapannya, bisa menghadang serangan Majapahit dari arah laut utara atau Kali Mas. Kini, keduanya telah menjadi muslim dan berkenan menyiarkan agama Islam di tempat masing-masing. Jadi, jangan tanya soal kesaktian Bapak Ki Wiroseroyo.”


“Adapun Bapak Rejo ini, meski dalam kondisi bungkuk, saya pilih sebagai pengawal saya. Bapak Rejo akan mengawal saya dalam setiap bepergian.”


Semua menatap dengan heran.


“Para santri jangan sekali-kali meremehkan Bapak Rejo yang bungkuk ini. Sebab, tak lain dan tak bukan Bapak Rejo adalah Pendekar Gunung Tidar yang terkenal itu. Belum lagi, Bapak Rejo dalam asuhan lima jawara tanah Jawa. Yaitu, Resi Swadaraya dari Gunung Tidar, dan Resi Hitu Dawiya dari tlatah Mataram, dengan ajaran ilmu tingkat tinggi agama Hindu, dan dalam asuhan tiga Syech, yang setiap hari kita kirimi alfatihah, yaitu Paman Saya Syech Jumadil Kubro, Syech Subakir dan Syech Belabelu. Belum lagi, dia bertemu dengan yang mbaurekso Gunung Galungggung Kiai Lembu Areng. Dan satu hal lagi, dialah satu-satunya orang yang pernah bertarung ilmu kanoragan melawan dua raja yang saling bermusuhan, yaitu Raja Majapahit Wikramawardhana dan Raja Padjadjaran yaitu Prabu Surawisesa. Hebatnya, Bapak Rejo bisa setara dengan ilmu dua raja itu.”


Ki Wiroseroyo dan Rejo menunduk malu.


“Jadi, apa salah, jika saya mengangkat Bapak Rejo sebagai pengawal pribadi?”


Semua santri diam, tapi terkagum-kagum dengan sosok bungkuk di hadapannya itu.


Namun, karena tak bisa menahan diri, satu santri memberanikan bertanya.


“Kanjeng Sunan, mohon maaf, jika kami lancang. Kami saja yang belajar di Pesantren Ampel bertahun-tahun, belum menguasai sepenuhnya ilmu agama, dan belum direstui untuk syiar Islam, bagaimana mungkin Kanjeng Kiai Wiroseroyo dan Kanjeng Pendekar Gunung Tidar bisa menguasai ilmu agama?”


“Para santri semua, Allah menurunkan ilmu yang namanya Laduni, yaitu kehebatan otak manusia menjadi berlipat ganda dalam hal pembelajaran. Bahkan, untuk sesuatu yang belum diketahui. Dalam khasanah Jawa, disebut-sebut sebagai weruh sa durunge winarah. Padahal, dalam ilmu laduni, yang dilakukan pertama, ya harus belajar. Tetapi dalam pertengahan proses belajar itu, Allah umumnya menurunkan maunah atau pertolongan. Itulah yang disebut ilmu laduni.”


“Saya berdoa kepada Allah swt, semoga Bapak Rejo dan Ki Wiroseroyo diberi Allah swt ilmu laduni itu. Untuk itu, dalam proses belajar, tidak saya barengkan bersama-sama dengan kalian semua. Tetapi, biarlah belajar sendiri di dalam kamar kitab.”


Dan memang, sejak itu, Rejo dan Ki Wiroseroyo yang selalu hadir bersama-sama ini, selalu disuruh masuk ke dalam kamar kitab.


“Bapak, sebenarnya, Panjenengan itu disuruh Kanjeng Sunan Ampel apa? Saat di dalam kamar,” satu santri memberanikan diri bertanya, usai salat berjamaah.


“Kami, hanya disuruh memilih satu kitab, lalu kami disuruh melihat tulisan di kitab itu, tiap baris, dengan perlahan, dan tiap lembaran, juga dengan perlahan. Padahal, kami tak tahu, apa isi kitab itu. Jangankan untuk tahu isinya, cara membacanya saja, kami berdua tidak tahu. Itu yang kami lakukan setiap hari di sini. Jika satu kitab sudah selesai kami bolak-balik, kami ambil satu kitab lagi, dan melakukan hal yang sama seperti kitab sebelumnya. Bahkan, ada perasaan mengulang untuk membolak-balik lagi kitab yang sama, jika hati kami kurang sreg. Itu saja yang kami lakukan di dalam kamar kitab.”


“Sudah banyak kitab yang Panjenengan buka-buka?”


“Ya, hampir separuhnya. Setelah kami bolak-balik, kami kembalikan ke tempat semula.”


“Apa bapak selalu berdua saat ke sini?”


“Benar.”


“Mengendarai apa?”


Keduanya terdiam.


Tentu saja santri juga heran. Bagaimana mungkin dua sosok berbeda postur, satu bungkuk dan satu masih segar-bugar dan kekar, bisa beriringan. Tentu kecepatan mereka lambat, karena harus menyesuaikan yang bungkuk.


"Mohon maaf, bapak. Saya juga heran, bagaimana jenengan bisa cepat sampai di sini? Sebab, saya kebetulan melihat jenengan berjalan menuju belakang Masjid, tentu saja dengan sangat lambat karena Bapak Rejo tertatih. Begitu jenengan sampai belokan, lalu saya kebetulan juga harus ke tempat itu, dan sampai di belokan, jenengan berdua sudah tidak ada. Siapa yang tak bingung. Mohon maaf, jika saya terkesan lancang. Namun, saya hanya penasaran saja."


Rejo dan Ki Wiroseroyo saling pandang. Dan keduanya sepakat senyum nyengir, namun tidak menjawab.


Santri penanya hanya garuk-garuk kepala.

__ADS_1


__ADS_2