
"Nak, ketika tantangan itu ada, saya selalu katakan, bahwa saya orang biasa yang tak bisa ilmu apapun. Namun, kebanyakan para pendekar itu tak percaya. Mereka tetap saja mendesak saya untuk bertarung. Bahkan dengan emosi dan bernafsu membunuh.
Tentu saja, secara alamiah, saya mempertahankan diri. Selama pertarungan, saya terus mengindar, menangkis, dan tak pernah membalas memukul. Umumnya, pertarungan berhenti dengan sendirinya, karena lawan saya kelelahan.”
Rejo takjub.
“Kenapa saya bisa menang? Karena saya sudah terbiasa di Gunung Merapi. Aroma belerang yang muncul, sudah bisa diterima oleh dada ini. Sedangkan para orang sakti itu, tentu saja kesulitan menghimpun tenaga dalamnya, karena udara yang dihirupnya tak murni. Akhirnya, menjadikan mereka cepat lelah, dan menghentikan pertarungan dengan sendirinya.”
Rejo manggut-manggut.
“Namun, kabar di dunia persilatan semakin tak terarah. Saya dikabarkan sebagai sosok paling sakti, sebagai sosok penjaga dan penguasa Gunung Merapi. Bahkan, meski saya sudah tinggal di Gunung Galunggung ini, suara saya sebagai penguasa Gunung Merapi tetap ada. Mungkin, sampai saat ini saya masih dikenal sebagai penguasa Gunung Merapi.”
“Nak, karena engkau jujur kepada saya, saya pun jujur kepadamu. Saya katakan tadi, saya tak bisa pencak silat. Bukan hanya sebagai upaya menyembunyikan diri, namun memang begitu adanya. Saya benar-benar tak punya ilmu pencak silat, apalagi ilmu kesaktian.”
“Mohon ampun Kanjeng Kiai. Ketika saya di atas tadi, saya merasakan terpaan angin tenaga dalam yang sangat kencang. Bukankah itu dari Kanjeng Kiai?”
“Ha ha ha. Tenaga dalam yang mana? Tidak ada tenaga dalam. Yang ada hanyalah, engkau orang baru datang, dan belum terbiasa dengan udara yang dipenuhi bau menyengat ini. Nah, saat itu engkau merasakan seakan ada tenaga dalam dari saya. Saya bisa tahu keberadaan dan menjawab pertanyaanmu, meski saya di posisi dalam gua ini, karena bertahun-tahun saya belajar dan akhirnya terlatih memelajari suara yang muncul di permukaan di antara gemuruh dan gelegak api di kawah. Itu semua bisa dipelajari, bukan karena saya ini sakti.”
“Mohon maaf Kanjeng Kiai. Sedari tadi saya belum tahu nama Kiai. Perkenalkan nama saya Rejo.”
“Ha ha ha. Nama kita sama, saya adalah anak dari Syekh Abdul Rahman, dan diberi nama Rejo juga. Nama ini adalah nama setelah saya menginjakkan kaki di tanah Karawang, yang pelabuhannya sangat ramai. Dan kata itu adalah kata pertama yang didengarkan Abi. Untuk itu, nama saya diganti dengan Rejo, meski Abi tak tahu artinya. Nama saya waktu bayi adalah Abdur Rakhim.”
“Namun, sekarang, penguasa Gunung Merapi dikenal dengan sebutan Mbah Jo. Pun termasuk di Gunung Galunggung ini, juga dikenal dengan sebutan Mbah Jo. Adapun sebutan Kiai Lembu Areng itu adalah nama-nama yang disebut oleh orang-orang, entah itu yang menfitnah saya, atau yang pernah bertarung melawan saya, memberi nama yang aneh, Kiai Lembu Areng. Saya hanya mengangguk saja. Terserah. Bagi saya, nama tak terlalu penting. Dan saya tak tahu, dari mana nama itu muncul, dan saya juga tak tahu, kenapa diarahkan kepada saya.”
“Apakah Kanjeng Kiai bisa memasuki Kawah Merapi?”
“Ha ha ha, tentu saja tidak. Untuk mendekati lubang kawah saja, kaki ini sudah melepuh. Dan itu berkali-kali. Bahkan sudah berpuluh tahun selama saya bertapa di Gunung Merapi. Tangan dan kaki ini sudah mati rasa.”
“Dan, saya memutuskan pindah ke Gunung Galunggung ini, setelah saya rutin istiharah, dan mendapatkan ilham dari Allah swt, di mana saya selalu terlihat Gunung Galunggung. Saya putuskan untuk pindah. Dan memang benar, begitu saya di puncak Gunung Galunggung, saya melihat kawah gunung ini tidak sedahsyat Gunung Merapi. Saya dekati dan bahkan mulai memegang batu panas di mulut kawah. Saya tidak merasakan panas samasekali. Dan ada lubang di kawah, ternyata sebuah gua. Di dalamnya cukup sejuk. Ada air mengalir dan ada udara segar. Sejak saat itu, saya tinggal di sini.”
“Namun, suara di luaran semakin tak terkontrol. Saya dibilang bengis dan menakutkan. Bahkan, melebihi kebengisan resi Swadaraya. Hingga para wali di tanah Jawa betamu ke sini, dan mencoba mencari penjelasan kepada saya. Bahkan, beberapa wali malah mengajak saya bertarung.”
“Kenapa saya kok mendapat pesan dari Kanjeng Syech Belabelu, untuk membunuh Kanjeng Kiai, jika terbukti bersalah?”
“Karena memang beliau sedang menguji engkau. Banyak yang menguasai ilmu kenoragan dan kesaktian, tapi sangat sedikit yang bisa menjaga kejujuran. Ternyata, engkau lulus dalam ujian aneh gaya gurumu itu. Rata-rata, orang suruhan para wali yang datang ke sini, sudah ketakutan sendiri karena mendengar cerita di luaran, ditambah lagi dengan ketakutan memuncak begitu melihat api di kawah gunung. Karena takut mati, mereka akhirnya mengatakan ingin bersilaturahim. Padahal, tujuan mereka ke sini, karena disuruh untuk membunuh saya. Hanya engkau seorang yang berani berkata jujur.”
“Nak, sungguh. Sehebat apapun pendekar, dan setinggi apapun ilmu seseorang, dia itu tak lebih hanya seonggok kayu lapuk yang akan hancur dengan sendirinya, atau hancur terbakar, kalau tidak mempunyai kejujuran. Kejujuran adalah urat kehidupan. Kejujuran adalah akar kuat sebuah pohon keimanan, dan pohon kehidupan.”
“Akar kejujuran akan menghujam jauh ke dalam tanah, sehingga pohon kehidupan itu menjadi kokoh. Meski banjir atau badai menghajar, pohon akan tetap kokoh berdiri. Tahukah engkau, apa yang lebih penting dari akar kejujuran itu?”
Rejo menggeleng.
“Tanah atau bumi.”
Meski kejujuran dipegang erat, ibarat akar pohon yang panjang dan kuat, namun, jika tidak mempunyai tempat berpijak, yaitu tanah, maka akar pohon itu tiada guna. Tahukah kamu, apa arti tanah itu?”
Rejo menggeleng lagi.
“Tanah adalah qanaah, ikhlas, dan rendah hati. Itulah pijakan dari akar kejujuran. Kamu bisa bayangkan, kejujuran tanpa berpijak kepada keikhlasan, atau tanpa berpijak kepada qanaah atau nerima ing pandum, atau tak berpijak kepada kerendahhatian?”
Lagi-lagi Rejo menggeleng.
“Ibarat anak kecil, yang tak tahu untuk apa dia berbicara dan berbuat jujur. Dia hanya menirukan perkataan yang didengar atau menyampaikan apa yang dilihat. Jadi, kejujuran anak kecil itu, memang murni, tapi tak berarti apapun. Berbeda dengan kejujuran orang dewasa, dia sangat paham, resiko apa yang akan diterima jika dia berkata jujur itu.”
“Nak, bumi adalah pijakan. Dan bumi adalah keikhlasan. Andai bumi atau tanah tiada ikhlas kita injak, tentu dia akan melemparkan kita ke udara. Apa jadinya manusia? Bumi adalah rendah hati. Dia tak pernah marah, meski selalu diinjak ribuan manusia. Dia tetap setia menemani biji-biji untuk tumbuh, menyediakan apapun kepentingan biji itu untuk tumbuh menjadi pohon, dan menyediakan makanan agar pohon itu berbuah.”
“Bumi adalah qanaah, nerima ing pandum. Ketika Allah menawarkan bumi untuk menjadi khalifah di muka bumi, bumi mengetahui di mana posisinya, dia menerima apapun takdir dari Allah. Bumi pun menolak. Bahkan, hingga sekarang bumi tetap menolak menjadi khalifah.”
“Nak. Bisa dibayangkan, betapa bumi yang ikhlas, rendah hati dan qanaah itu, jika marah sungguh menakutkan. Ketika gunung memuntahkan isinya, ketika gelegak dari kawah membanjir, ketika bumi memecah dirinya. Semua yang ada di atasnya tercabut, tenggelam, dan musnah. Nak, sungguh dari bumi ini, kita dapat pelajaran yang sangat dalam, engkau harus hati-hati kepada orang yang qanaah, ikhlas, rendah hati dan sepertinya terlihat lemah.”
Rejo menunduk. Dia tak menyangka, mendapat pelajaran yang begitu dalam dari Kiai Lembu Areng.
“Apa ada kaitan antara ilmu tentang bumi, dengan tempat tinggal Kanjeng Kiai di dalam perut bumi ini?” tanya Rejo dengan sikap tetap merunduk takdim.
“Bukankah saya sudah cerita di awal tadi, ini karena semangat saya ingin belajar ilmu kanoragan, sehingga harus masuk ke dalam kawah gunung. Tapi, yang saya dapat malah pengetahuan lain. Saya akui, saya banyak waktu untuk merenungi, untuk apa saya hidup di dunia ini, ketika saya berada di gua ini.”
__ADS_1
“Rejo, tahukah kamu, apa yang lebih hebat dari bumi?”
Rejo menggeleng.
“Air.”
“Bumi bisa dikikis air. Sekokoh apapun bumi itu, bisa digerus air. Hanya saja, ketika satu tanah menghilang, akan muncul tanah baru di lain tempat. Jadi, kehebatan air itu hanya sesaat. Tahukah kamu, apa arti air itu?”
Lagi-lagi, Rejo menggeleng.
“Air adalah nafsu.”
“Sungguh air itu mengalir ke tempat lebih rendah. Dan laut adalah tempat terendah. Air itu bisa berbentuk apapun, sesuai wadah yang digunakan.”
Rejo takjub.
“Air adalah nafsu. Ketika terkena hawa panas, maka air pun mendidih, ketika berada di hawa sejuk, air pun menyegarkan. Dan ketika terkena hawa sangat dingin, air pun membeku. Demikian juga dengan nafsu manusia. Ketika otak dan hati dipenuhi dengan kemarahan, maka yang muncul adalah nafsu angkara. Ketika otak dan hati diliputi ketengan dan kesejukan, maka nafsu yang muncul juga menyegarkan. Siapapun ingin mendekat, karena mendapatkan ketenangan batin. Pun ketika suasana otak dan hati sangat dingin. Nafsu pun membeku, tak bisa ke mana-mana dan tak punya keinginan apa-apa. Ibarat manusia yang kehilangan gairah hidup, orang yang hidup segan tapi tak mau mati.”
“Nak. Tahukah kamu, apa yang bisa mengalahkan air?”
Rejo menggeleng.
“Udara atau angin!”
“Air menggelegak atau tenang, apa kata udara. Jika udara berhembus tenang, maka air pun tenang. Nafsu manusia pun tenang. Tetapi, ketika udara menjadi badai, maka laut pun menggelegak, menghancurkan apa pun yang ada di depannya. Nafsu manusia menjadi sangat ganas dan mematikan. Tahukah engkau, apa itu udara atau angin?”
Rejo menggeleng.
“Yaitu hablum minan naas. Hubungan antar manusia.”
“Begitu hebatnya pengaruh hubungan antar manusia ini, sungguh bisa memengaruhi nafsu manusia. Angin prahara, ibarat hubungan antar manusia yang penuh permusuhan, dengki, iri, hasut, dan fitnah. Yang menakutkan, angin ini akan mempengaruhi angin nafsu menjadi menggelegak. Doa-doa buruk, sumpah serapah, umpatan yang akan mengalir dari mulutnya.”
“Nak, tahukah engkau, apa yang bisa mengalahkan angin?”
Lagi-lagi Rejo yang diliputi ketakjuban ini, hanya menggeleng kepala.
Rejo terperangah.
“Benar. Pohon, meski dia dikalahkan oleh tanah, tapi dia bisa mengalahkan angin.”
“Kejujuran, adalah kunci dari hablum minan nas. Kunci dari angin, agar berhembus sepoi-sepoi. Sebesar apapun angin berhembus, dan ketika menabrak pohon yang akarnya menghujam bumi, maka angin itu akan dipecah melalui celah-celah daun, sehingga tak lagi kencang berhembus. Pohon bisa merendahkan kecepatan hembusan angin.”
“Memang benar, Nak. Hanya kejujuran yang bisa untuk membangun hablum minan naas yang baik. Pujian yang jujur sungguh satu permata terindah. Tetapi, pujian yang menipu, sungguh itu mulut buaya. Demikian juga dengan celaan yang jujur, meski membuahkan benci, tapi itu bisa menjadi bahan perbaikan diri dan muhasabah, tetapi celaan yang menipu, sungguh akan memasukkan orang lain ke dalam dua mulut buaya.”
Rejo menatap sambil matanya berkedip-kedip.
“Mohon ampun Kanjeng Kiai, jadi, pohon meski bisa dikalahkan tanah, tapi bisa mengalahkan angin?”
“Benar, Nak. Inilah dunia, tidak ada sang jawara abadi. Tidak ada sang jawara tertinggi. Di atas langit masih ada langit. Engkau adalah pendekar pilitanding. Tiada lawan di tanah Jawa ini yang bisa mudah mengalahkanmu. Tapi ingatlah, bahwa engkau akan menemukan lawan pilitanding. Lawan yang akan mengalahkanmu dengan mudah, bahkan lawan yang bisa mengalahkanmu tanpa pertarungan. Karena memang di atas langit ada langit.”
“Hanya Allah jua yang Maha Tinggi, Maha Hebat, Maha Dahsyat, Maha berilmu. Kita sebagai manusia hanya lemah.”
Rejo diam.
Rejo belum merasa bahwa dia adalah orang terhebat. Rejo merasa dia hanya orang biasa.
"Saya memrediksi, engkau akan menjadi jawara di tanah Jawa ini. Semua mengakui kehebatanmu, kehebatan guru-gurumu. Memang hanya beberapa gelintir orang saja yang bisa menandingi kehebatanmu. Tapi ingat. Tetap saja, di atas langit ada langit. Semua ada masa keemasan. Namamu cukup menggetarkan musuh-musuhmu, tapi engkau satu ketika juga akan bergetar, ketika mendengar nama seseorang. Akan tiba masanya waktu itu."
Rejo menunduk.
"Tahukah kamu, apa yang perlu kita persiapkan, ketika tiba masa redup dalam hidup kita?"
Rejo tetap merunduk.
"Persiapannya adalah menghilangkan rasa sombong dalam diri, menghilangkan rasa ujub atau riya (pamer). Sejalan dengan itu, menumbuhkan rasa rendah hati dan tawaduk. Itulah bekal yang perlu kita persiapkan saat memasuki masa keemasan, dan akan menyongsong masa redup."
__ADS_1
"Masa redup itu pasti datang, dikarenakan termakan usia, termakan perkembangan ilmu pengetahuan, dan dikarenakan tidak mau belajar dan terus belajar kepada orang lain."
"Nak. Pandangan saya ke depan, menemukan engkau bakal mendapatkan lawan pilitanding bukan dari tokoh tua seperti saya, tapi dari orang seusiamu. Tapi dia mendapatkan ilmu ilahiah, ilmu keikhlasan, ilmu nahi munkar yang dahsyat. Engkau akan bertekuk lutut kepada dia, tapi dia tak mau menerima itu. Dia ingin semua menusia berdiri sama tinggi, hidup sejajar, dan hidup semadya. Meski saya yakini, dia keturunan raja, tapi dia akan banyak bergaul dengan rakyat jelata."
Rejo berdebar. Dia diramal.
"Saya hanya berharap, dia menjadi penerus perjuangan wali di tanah Jawa ini."
Rejo menancapkan benar-benar petuah dari Kanjeng Kiai Lembu Areng ini.
“Nak, saya tahu, engkau sebenarnya ingin belajar ilmu kanoragan kepada saya. Saya ini tak bisa ilmu kanoragan sama sekali. Lantas apa yang harus saya ajarkan kepadamu?”
“Sudahlah, engkau sudah bisa memasuki kawah gunung ini dengan ilmumu. Berarti, engkau adalah satu-satunya orang yang bisa bersilaturahim ke gua tempat tinggal sya. Ini artinya, engkau sakti. Sungguh, saya tak punya apapun untuk saya ajarkan kepadamu.”
Rejo menunduk.
“Sekarang, silakan engkau istirahat di sini, atau silakan engkau pergi. Terserah kamu. Setidaknya, jika engkau tak menginap, engkau sudah tahu, bahwa saya tak seganas yang disuarakan orang-orang, atau sesakti yang dikira. Silakan engkau luruskan, jika engkau mau, kalaupun tidak juga tak apa-apa.”
“Saya juga tahu, engkau akan menantang anak keturunan Prabu Siliwangi. Saya kira, bekalmu untuk pertarungan itu sudah cukup. Hanya saja, perlu kecerdikan dan kedewasaan berfikir agar bisa mengalahkan mereka. Dipadu dengan kesabaran yang tinggi. Insya Allah engkau bisa memenangkan pertarungan.”
“Anu Kanjeng Kiai. Mohon maaf, kalau memang Kanjeng Kiai tak sakti, kok Kanjeng Kiai mengetahui semua urusan saya? Bukankah kita belum pernah bertemu sebelumnya?”
Kanjeng Kiai Lembu Areng tersenyum terkekeh, hingga giginya yang banyak tanggal itu terlihat.
“Anak muda... anak muda. Siapa yang tak kenal dengan Sebutan Pendekar Gunung Tidar? Siapa yang tak kenal Resi Hitu Dawiya, Resi Swadaraya, Syech Belabelu, Syeh Jumadil Kubro.... semua itu guru-gurumu. Dan tentu saja, cerita kehebatanmu sejalan dengan nama terkenal para gurumu. Sadarilah, engkau ini adalah pendekar pilitanding,” kata Kiai Lembu Areng.
“Mohon maaf Kanjeng Kiai. Bukankah Kanjeng Kiai tak pernah keluar gua, karena orang-orang ketakutan jika bertemu Kanjeng Kiai. Trus bagaimana Kanjeng Kiai bisa mengetahui semua cerita tentang saya?”
“Ha ha ha, anak muda... anak muda... Ilmu kanoraganmu jelas sudah maksimal, tapi pengalamanmu di rimba persilatan masih minim. Apa hanya kerena orang-orang takut kepada saya, lalu saya tak keluar gua ini? Bagaimana cara saya dapat makan? Bagaimana dengan ibadah saya, bagaimana dengan hablum minan naas yang harus saya lakukan? Tentu saja orang-orang di gunung ini takut jika bertemu dengan Kiai Lembu Areng. Tetapi, apa mereka juga takut jika bertemu dengan Rejo? Seorang tua renta, dengan badan gosong hitam legam? Yang berjalan tertatih-tatih? Tentu tidak. Nak.... dengan menunjukkan nama asli itulah, saya biasa bergaul dengan orang-orang kampung, mampir di tempat-tempat makan, dan kadang membantu petani, dengan imbalan sekedar padi. Dari situ, saya bisa mengetahui perkembangan demi perkembangan dunia persilatan, termasuk dunia dakwah oleh wali Jawa. Engkau mungkin tak percaya, saya pun tahu tentang pertarunganmu melawan Raja Majapahit Wikramawardhana dan menaklukkan dedemit telaga Segaran. Semua saya ketahui. Dan saya yakin, engkau pasti datang ke sini, satu ketika, sebab, engkau masih ada kaitannya dengan Syech Belabelu atau Syech Jumadil Kubro, bahkan Syech Subakir. Jadi, saya hanya menunggu waktu saja. Buktinya, sekarang, engkaulah satu-satunya orang yang bisa masuk ke gua tempat tinggal saya ini.”
Rejo tercengang.
“Jadi....”
“Benar. Bahkan, ketika peristiwa di Telaga atau Kolam Segaran itu, saya sempat melihatmu beraksi di bibir kolam. Saat itu saya bersilaturahim ke Syech Jumadil Kubro. Jadi, pertemuan kali ini, adalah pertemuan ke dua kita.”
“Hah....”
“Tak perlu kaget. Untuk berjalan di bara api saja, kaki saya kuat, apalagi hanya berjalan di kerikil? Jadi, saya bisa berjalan lebih cepat darimu, Nak... Saya pun bisa membayangi engkau, ketika bertemu dengan Syech Belabelu, dan persahabatanmu dengan tiga macan.”
“Hah...”
“Tak perlu terkejut.”
“Kenapa saya lakukan? Karena melalui istikharah, saya mendapatkan mimpi, di Tanah Jawa ini disinari sembilan bulan purnama. Dan setiap bulan itu, ada bulan-bulan kecil yang selalu di dekat bulan purnama. Satu bulan kecil itu mendatangiku.”
"Itu saya artikan, ya kedatanganmu ini. Siapa lagi yang bisa masuk kawah gunung, kalau bukan kamu. Engkau adalah bulan kecil yang bakal mengelilingi bulan purnama ukuran besar. Engkau akan mendapingi bulan purnama itu seumur hidupmu. Saya tafsirkan, bulan purnama itu adalah para wali tanah Jawa. Entah engkau ikut generasi yang mana? Tentu saja, tidak ikut generasi Syech Subakir, Syech Belabelu atau Syech Jumadil Kubro, yang sekarang sudah pada sepuh semua. Mungkin engkau menjadi orang yang dekat dengan wali generasi berikutnya."
"Sudahlah Nak. Jika engkau ke tanah Pasundan, dan bertemu dengan keturunan raja Siliwangi, tolong, sampaikan salam Kiai Lembu Areng kepadanya, siapa pun orangnya," tutur Kiai Lembu Areng sambil menepuk pundak Rejo.
Rejo memang tak lama-lama tinggal di gua dalam lubang kawah itu. Dia teringat dengan tiga kawannya, yaitu harimau. Rejo pun pamitan, sambil mencium tangan Kiai Lembu Areng.
Tak butuh waktu lama bagi Rejo untuk keluar dari lubang kawah itu. Dan segera menemui tiga macan yang setia menunggunya.
"Di luar dugaan saya, saya malah mendapat pelajaran sangat dalam. Jauh lebih penting daripada sekedar ilmu kanoragan," kata Rejo kepada tiga macan.
Seakan tiga macan ini mengerti dengan apa yang dikatakan Rejo.
Mereka berjalan beriringan mulai menuruni Gunung Galunggung menuju ke arah barat. Rejo tetap saja menjauhi pemukiman, karena tak ingin dalam dirinya muncul riak dan ujub, karena bisa berteman dengan macan.
Lebih-lebih ketika memasuki kawasan kekuasaan kerajaan Pajajaran atau Pasundan, di mana macan dianggap sebagai hewan suci. Macan dianggap sebagai penjelmaan dari Prabu Siliwangi.
Selain menghindari lewat kampung, Rejo juga memilih istirahat di siang hari, dan barulah di malam hari dia melanjutkan perjalanan. Dengan demikian, nyaris perjalanan Rejo tanpa ada halangan.
Hanya saja, Rejo yang terbiasa dengan pakaian dan udeng Majapahit, sangat kentara, karena orang-orang yang ditemui di pasar atau di mana saja, umumnya mengenakan udeng ala Pasundan atau Pajajaran. Akhirnya Rejo melepas udengnya, begitu sampai di ibukota kerajaan Sunda Galuh atau Pajajaran atau Pasundan.
__ADS_1
Rejo ingin lebur dengan warga ibukota. Hanya saja, sangat kentara bedanya, umumnya, penduduk berkulit putih, karena memang hidup di dataran pegunungan, sedangkan Rejo berkulit gelap. Dan lagi yang menyulitkan Rejo, dia tak menguasai bahasa Sunda. Meski dalam tataran agama Hindu, masih ada yang berbicara dengan bahasa Jawa Kuno atau bahasa Kawi.