BODYGUARD SANG SUNAN

BODYGUARD SANG SUNAN
episode 1a: Pendadaran Gunung Tidar


__ADS_3

Ternyata, dalam pembelajaran ilmu kanuragan, Resi Swadaraya lebih dominan dengan ilmu-ilmu kejam dan bengis, tetapi soal pembelajaran mental, agaknya Resi Hitu lebih menonjol sisi perasaan halus Raden Sumowirejo.


Perang antara Mataram melawan Majapahit inilah, yang menempa sosok Raden Sumowirejo menjadi sosok yang ganas secara fisik, tapi sangat lembut secara hati.


Karena sangat hebat, bengis, kejam, keji dalam perang inilah, nama raden Sumowirejo sangat ditakuti prajurit Majapahit. Dalam berperang, sebisa mungkin tidak bertemu raden Sumowirejo dalam kancah pertempuran. Bisa dipastikan nyawa melayang, dengan kondisi tubuh yang ambyar.


Bisa dikatakan, pada perang pemberontakan Mataram ini, sebagai tonggak awal nama besar Raden Sumowirejo, yang ketika remaja nanti, menyebut dirinya sebagai Pendekar Gunung Tidar, bersinar seantero jajahan Majapahit.


Di saat yang bersamaan, di negeri Cempa, sosok mungil yang masih berusia sekitaran 5 tahun, bermain-main di lingkungan Istana.


Dia sedang bersenda gurau dengan panglima kerajaan.


"Kanjeng Rahmad, di tlatah Jawa muncul pendekar muda. Dia masih anak-anak, tetapi namanya sudah terdengar di seluruh wilayah Jajahan Majapahit. Dia bernama Raden Sumowirejo. Kami yakin, Kanjeng Rahmad nanti akan jauh lebih hebat dari anak itu," kata panglima.


"Siapa namanya?" tanya Rahmad, yang masih cedal, meski usianya sekitar 5 tahun.


"Raden Sumowirejo, dari tlatah Mataram. Dia memimpin pasukan untuk memerangi Majapahit. Mataram ingin merdeka dari Majapahit. Ilmunya sangat tinggi, dan beraliran agama Hindu. Sangat kejam dan trengginas dalam perang. Siapapun musuh dihadapannya akan dilalap habis."


"Satu ketika, saya akan mengalahkan dia. Sebab, saya mempunyai tuhan yang maha kuat dibanding tuhan dia," jawab Rahmad.


"Benar, Kanjeng Rahmad. Allah SWT maha Perkasa, tidak ada yang bisa menyamainya."


"Nanti, kalau bertemu dia, biar sekalian tuhannya saya lawan," kata Rahmad.


Panglima, dan semua yang ada di sekitarnya tersenyum geli.


Sejarah bakal menemukan dua sosok anak, di tempat yang jauh berbeda ini, dalam satu naungan Islamiah.


“Sudahlah Rahmad, ayo siap-siap salat dan mengaji,” kata sang panglima.


Sosok anak kecil inipun segera berlalu, untuk siap-siap salat berjamaah.


Sangat berbeda dengan sosok Raden Sumowirejo. Di usia 12 tahun, dia sudah menjelma menjadi mesin pencabut nyawa dalam perang pemberontakan Mataram terhadap Kerajaan Majapahit.


Tetapi, menjadi jawara tidak menjadikan batin Raden Sumowirejo bahagia. Malah sebaliknya, hatinya semakin gundah. Kebengisan yang dilakukan dalam peperangan kian mengeringkan bathinnya. Lebih-lebih dia kerap melihat kesengsaraan rakyat jelata, yang kesulitan makan, pakaian. Semua bahan makanan dirampas oleh pihak Kadipaten Mataram untuk dimanfaatkan sebagai logistik perang.


“Apalah artinya memenangkan peperangan, jika rakyat menderita. Lalu, kalaupun bisa lepas dari Majapahit, apa bisa dengan serta-merta mengembalikan kesejahteraan rakyat. Sungguh, perang ini hanya untuk memuaskan keluarga saya saja, sementara rakyat jelata menderita,” gumam pemuda Raden Sumowirejo, seorang diri.


Maka, satu malam, dia memutuskan untuk tidak ikut berperang, tetapi juga tidak kembali ke istana, yang penuh gemerlap. Raden Sumowirejo memilih minggat.


Karena tertalu muda, dan belum berpengalaman di dunia luas, raden Sumowirejo tak tahu harus ke mana. Dia setiap hari berjalan dan berjalan. Dia selalu disuguhi pemandangan kesengsaraan rakyat akibat berang. Ini menjadikan hatinya mendidih.


Marah, kecewa, jengkel dengan kondisi yang ada. Dia semakin bertekad meninggalkan dan menanggalkan kebangsawanannya.


Kabar raibnya Raden Sumowirejo dari barak pasukan, segera sampai ke istana Mataram. Ini menjadikan keluarga besar Istana murka. Mereka memerintahkan seluruh penguasa wilayah untuk mencari tahu keberadaan Raden Sumowirejo, sang putra mahkota.


Pihak kerajaan juga menyuruh Resi Hitu untuk mencari muridnya itu. Sang Resi, mengerahkan segala kemampuannya untuk mengetahui keberadaan Raden Sumowirejo.


Dari wisik yang didapat, keberadaan Sang Putra Mahkota saat ini berada di kaki gunung Tidar. Maka, segeralah Resi Hitu berangkat ke Gunung Tidar, dengan diikuti sejumlah pasukan Mataram.


Raden Sumowirejo sendiri, tak tahu bahwa di puncak gunung ini, tinggal sang guru, Resi Swadaraya. Ada semacam panggilan dalam hatinya, untuk menaiki gunung Tidar.


Ketika berada di puncak, dia melihat sebuah pertapaan sederhana. Dari kejauhan dia melihat sosok yang tak asing baginya. Sosok kurus kering ini, sedang bersemadi di padang terbuka, dengan terpaan sinar matahari siang yang menyengat.


“Kanjeng Resi, ternyata Kanjeng Resi tinggal di sini,” sapa Raden Sumowirejo membangunkan sang Resi, dengan menggoyang-goyangkan pundaknya.


Resi Swadaraya membuka matanya.


“Oh, engkau Sumo. Ada apa kok engkau ke sini?”


“Saya tak tahu. Saya lari dari pasukan, dan tak kembali ke istana.”


“Kenapa?”


”Karena peperangan tak membuat saya bahagia. Semua bisa saya kalahkan dengan mudah.”


“Oh....”


“Saya juga melihat penderitaan rakyat yang kelaparan.”


“Oh...”


“Untuk itulah saya putuskan tak balik ke istana, karena peperangan ini hanya untuk menyenangkan istana saja. Lebih baik saya minggat."


“Rencanamu?”


“Saya tidak tahu.”


“Kalau begitu, tinggal di sini saja, menemani aku. Nanti aku turunkan ilmu-ilmu yang belum engkau kuasai.”


“Baik,” kata Raden Sumowirejo tanpa pikir panjang.


Dan memang benar, tak lama setelah mereka bertemu, Raden Sumowirejo sudah diajarkan ilmu-ilmu tingkat tinggi, yang memerlukan energi matahari. Sebab, selama tujuh tahun berlatih, selalu dilakukan pada malam hari.


Tentu saja, energi membunuh yang bersumber dari sinar matahari, semakin kuat tertancap di diri Raden Sumowirejo.



(Penunjuk arah di Kaki Gunung Tidar. foto: irasulistiana.com)


Dua hari berlatih di Gunung Tidar, raden Sumowirejo dikejutkan dengan kehadiran Resi Hitu dan sejumlah pasukan. Tujuannya adalah mengajak Raden Sumowirejo pulang ke Mataram.


“Saya tidak mau pulang. Saya tetap di sini,” tegas Raden Sumowirejo.


“Kalau Kanjeng Raden tak mau pulang, maka saya akan memaksa. Karena ini titah dari paduka Adipati,” tutur Resi Hitu, dengan tatapan tajam.


“Tetap saya tidak mau pulang.”


Belum lagi Resi Hitu berbicara, Resi Swadaraya ikutan berbicara.


“Hai Resi Hitu, bukankah engkau telah mendengar jawaban Sumo. Dia memilih tinggal di sini bersamaku, jadi sebaiknya engkau dan orang-orang tak berguna itu pulang. Silakan turun gunung,” kata Resi Swadaraya, dengan nada penuh ancaman.


Resi Hitu sadar, bahwa Resi Swadaraya menguasai ilmu iblis yang sangat kejam. Dia harus hati-hati dalam bertutur kata.


“Mohon maaf resi. Banyak yang harus dipelajari Kanjeng Raden Sumowirejo di istana. Pelajarannya belum selesai. Mohon izinkan saya membawa pulang Kanjeng Raden.”


“Permohonanmu ditolak!”


Resi Hitu menahan diri.


“Hei Sumo. Sekarang pilihannya ada di kamu. Kalau engkau memilih tinggal di sini bersamaku, serang pasukan Mataram itu. Kalau engkau memilih pulang ke Mataram, silakan saja. Aku sudah tidak sudi lagi mengajarimu ilmu-ilmu tingkat tinggi. Ilmu Gunung Tidar.”


Karena memang sudah dirasuki hawa membunuh, hasil dari dua hari latihan di siang hari, Raden Sumowirejo segera merengsek maju, dengan kecepatan tinggi.


Resi Hitu tak sempat untuk mencegah gerak Raden Sumowirejo. Dalam hitungan detik saja, puluhan pasukan itu semua tewas dengan kondisi sangat mengenaskan.


Resi Hitu tinggal seorang diri menjadi tercenung.


“Bagaimana mungkin sosok yang selama ini diajari tutur kata yang baik, sopan-santun dan tatakrama itu, menjadi sosok pembunuh yang sangat bengis.


“Padahal, mereka hanya bertemu dua hari,” fikir Resi Hitu, dengan bulu kuduk bergidik setelah melihat gaya bertarung Raden Sumowirejo, yang sangat bengis.


Resi Hitu tak tahu, bahwa selain menjadi muridnya, Raden Sumowirejo juga dididik kanoragan oleh Resi Swadaraya, ketika malam hari, di lingkungan istana.


Melihat kehebatan sang junjungannya, membuat Resi Hitu keder juga.


"Kanjeng Raden, bukankah engkau telah kuajarkan tentang budi pekerti, tentang sopan santun, kenapa menjadi sangat bengis seperti binatang buas seperti ini? Di mana pelajaran yang saya ajarkan bertahun-tahun. Kenapa hanya dengan pertemuan dua hari saja, engkau menjadi berubah?" tanya Resi Hitu.

__ADS_1


Raden Sumowirejo bukannya menjawab, tapi hanya menatap dengan nanar. Sementara pedangnya meneteskan darah pasukan Mataram yang dibunuhnya.


"Kanjeng Raden, saya tidak menemukan tatapan lembut sosok penerus Kadipaten Mataram. Sadarlah, engkau seorang raja. Janganlah engkau menjadi bengis seperti itu."


Raden Sumowirejo perlahan melangkah menuju Resi Hitu.


"Ha ha ha.... Engkau tak tahu. Sumo sudah menjadi muridku sejak umur 5 tahun. Aku selalu ajarkan kanoragan tingkat tinggi kepada Sumo setiap malam. Sayangnya, saat kami berlatih selalu pada malam hari. Dua hari di Gunung Tidar ini, dia aku latih siang hari, dimana matahari menyengat. Tak terasa, tenaga dalamnya sungguh luar biasa. Dia menjadi jawara di atas jawara, ha ha ha."


Raden Sumowirejo semakin dekat.


Rewsi Hitu segera membuka kuda-kuda. Karena dia merasa, tak ada gunanya menyadarkan Raden Sumowirejo dengan kata-kata.


"Tunggu, Sumo. Dia bukan lawanmu. Mundur kamu, dan lihatkan pertarungan sebenarnya."


Resi Swadaraya maju, dan Raden Sumowirejo mundur. Duduk di antara mayat-mayat pasukan Mataram.


"Hitu. Ayo lawan aku sampai mati," tantang Resi Swadaraya.


Sadar lawan yang dihadapi terkenal sangat kejam, bengis, Resi Hitu tak mau gagabah. Dia langsung membuka jurus andalan.


Tak lama, pertarungan dua resi yang sudah berusia sangat lanjut ini terjadi.


Siutan suara angin mengiringi tenaga dalam yang meletup.


Debu-debu berterbangan, membuat Raden Sumowirejo sulit melihat secara jelas.


Suara-suara menggelegar akibat benturan dua tenaga dalam tingkat tinggi.


Raden Sumowirejo merasakan terpaan tenaga dalam yang membuat jantungnya berdegup kencang.


"Sungguh luar biasa. Ini baru pertarungan," fikir Raden Sumowirejo.


Tetapi, pertarungan ini ternyata berlangsung singkat.


Pada satu kesempatan, Resi Swadaraya berhasil menyarangkan pukulan dengan tenaga dalam penuh ke arah dada Resi Hitu Dawiya, yang tanpa pertahanan.


"Duk!"


Resi Hitu jatuh berguling-guling.


Memuntahkan darah segar.


Lalu, jatuh terjengkang.


Resi Hitu Dawiya tewas dengan sekali pukulan.


"Kau lihat Sumo? Inilah pertarungan sebenarnya. Cukup dengan sekali pukul, harus bisa menghabisi lawan. Ingat itu. Ini adalah inti ilmu Gunung Tidar," kata Resi Swadaraya.


Raden Sumowirejo takjub atas kemampuan Resi Swadaraya. Sementara di sisi lain, yang tewas terbunuh juga gurunya sendiri, Resi Hitu Dawiya.


Maka, atas izin Resi Swadaraya, mayat Resi Hitu Dawiya dikuburkan di puncak Gunung Tidar. Raden Sumowirejo melakukan dengan penghormatan tinggi.


Selama tujuh hari, Raden Sumowirejo memberikan penghormatan kepada gurunya. Resi Swadaraya membiarkannya.


Barulah di hari ke delapan, Resi Swadaraya mulai menggembleng Raden Sumowirejo dengan ilmu-ilmu bengis tingkat tinggi.


Karena bakat luar biasa yang dimiliki Raden Sumowirejo dan otak yang jenius, menjadikan apa yang diajarkan sang Resi, dengan mudah diserap dan dipraktikkan Raden Sumowirejo. Berlatih di puncak gunung Tidar, dalam terpaan sinar matahari yang menyengat, menjadikan tenaga dalam raden Sumowirejo meningkat dengan tajam. Ini dilakukan selama berbulan-bulan.


Pihak keraton sendiri, setelah mengetahui sang putra mahkota tinggal di Gunung Tidar, langsung terdiam. Tidak ada satupun yang berani mendaki gunung yang sebenarnya tak terlalu tinggi ini.


Kini, Resi Swadaraya yakin, muridnya ini adalah sosok yang tak terkalahkan di tanah Jawa. Raden Sumoweirejo dinilai sudah patut menggantikan posisinya sebagai jawara yang paling ditakuti dan bengis.


"Ha ha ha. Sekarang aku mempunyai penerus. Jadilah engkau pemuja dewa shiwa yang hebat. Angger, semua ilmuku sudah aku turunkan kepadamu, tinggal engkau melatih dengan disiplin dan rutin. Saat ini saja, engkau akan mampu mengalahkan seluruh jawara di tanah Jawa ini. Apalagi nanti, ha ha ha," kata Resi Swadaraya, sambil menepuk-nepuk kepala Raden Sumowirejo.


Raden Sumowirejo memang benar-benar gila ilmu. Dia melatih seluruh ilmu tingkat tinggi yang diajarkan oleh Resi Swadaraya yang beraliran keras, digabung dengan ilmu yang didapat dari Resi Resi Hitu Dawiya dengan gerakan halus.


"Memang luar biasa bakat anak muda ini. Dalam beberapa tahun mendatang, tentu dia menjadi pendekar yang tak mungkin dikalahkan. Tidak semua orang bisa menggabungkan gerakan halus dan kasar, dalam satu jurus, dan dalam satu raga. Jika orang lain, bisa jadi akan tewas karena di dalam dirinya muncul ilmu yang saling bertentangan. Tidak pada si Rejo ini. Tentu ini semua kehendak Dewa Shiwa," gumam Resi Swadaraya, menyaksikan muridnya berlatih.


Bahkan latihan ini menyebabkan suara gemuruh, menggelegar dan munculnya kilat. Ini tentu membuat warga di kaki Gunung Tidar ketakutan. Mereka mengira gunung Tidar bakal meletus, atau mereka mengira sang penguasa Gunung Tidar sedang marah.


"Tidak ada penunggu gunung yang marah, ini hanya ulah manusia. Mari kita naik ke puncak gunung ini, agar kita tahu jawabnya," kata seorang berjubah, kepada puluhan warga di kaki gunung yang ketakutan.


"Tidak Kisanak. Ini tentu perbuatan Dewa, yang marah kepada kita. Kalau tidak begitu, ini tentu perbuatan Resi Swadaraya, sang Pemuja Dewa Shiwa di puncak gunung," tutur satu warga.


"Bukan. Tidak ada yang perlu ditakutkan. Hanya satu yang harus kita takuti, yaitu Allah swt. Dialah tuhan yang ahad, Dialah tuhan yang wajib disembah, Dialah tuhan yang Maha Perkasa," kata manusia berjubah itu.


"Kisanak, jangan engkau berkata ngawur. Nanti dewa kian marah, dan kita semua celaka."


"Tak perlu takut."


"Biasanya, kalau ada guntur di gunung Tidar, maka, tak lama lagi akan muncul pageblug."


"Tidak ada hal seperti itu."


"Biasanya seperti itu."


"Kejadian seperti itu, hanya untuk menakut-nakuti kalian semua untuk tidak naik ke Gunung Tidar, dan kalian akhirnya menganggap Resi Swadaraya sebagai dewa. Ini sunggunh salah."


"Kami tetap takut."


"Bagaimana kalau saya yang menyelesaikan guntur, dan mengalahkan Resi Swadaraya. Apa kalian mau menyembah Allah dan menjadi muslim?"


"Ah, kisanak. Jangan aneh-aneh. Semua orang tahu, ilmu Resi Swadaraya tak ada yang menandingi seluruh Tanah Jawa. Bahkan Resi Hitu yang mempunyai ilmu tembus langit sekalipun bisa dibunuh dengan sekali pukul."


"Baiklah. Apa kalian mau berjanji, jika saya akan menantang Resi Swadaraya yang kerap membuat kesengsaraan kalian dengan menebar pagebluk itu. Jika saya kalah, tentu saya akan mati. Jika saya menang, maka, tak ada lagi pagebluk di sini. Apa kalian mau menyembah Allah swt?"


"Buat apa?"


"Karena saya pun meminta pertolongan kepada Allah, Tuhan yang Maha Perkasa, untuk bisa mengalahkan Resi Swadaraya."


Semua terdiam.


"Apa kalian semua tetap tinggal diam dipermainkan resi Swadaraya?"


Semua diam.


"Apakah kalian mau berjanji?"


Semua diam.


"Baiklah. Saya sudah menawarkan jalan yang benar. Kalau kalian mau, ya ikuti jalan saya, kalau tidak mau, ya sudah, sebab tidak boleh ada paksaan dalam Agama."


Si pria berjubah berlalu.


Dia perlahan melangkah menuju ke puncak gunung.


Warga di kaki gunung, hanya mengikuti dengan tatapan mata. Mereka terlalu ngeri untuk membayangkan, apa yang bakal terjadi pada pria berjubah itu, ketika harus menghadapi Resi Swadaraya.


Suara gemuruh dan ledakan petir masih menggelegar dari arah puncak gunung.


Dengan kemampuanya, lelaki berjubah itu segera bisa mencapai puncak gunung.


Dilihatnya, anak kecil dengan tubuh bertelanjang dada dan berdada bidang, meski terkesan kurus, sedang berlatih.


Hembusan angin sangat kencang bersumber dari kedua telapak tangannya. Kian menjauhi telapak tangan semakin kencang dan memunculkan suara gemuruh. Dari telapak tangan kirinya muncul percikan api warga biru, sedangkan dari telapak tangan kanan muncul percikan api warna kuning. Ketika dua telapak tangan ini didekatkan, muncul suara ledakan luar biasa, nyaris menyerupai suara guntur. Bahkan, memunculkan kilatan cahaya seperti kilat.


Hebatnya, tubuh anak kecil itu tetap kokoh, sedangkan energi ledakan itu semburat di sekitarnya.

__ADS_1


"Jadi ini sumber suara guntur dan ledakan kilat yang terlihat di kaki gunung. Hebat juga, anak sekecil ini menguasai ilmu yang mempunyai karakter berbeda," gumam si lelaki berjubah, yang sudah dekat.


Si lelaki berjubah juga melihat sosok tua kurus sedang bersemedi.


"Oh, itu tentu Resi Swadaya."


Raden Sumowirejo yang tak melihat kedatangan lelaki berjubah, tetap asyik berlatih.


Perlahan, si lelaki berjubah mengangkat tangan kanannya. Diarahkan kepada Raden Sumowirejo.


Ketika dua telapak tangan Raden Sumowirejo nyaris ditangkupkan dan memunculkan suara ledakan, dia mendapat efek luar biasa. Jika sebelumnya, energi ledakan itu bisa semburat lepas, kali ini, seakan di sekeliling Raden Sumowirejo ada dinding.


"Duar!"


Begitu ledakan terjkadi, tubuh Raden Sumowirejo terjengkang dan berguling-guling.


Raden Sumowirejo langsung pingsan.


Perlahan, Resi Swadaraya membuka matanya.


"Siapa yang mengganggu muridku berlatih?"


"Muridmu lah yang mengganggu warga di kaki gunung, dengan suara gemuruh dan ledakan. Para penduduk ketakutan atas ulah muridmu," kata si lelaki berjubah.


"Siapa engkau?"


"Perkenalkan. Orang-orang menmanggilku dengan sebutan Syech Subakir."


"Kenapa engkau menggangguku?"


"Engkaulah yang mengganggu penduduk."


"Apa urusanmu?"


"Tentu ini menjadi urusanku, karena kebiasaanmu menebar pagebluk kepada penduduk di kaki gunung."


"Buat apa engkau mengurus-urus. Tahukah kamu, engkau berhadapan dengan siapa?"


"Aku tahu, engkau adalah Resi Swadaraya. Tapi, tahukah engkau, siapa yang kamu hadapi?"


"Siapapun engkau. Bakal mati di puncak gunung ini."


"Ketahuilah. Saya Syech Subakir. Orang yang akan menghentikan sepak terjangmu. Saya datang ke sini, untuk mengakhiri penderitaan penduduk di kaki gunung atas ulahmu."


"Baiklah. Jangan menyesal, jika engkau sebentar lagi akan tewas."


Dua lelaki renta ini, segera membuka jurus masing-masing. Tanda mereka siap bertarung.


Syech Subakir dalam posisi duduk bersila, sedangkan Resi Swadaraya dalam posisi kaki kuda-kuda.


"Resi biadab. Bertobatlah. Mumpung nyawamu masih di badan. Ayolah ikuti aku untuk memeluk agama Islam. Insya Allah, seluruh dosamu diampuni Allah swt," ajak Syech Subakir.


"Engkaulah yang bakal mati!" teriak Resi Swadaraya dan melesat menyerang.


Resi Swadaraya mengerahkan kemampuan tertingginya, tenaga dalam tertinggi, jurus pamungkas paling rahasia. Dia ingin pertarungan segera selesai dalam sekali pukul.


"Ya sudah, kalau itu memang pilihanmu," jawab Syech Subakir, dengan membuat tameng gaib di sekitar tubuhnya.


"Blar!"


Suara memekakkan telinga muncul ketika pukulan Resi Swadaraya nyaris mengenai tubuh Syech Subakir.


Dalam posisi bersila, kaki Syech Subakir yang ditekuk melesak masuk ke dalam tanah hingga perut. Sedangkan tubuh Resi Swadaraya terpelanting sangat kuat.


Berguling-guling.


Tewas.


"Hoek....!"


Syech Subakir muntah darah.


Perlahan, Syech Subakir mengatur nafasnya.


Rasa sakit di dadanya mulai berkurang. Ototnya mulai mengendur.


Syech Subakir tak berani bergerak sampai tubuhnya benar-benar merasa nyaman.


"Ilmu yang luar biasa," gumam Syech Subakir yang mulai beranjak dari duduk bersilanya.


Dilihatnya sang Lawan, Resi Swadaraya tak bergerak. Tak jauh dari situ, tubuh Raden Sumowirejo juga meringkuk pingsan.


"Anak muda yang luar biasa. Semoga engkau mendapat hidayah, sehingga ilmu yang engkau kuasai bisa digunakan alat untuk berjihad," gumam Syech Subakir, sambil menggendong tubuh Raden Sumowirejo ke tempat teduh.


Lalu, Syech Subakir juga menggendong tubuh Resi Swadaraya untuk dibaringkan di samping tubuh Raden Sumowirejo.


"Anak muda, siapapun engkau, saya melihat ada sinar terang di dahimu. Tentu engkau bukan orang sembarangan. Ayo, raihlah hidayah Allah swt," kata Syech Subakir, dengan menaruh kepala Raden Sumowirejo di lengan kiri.


Di telinga kanan Raden Sumowirejo, Syech Subakir melantunkan adzan, dengan sangat lembut.


Di telinga kiri Raden Sumowirejo, Syech Subakir melafalkan iqomah.


Perlahan, dibaringkan lagi kepala Raden Sumowirejo.


Sebenarnya, Syech Subakir ingin bertemu lagi dengan sosok pemuda ini. Untuk itu, diambil satu senjatanya, sebilah pedang bengkok pendek khas timur tengah. Pedang berukir itu, ditaruh di samping tubuh pemuda.


"Carilah saya, wahai pemuda. Entah kita akan bertemu sebagai teman, atau sebagai musuh. Ini pedangku," kata Syech Subakir.


Lalu, Syech Subakir turun gunung.


Di kaki gunung, Syech Subakir segera mengumpulkan penduduk.


"Wahai penduduk Gunung Tidar, ketahuilah, pagebluk sudah berlalu. Ancaman telah hilang. Allah menakdirkan, Resi Swadaraya telah mati. Ingat-ingatlah, bahwa Allah tuhan yang Maha Perkasa telah menolong kalian semua. Marilah Bapak Ibu semua memeluk agama Islam, karena agama ini yang menjanjikan kepada surga sebenarnya," ajak Syech Subakir.


Syech Subakir akhirnya menetap beberapa waktu untuk melaksanakan dakwah di kaki Gunung Tidar.


Tetapi, kepercayaan penduduk kaki Gunung Tidar masih terlalu kuat kepada agama Hindu.


Syech Subakir hanya mampu mengislamkan dua orang. Dan dua orang ini pula yang akhirnya diajak melanglang Jawa untuk berdakwah sebagai cantrik.


Adapun Raden Sumowirejo, begitu terbangun dari pingsannya, kaget melihat sang guru telah mati. Sementara di sampingnya , ada sebilah pedang bengkok pendek.


Raden Sumowirejo tercenung.


Dia mencoba mengingat-ingat apa yang terjadi. Saat itu, dia sedang berlatih, ketika ada ledakan, tubuhnya seakan tersengat aliran listrik sangat kuat. Dia terpental dan tidak ingat apa-apa.


"Jadi, ada kemungkinan saya juga dipukul oleh seseorang. Lalu, orang itu bertarung melawan guru," gumam Raden Sumowirejo sendiri.


"Betapa hebat ilmu orang yang membunuh guru saya ini. Siapakah dia? Dan ada pedang pendek ini, tentu milik orang itu. Tetapi, untuk apa dia meninggalkan pedang ini," gumamnya lagi.


Anehnya, yang muncul bukanlah dendam karena sang guru dibunuh, malah perasaan takjub atas kehebatan orang yang mampu membunuh gurunya itu.


"Kalau bisa, aku berguru kepadanya."


Raden Sumowirejo akhirnya menguburkan gurunya, di tempat yang agak jauh dari kubur Resi Hitu. Lalu, sebagai penghormatan kepada sosok yang membunuh gurunya, pedang bengkok itu dikuburkan tepat di dekat puncak gunung.


Beberapa hari, Raden Sumowirejo tetap tinggal di puncak gunung, lalu dia memutuskan untuk turun gunung. Tujuannya, mencari sosok yang membunuh gurunya, dan memintanya untuk menjadi gurunya.

__ADS_1


__ADS_2