
Sunan Ribang Kuning kerap mengajak cucu pertamanya ini, jalan-jalan ke rumah Rejo alias Sunan Kembang Kuning, jika dia kangen kepada sahabatnya itu. Rumah Rejo tetap dibersihkan oleh prajurit Ribang Kuning, sebagai persiapan seandainya Sunan Kembang Kuning pulang.
Biasanya, Sunan Ribang Kuning meneruskan jalan-jalannya ke rumah satu sahabatnya, Sunan Bungkul.
Kebetulan, di usia renta, Sunan Bungkul diberi karunia Allah, seorang putri, yang diberi nama Wardah.
Usianya sepantaran dengan Murtosiyah. Dan dua perempuan mungil ini cepat akrab.
Karena memang terlalu seringnya saling tandang, antara Wardah dan Murtosiyah benar-benar menjadi sahabat yang sulit dipisah. Kanjeng Sunan Bungkul juga menyuruh Wardah untuk bertandang ke Ribang Kuning untuk mendapatkan pembelajaran dari Ki Wiroseroyo, dan sebaliknya, Ki Wiroseroyo juga menyuruh Murtosiyah bertandang ke Bungkul untuk mengaji.
Bahkan, dua perempuan ini kerap menginap di rumah salah satunya.
Sejalan dengan bergulirnya waktu, Murtosiyah dan Wardah menjelma menjadi dua gadis yang sangat cantik. Mereka menjadi sahabat yang tak mungkin terpisahkan. Tiada hari yang dilewatkan sendirian. Mereka selalu berdua.
Di saat mereka berdua menjadi remaja yang sudah selayaknya menikah, Kanjeng Sunan Bungkul, yang kian sepuh, mulai resah. Dia sangat berharap bisa menikahkan putri bungsunya ini dengan lelaki yang bisa diandalkan. Namun, tentu tak mudah bagi siapapun, sebab ilmu agama dan ilmu pencak silat yang dikuasai Wardah sudah cukup mumpuni, hasil gemblengan Sunan Bungkul sendiri, dan Sunan Ribang Kuning.
Di saat bersamaan, di Ampel Denta, Kanjeng Sunan Ampel pun resah, karena juga ingin menikahkan Murtosiyah yang sudah baligh itu.
"Nyai Karimah, putri kita yang ikut Abah, sudah remaja. Saya ingin sekali menikahkan Murtosiyah ini dengan satu satri yang jenius, ahli pencak silat, menguasai ilmu agama secara mendalam, lebih-lebih sudah punya pengalaman di negeri orang, yaitu Ainul Yaqin, putri angkat Nyai Ageng Pinatih," kata Sunan Ampel kepada istrinya.
"Kalau menurut Kanjeng Sunan baik, silakan saja. Kanjeng Sunan perlu membicarakan dulu dengan Abah. Sebab, Murtosiyah itu cucu kesayangan Abah. Tolong Murtosiyah juga diajak bicara, sebab, dia mempunyai sahabat, Wardah, putri Kanjeng Sunan Bungkul," jawab Nyai Karimah.
Maka, tak menunggu waktu lama, Sunan Ampel pun bersilaturahim ke Ribang Kuning.
"Abah, kedatangan saya ke sini, ingin membicarakan tentang Murtosiyah. Saya ingin menikahkan dengan Ainun Yaqin, santri saya paling jenius," kata Sunan Ampel kepada Sunan Ribang Kuning.
"Nak Ampel. Saya sebagai Eyang Kakungnya, tentu sangat gembira, karena saya yakin santri Ampel itu adalah pemuda pilihan dan cocok untuk Murtosiyah. Saya semakin tua, saya ingin menyaksikan Murtosiyah menikah sebelum saya dipanggil Allah swt. Tapi, silakan ajak bicara anaknya. Apakah dia mau. Murtosiyah itu mempunyai teman sangat dekat, yaitu Wardah, putri Kanjeng Sunan Bungkul. Mungkin saat ini, dia ada di Bungkul," kata Sunan Ribang Kuning.
Sebagai putri yang berbakti, Murtosiyah yang baru datang dari Bungkul itu, diajak bicara oleh Abahnya.
"Abah ingin menikahkan saya dengan santri Abah. Saya manut," kata Murtosiyah.
Namun, dia mengeluarkan air mata.
"Kenapa menangis?"
"Saya tidak menangis. Hanya saja, saya tak siap jika berjauhan dengan sahabat saya, Wardah."
"Nak, jika sudah menikah, istri mempunyai kewajiban untuk menaati suami. Jadi, lebih pentingkan suami daripada sahabat."
"Saya mengerti, Abah."
"Jadi, kamu tak keberatan untuk menikah?"
"Saya manut Abah."
"Alhamdulillah."
Sunan Ampel memang akhirnya berpamitan untuk kembali ke Pesantren Ampel Denta.
Hanya saja, di pesantrennya, Sunan Ampel tidak segera memanggil Ainul Yaqin untuk diajak berbicara.
Sedangkan Murtosiyah, yang merasa waktunya bersama sahabat, Wardah, semakin sedikit karena akan menikah, menghabiskan waktunya di Bungkul.
"Wardah, kemarin Abah datang, dan meminta saya untuk mau dinikahkan dengan satu santrinya. Saya tidak tahu dan tidak kenal, siapa calon suami saya itu. Dan tentu saja, ketika saya sudah menjadi istri orang, kita akan jarang ketemu lagi," kata Murtosiyah kepada Wardah, sambil menitikkan air mata.
Wardah yang mendapat cerita mendadak ini, juga tercenung kaget, lalu ikut-ikutan menangis. Dua bersahabat ini, akhirnya berpelukan sambil menangis.
Sunan Ribang Kuning juga membiarkan cucunya bermalam di Bungkul, karena dia tahu, bahwa tak lama lagi, sang cucu akan mengikuti suami dan berpisah dengan sahabatnya.
Namun, Allah swt menakdirkan lain.
Di saat keresahan Sunan Bungkul yang meningkat, karena belum menemukan jodoh untuk anaknya ini, mendapat satu peristiwa yang diyakini adalah karunia dari Allah.
Bertamulah seorang pemuda tampan, tegap, dan berjalan anggun.
"Assalamualaikum."
"Waalaikum Salam."
"Ada apa anak muda? Saya belum pernah melihat engkau di sini?"
"Mohon ampun, perkenalkan nama saya Ainul Yaqin."
"Ada perlu apa engkau ke sini?"
"Mohon maaf Kanjeng Sunan, apa benar pohon delima yang ada di pinggir Kali Mas di sana itu, milik Panjenengan?"
"Benar. Memang ada apa?" kata Sunan Bungkul dengan terheran-heran.
"Mohon maaf, begini ceritanya. Ketika saya mandi di Kali Pegirian, ada satu buah delima hanyut di kali. Saya ambil dan segera saya pecah. Saya makan isinya sebagian."
Sunan Bungkul terperanjat. Dadanya berdegup mulai kencang. Namun, dia memilih diam, untuk memberi kesempatan kepada tamunya, meneruskan cerita.
"Namun, setelah menelan beberapa biji buah delima, saya menyadari bahwa buah ini bukan milik saya. Tentu buah ini milik seseorang. Saya tak bisa membayangkan seandainya pemilik buah delima ini tidak ikhlas. Tentu yang saya makan tadi adalah haram."
Sunan Bungkul tetap diam. Tapi, wajahnya terlihat sangat ceria.
"Untuk itu, kedatangan saya ke sini, adalah untuk memohon maaf, dan memohon, sudilah kiranya Kanjeng Sunan mengikhlaskan buah delima yang saya makan sebagian itu."
Sunan Bungkul diam.
Ainul Yaqin juga diam.
Agak lama, barulah Sunan Bungkul bersuara.
"Saya tidak ikhlas. Buah delima itu akan saya tuntut di akhirat nanti."
Tentu saja Ainul Yaqin kaget.
Perlahan, dia mulai meneteskan air mata dan menunduk.
__ADS_1
Sunan Bungkul tersenyum, dan berkata dalam hati: "Alhamdulillah, ya Allah, semoga pemuda ini menjadi jodoh anak saya. Terima kasih Ya Allah, semoga saya masih bisa menyaksikan Wardah menikah dengan pemuda ini."
"Mohon maaf Kanjeng Sunan. Apapun akan saya lakukan, bahkan sekiranya nyawa saya sekiranya bisa menebus buah delima itu, saya serahkan kepada Kanjeng Sunan, asalkan Kanjeng Sunan memaafkan saya, dan mengikhlaskan buah delima itu."
"Tidak semudah itu."
Ainul Yaqin tertunduk lesu.
Sunan Bungkul membiarkan tamunya menangis sepuasnya.
"Apapun saya lakukan, asal saya diikhlaskan dan dimaafkan."
"Benarkah?"
"Insya Allah, Kanjeng Sunan."
"Baiklah, hanya ada satu cara agar saya mengikhlaskan buah delima yang telah engkau makan itu."
"Sebutkan cara itu, Kanjeng Sunan. Insya Allah akan saya lakukan."
"Caranya hanya satu, yaitu, engkau harus menikahi anakku."
Ainul Yaqin terjingkat kaget. Tapi segera menunduk.
"Kalau memang itu satu-satunya cara, saya bersedia."
"Anak saya buta."
"Saya bersedia."
"Anak saya bisu."
"Saya bersedia."
"Anak saya tuli."
"Saya bersedia."
"Anak saya lumpuh."
"Saya bersedia."
"Benarkah eingkau bersedia, mempunyai istri yang buta, ituli, bisu, dan lumpuh?"
"Insya Allah benar, Kanjeng Sunan. Saya akan merawatniiya, sekuat saya. Karena itu memang satu-satunya cara agar Kanjeng Sunan memaafkan dan mengikhlaskan saya."
"Baik. Kalau begitu. Sebenarnya rumahmu di mana?"
"Saya tinggal di Pesantren Ampel."
"Alhamdulillah, jadi kamu santrinya Nak Ampel?"
"Benar, Kanjeng Sunan."
Ainul Yaqin pun pulang ke Ampel, dengan berbagai perasaan berkecamuk. Bingung dan tak mengerti harus bagaimana.
Sepulang Ainul Yaqin, Sunan Bungkul memanggil anaknya, yang saat itu sedang bercengkrama dengan sahabatnya, di Keputren.
"Wardah, usia Abah sudah sangat sepuh. Satu keinginan Abah, yaitu menikahkan kamu dengan lelaki pilihan. Lelaki yang bertanggung jawab."
Wardah pun terjingkat kaget.
Tak lama matanya nanar karena air mata.
Dia belum lama mendapat cerita dari Murtosiyah, bahwa akan dinikahkan. Kini, dirinya mengalami nasib serupa.
"Saya pasrah kepada Abah."
Lalu, Kanjeng Sunan Bungkul menyeritakan kehadiran pemuda santri Ampel, dan buah delima itu.
"Sudahlah, sana kembali ke Keputren, berperilakulah sebagai calon istri. Jaga diri. Murtosiyah juga kamu ajak juga jaga diri, sebab saya dengar, katanya dia akan dinikahkan juga. Mungkin, kalian berdua bisa bersahabat dengan jarak jauh. Kamu akan menjadi istri, dan kamu harus berbakti kepada suamimu."
Wardah mengangguk, dan pamitan.
"Murtosiyah, saya juga akan dinikahkan," kata Wardah sesegukan.
Mereka segera berpelukan. Menangis bersama.
"Menikah dengan siapa?" tanya Murtosiyah.
"Saya tidak tahu. Yang jelas, dengan pemuda yang memakan buah delima. Calon suami saya katanya santri Ampel."
l
"Saya juga akan dinikahkan oleh santri Ampel. Hanya saja, saya lupa siapa namanya.
"Abah tadi juga tak menyebut mana. Mungkin Abah lupa."
"Katanya, saya disuruh siap-siap, jika sekiranya Abah Murtosiyah datang ke sini bersama santri, untuk menikahkan saya. Mungkin ada baiknya Murtosiyah juga bersiap-siap, siapa tahu waktu pernikahan semakin dekat. Itu yang dipesankan Abah kepada kita."
Akhirnya, mereka pun sepakat berpisah dulu. Untuk masuk pingitan di rumah masing-masing. Murtosiyah menghabiskan waktu di kamarnya, di istana Ribang Kuning. Sedangkan Wardah melakukan hal yang sama di istana Bungkul.
Ainun Yaqin sendiri, mencari waktu yang pas untuk menyampaikan salam Sunan Bungkul, dan akan menyeritakan kejadian yang menimpanya. Namun, sebelum dia menemukan waktu itu, dia sudah dipanggil Sunan Ampel, ke kediaman.
"Ainul Yaqin, saya ada perlu sangat penting kepadamu. Sebab itu, saya panggil kamu ke rumah, agar kita bisa berbicara berdua saja."
Ainul Yaqin menunduk.
"Begini nak, andaikan saya meminta kepada kamu, apa kamu akan memberi?"
"Tentu, Kanjeng Sunan Ampel."
__ADS_1
"Andai, saya suruh kamu, apa kamu akan melakukan?"
"Tentu, Kanjeng Sunan Ampel."
"Meski pun saya suruh untuk hal yang sulit-sulit?"
"Tentu, Kanjeng Sunan Ampel."
"Begini Nak. Saya sudah berbicara dengan Umi Nyai Karimah. Dan saya sudah berbicara dengan Murtosiyah, yang ikut di embahnya, di Ribang Kuning sana. Intinya, saya ingin menikahkan kamu dengan Murtosiyah. Untuk itu, sebagai Abah Murtosiyah, saya meminta kamu untuk bersedia menikahi putri saya. Sebagai guru, saya suruh kamu untuk menikahi Murtosiyah. Bersediakah kamu?"
Demi mendengar ini, Ainul Yaqin kaget dan langsung jatuh terjengkang.
Ainul Yaqin pingsan.
Sunan Ampel juga kaget.
Namun, Kanjeng Sunan Ampel tetap duduk, menunggu sampai Ainul Yaqin siuman dari pingsannya.
Beberapa saat, Ainul Yaqin siuman, dan segera duduk menunduk di depan sang kiai.
"Ada apa, sampai engkau terkaget-kaget seperti itu hingga pingsan?"
"Mohon maaf, Kanjeng Sunan," kata Ainul Yaqin, sambil menunduk.
Berhenti sesaat, tak meneruskan kata-katanya.
Terkesan, ada beban sangat berat.
Sunan Ampel tetap diam dan tenang.
"Mohon maaf Kanjeng Sunan Ampel. Sebelumnya, saya mengalami peristiwa yang mengharuskan saya mengambil keputusan berat. Yaitu, terkait saya memakan buah delima yang saya temukan di kali," kata Ainun Yaqin.
Untuk selanjutnya, Ainul Yaqin bercerita secara lengkap dan rinci, tentang pertemuannya dengan Sunan Bungkul, dan akhirnya bersedia dinikahkan dengan putri Sunan Bungkul yang buta, tuli, bisu dan lumpuh.
Giliran Kanjeng Sunan Ampel yang terjingkat kaget.
"Allahu Akbar. Jadi, engkau sudah berjanji bersedia dinikahkan dengan Putri Abah Bungkul?"
Ainul Yaqin menunduk, tapi mengangguk.
Sunan Ampel beranjak dari duduknya. Pergi menemui Umi Nyai Karimah.
"Umi Nyai, ada berita yang cukup mengejutkan. Saya baru saja memanggil Ainul Yaqin di Paseban, dan dia sebenarnya tak akan menolak semua permintaan saya.
Hanya saja, ketika saya sampaikan bahwa saya akan menikahkan dia dengan putri kita, Ainul Yaqin terjengkang dan langsung pingsan. Usai siuman, saya tanya, kok sampai pingsan? Barulah dia cerita bahwa dia sebenarnya, hendak bercerita kepada saya, bahwa dia sudah berjanji kepada Abah Bungkul, untuk mau dinikahkan dengan putri Abah, yang bernama Wardah."
Umi Nyai Karimah hanya melongo, sambil menatap lekat-lekat kepada suaminya.
"Lantas, apa yang Abah lakukan?" tanya Umi Nyai Karimah.
"Makanya, saya juga bingung. Untuk itu, saya ke sini, untuk meminta pendapat Umi Nyai."
Umi Nyai Karimah diam berpikir.
"Abah Sunan, jika memang ini takdir Allah, dan memang jodoh Murtasiyah adalah Ainul Yaqin, ya tidak apa-apa, kita nikahkan saja anak kita dengan Ainul Yaqin."
"Lalu, bagaimana dengan Abah Bungkul? Apa beliau mau anaknya mempunyai madu?"
"Untuk itu, sepertinya Abah Sunan yang harus menemui Abah Bungkul. Atau mungkin, kita bisa meminta tolong kepada Abah Wiroseroyo. Saya dengar, anak kita bersahabat dengan Wardah. Tapi, apa benar Wardah menderita lumpuh, buta, tuli, bisu seperti yang diceritakan Ainul Yaqin? Bukankah saat kita bertandang ke Bungkul dulu, Wardah sehat-sehat saja? Saat itu, Wardah dan Murtosiyah sangat dekat. Bahkan mereka bergurau sangat akrab?"
"Nah itulah, saya tidak tahu. Jadi, Umi Nyai ikhlas, jika anak kita, Murtosiyah menikah dengan Ainul Yaqin? Meski menjadi istri kedua?"
"Saya ikhlas. Tinggal Murtosiyah perlu diajak bicara."
"Murtosiyah sendiri, sudah mengatakan, menyerahkan semua urusan pernikahan kepada saya. Jadi, sebenarnya tidak masalah. Insya Allah, Ainul Yaqin bisa dipercaya dan bisa berlaku adil kepada istrinya."
"Baiklah, kalau begitu. Sana, Abah Sunan kembali ke Ainul Yaqin, dan sampaikan keputusan kita."
Sunan Ampel kembali ke Paseban. Sunan Ampel melihat Ainul Yaqin tetap menunduk.
"Ainul, telah saya bicarakan dengan Umi Nyai Karimah. Keputusan kami, saya berharap, engkau tetap berkenan menerima Murtosiyah sebagai istrimu. Dan engkau juga harus memenuhi janjimu kepada Abah Bungkul, nikahilah Wardah."
Ainul Yaqin tercenung. Kembali ini dia tidak terjingkat. Hanya garuk-garuk kepala saja.
"Sudah, itu keputusan saya. Apa engkau keberatan?".
Ainul Yaqin diam saja.
Ainul Yaqin pun disuruh berlalu.
Sunan Ampel lalu meminta kepada istrinya, Umi Nyai Karimah, untuk bertandang ke rumah Nyi Ageng Pinatih di Kampung Arab Gresik. Tujuannya, menyeritakan semuanya, meminta saran, dan menanyakan kapan sebaiknya pernikahan Ainul Yaqin dengan Wardah serta Murtosiyah dilaksanakan.
Betapa suka citanya Nyi Ageng Pinatih, begitu mengetahui putra angkat semata wayangnya ini, diminta oleh dua Sunan.
"Subhaanallah. Sungguh ini adalah hadiah dan rahmat dari Allah untuk saya yang sudah sepuh ini. Ananda Aiunul Yaqin akan menjadi menantu dua sunan sekali gus. Umi Nyai Karimah, mohon sampaikan kepada Kanjeng Sunan Ampel, saya pasrah. Apapun keputusan Kanjeng Sunan Ampel saya mengikuti."
Umi Nyai Karimah pun, menyampaikan apa adanya.
"Baiklah, kalau begitu, saya akan membicarakan dengan Abah Bungkul dulu. Kapan sebaiknya dilaksanakan pernikahan Ainul Yaqin.
Sunan Ampel pun tak menunda waktu untuk pergi ke Bungkul.
"Allahu Akbar. Jadi? Calon menantuku itu, juga akan Adi Sunan Ampel nikahkan dengan Murtosiyah? Mereka bersahabat lho. Setiap hari, Murtosiyah main ke sini, atau Wardah yang main ke Ribang Kuning. Untuk waktu-waktu ini, Wardah banyak tidur di Ribang Kuning. Saya tak tahu, akan balik kapan. Sebenarnya, Wardah itu saya pingit. Berhubung, dia kadang ingin bertemu sahabatnya, ya sudahlah, dipingit sekalian di Ribang Kuning. Apa sebaiknya keduanya kita panggil?"
"Tidak perlu Abah Bungkul. Biarkan mereka. Saya mau tanya, apa benar Wardah menderita buta, tuli, bisu, lumpuh, sebagaimana Abah ceritakan kepada Ainul Yaqin?"
"Ha ha ha, ya tentu tidak Adi Sunan. Saya lakukan itu karena untuk menguji kesungguhan Ainul Yaqin untuk menebus kesalahannya memakan buah delima. Ternyata, dia memang pemuda pilihan. Buktinya, dia bersedia menikahi Wardah, yang saya katakan buta, tuli, bisu dan lumpuh."
Sunan Ampel mengangguk-angguk.
"Kalau saya sih, tak masalah, apakah Wardah yang menjadi istri tua, atau muda. Yang jelas, saya hanya berdoa, semoga Ainul Yaqin bisa berlaku adil kepada dua istrinya," kata Sunan Bungkul sambil terkekeh.
__ADS_1
Maka, hari pernikahan pun dibicarakan serius, termasuk tempat pernikahannya.