
Para temannya heran, kenapa kok bisa mendapatkan luka seperti itu. Sang pecinta blekok pun menceritakan apa adanya.
Di hari keenam, dia sudah tak lagi merasakan gatal, namun perih di setiap luka. Dia tak peduli lagi, seakan rasa gatal dan perih sudah menjadi hal yang biasa.
Dengan demikian, sang santri pecinta blekok ini, mulai bisa bisa merasakan suasana di dalam tumpukan jerami yang hangat, aman.
Kian hari, dia mulai menikmati tinggal di dalam jerami. Usai salat isya, dia sudah masuk ke dalam jerami, bahkan tidur di dalam jerami.
“Engkau telah dekat dengan apa yang engkau cari,” gumam Sunan Kembang Kuning.
Bahkan sebulan penuh hidup dalam jerami, menjadikan sang santri mulai menguasai keawasan sebagai blekok. Pendengaran dan penglihatannya tiba-tiba saja sangat tajam. Gerak kakinya sangat cepat, dan kedua tangannya kerap terbuka seakan mengepak sayap.
Satu hari, Sunan Kembang Kuning mendatanginya.
Sang satri sudah mengetahui, meski tubuh sang Sunan belum terlihat dari belokan.
Kepala sang sang santri ditarik masuk ke sarang jerami.
“Assalamualaikum,”
“Waalaikum salam.”
“Angger, engkau agaknya sudah bisa membawa blekok kepadaku, tanpa harus diikat.”
“Benarkah?”
“Bagaimana mungkin engkau bisa tahu, kalau tidak kamu coba?”
“Bagaimana caranya?”
“Kok tanya saya, kan engkau lebih tahu dan mengetahui caranya.”
“Mohon maaf, Kanjeng Sunan, saya belum mengerti.”
“Kalau engkau belum mengerti, buat apa engkau setiap hari tinggal dalam sarang jerami?”
“Karena saya ingin menyelami kehidupan blekok.”
“Itu jawabnya.”
“Yang mana?”
“Yang barusan engkau katakan. Yaitu, menyelami kehidupan sehari-hari blekok.”
Sang santri diam.
“Blekok, satu burung yang tidak mempunyai senjata mematikan, layaknya elang, di mana cakar dan paruhnya sangat tajam. Blekok adalah hewan dimangsa. Tapi, Allah memberikan insting yang sangat tajam kepada blekok. Di mana, dia sudah mengetahui adanya bahaya, sedari bahaya itu sendiri belum muncul. Blekok mampu berlari sangat kencang dan berkelok-kelok tanpa menabrak, di antara tumpukan jerami dan semak. Itu adalah sunnatullah, agar blekok bisa mempertahankan diri dan menghindar dari ancaman pemangsa.”
“Jadi, saya harus melakukan apa?”
“Kalau engkau sudah bisa mendeteksi keberadaan saya, sedari saya belum sampai di sini, berarti engkau sudah bisa menyelami kehidupan sosok blekok. Jadi, jika engkau mendekati blekok, dan dia masih menyembunyikan kepalanya, berarti engkau masih dinilai sebagai musuh. Namun, jika blekok tetap tak bereaksi, berarti engkau sudah dianggap keluarganya. Coba lakukan.”
Sang Santri pun mulai mencoba saran dari sang guru.
Awalnya, ketika mendekati sarang blekok, jangankan blekok bersembunyi. Malah dia berlari menjauh meninggalkan semak belukar.
Ini dicoba tidak hanya sekali dua kali. Berkali-kali dicoba pun, hasilnya tetap sama.
“Mungkin ada yang salah. Apa ya?” sang santri bergumam sendiri.
Santri pun mencoba cara lain. Kali ini, dia tak datang dari arah depan maupun dari samping. Tapi, sang santri mencoba mendekati blekok dari arah belakang.
Perlahan dia mengendap, sangat pelan.
Hingga jarak sejangkauan tombak, sang blekok tak bereaksi.
Namun, begitu sang santri mendekati lagi, blekok menyadari kehadirannya, dan dia langsung melesak ke arah alang-alang.
Menghilang.
“Hampir berhasil.”
Sang Santri berupaya mencari blekok lagi.
Dan dia melakukan hal sama. Mengendap sedikit demi sedikit, sampai jarak sejangkauan tombak.
Kali ini, dia tak bergerak maju. Melainkan tiarap. Dan tak bergerak samasekali.
Sang santri berupaya menjadikan dirinya seperti blekok.
Hal ini berlangsung sangat lama. Hanya karena waktu salat tiba saja, yang menjadikan dia bangkit dari posisi tiarapnya.
Begitu mendengar ada suara di belakangnya, blekok langsung melesat menjauh, masuk ke dalam timbunan alang-alang.
“Hmmm. Jadi, ceritanya seperti itu. Engkau hampir berhasil. Coba beberapa kali, mungkin blekok sudah menganggapmu sebagai teman. Bukan lagi musuh, silakan coba. Dan, engkau sudah mengetahui kelemahan dari jurus yang akan engkau bangun, yaitu jurus blekok. Kelemahan dari jurusmu adalah, ketika serangan muncul dari arah belakang. Engkau pasti lengah. Dan dengan mendekati dari arah belakang pula, engkau bisa mendekati blekok.”
Betapa semangatnya sang santri, begitu mendapat arahan dari gurunya.
Esoknya, dia pun mencoba lagi.
Dia tak ingin buru-buru. Dengan jarak sejangkauan tombak, sang santri diam tiarap tak bergerak. Karena waktu salat masih lama, sang santri tetap tak bergerak.
Memang tak terjadi apa-apa, tapi blekok tak merasa ada bahaya di sekitarnya.
Hari itu, Sang Santri mencoba merangkak sejengkal.
Blekok tak bergerak.
Esoknya, tambah maju dan kian mendekati blekok.
Genap tujuh hari, sang blekok tak lagi bergerak, meski di sampingnya, ada sosok manusia. Mereka berdua diam tak bergerak.
Sang Santri mulai berani mendekatkan tangannya ke tubuh blekok.
Blekok liar ini mulai dielus. Tak merasa terancam.
Sang santri begitu terharu, sampai dia meneteskan air mata. Sepanjang hidupnya, saat menjadi begal dan berandalan, tak pernah sekali pun dia merasakan menyentuh sesuatu dengan kasih sayang, seperti dia menyentuh blekok ini.
Bahkan, ketika blekok liar ini diangkat dengan dua tangannya, tak bereaksi, seakan mereka adalah satu keluarga.
__ADS_1
Dilepas blekok.
Sang santri berdiri.
Blekok mendongak.
Sang santri merunduk.
Seakan mereka berbicara.
“Baik, saya akan main ke sarangmu.”
Blekok berjalan perlahan, diikuti di sampingnya oleh sang santri. Mereka memasuki semak-semak. Sang santri bergerak hati-hati, agar tak merusak bentuk semak-semak. Dengan demikian, hewan liar tak akan bisa menemukan sarang sang blekok.
Agak masuk ke dalam semak, barulah ada sarang blekok.
Di sarang itu, ada tiga anak blekok yang langsung membuka mulutnya, seakan meminta makan dari sang induk.
Rupanya, yang bersama sang santri adalah blekok betina.
Perlahan induk blekok memberi makan tiga anaknya, dengan bahan makanan yang disimpan di tembolok.
Sang santri menatap dengan perasaan bercampur aduk.
Tanpa disadari, dia ingat sosoknya saat masih bayi dulu. Tentu, tak beda jauh dengan kondisi anak blekok saat ini.
“Emak, kenapa baru sekarang saya mengingatmu. Betapa besar jasamu, melindungi saya, menyuapi saya, dan sekarang saya sudah dewasa, kenapa bisa lupa kepada Panjenengan?” tutur Sang Santri, dengan derai air mata tak terbendung.
Dia terus memandangi bagaimana induk blekok menyuapi satu per satu anaknya, dengan telaten. Hingga bahan makanan di tembolok habis.
Sang bayi blekok pun agaknya sudah kenyang. Mereka tak lagi bersuara.
Blekok betina segera melompat ke sarang, lalu mengerami anak-anaknya, agar hangat.
Perlahan sang santri mendekat, lalu mengelus tubuh blekok betina itu dengan lembut dan hati-hati.
“Kasihan benar blekok betina ini, jika dia harus mencari makan di tempat jauh. Baiklah, saya bantu untuk mencarikan blekok ini biji-bijian, agar untuk menyuap anak-anaknya, tak perlu mencari ke mana-mana,” pikir sang santri.
Dia pun beranjak mencari berbagai bijian yang sekiranya bisa dimakan oleh blekok. Hanya saja, untuk ikan-ikan kecil, dia tak mungkin untuk mencarinya.
Usai mendapatkan biji-bijian satu genggaman tangan, sang santri menaruh di dekat sarang blekok.
Sang santri kembali kepada sang Guru, Sunan Kembang Kuning.
“Jadi, para santri semua, teman kalian sudah sampai pada selangkah lebih maju. Dia menceritakan, sudah bisa berteman, bahkan menjadi seakan sosok blekok. Bahkan, dia mengumpulkan biji-bijian agar blekok tak kesulitan panganan. Baiklah, mari kita tunggu kelanjutannya, sebab, perintah saya adalah, ajak burung blekok ke sini, tanpa harus menangkapnya, tapi burung itu secara sukarela mau datang.”
Esok harinya, sang santri mendatangi lagi rerimbunan tempat blekok. Bedanya, kali ini, dia tak perlu mengendap lagi. Tetapi langsung duduk di samping blekok, di tempat yang sama sebelum-sebelumnya.
“Kenapa engkau di sini? Bukankah sudah saya carikan biji-bijian untuk makanan anakmu,” tanya sang santri kepada blekok betina, yang diam di semak.
Santri pun duduk santai di samping blekok itu, sampai menjelang sore. Bahkan, untuk salat dzuhur pun di tempat itu juga.
Menjelang sore, blekok beranjak menuju ke sarangnya. Tiga anaknya sudah mencicit meminta makan. Sang induk mulai menyuapi setiap anaknya, dengan makanan yang disimpan di tembolok.
Santri melihat, biji-bijian tak disentuh samasekali.
Karena menjelang Maghrib tak ada peristiwa yang penting, santri pun beranjak. Dielusnya tubuh blekok lalu berlalu.
“Kanjeng Sunan, saya heran, blekok tak mengambil bijian yang saya siapkan. Saya sendiri tak tahu, kenapa?”
“Menurut kalian, pelajaran apa yang bisa diambil dari peristiwa blekok ini?”
“Mungkin, burung itu tak suka dengan bijian yang disediakan. Bisa jadi bijian itu kurang matang,” kata satu santri.
“Mungkin, bijian itu sudah berbau tangan manusia,” kata lainnya.
“Mungkin, burung itu tak melihatnya,” kata lainnya.
Sejenak terdiam.
“Kenapa blekok itu tak memakan bijian yang disediakan? Karena burung blekok ini mengimani, bahwa Allah sudah menjamin rezekinya, seperti tercantum dalam Alquran, yaitu pengibaratan burung berangkat lapar, pulang menjadi kenyang.”
“Burung blekok ini, menyadari, untuk memberikan makanan kepada anaknya dengan makanan berkualitas, yaitu, makanan yang secara bijinya baik, dikumpulkan dengan upaya keras sang induk, dan tentu saja, mestinya halal.”
“Bapak-bapak, kita mendapat pelajaran bagus dari burung blekok ini. Tahukah kalian, apa itu?”
Semua terdiam.
“Belajarlah tentang ilmu yakin, dari kehidupan burung blekok.”
“Ilmu yakin?”
“Benar. Ilmu yakin.”
Semua kembali terdiam.
“Dalam Alquran, diberi perumpamaan bahwa burung dijamin rezekinya, berangkat lapar pulang kenyang. Blekok ini benar-benar meyakininya. Alloh pasti mencukupi rezekinya, dan anak-anaknya tak mungkin kelaparan.”
“Kita sebagai manusia, semestinya mempunyai keyakinan seperti itu. Pertama, kita harus meyakini bahwa Allah selalu melihat kita. Kedua, kita harus meyakini bahwa Allah sudah menyiapkan rezeki kepada kita, dan tak mungkin kita mati kelaparan. Kalau pun kita benar-benar kelaparan, kita perlu melihat pada diri kita sendiri. Bisa jadi, kita telah melakukan satu kesalahan atau kekhilafan sehingga Allah murka kepada kita. Jika memang kita tetap mendekat kepada Allah, berarti Allah sedang menguji kita. Dan kelaparan itu sendiri adalah takdir terbaik kepada kita. Kalian tahu, apa di atas ilmu yakin itu?”
Semua terdiam, dan mulai menggeleng pelan.
“Di atas ilmu yakin itu adalah ilmu khusnudzon. Ilmu berprasangka baik.”
“Banyak manusia lulus dengan ujian lapar, ujian kesusahan hidup, tapi cukup jarang yang lulus ujian khusnudzon. Apa itu?”
“Yaitu selalu menjaga prasangka baik. Baik itu kepada alam semesta, kepada tetangga, kepada manusia pada umumnya, dan puncaknya kepada junjungan kita, Nabi Muhammad, serta kepada Allah SWT. Anak-anak semua, sungguh, sangat jarang seseorang yang bisa menjaga hatinya untuk selalu khusnudzon. Ketika kita mengira orang lain melakukan khusnudzon, pada hakikatnya, kita sudah suudzon atau berprasangka buruk.”
“Kok bisa, Kanjeng Sunan. Kita berprasangka baik kepada seseorang, kok masuk suudzon. Mungkin Kanjeng Sunan bisa menjelaskan kepada kami.”
“Bagaimana tidak suudzon? Kita sudah melongok ke dalam hati seseorang, yang seharusnya hanya milik dia dan Allah SWT. Sebaik-baik kita berprasangka, bisa jadi kita masih merasa bahwa diri kita ini lebih rendah atau lebih tinggi dari orang itu. Padahal, kita tidak tahu, seberapa tinggi derajat orang itu di hadapan Allah SWT.”
“Kami bingung, Kanjeng Sunan.”
“Intinya, kita tak perlu untuk memikirkan orang lain. Sesuai dengan titah Kanjeng Rasul, ketika kita ingat dosa-dosa kita, tak ada waktu lagi bagi hati ini untuk berfikir sedikitpun tentang orang lain.”
Semua menunduk.
“Jadi, kita akan sibuk menghitung semua kesalahan kita, dan membandingkan dengan ibadah kita. Dan tahukah kalian, bagaimana hasil hitungan itu? Ternyata, amal kita jauh lebih sedikit daripada dosa yang kita buat. Di sini, kita harus menyadari sifat kehambaan kita kepada Allah, sang Pencipta, Allah sang Maha Pengampun, Allah sang Maha Pengasih dan Penyayang. Kita tak akan mungkin bisa masuk surga kalau mengandalkan ibadah kita. Bahkan, jika kita menghabiskan waktu sehari semalam, sepanjang hidup kita, untuk ibadah, dan dengan harapan bisa mendapatkan pahala dari Allah swt. Lalu, kita meminta kepada Allah untuk memasukkan surga karena amal kita. Sungguh, tak akan cukup.”
__ADS_1
Semua terdiam.
Satu santri memberanikan berbicara: “Berarti kita semua masuk neraka?”
“Itulah. Dari blekok kita sudah bisa mendapatkan pelajaran sangat berharga. Bahwa sesungguhnya, Allah sangat menyayangi semua ciptaaannya, terlebih kita sebagai manusia. Kasih sayang Allah lebih dahulu daripada murka-Nya. Untuk itu, hanya karena Maha Penyayangnya Allah belaka, kita bisa mencapai surga. Dan, jika kita beribadah dengan menghitung pahala, maka, sesungguhnya kita akan merugi. Karena kita pasti akan tekor. Tetapi, kalau kita beribadah karena kita ini adalah hamba, dan semua hidup kita pasrahkan kepada Allah, maka terserah Allah yang akan menentukan, bagaimana baiknya kita ini. Kalau pun kita dimasukkan Allah kepada neraka, ya tentu saja kita harus ikhlas. Tapi ingatlah, bahwa Kasih sayang Allah lebih dahulu daripada murka-Nya.”
“Blekok menyadari, bahwa dia hanyalah hamba. Sepanjang hidupnya selalu bertasbih kepada Allah, dan dia tetap berkembang biak, karena memang begitulah sunnatullah. Dan kita sebagai manusia, bisa memanfaatkan blekok dan hewan lain, untuk kita makan. Karena memang dunia dan isinya diciptakan untuk manusia.”
“Kami tambah bingung, Kanjeng Sunan,” kata satu santri.
“Kenapa harus bingung? Selama hati kita selalu mengingat kebesaran Allah, maka tak ada yang membingungkan. Hidup kita menjadi lebih ringan, dan tak ada yang perlu dikhawatirkan.”
“Lantas, kita harus melakukan apa, Kanjeng Sunan?”
“Tak perlu memikirkan hal itu, pasrahkan kepada Allah semuanya, maka Allah akan mengatur untuk kita. Itu pelajaran yang kita dapatkan dari blekok.”
“Untuk itu, tolong sekarang engkau jaga blekok itu, dan bertemanlah dengan blekok. Hingga anak-anaknya tumbuh bulu yang kuat, dan ajaklah kemari.”
Maka, santri pun kian bersemangat dengan kesukaan masing-masing. Santri suka blekok semakin jarang bersama, karena waktunya habis untuk bersama blekok dan anak-anaknya.
Sampai satu ketika, dia datang dengan diikuti empat burung blekok yang mengekor di belakangnya. Satu besar, dan tiga masih kecil-kecil.
“kanjeng Sunan. Inilah empat blekok yang saya maksud. Saya ajak ke sini untuk menghadap kepada Kanjeng Sunan. Saya tak memegangnya, saya hanya mengajak mereka, dan mau,” kata sang santri.
“Alhamdulillah, berarti engkau telah menguasai ilmu blekok.”
“Ki Sipang. Coba engkau lawan pendekar blekok ini,” suruh Sunan Kembang Kuning.
Yang dipanggil segera berdiri.
Namun, sang santri blekok masih bingung.
“Kanjeng Sunan, saya belum pernah belajar pencak silat.”
“Lho, bukankah engkau telah bergaul dengan blekok sekian lama.”
“Benar, tapi saya tak tahu gerakan pencak silat. Atau ilmu kanoragan lainnya.”
“Sudahlah. Lakukan dengan sungguh-sungguh. Ki Sipang, tolong, keluarkan ilmu terbaikmu. Dan jangan sungkan-sungkan untuk memukul dengan kekuatan penuh.”
“Kanjeng Sunan?”
“Sudahlah, lakukan saja.”
Sunan Kembang Kuning meminta semua mundur, termasuk empat blekok pun ikut-ikutan menjauh.
Kini, berdiri dua orang.
Ki Sipang segera membuka kuda-kuda.
Sang santri blekok tak mengerti, hanya berdiri mematung.
“Ki Sipang, silakan lakukan serangan. Anggap di depanmu ada musuh yang akan menghabisimu. Jadi, keluarkan ilmumu tebaik,” teriak Sunan Kembang Kuning.
Mendapat perintah itu, Ki Sipang segera menyiapkan jurus warisan Jenggolo, yang terkenal cukup menakutkan.
Sejenak kemudian, tinju Ki Sipang yang sudah diisi dengan tenaga dalam penuh, mulai terayun, disertai dengan hentakan kaki yang cukup keras di tanah. Debu berterbangan, dan membuat pandangan menjadi kabur.
Si Santri blekok, tentu saja ketakutan, dan tak tahu harus berbuat apa.
Namun, dalam kondisi genting seperti itu, si santri melihat seakan gerakan Ki Sipang sangat lambat.
Tinju yang semestinya bergerak secepat angin itu, dilihat si santri blekok, sangat lamban.
Sang santri dengan sangat mudah menghindari tinju Ki Sipang, dengan menggeser tubuhnya sedikit saja.
Mendapati tinjunya dengan mudah dihindari, menjadikan Ki Sipang kian beringas menyiapkan serangan berikutnya.
Tendangan kakinya telah mengarah ke perut sang santri blekok.
Lagi-lagi, santri Blekok melihat tendangan secepat kilat itu, sangat lamban, bahkan dengan mudah dia menghindar.
Dua serangan dengan mudah dihindarkan.
Sementara santri lain yang melihat jalannya pertarungan ini, dibuat terbelalak. Dalam penglihatan mereka, bagaimana mungkin si santri blekok bisa dengan sangat mudah menghindari serangan Ki Sipang yang sangat cepat itu.
Semua mata terbelalak.
“Jangan hanya menghindar, ayo lakukan serangan!” teriak Sunan Kembang Kuning.
Diteriaki seperti itu, sang santri Blekok, juga segera bereaksi.
Di matanya, sang teman, Ki Sipang, yang sebelumnya pimpinan komplotan, gerakannya sangat lamban. Jadi, semua gerakan Ki Sipang sangat mudah dibaca, bahkan anggota tubuh yang terbuka pun kelihatan nyata.
Sang Santri Blekok langsung mengincar ke arah sisi kiri perut yang terbuka.
Kepalan tangan langsung dihantamkan ke arah situ.
“Des!”
Pukulan itu mengena.
Semua mata yang melihat terbelalak.
Sunan Kembang Kuning tersenyum.
“Bagaimana mungkin Ki Sipang bisa dipukul dengan begitu mudah? Betapa cepat pukulannya?” gumam santri yang melihat.
Ki Sipang yang terkena pukulan di perut bagian kiri, juga kaget. Dia tak menyangka, bahwa gerakannya yang sangat cepat itu, bisa dengan mudah dibaca oleh temannya, dan dengan mudah dihindari. Bahkan, dia kini terpukul.
Tubuh Ki Sipang terjengkang berguling.
Dia bangun, namun meringis kesakitan.
Nafasnya ngos-ngosan.
“Ki Sipang. Selama engkau menggunakan ilmu Jenggolo, engkau akan mudah dikalahkan oleh pendekar blekok. Ingat. Saya suruh apa selama ini? Ayo tirukan apa yang engkau lihat selama ini. Tirukan gerakan air, sebab selama ini engkau berendam di air.”
Ki Sipang pun mulai menuruti perintah sang guru.
__ADS_1