BODYGUARD SANG SUNAN

BODYGUARD SANG SUNAN
episode 3a: Pelajaran Peristiwa Jurang Jero


__ADS_3

Dia duduk bersila, dan mulai menenangkan diri.


Rejo berusaha menguak misteri ilmu Wikramawardhana ini.


"Tentunya, awal kolam Segaran ini, adalah tanah rata, yang kemudian digali sedikit demi sedikit. Apa bedanya dengan saya, saat menggali kolam di Desa Jurang Jero? Tentu tak ada beda. Sama," gumam Rejo sendirian.


"Sebenarnya, cukup mudah untuk menguak misteri ini. Tetapi, saya harus memulai dari mana?"


Rejo tetap tenang dalam pikirannya.


Cemooh orang di pinggir kolam, tak dihiraukan.


Sementara buah kelapa tetap mengeluarkan gelembung, meski hanya di pinggir kolam.


"Kalau saya membuat kolam di Jurang Jero, memulai dari pinggir, lalu saya melebarkan hingga sejauh yang saya mampu. Bagaimana dengan kolam Segaran ini?"


"Jangan-jangan, kunci dari ilmu ini adalah, saya harus menemukan di mana galian pertama untuk kolam ini. Kalau memang cara itu yang bisa saya pakai, lalu, bagaimana saya bisa menemukan lokasi pertamanya?"


Rejo kembali tenggelam dalam pikirannya.


"Mungkinkah ada perbedaan warna, untuk membedakan mana kolam asli, dan mana kolam tambahan?"


Ini membuat Rejo penasaran. Untuk bisa mengetahui perbedaan warna, tentunya akan sulit diketahui ketika Rejo berada di dalam air.


Rejo perlahan ke pinggir, dan keluar dari air.


Orang di pinggir kolam mengira, Rejo melakukan itu karena umpatan mereka.


Rejo akhirnya memilih untuk memanjat buah kelapa yang ada di dekat kolam.


Dari puncak pohon kelapa itulah, Rejo melihat Kolam Segaran.


Memang ditemukan perbedaan warna.


Usai ditelisik secara hati-hati, Rejo menemukan warna merah paling gelap berada di pojok dekat jalan.


"Bisa jadi, di situ pertama kali digali. Baik, saya akan ke situ."


Rejo menghampiri pojok kolam Segaran.


Dicoba untuk membuka tenaga dalam. Perlahan, pojokan yang berwarna merah lebih tua itu, ditembak dengan menggunakan tenaga dalam, secara perlahan.


Daya tolak yang muncul cukup ringan.


Rejo menambah kapasitas tenaga dalamnya. Uniknya, semakin besar tenaga dalam yang dikerahkan, bukannya menimbulkan daya tolak, malahan tenaga dalam itu diserap habis.


"Hmmm. Ini memang menjadi pusat dari kolam Segaran ini. Baiklah, saya akan mengatasi ilmu Mbah Pertapa Wikramawardhana melalui pojokan ini."


Rejo duduk tenang di dekat pojokan.


Para pertapa, pendekar dan resi, mengikuti gerak-gerik Rejo dengan tatapan mata aneh.


Mereka seakan meremehkan Rejo, yang hanya dengan duduk santai saja. Sementara lainnya, dengan posisi bertapa, bersila, bahkan ada yang menjura hormat.


Rejo santai saja, dengan mata tetap memandang ke arah pojokan kolam dengan air berwarna merah lebih gelap itu.


"Pojokan ini adalah awal kolam ini digali. Untuk itu, ini menjadi titik pusat seluruh kolam. Jika saya bisa menyelaraskan tenaga dalam saya di titik ini, berarti saya bisa menguasai kolam."


Hanya saja Rejo bingung, bagaimana harus memulai.


Mencari tempat teduh, Rejo akhirnya duduk-duduk santai.


Mata Rejo tetap menatap ke titik pojokan kolam.


Usai agak lama termenung, dari kejauhan Rejo melihat sosok yang tak asing lagi dari cara berjalan, dan jubahnya.


"Allahu Akbar! Benarkah itu Kanjeng Syech Jumadil Kubro?" tanya Rejo sendiri.


Setelah jarak semakin dekat, nyatalah bahwa sosok itu memang Kanjeng Syech Jumadil Kubro.


Rejo nyaris bangkit dari duduknya, tapi diurungkan.

__ADS_1


Sebab, rejo melihat Syech Jumadil Kubro mendekati kolam Segaran, dan melihat dengan mimik serius.


Rejo melihat, Syech Jumadil Kubro berkonsentrasi tinggi untuk menelisik kenapa air di Kolam Segaran berubah warna menjadi merah.


Syech Jumadil Kubro lalu duduk bersila di dekat kolam, dan mulai berkonsentrasi.


Rejo kembali menyandarkan punggungnya.


Rejo kembali duduk santai saja.


Agak lama posisi itu, dan diakhiri begitu saja dengan tertawa terbahak-bahak.


Syech Jumadil Kubro bangkit dari duduknya, dan langsung berjalan menyusuri pinggir kolam, hingga sampai ke tempat Rejo duduk.


"Assalamualaikum."


"Waalaikum salam."


Rejo segera meraih tangan kanan Kanjeng Syech Jumadil Kubro, dan dicium punggung tangannya. Dilanjutkan dengan berpelukan.


"Nak, ini menjadi tugasmu. Bukan tugas saya," tiba-tiba Syech Jumadil Kubro berbicara seperti itu, sembari tersenyum terkekeh.


Rejo kaget.


Sebab, dalam hati Rejo ingin menyeritakan pertemuannya dengan Raja Majapahit Wikramawardhana, dan ditantang adu ilmu kesaktian.


"Ya, saya sudah tahu. Ini adalah pertarunganmu. Kalah tanpo ngisorake, menang tanpo gumede. Temukan cara bagaimana engkau bisa mengembalikan air kolam ini menjadi bening lagi, dan ikan-ikan itu bisa hidup kembali."


Rejo hanya melongo.


"Kanjeng Syech, bagaimana caranya?"


Syech Jumadil Kubro semakin terkekeh.


"Nak, saya datang ke sini karena disusul oleh warga sini, yang mengabarkan bahwa Kolam Segaran menjadi aneh dan warna airnya berubah. Ya saya langsung ke sini. Ternyata, ini bukan untuk saya, melainkan kamu. Asal tahu Nak, saya ini cukup akrab dengan Majapahit. Ibaratnya, Majapahit adalah rumah kedua saya. Saya cukup akrab dengan pejabat kerajaan atau warga Kota Majapahit."


Rejo hanya terkaget-kaget.


"Berlatih?"


"Benar."


"Latihan yang mana? Saya hanya menangkap ikan, dan menggali tanah untuk kolam saja."


"Apa bedanya dengan kondisi di sini? Di sini ada ikan, di sini juga ada kolam."


Rejo bingung.


"Saya harus melakukan apa?"


Syech Jumadil Kubro tak menjawab. Hanya terkekeh dan berlalu.


"Kalau Kanjeng Syech tak menjawab, semestinya saya bisa menyelesaikan persoalan ini," gumam Rejo sendiri, sembari terus melihat punggung Syech Jumadil Kubro yang kian menjauh.


"Memang sih, ada kesamaan antara kolam yang saya buat di Jurang Jero dengan kolam Segaran ini. Yaitu, pasti diawali dengan menggali lubang kecil dulu, hingga menjadi seluas ini. Selain itu, juga ada ikan-ikan yang hidup di kolam. Di sini juga banyak ribuan ikan, dan sekarang dalam kondisi mati. Anehnya, ikan ini tidak membusuk. Jadi, sangat mungkin sebenarnya ikan-ikan ini masih hidup, hanya saja, tampilannya seperti ikan mati yang mengambang."


"Tentunya, saya harus temukan cara mengembalikan warna air kolam dari merah menjadi bening. Ini sudah diketahui, yaitu bersumber dari buah kelapa yang mengeluarkan gelembung. Apa buah kelapa itu yang seharusnya saya tangani dulu? Tapi bagaimana caranya?"


Rejo mencoba menggali lagi peristiwa di Jurang Jero berkaitan dengan membuat kolam. Rejo tak menemukan peristiwa penting, selain dia menangkap ikan, menggali lubang untuk kolam.


Rejo juga ingat saat terjadi pagebluk di kali Jurang Jero, di mana ikan-ikan mati semua, karena ada pohon tuba yang tumbang ke dalam kali.


"Ikan di sini juga pada mati. Tapi, kalau di Jurang Jero, orang-orang masih bisa memanfaatkan air kolam. Tetapi di sini? Justru kolam ini yang airnya tak bisa dimanfaatkan."


"Kalau di Jurang Jero, saya memang menangkap ikan, tapi kalau di sini tak perlu dengan upaya, sebab semua ikannya mati mengambang begini. Di Jurang Jero saya menggali lubang untuk membuat kolam, tapi di sini, kolamnya sudah ada hanya saja airnya yang rusak."


Rejo tercenung.


"Kanjeng Syech Jumadil Kubro mengatakan, ada kesamaan antara kolam Segaran ini dengan kolam di Jurang Jero. Yang sama adalah, kolam ini buatan. Dan untuk membuat kolam, dimulai dengan galian yang kecil dulu. Jangan-jangan, saya perlu melakukan gerakan seperti menggali kolam, layaknya seperti di kolam Jurang Jero dulu."


"Baiklah. Sepertinya layak dicoba."

__ADS_1


Rejo segera duduk bersila, menenangkan pikiran.


Rejo mengingat kembali peristiwa ketika dia menggali kolam Jurang Jero dulu.


Perlahan, demi perlahan, gambaran itu muncul dan semakin jelas.


Ketika Rejo membuka mata, yang tampak bukan lagi kolam Segaran, tapi seakan tanah lapang di Jurang Jero. Di mana Rejo akan menggali kolam atas titah Kanjeng Syech Jumadil Kubro.


Perlahan Rejo bangkit dari duduk bersilanya. Melangkah masuk ke dalam kolam. Dia berjalan ke pojokan kolam, di mana Rejo meyakini sebagai lokasi pertama kalinya kolam Segaran digali.


Meski tangan Rejo tak memegang alat untuk menggali, seakan-akan tangannya memegang alat itu, dan mulai melakukan gerakan seakan menggali.


Pinggir kolam sedalam pinggang ini, akhirnya memunculkan kecipak air.


Tingkah laku Rejo ini dilihat oleh orang-orang di pinggir kolam.


Semua tertegun, gtapi akhirnya semua tertawa. Mereka melihat Rejo seakan orang gila.


Karena gerakannya seperi orang menggali, tapi tak memegang apapun. Itupun dilakukan di dalam kolam yang airnya berwarna merah.


Bukan hanya warga sekitar saja yang menertawakan Rejo, para resi, pertapa, pendekar juga terbahak-bahak melihat tingkah laku Rejo.


Namun, Rejo tak melihat itu semua. Fikirannya benar-benar fokus kepada aktivitas seakan menggali lubang untuk dibikin kolam.


Yang dirasakan Rejo, seakan dia menggali lebih dalam dan lebih dalam.


Rejo baru berhenti melakukan gerakan yang itu-itu saja, ketika tiba waktu salat. Usai salat, dia kembali masuk ke dalam kolam, dan melakukan gerakan seakan menggali.


Kanjeng Syech Jumadil Kubro, yang melihat kelakukan Rejo dari kejauhan, tesenyum.


"Oh, rupanya engkau telah menemukan jawabnya. Sungguh luar biasa bakatmu Ngger... lakukan terus hingga engkau menemukan intinya," gumam Syech Jumadil Kubro, lalu berlalu menjauh.


Rejo tak peduli, meski orang-orang mulai mencemooh apa yang dilakukan. Dia terus melakukan gerakan seakan menggali.


Kecipak air kian kencang.


Orang-orang tertawa menghina.


Rejo hanya melihat seakan dia ada di Desa Jurang Jero dan sedang menggali kolam. Terus dan terus. Dia tak peduli.


Rejo hanya istirahat ketika waktu salat tiba.


Rejo pun melaksanakan salat di bibir kolam.


Perilaku Rejo ini mengundang perhatian warga. Maklum, mereka semua masih beragama Hindu.


Bahkan, banyak yang melihat dari dekat, dan menunggu sampai Rejo selesai salat.


"Bapak Ibu, yang saya lakukan adalah salat. Yaitu menyembah kepada Tuhan yang satu," tutur Rejo, usai salat, kepada orang-orang yang berkerumun untuk melihat Rejo salat.


"Maksudmu, Dewa?"


"Ya, dewanya dewa-dewa kalian. Zat yang menciptakan seluruh alam. Zat yang maha berkuasa atas segala sesuatu. Termasuk anda dan saya."


"Anak muda, engkau jangan meracuni kepercayaan Rakyat Majapahit!" teriak seorang Resi.


Rejo menoleh ke arah Resi itu.


"Saya tak melakukan apapun. Mereka melihat apa yang saya lakukan. Apa saya salah jika saya menyeritakan apa adanya?"


"Anak muda. Engkau masih berbau kencur begitu, jangan coba-coba adu keberanian di sini?"


Rejo hanya tersenyum. Sebab, dia sama sekali tak ada niatan untuk adu kesaktian.


"Kelakuanmu aneh-aneh dan mengundang perhatian warga. Engkau juga sok-sokan mengambil buah kelapa penyebab gelembung. Apa itu namanya tidak pamer kesaktian?"


Rejo masih tersenyum.


"Kalau engkau macam-macam, ayo kita bertarung saja!" tantang sang Resi.


Warga yang berkerumun mulai takut.

__ADS_1


__ADS_2