
Rejo kaget alang kepalang.
Donosari juga kaget. Sebab, selama ini dia tak tahu bagaimana ilmu Rejo itu sebenarnya. Dia tak pernah melihat Rejo berlatih pencak silat. Juga tak pernah melihat Rejo mempraktikkan ilmu kanoragan atau kedigdayaan.
Donosari menoleh ke arah Rejo yang berdiri di sampingnya.
Donosari melihat Rejo gemetaran.
Melihat sosok gondoruwo saja Rejo sudah mulai ketakutan, apalagi harus menghadapi mahluk tinggi besar itu.
"Kalau engkau bisa mengalahkan Rejo, barulah engkau melawan Donosari," ujar Syech Jumadil Kubro.
Gondoruwo terbahak. Dia juga tak tahu, bagaimana dan jenis ilmu Rejo. Selama ini, dia tak merasakan getaran ilmu Rejo. Gondoruwo tahunya, Rejo hanya pemuda biasa yang tak bisa apa-apa. Dia hanya menemani Syech Jumadil Kubro.
"Baik. Aku cekik anak muda itu," teriak gondoruwo menyanggupi tantangan.
"Eit, nanti dulu. Kalau engkau berhasil dikalahkan anak muda ini, maka engkau dilarang menggoda warga desa, kalau gak gitu engkau pergi saja dari desa ini. Kamu pilih yang mana?"
"Aku akan pergi dari desa ini."
"Tak akan kembali ke desa ini selamanya."
"Selamanya, aku tak akan balik."
"Baik. Kalau begitu, selamat bertarung."
Syech Jumadil Kubro mundur, dan menarik tangan Donosari untuk ikut mundur.
"Rejo, hadapilah gondoruwo itu."
"Kanjeng Syech, Bagaimana caranya?"
"Lho, justru saya yang seharusnya bertanya padamu, bagaimana caramu mengalahkan gondoruwo itu?"
Rejo kebingungan.
Gondoruwo matanya mulai menyala merah. Tanda dia marah.
Sepertinya, gondoruwo ingin segera menyudahi pertarungan dalam waktu singkat.
Untuk itu, dia mengeluarkan kemampuan terbaiknya.
Dua tangan kekar gondoruwo terangkat. Meski tak menyentuh, tubuh Rejo juga terangkat.
Dua tangan Dua tangan kekar gondoruwo dikibaskan. Tubuh rejo langsung melesat ke arah pohon besar.
"Bruak!"
Punggung Rejo menghantam batang pohon besar.
"Bluk!"
Rejo jatuh tertelungkup.
Bagian punggung Rejo serasa remuk.
Rejo berusaha berdiri lagi.
Lagi-lagi, gondoruwo mengangkat tangannya.
Tubuh Rejo terangkat lagi. Kali ini gondoruwo mengarahkan kepada batu besar.
"Kanjeng Syech....," gumam Donosari mulai gusar.
Syech Jumadil Kubro tak bereaksi.
"Biarkan. Mungkin ini pelajaran besar bagi Rejo."
"Nanti dia bisa mati, kalau kepalanya menghantam batu besar itu."
"Mati itu mutlak urusan Allah swt."
Donosari terdiam.
Tegang.
Dia menanti, apa yang bakal terjadi.
Benar adanya. Gondoruwo segera mengibaskan tangannya.
Tubuh Rejo meluncur ke arah batu besar.
"Blug!"
Lagi-lagi, punggung Rejo menghantam batu besar.
Begitu tubuhnya menyentuh tanah, Rejo teriak kesakitan. Dia bergulung-gulung menahan rasa nyeri yang muncul di punggung dan dadanya.
Agaknya, ada beberapa tulang rusuk Rejo yang patah.
Rejo benar-benar di batas ambang kesadarannya.
"Donosari. Inilah waktunya, untuk melihat kekuatan anak muda ini."
Donosari tak tahan melihat temannya mengerang kesakitan.
"Bagaimana Kanjeng Syech. Pertarungan ini sudah berakhir. Anak muda ini sudah aku kalahkan dengan mudah. Maka, kalian tak bisa menghalang-halangi aku untuk menyuruh manusia untuk membakar kemenyan dan memasang sesaji lagi."
"Gondoruwo, engkau belum membunuh anak muda itu. Jadi, pertarungan belum berakhir."
"Jadi, kamu ingin aku membunuh anak muda itu?"
"Silakan saja."
Kali ini gondoruwo agak meremehkan lawannya. Sebab, pertarungan yang berlangsung singkat ini, seakan timpang kekuatan. Sang lawan tidak bisa apapun.
Tiba-tiba, tubuh Rejo yang awalnya kelojotan, tiba-tiba terdiam.
"Donosari, inilah saatnya."
Tangan kanan Rejo meraih ranting kecil. Digenggam erat.
Rejo mulai bangkit dan berdiri.
Kali ini, tatapan mata Rejo sangat tajam. Bahkan, Donosari tak bisa mengenali bahwa yang dilihatnya adalah Rejo yang jenaka.
Donosari melihat sosok Rejo dengan nafsu membunuh yang sangat tinggi.
Donosari juga merasakan aliran getaran tenaga dalam Rejo sangat tinggi.
Donosari tegang.
Syech Jumadil Kubro tersenyum.
"Ini baru pertarungan sebenarnya."
Mata tajam Rejo menatap ke arah gondoruwo. Tanpa rasa takut.
"Rupanya, engkau memang mencari mati. Engkau akan dapatkan anak muda."
Gondoruwo mengangkat dua tangannya lagi.
Namun, kali ini tubuh Rejo tak ikut terangkat.
Dengan tenang, Rejo melangkah menuju ke arah gondoruwo.
Gondoruwo belum menyadari munculnya ancaman.
Dia malah melipatgandakan getaran dari tubuhnya.
Tetap saja, tubuh Rejo tak terangkat.
Kali ini, gondoruwo mulai mengepalkan tangannya, dan siap menyambut kedatangan tubuh Rejo dengan pukulan keras.
Begitu dalam jangkauan, gondoruwo melepaskan pukulan sekencang-kencangnya.
Donosari terbelalak. Dia membayangkan tubuh Rejo bakal remuk redam tak karena terkena pukulan gondoruwo.
Yang terjadi, malah di luar dugaan. Tubuh rejo melenting menghindari pukulan, dan dia segera menyabetkan ranting kecil itu.
Kian lama kian banyak dan cepat sabetan Rejo.
Gondoruwo yang terkena sabetan, merasakan kesakitan luar biasa.
Kalau saja gondoruwo bisa mati, tentu dia sudah sampai ajal.
Karena memang gondoruwo itu dari jenis setan yang dijamin Allah swt untuk tetap hidup sampai hari kiamat, maka, yang dirasakan hanya kesakitan luar biasa.
Ke manapun gondoruwo bergerak, selalu saja dikejar Rejo dengan sabetan-sabetan yang luar biasa kencang.
Ketika tubuhnya sudah terjepit dan tak mungkin menghindar lagi. Rejo menghujani dengan sabetan-sabetan tiada henti.
"Tobat.... ampun.... aku mengaku kalah!" teriak gondoruwo.
Tetapi, Rejo tak menghentikan serangannya.
Dia terus menerus menyabet tubuh gondoruwo.
Syech Jumadil Kubro segera melesat mendekat, dan memegang tengkuk Rejo.
Tiba-tiba Rejo terkulai dalam panggulan Syech Jumadil Kubro.
"Gondoruwo, engkau telah kalah. Segera engkau pergi dari sini selamanya."
Tiba-tiba tubuh gondoruwo menghilang.
"Donosari, dalam tubuh Rejo ini ada satu kekuatan besar yang unik. Ada unsur jahat, ada unsur baik, ada unsur kasar tapi ada unsur halus. Ada kekuatan kasar ada kekuatan lembut. Dia hanya butuh berlatih untuk mengendalikan diri. Engkau lihat sendiri, bagaimana kekuatan anak muda ini."
Donosari mengangguk kagum.
Rejo direbahkan di rerumputan yang empuk.
Beberapa totokan di aliran darah, menjadikan Rejo cepat siuman.
"Apa yang terjadi? Di mana gondoruwonya?"
"Apa engkau tak tahu?"
"Setahu saya, saya dihajar gondoruwo hingga tubuh saya kesakitan tiada tara. Setelah itu saya tidak ingat apa-apa."
"Engkau telah mengalahkan gondoruwo dengan kemampuan ilmumu yang luar biasa. Donosari menjadi saksi kehebatan jurus-jurusmu."
Donosari mengangguk.
"Benarkah saya mengalahkan gondoruwo?"
Syech Jumadil Kubro dan Donosari mengangguk.
Rejo merasakan ada aliran hangat dalam tubuhnya. Kondisinya cepat pulih.
Rejo duduk.
"Birsila, dan atur nafasmu."
Rejo menuruti, dan dia mulai mengatur nafas. Dia mulai merasakan, ada yang masuk ke dalam tulang ekornya. Awalnya, terasa panas, dan lambat laun mulai normal.
"Rejo, ini sebenarnya alasan kenapa saya kok tidak berani menjadi gurumu. Dalam dirimu terdapat kekuatan luar biasa yang bertolak belakang. Sungguh satu bakat yang langka.
Sekarang, yang engkau bisa lakukan adalah, mengatur kapan ilmumu itu bisa engkau manfaatkan secara sadar, dan menghilangkan nafsu membunuh yang luar biasa besar."
Rejo diam.
Donosari takjub. Dia tak bisa membayangkan, sosok gurunya saja tak berani mengajarkan sesuatu kepada Rejo, yang usianya masih belia. Bagaimana kekuatan pemuda ini, di tahun-tahun mendatang, Donosari tak berani membayangkan.
"Semoga dia menjadi satu wali penyebar Islam di tanah Jawa ini. Dengan adanya pendekar-pendekar hebat, tentu Islam bisa menjadi hebat juga," kata Donosari dalam hati.
Seakan mendengar suara hati Donosari, Syech Jumadil Kubro menimpali.
"Islam dibangun bukan dengan kekuatan pendekar, tapi dengan akhlaq mulia. Camkan itu, Rejo dan Donosari."
Donosari kaget alang kepalang. Dia memilih diam menunduk.
"Ilmu kependekaran hanya sebagai sarana untuk membela diri, ketika sudah tidak ada cara lain yang bisa digunakan. Jadi, bukan menjadi alat utama. Ingat itu."
"Donosari dan Rejo. Ingatlah, Islam masih kecil di tanah Jawa ini. Tentu tantangan dan rintangan pasti menghadang. Semua butuh ketegaran. Ingatlah, Rasulullah ketika mengenalkan Islam, betapa mendapat tentangan sangat keras dari kaum Quraisy. Kita-kita ini tak ada apa-apanya dibanding beliau. Untuk itu, jangan sekali-kali menyerah. Kita harus terus berdakwah. Khususnya engkau Donosari, yang akan berdakwah di sini. Harus tegar."
Usai mengatakan hal itu, Syech Jumadil Kubro mengajak Rejo beranjak pergi.
Donosari kaget. Dia tak menyangka bahwa sang Guru segera berpamitan.
Rejo juga kaget, sebab badannya masih belum pulih seratus persen.
"Ya, kita berangkat. Jangan menunda waktu lagi. Ayo kita pergi ke arah barat, untuk mencari Kakang Subakir," ajak Syech Jumadil Kubro.
Rejo tak berani membantah.
Dia berupaya bangun dari duduknya.
Donosari mencium tangan sang guru, dan Syech Jumadil Kubro segera melangkah pergi.
Rejo tertatih mengikuti. Dadanya masih nyeri karena ada beberapa tulang rusuknya yang patah akibat benturan.
Rejo tegar. Dia berusaha terus melangkah perlahan-lahan.
Donosari mengikuti dengan tatapan bingung, hingga keduanya tak terlihat di tikungan.
Tinggal Donosari sendiri, di dekat pohon besar yang sebelumnya dihuni oleh gondoruwo.
"Gondoruwo, muncullah. Lawanlah aku," teriak Donosari ke arah pohon besar itu.
Tetapi, yang diteriaki tak menampakkan diri.
Donosari segera membuka jurus, dan mulai berlatih pencak silat, yang cukup lama tak dilatihnya.
__ADS_1
Memang selama ini Donosari lebih memilih menjadi pertapa, sehingga gerakan pencak silatnya kembali kaku.
Ini dilakukan usai melihat pertarungan antara Rejo melawan gondoruwo.
"Kalau saja saya tak melatih lagi pencak silat, bagaimana harus menghadapi tantangan dari musuh-musuh Islam? Tanggung jawab saya sangat besar di desa ini."
Setelah melatih beberapa jurus, Donosari terpaksa menghentikan latihannya, karena nafasnya ngos-ngosan. Dia melangkah gontai menuju masjid.
Di masjid, sudah ada beberapa jemaah. Melihat Donosari berjalan sendirian, warga kampung ini bertanya-tanya, ke mana Syech Jumadil Kubro dan Rejo.
"Kakang, ke mana Kanjeng Syech dan Rejo?"
"Melanjutkan perjalanan mencari Kanjeng Syech Subakir, yaitu untuk mengantarkan Rejo mencari sosok yang akan dijadikan guru."
"Jadi, sekarang tinggal Kakang Donosari yang akan mengajari kami tentang Islam?"
Donosari mengangguk.
Warga kampung baru menyadari, bahwa Donosari adalah sosok yang memang ditugaskan untuk menjadi guru dalam mengajarkan agama Islam di kampung Jurang Jero.
Bukan itu saja, Donosari juga mengajak warga kampung untuk berlatih pencak silat. Setiap usai salat Isya, Donosari mengajak para laki-laki di kampung untuk berlatih pencak silat. Selain berlatih sendiri, Donosari juga mengajarkan ilmu pencak silat kepada warga kampung.
Memang, sebenarnya di kampung Jurang Jero sudah ada pendekar-pendekar, namun, ketika diuji tanding, ternyata para pendekar kampung itu bisa dikalahkan dengan mudah oleh Donosari.
Warga kampung baru mengetahui bahwa Donosari mempunyai ilmu pencak silat tingkat tinggi. Dan Donosari juga ikhlas mengajarkan semua ilmu yang dimiliki kepada siapapun warga kampung.
"Ini sangat penting, karena Islam masih sangat sedikit. Di sekeliling kita masih banyak penganut Hindu, Budha, atau yang menyembah pohon. Bagi yang tepa selira tak apa-apa, tetapi, tentu di antara mereka ada yang jahat, dan akan menyakiti kita. Untuk itu, ilmu pencak silat sangat dibutuhkan untuk mempertahankan diri," kata Donosari.
Semua warga kampung yang jadi mualaf itu, sangat antusias belajar ilmu baru dari Donosari itu. Termasuk lurah kampung, lebih memilih tawaduk, dan hendak menyerahkan jabatannya kepada Donosari. "Jangan, Pak Lurah. Biar saya yang menghidupkan pesantren dan masjid saja," demikian jawab Donosari.
Perlahan, Jurang Jero semakin dikenal dengan kampung Islam. Tantangannya semakin nyata, tetangga kampung yang masih menganut agama Hindu, kerap membuat ulah dan kerap pula bentrok karena terkait keyakinan.
Donosari tampil sebagai sosok pemimpin bertanggung jawab. Jika terjadi bentrok antar kampung, kerap Donosari menantang duel, untuk meminimalisir jatuhnya korban. Semua pertarungan dimenangkan Donosari.
Ini menjadikan warga Desa Jurang Jero merasa sangat aman, karena mempunyai pemimpin yang sangat bertanggung jawab. Pun demikian, warga semakin giat berlatih pencak silat di bawah arahan Donosari. Umumnya, mereka menjadi pendekar yang sangat cakap, dan pilitanding.
Bahkan, satu orang warga kampung Jurang Jero, hampir dipastikan bisa merobohkan dua atau tiga pendekar dari kampung lain.
Ini juga menyebabkan Desa Jurang Jero sangat disegani. Menyebut sebagai warga Desa Jurang Jero cukup menjadi jaminan keamanan di jalanan.
Ini juga menjadi syiar Islam yang cukup menggembirakan. Setiap hari, ada saja yang datang ke Jurang Jero untuk diajarkan tentang Islam. Memang, umumnya, pada awalnya mereka menilai bahwa Islam itu adalah ilmu kanoragan, karena setiap orang yang mengaku Islam, umumnya pendekar pilitanding.
Namun, setelah memasuki 'pesantren' di Jurang Jero, mereka akhirnya memahami bahwa yang disebut Islam adalah agama, seperti halnya Hindu atau Budha. Meski begitu, mereka umumnya tidak ingin kembali memeluk Hindu. Mereka memilih tetap menganut agama Islam.
Donosari meski berhasil mengembangkan agama Islam, namun kehidupannya tetap bersahaja. Hidup di pinggir sungai, dan mengandalkan mencari ikan untuk menyambung hidup. Lalu mempersembahkan seluruh hidupnya untuk umat.
Bagaimana dengan Syech Jumadil Kubro dan Rejo?
Mereka melanjutkan perjalanan ke arah barat. Rejo yang menderita luka tertatih-tatih mengikuti langkah Syech Jumadil Kubro yang tertatih-tatih.
"Rejo. Tulang rusuk patah, bukanlah hal menyakitkan bagi dirimu. Ayo, engkau masih muda. Saya sudah tua dan berjalan tertatih-tatih, masa sih engkau kalah? Ayo jalan lebih cepat."
Rejo segera mempercepat langkahnya, sambil memegangi samping dadanya yang nyeri.
Kian lama sakit di rusuknya kian kuat.
"Ayo, engkau bisa!"
Rejo semakin mempercepat langkahnya.
Anehnya, meski Rejo sudah mempercepat langkahnya, tak juga bisa mengejar Syech Jumadil Kubro.
Rejo ngos-ngosan.
"Ayo. Apa yang membuat kamu melemah!"
Kali ini, Rejo tak lagi berjalan, tapi sudah mulai berlari.
Tetap saja tak bisa mengejar Syech Jumadil Kubro.
Sakit di dada Rejo semakin tak tertahan.
Kepalanya tiba-tiba pening. Nyaris dia pingsan.
Syech Jumadil Kubro tak mau menghentikan langkahnya. Hanya melambat saja.
"Ayo... Rejo."
"Saya sudah tak kuat, Kanjeng Syech..."
Nafas Rejo ngos-ngosan.
"Karena engkau berfikir bahwa engkau tak kuat."
"Sungguh, saya sudah tak kuat."
"Sungguh, sebenarnya engkau masih kuat! Ayo."
Rejo akhirnya memilih berhenti, dan bersandar di pohon asem, sambil mengatur napas.
Syech Jumadil Kubro tetap berjalan.
"Jika caramu berjalan seperti itu, tetap selamanya engkau tak akan bisa mengejar aku. Rubah cara berjalan, dan cara bernapasmu."
Syech Jumadil Kubro tetap berjalan. Rejo tersengal sambil bersandar di pohon asem.
"Merubah cara berjalan dan bernafas? Apa maksudnya?"
Rejo berfikir keras.
"Mungkin, yang dimaksud adalah, fikiran saya terpecah karena merasakan nyeri di dada. Baiklah, akan saya tepis rasa nyeri di dada ini."
Rejo segera duduk bersila, dicoba ditenangkan dirinya, dicoba diatur nafasnya sesantai mungkin.
Lalu, Rejo konsentrasi agar bisa menepis rasa nyeri di dadanya. Dan lama-lama rasa nyeri itu memang melemah dan nyaris menghilang.
Kini, napas Rejo diarahkan kepada kekuatan maksimal agar bisa berjalan kencang agar bisa menyusul Syech Jumadil Kubro.
Lama-lama, tubuh Rejo terasa bugar dan terasa ringan.
"Saya siap."
Rejo bangkit, dan segera berlari ke arah di mana Syech Jumadil Kubro meninggalkan dia.
Sosok sang Syech mulait terlihat. Rejo semakin mempercepat langkahnya.
Jarak semakin mendekat.
Anehnya, tetap saja Rejo tak bisa mengejar Syech Jumadil Kubro. Hanya berjarak beberapa depa saja.
Rejo kian memperkencang langkahnya.
Syech Jumadil Kubro tetap saja berada di depannya.
Rejo tak pantang putus asa. Dia terus mempercepat langkahnya.
Namun, tiba-tiba saja, Syech Jumadil Kubro menghentikan langkahnya.
Rejo baru tersadar.
Dia langsung ngos-ngosan.
Dadanya serasa pecah.
Dari tulang ekornya terasa panas.
"Masukkan lagi ilmumu ke tulang ekormu. Kunci di dalam. Ayo segera ambil wudlu," ajak Syech Jumadil Kubro.
Rejo baru tersadar.
Dia segera duduk bersila, mengatur napas.
Dan mencoba mengunci ilmunya di tulang ekornya.
Usai terasa normal, dia segera beranjak mengambil air wudlu, karena Syech Jumadil Kubro sudah siap di batu ceper untuk memimpin salat.
Rejo merasa lega dan segera menjadi makmum.
Usai salat, rasanya Rejo ingin segera bertanya, tapi Syech Jumadil Kubro mengajak wiridan.
Dan, wiridannya sangat lama.
Rejo tak berani menyela. Meski dia ikut wiridan, tapi fikirannya tak fokus.
Rejo ingin wiridan cepat selesai, dan ingin bertanya banyak hal kepada Syech Jumadil Kubro.
Tetapi, wiridan itu terus dan terus.
Rejo tetap mengikuti wirid.
Hingga datang waktu salat lagi.
Mereka salat jamaah lagi, dan dilanjutkan wiridan lagi.
Rejo berfikiran, pasti sebentar lagi wiridan selesai.
Tetapi, nyatanya tak kunjung selesai.
Rejo tetap ikut wiridan, tapi sudah tak bersemangat lagi.
Wiridan tak selesai-selesai.
Akhirnya, Rejo putus asa.
Hingga waktu salat wajib datang lagi.
Rejo sudah lunglai. Berjam-jam mereka hanya duduk di batu ceper dan wiridan. Padahal, dalam fikiran Rejo, banyak yang akan ditanyakan.
Usai salat jamaah, wiridan lagi. Rejo mengikuti.
Rejo kecapekan. Tapi, dia tak berani untuk beranjak dari tempat duduknya.
Kali ini, Rejo memilih diam, tak ikut wiridan.
Syech Jumadil Kubro tetap wiridan.
Rejo jemu. Capek. Akhirnya tertidur.
Rejo dibangunkan lagi, saat tengah malam.
Syech Jumadil Kubro mengajak salat tahajud.
Rejo segera ambil wudlu, lalu mulai salat.
Usai salat, Syech Jumadil Kubro beranjak tidur.
Padahal, Rejo sudah antusias ingin bertanya. Maka, diurungkan niatnya. Rejo memilih untuk wiridan sendiri, sampai menjelang subuh.
Usai salat berjamaah subuh, Rejo sangat yakin, wiridannya pasti pendek, dan dia akan bertanya kepada Syech Jumadil Kubro. Tapi nyatanya, wiridannya tetap saja lama, sampai datang waktu salat dluha.
Mereka salat lagi. Wiridan lagi.
"Ya Allah. Kanjeng Syech sedari kemarin wiridan terus, tentu ada maksudnya. Jangan-jangan karena faktor saya yang salah. Mungkin saya kurang ikhlas dalam wiridan karena ingin segera bertanya. Astaghfirullah. Ya Allah, ampuni hambamu ini," kata hati Rejo.
Tiba-tiba Syech Jumadil Kubro menoleh ke belakang, sambil tersenyum.
Tak lama, wiridannya diakhiri.
Dada Rejo berdegup kencang.
"Rejo. Yang terjadi adalah engkau diliputi nafsu. Dan baru saja, engkau mengalahkan nafsumu sendiri," tutur Syech Jumadil Kubro.
Rejo terhenyak.
Rejo menunduk.
"Rejo, pemuda seusiamu, kebanyakan hidup dalam emosi yang labil. Jadi wajar saja jika engkau juga tak sabar ingin segera bertanya. Tetapi, pelajaran yang bisa engkau ambil saat ini adalah, kesabaran adalah kunci dan tawakkal adalah bekal. Ketika kesabaran dan tawakkal itu ada dalam hati, maka kita bisa mengendalikan nafsu," pitutur Syech Jumadil Kubro.
Rejo diam menunduk.
"Sekarang, apa yang ingin engkau tanyakan?"
Rejo menggeleng.
"Ketahuilah Rejo, nafsu itu tidak bisa dimusnahkan, karena itu adalah sunnatullah, tapi bisa dikendalikan. Hanya satu manusia yang bisa mengendalikan nafsu, yaitu Rasulullah Muhammad saw. Ini tak lepas dari perintah Allah swt kepada malaikat untuk mencuci hati Rasulullah saw, ketika masih kecil. Sedangkan kita, ummatnya, diwajibkan untuk berperang melawan nafsu, karena itu jihad paling besar, bahkan mengalahkan perang Badar zaman rasul."
"Rejo, ketika nafsu manusia itu dicabut dalam dirinya, maka, dia menjadi gila. Karenanya, orang gila itu lepas dari semua kewajiban hingga dia sembuh dari gila. Orang gila itu bukan karena kemampuan otaknya yang hilang, sebab dia masih bisa berjalan, makan, tersenyum, bahkan marah-marah tanpa juntrungannya. Orang gila itu karena nafsu dan akal dalam dirinya dicabut oleh Allah swt."
"Kalau begitu, apa malaika itu gila? Sebab malaikat tidak mempunyai nafsu? Tidak, sungguh tidak. Malaikat memang diciptakan Allah swt sebagai mahluk yang beribadah terus hingga hari kiamat, dan akal yang dimiliki malaikat sangat jauh terbatas. Nabi Adam yang diberi ilmu oleh Allah, sangat mudah menghafal karena memang diberi akal oleh Allah. Dengan akal itulah, manusia diminta untuk bisa mengendalikan nafsunya."
"Jadi, jika muncul nafsu angkara, nafsu amarah, nafsu birahi atau apapun nafsu lain, pada dasarnya, sang manusia itu lemah akalnya. Dia seakan berfikir padahal dia hanya menggunakan otaknya, bukan akalnya. Dia sebenarnya tidak berfikir."
"Rejo, ketahuilah, nafsu itu berada dalam hati, bukan di otak atau di alam fikir. Jika kita mencoba tetap menjadikan hati kita khusu kepada Allah swt, maka nafsu tak akan punya tempat, meski dia tetap bercokol dalam hati. Engkau mengerti, Rejo?"
Rejo mengangguk pelan.
"Sekarang, apa yang ingin engkau tanyakan?"
Rejo menggeleng.
"Ingatlah Rejo, ketika hati kita khusu, maka tidak ada tempat bagi setan untuk menggoda hati ini. Setan akan mengarahkan godaan ke alam fikiran kita. Banyak orang yang kuat untuk mengatasi godaan setan dalam hatinya, tapi sangat lemah ketika setan mengarahkan godaan di fikirannya. Ketika orang itu kuat di hati dan fikirannya, maka setan akan mengarahkan godaan kepada orang-orang di sekelilingnya. Intinya, tak akan pernah berhenti setan itu menggoda manusia."
Rejo diam.
"Tolong engkau pahami yang saya katakan ini. Saya tinggalkan engkau di sini sendirian. Jangan beranjak dari sini, jika engkau belum menemukan jawabnya. Saya akan kembali ke sini untuk menjengukmu, satu ketika nanti. Kita tak mungkin mencari Kakang Subakir selama engkau belum mengerti bagaimana mengatasi godaan setan."
Rejo mengangguk pelan.
Syech Jumadil Kubro beranjak pergi.
Kini tinggal Rejo seorang diri. Dia tak tahu harus melakukan apa.
Rejo duduk santai. Bersandar di batu besar.
__ADS_1
Matanya menatap kepergian Syech Jumadil Kubro hingga hilang di tikungan.
"Mengatasi godaan setan. Lalu, apa yang mesti setan goda terhadap diri ini? Bukankah saya ini tak punya apa-apa, tak juga melakukan apa-apa. Tak punya musuh. Tak punya keinginan apapun, kecuali ingin bertemu dengan Syech Subakir saja."
Rejo duduk termenung. Dan dia mencoba mengusir sepi dengan melihat ikan yang sedang berenang, kecipak air, bentuk-bentuk batu di kali, daun yang hanyut. Semua seakan tiada arti.
"Saya harus melakukan apa?"
Ini yang menjadi pertanyaan Rejo sampai lima hari. Dia hanya mengisi keseharian untuk salat, wiridan, dan duduk termenung.
Rejo didera kejemuan.
"Setan yang tak kelihatan, ayo goda saya. Saya ingin tahu, bagaimana engkau menggoda diri ini," teriak Rejo seperti orang gila saja.
Namun, teriakan itu hanya tinggal teriakan.
Rejo belum menemukan atau merasakan dirinya digoda setan yang tak kelihatan itu.
Rejo semakin tak terurus. Rambutnya awut-awutan, bajunya tak lagi bersih. Rejo didera kejemuan tingkat tinggi. Dia tak bisa kemana-mana karena memang dilarang oleh Syech Jumadil Kubro.
Meski begitu, dia tetap melaksanakan kewajiban sebagai umat Islam. Dia tak pernah meninggalkan salat dan wiridan.
Ketika kejenuhannya sudah pada tingkat tak terselamatkan, Rejo teriak-teriak sendiri menantang setan untuk menggoda dia. Dia sangat penasaran, bagaimana setan itu bisa menggoda dia.
Rejo mulai tak kontrol diri. Dia bergerak sekenanya. Ilmu yang terkunci di tulang ekornya, keluar dengan kekuatan maksimal.
Gerakannya mengandung tenaga dalam tingkat tinggi.
Tak terhitung lagi batu-batu kali yang pecah karena terkena pukulan langsung ataupun pukulan jarak jauh dari Rejo.
Batu-batu besar yang semula tertata indah oleh alam, kini menjadi serpihan-serpihan kecil, hancur tak beraturan.
Pohon-pohon bertumbangan terkena pukulan Rejo.
Rejo benar-benar seperti orang gila.
"Ayo setan, goda saya. Atau engkau yang terkutuk itu kena pukulan saya. Ayo keluarlah. Ayo goda saya!" teriak Rejo.
Gerakannya semakin ganas, dan tak bisa dihentikan.
Uniknya, ketika tiba waktu salat, Rejo sadar. Dia segera mengambil air wudlu lalu salat.
Usai salat dia wiridan secukupnya.
Selanjutnya, dia menunggu digoda setan.
Hingga satu ketika, usai salat, Rejo wiridan hasbunallah wanikmal wakil, nikmal maula wanikman nasir.
Entah kenapa, Rejo mengucapkan doa ini berratus-ratus kali, dan seakan tak bisa berhenti.
Di sela dia wiridan itu, matanya menatap sepasang rusa yang mendekati sungai.
Rupanya, rusa itu hendak meminum air, tapi segera diurungkan. Sebab, di seberang sungai tampak harimau yang mengawasi dengan mata tajam.
Rusa jantan yang sangat kehausan, memberanikan diri meminum, sedangkan rusa betina, yang sudah mundur dari bibir sungai berjarak sekitar lima tombak, mengawasi dengan mata ketakutan.
Harimau sangat tajam menatap, dan siap untuk menerjang sungai dangkal itu untuk memburu rusa jantan.
Belum lagi mulut rusa jantan meminum air, harimau bergerak sangat cepat menerjang.
Rusa jantan berhasil berbalik arah.
Berlari sekencangnya bersama rusa betina.
Sepasang rusa ini selamat.
Harimau gantian menatap ke arah Rejo.
Rejo bersiap-siap diserang. Dengan menyiapkan tenaga dalam. Ilmu yang ada di tulang ekornya mulai keluar. Ada aliran hangat menyeruak di seluruh tubuh Rejo.
Rejo bangkit dari posisi duduknya, dan mulai membuka jurus.
Harimau lapar itu berjalan perlahan ke arah Rejo.
Rejo tak bergerak, tapi siap menghadapi semua resiko.
Jarak antara Rejo dan harimau tinggal setombak. Harimau berhenti. Lidahnya menjulur, dengan tatapan mata tajam ke arah Rejo.
Perlahan, harimau itu malah berbalik arah, menuju ke tempatnya semula, dan bersembunyi di balik semak, untuk menunggu hewan lain yang hendak minum air sungai.
"Oh, kenapa harimau itu tak memangsa saya? Jangan-jangan dia takut kepada ilmu yang sudah saya siapkan untuk menghadapinya. Sungguh hebat ilmu ini."
Tanpa disadari, muncul rasa bangga pada diri Rejo karena membuat harimau takut kepadanya.
Di antara rasa bangga itu, dia melihat sekeliling.
Dilihatnya pohon yang bertumbangan, dilihatnya sungai yang menjadi landai karena batu-batu besar sudah remuk semua terkena pukulannya.
Sungai itu menjadi sangat terbuka.
Rejo menatap dengan mata kian berkedip.
Mulutnya mulai melafalkan wirid yang sama.
Lambat laun, Rejo mulai menyadari turunnya hidayah kepadanya.
"Astaghfirullah! Ini sebenarnya godaan setan! Ya Allah, kenapa saya tak menyadari sejak semula. Astaghfirullahaladziim."
Rejo langsung menangis sesegukan. Tangis itu kian lama dan membuat mata Rejo sembab.
Pemuda yang baru beranjak dewasa ini, sungguh mendapat pelajaran yang sangat besar.
"Ya Allah, begitu hebat godaan setan kepada saya, hingga saya membuat dosa yang begini besar. Ya Allah, ampuni hamba-Mu ini."
Rejo baru menyadari, sebenarnya sedari awal, sejak Syech Jumadil Kubro beranjak pergi, dia sudah digoda setan. Yaitu, dia seakan melaksanakan salat dan wirid, tapi sebenarnya salat dan wirid itu tak lebih hanya sebagai kewajiban. Setan terus menggodanya, dengan menanamkan dalam hati Rejo, bahwa dia sedang menunggu godaan setan. Lalu, setan memunculkan kejenuhan dalam diri Rejo. Dan ketika kejenuhan sudah memuncak, maka dengan mudahnya setan merasuki tubuh Rejo. Pukulannya menghancurkan batu-batu kali dan menumbangkan pohon-pohon besar.
"Ya Allah, beginikah cara setan menggoda saya."
"Dengan tumbangnya pohon dan hancurnya batu kali, hewan-hewan lemah itu sudah tak nyaman lagi meminum air kali. Mereka diawasi harimau yang kelaparan. Sudah tak ada lagi tempat tersembunyi. Sebelumnya, mereka aman meminum air kali karena terlindung batu-batu besar, kini tak bisa lagi. Mereka tak lagi aman berlindung di balik pohon besar karena sudah bertumbangan."
"Ya Allah, saya sudah merusak alam ini. Saya tak mungkin mengembalikan batu-batu besar itu lagi, karena sudah hancur. Ya Allah, ampuni hamba ini. Ya Allah, bagaimana saya harus meminta maaf kepada pohon-pohon yang saya tumbangkan bukan karena urusan hak, juga kepada hewan-hewan lemah yang sekarang didera ketakutan. Ya Allah, berilah hamba jalan keluar."
Rejo menangis terus hingga kelelahan dan tertidur.
Tak disangka, Rejo tertidur selama dua hari dua malam.
Ketika terbangun, Rejo merasakan badannya sangat segar.
Dia tak tahu, bahwa sebenarnya telah tertidur selama dua hari.
Dilihatnya sekeliling. Dia melihat bangkai rusa jantan tergeletak di dekat kali. Tubuhnya tak lagi utuh. Rupanya, harimau telah memangsanya.
Melihat ini, Rejo kembali menangis.
Dia segera beranjak.
Rejo bertekat mengembalikan posisi batu-batu lagi.
Maka, Rejo mulai mengangkati batu-batu ukuran-ukuran kecil dulu, untuk dipindahkan di sekitaran tempat minum hewan lemah.
Harimau tetap bersembunyi di semak-semak seberang sungai.
Ketika Rejo harus mengangkat batu seukuran kerbau, Rejo membuka ilmunya, dan berusaha mengangkat.Tak mudah memang.
Rejo belum tahu, apakah batu yang terlihat sebesar kerbau itu yang bagian bawahnya menancap dalam di tanah, ataukah tenaganya yang kurang besar.
Bekali-kali gagal mengangkatnya, Rejo melipatgandakan tenaga dalam. Sayangnya, begitu terpegang tangan Rejo, duar! Batu itu hancur berkeping.
Rejo mencari batu besar lain. Kali ini, tenaga dalamnya dikurangi. Namun dia tak bisa mengangkatnya.
"Bagaimana ini? Dengan tenaga besar, batu hancur, tapi dengan tenaga kecil batu tak mampu saya angkat."
Rejo berusaha menemukan cara sehingga bisa memindakan batu-batu besar itu ke daerah sekitar tempat minum hewan liar. Dicobanya berbagai ilmu warisan dari Resi Swadaraya atau Resi Hitu Dawiya. Ilmu keras warisan Resi Swadaraya dipakai ternyata menjadikan batu hancur, namun ketika ilmu lembut warisan Resi Hitu yang diperagakan, batu tak terangkat.
Dua aliran ilmu tingkat tinggi dari Agama Hindu ini, tak mampu memindahkan batu-batu besar itu dengan 'selamat' dan tidak hancur. Meski begitu, Rejo sesekali merasakan panas luar biasa dari dalam tubuhnya, karena memraktikkan ilmu dari agama Hindu itu.
Batu-batu besar sudah banyak yang menjadi korban keganasan tenaga dalam Rejo. Dan, ini menjadikan batu sebesar kerbau semakin terlihat sedikit di sekitar Rejo.
"Saya belum pernah mendapatkan ilmu aliran Islam samasekali, kecuali beberapa doa dan ibadah. Bagaimana ini?"
Usai seharian gagal, dengan terpaksa Rejo menghentikan upayanya untuk memindahkan batu-batu besar. Ini dilakukan karena jumlah batu besar hanya tinggal beberapa biji saja.
"Saya tak boleh gegabah. Batu besar hanya tinggal beberapa biji saja. Saya harus berhasil mengangkatnya. Jika sampai gagal dan batu hancur, maka, saya harus mengangkat batu-batu besar dari lokasi yang lebih jauh. Ya Allah, tunjukkan saya jalan, berilah saya petunjuk," gumam Rejo sendiri.
Sang pemuda Rejo memilih istirahat di pinggir kali. Sebenarnya, terbersit di benak Rejo untuk membunuh harimau yang selalu mengacam hewan lemah. Namun, Rejo belum menemukan alasan yang hak untuk melakukannya.
Rejo menerawang, melamun, dan kadang diselingi berfikir serius.
Hingga akhirnya, dia teringat satu-satunya pekerjaan atas suruan Syech Jumadil Kubro, yaitu membuat kolam di Desa Jurang Jero.
"Bukankah dulu saya pernah diperintahkan membuat kolam. Bukankah saya mengawali dari galian sebesar telapak kaki saja, hingga akhirnya saya bisa membuat kolam yang sangat luas."
"Artinya, saya harus memulai dari pekerjaan yang paling kecil dulu yaitu membuat lubang sebesar telapak kaki. Mungkin saja saya bisa mengangkat batu besar dengan bersabar menemukan caranya, dari yang paling ringan dulu. Baik, akan saya coba esok pagi," gumam Rejo bersemangat.
Rejo memang akhirnya mencoba. Dia ingin serius memelajari tentang bagaimana mengangkat batu sebesar kerbau, tapi batu itu tidak hancur. Rejo mengambil beberapa sabut dan daun.
Dicoba dirasakan berat sabut dan daun itu. Rejo tak segera berganti mencari benda yang lebih berat, jika dia tidak bisa merasakan bobot dari sabut dan daun itu.
Rejo berkonsentrasi tinggi agar dia bisa merasakan berat benda tingan ini.
Memang awalnya, bagi Rejo dua benda itu tak ada beratnya sama sekali.
Lama dia menimang-nimang dua benda itu, tapi belum diketahui bobotnya. Tang terjadi adakah tangan Rejo malah kesemutan dan kecapekan.
Rejo berfikir dan kerkonsentrasi keras, agar bisa merasakan bobot dari dua benda ringan ini.
Sekian lama berkonsentrasi, akhirnya Rejo bisa tersenyum.
"Saya menemukan caranya. Semoga saya tak salah. Jika ingin memasukkan lidi ke dalam tanah, tentu harus menggunakan tenaga yang setara dengan lidi itu. Tak mungkin melesakkan lidi dalam tanah dengan tenaga gajah, atau diinjak kakinya gajah. Tentu lidi itu akan patah, kalau tidak begitu, tentu si gajah tak merasakan menginjak apapun. Saya tahu apa yang harus saya lakukan. Alhamdulillah, semoga ini langkah awal saya bisa mengangkat batu sebesar kerbau."
Rejo melemaskan lengannya. Satu tangan mengambil sabut dan daun, lalu ditaruh di tangan yang dilemaskan tadi. Tak terasa beratnya.
"Kenapa ya?"
Rejo kembali berfikir.
"Jangan-jangan, karena satu tangan lain saya pakai mengangkat. Ini artinya, saya mengerahkan tenaga yang jauh lebih besar daripada hanya sekedar mengangkat sabut atau daun. Artinya, saya tidak boleh mengangkat daun atau sabut, agar benar-benar bisa merasakan beratnya daun dan sabut. Baiklah, saya mencobanya."
Rejo bangkit, matanya mulai memandang ke atas. Dia memilih pohon-pohon besar yang berdaun kecil, dan daunnya itu kerap rontok.
Tepat di bawah pohon bidara Rejo duduk bersila. Tubuhnya dibuat serileks mungkin. Dua telapak tangannya diletakkan di lutut, dengan posisi tangan terbuka ke atas.
Mata Rejo terpejam, dan dia mengatur nafas serileks mungkin.
Harapan Rejo, ada daun bidara jatuh yang hinggap di tangannya.
Sungguh satu spekulasi yang kemungkinan terjadi sangat kecil.
Hasilnya. Benar juga. Hari itu, tidak ada satu pun daun bidara yang jatuh tepat di dua telapak tangannya.
Memang sih, pohon bidara itu banyak merontokkan daunnya yang kecil itu, tapi tidak ada satu pun yang jatuh tepat di telapak tangan Rejo.
Rejo tetap tak ingin merubah metodenya. Esok harinya, dia melakukan hal sama, dengan harapan ada daun bidara yang jatuh ke tangannya.
Lagi-lagi nihil.
Satu ketika, Rejo tetap berkonsentrasi dengan mata terpejam, dia tak merasakan apapun. Namun, ketika membuka mata, Rejo kaget. Di telapak tangannya yang terbuka, ada selembar daun bidara.
"Kenapa saya tak merasakan adanya daun bidara di tangan ini? Kapan daun ini hinggap di tangan?"
Rejo penasaran.
Dia segera memejamkan mata lagi. Konsentrasi di dua telapak tangan yang terbuka.
Hingga sore, tak ada satupun daun yang hinggap di telapak tangannya.
Rejo menghentikan usahanya. Dia pilik istirahat dan rileks di sekitaran kali, dengan memasukkan dua telapak kakinya dalam air.
Fikirannya kosong.
Di saat itu, seekor nyamuk terbang di sekitar lehernya. Tentunya, mata Rejo tak melihat.
Tangan Rejo secara reflek bergerak, dan seperti meraup sesuatu.
Rejo sendiri kaget.
Begitu tangannya dibuka, ada seekor nyamuk yang mati tergencet.
Rejo memandangi nyamuk itu.
"Bagaimana mungkin saya bisa menangkap nyamuk di sekitar leher tadi, padahal saya tidak melihat, tidak mendengar suara terbangnya, bahkan tidak tahu ada nyamuk. Kenapa bisa begitu?"
Rejo mencoba melakukan lagi, tapi dengan konsentrasi penuh. Memang banyak nyamuk berseliweran di sekitarnya. Sesekali tangkapan Rejo memang mengena, tapi lebih sering luput.
Rejo kembali menjadikan dirinya serileks mungkin, tapi fikirannya diarahkan untuk menangkap nyamuk. Namun, hasilnya malahan tidak ada satu pun nyamuk yang berhasil ditangkapnya.
"Apa beda konsentrasi dengan rileks? Ketika saya konsentrasi, saya masih bisa menangkap nyamuk meski tidak selalu dapat, tapi ketika saya rileks, malahan saya tidak bisa menangkap nyamuk samasekali. Lalu, bagaimana saya bisa menangkap nyamuk dengan reflek, meski saya tidak melihatnya?"
Rejo berkesimpulan, hasil maksimal ketika tubuh bereaksi secara reflek, bukan dibuat-buat.
Maka, Rejo kembali ke bawah pohon bidara. Dibuat dirinya serileks mungkin. Matanya terpejam. Bahkan nyaris dia tertidur.
Hasilnya, dia merasakan beberapa desiran angin yang terpecah oleh sesuatu.
Desiran angin yang sangat halus itu, berasal dari daun bidara yang jatuh memecah angin sekelilingnya.
Rejo tetap rileks dan santai.
Dan secara reflek, tiba-tiba dua tangan Rejo bergerak.
Rejo sendiri kaget. Begitu membuka mata, di dua telapak tangan tangan Rejo ada daun bidara.
"Oh. Itu rahasianya! Saya tahu. Desiran angin yang sangat lembut itu muncul dari daun bidara yang jatuh dan bergesekan dengan udara di sekitarnya. Kalau saya tahu arah jatuh daun bidara, maka saya nantinya juga akan tahu berat daun ini. Sebab, akan tergambar dari seberapa kencang desiran angin yang bisa saya tangkap dengan telinga ini. Baiklah, akan saya coba."
__ADS_1