
Mereka akhirnya tenggelam dalam wirid itu. Meski mereka belum tahu maksud dari wirid itu, mereka menikmati sensasi hangatnya tubuh, yang unik ini.
Mereka tetap melafalkan wirid itu, bahkan bisa secara bersama-sama, lalu dengan suara yang lebih kencang, dan kencang. Mereka menikmati.
Tak terasa, hari telah menjelang pagi.
“Bapak semua, silakan membuka mata.”
Begitu membuka mata., betapa mereka kaget.
Sebab, hari telah pagi dan kabut terlihat. Namun, tubuh kesemuanya tak terasa pegal, bahkan serasa bugar.
Sunan Kembang Kuning segera tertatih menuju ke sungai. Mengambil air wudlu, lalu mengerjakan salat subuh di atas batu.
Semua mata melihat. Semua masih terduduk di gubuk.
“Mbah, melakukan apa tadi. Gerakannya aneh.”
“Oh itu, namanya salat.”
“Apa semacam semedi?”
“Benar. Bahkan lebih bagus daripada yang semalam kita lakukan.”
“Boleh kami diajari?”
“Belum waktunya.”
“Kapan?”
“Setelah kalian semua bisa merasakan nikmatnya semedi dengan membaca kalimat tahlil. Yaitu kalimat yang saya ajarkan.”
“Kira-kira kapan Mbah?”
“Perbanyak kalian melakukan semedi sambil membaca itu, hingga hati kalian benar-benar dikuasai oleh kalimat itu. Saat itulah saya akan mengajarkan semedi terhebat yang pernah ada. Sebagaimana saya lakukan tadi.”
Dan orang-orang pun melakukan apa disampaikan Sunan Kembang Kuning. Setiap malam, mereka melakukan semedi dengan cara duduk bersila, dan membaca kalimat tahlil.
Kian hari, mereka lebih memilih cara semedi aneh ini, daripada melakukan persembahyangan. Bahkan, kini mereka tak lagi melakukan pada malam dingin, pagi, siang, sore, mereka tetap melakukan hal sama.
Bahkan, saat di candi sekalipun.
Tentu saja, ini membuat pemimpin agama Hindu marah. Dan berbicara langsung kepada Pak Lurah.
“Orang renta itu sudah kelewatan. Dia mengajarkan semedi yang tidak lazim. Orang disuruh geleng-geleng, dengan mengucapkan berulang-ulang, kalimat yang tidak kita ketahui artinya. Bapak Lurah harus menghentikannya. Dia juga membangun gubuk di pinggir keputren. Ini sungguh satu penghinaan,” kata Pedanda kepada lurah Ki Serono Puspodiloro.
Karena yang memerintahkan adalah petinggi agama, lurah Ki Serono Puspodiloro tak berani menolak.
“Besok saya akan datangi si mbah itu, untuk saya ajak omong agar tak mengajarkan semedi aneh dan memindahkan gubuknya.”
Dan memang, esok pagi, Pak Lurah mendatangi Sunan Kembang Kuning.
__ADS_1
“Mbah, saya datang ke sini, karena diminta pemimpin agama kami, untuk mengingatkan Jenengan, sudi kiranya jenengan mau pindah dari gubuk ini, dan tidak mengajarkan semedi aneh itu kepada warga saya.”
“Pak Lurah, baiklah. Karena ini memang bukan negeri saya, saya bersedia pindah. Terserah Pak Lurah memindahkan saya ke daerah mana. Saya terima. Namun, bisakah saya meminta tolong kepada bapak untuk gotong-royong untuk memindahkan gubuk saya. Bukankah tubuh saya sudah renta seperti ini?”
Mendengar penuturan si Mbah, Pak Lurah suka cita dan langsung menyatakan setuju.
“Lalu, soal tak mengajarkan semedi baru itu gimana, mbah?”
“Oh, itu namanya wiridan. Begini saja, saya hanya mengajarkan wirid itu di sini, nanti di tempat baru, saya tak akan mengajarkan wirid.”
“Baiklah, kalau begitu.”
“Ingat ya Pak Lurah. Saya hanya mengajarkan wirid itu di sini, dan selama gubuk ini belum bisa dipindah, tolong jangan larang orang-orang untuk datang ke sini.”
“Baiklah,” jawab Pak Lurah, dengan keyakinan penuh akan bisa memindahkan gubuk itu dengan segera.
Selain bahannya dari bambu, dan beratap welit, gubuk ini terlihat ringkih, reyot dan ringan.
Esok harinya, Pak Lurah mengajak beberapa orang untuk memindahkan gubuk itu, agak ke arah pegunungan.
Pak Lurah memberikan arahan, agar empat tiang gubuk diangkat bersama-sama, dan dipindahkan ke pegunungan, tanpa harus merusak gubuk.
“Mohon maaf, Mbah. Kami hendak memindah gubuk.”
“Silahkan. Saya tinggal dulu ke tempat baru saya, ya. Di pegunungan itu kan?” tanya Sunan Kembang Kuning, sambil menunjuk ke arah tanjakan kecil, yang cukup jauh dari sungai.
“Silahkan.”
Empat orang mengikuti dengan tatapan mata kasihan. Sebab, beberapa kali Sunan Kembang Kuning nyaris terjerembab, ketika melewati batu yang licin.
“Sudah, mari kita pindahkan,” ajak Pak Lurah, begitu tubuh Sunan Kembang Kuning membelok dan tak kelihatan.
Dengan melalui aba-aba, empat orang sudah siap mengangkat empat tiang gubuk, yang sebenarnya, tidak ditancapkan dalam tanah itu.
Namun, betapa kagetnya mereka semua, ketika aba-aba angkat ucapkan Pak Lurah, jangankan tiang itu terangkat, keempatnya nyaris terjerembab karena tak siap kuda-kuda.
“Berat Pak Lurah. Aneh... ini sungguh aneh,” kata satu di antara penduduk.
Dia lalu membungkuk untuk melihat pangkal tiang. Benarkah posisi bambu ada yang terikat di tanah atau batu?
Tidak ada.
Semua ikut memeriksa, dan memastikan bahwa ujung tiang bambu itu hanya diletakkan begitu saja di permukaan tanah.
“Ini aneh Pak Lurah,” gumam mereka.
Pak Lurah Ki Serono Puspodiloro yang menguasai ilmu kedigdayaan dan terkenal sakti. Mau tidak mau mulai mendeteksi empat tiang bambu itu. Jangan-jangan diberi sarat khusus sehingga menjadi berat.
Ketika tangan yang dipenuhi tenaga dalam ditempelkan ke satu tiang.
“Wuss!”
__ADS_1
Tak terasa apa pun.
Pak Lurah mencoba mengerahkan tenaga dalam lebih besar. Nyatanya, tetap saja, tak terasa apapun.
“Bagaimana Pak Lurah?” tanya satu warga.
Pak Lurah tak segera menjawab.
Dia bingung.
“Bagaimana mungkin? Tanpa tenaga dalam, tapi tiang bambu ini menjadi berat. Sebenarnya, ada apa dengan tiang ini?” gumam Pak Lurah sendiri, dan mulai menelisik lebih detil mengenai gubuk itu.
Namun, yang dicari tak ditemukan. Tiang itu benar-benar hanya menempel di permukaan batu dan tanah.
Pak Lurah akhirnya, ikut-ikutan mengangkat gubuk itu. Benar-benar gubuk itu bergeming di tempatnya.
“Ada apa dengan gubuk ini? Ilmu apa yang digunakan si Mbah itu? Kok aneh, tak ada getaran tenaga dalam yang dititipkan di tiang gubuk?”
Dan, akhirnya menjelang siang hari mereka menyerah. Pak Lurah dan empat warganya memilih tidur-tiduran di gubuk, karena kecapekan.
Karena gubuk memang dibuat seadanya, saat mereka tiduran, gubuk bergoyang-goyang.
Kelima orang ini kaget dan saling berpandangan.
Akhirnya, salah satu orang menggoyang-goyangkan tubuhnya, gubuk ikutan bergoyang-goyang, bahkan seakan hendak roboh, saking kuatnya guncangan.
“Aneh, kok gak bisa diangkat ya?”
“Iya... coba kalian panggil pedanda Wishnu Santara. Dia yang kita ketahui paling sakti. Saya yakin, kalau pedanda yang menangani ini bakal terangkat,” suruh Pak Lurah.
Empat orang ini paham. Meski lurah mereka tergolong sangat sakti, tetap tak ada ada apa-apanya dibanding dengan kesaktian Pedanda Wishnu Santara. Karena sebagai penerus tradisi Singasari, Pedanda ini telah malang melintang di dunia kedigdayaan.
Gurunya dari berbagai penjuru tanah Jawa.
Bahkan, dia bisa menghentikan aliran sungai.
Bergegas mereka menuju ke pura.
“Apa? Gubuk si renta itu tak bisa diangkat?”
“Benar, Rsi.”
“Hmm, mau unjuk kesaktian rupanya si Mbah itu. Baik, ayo ke sana.”
Kedatangan Resi Wishnu membuat Pak Lurah segera menjura hormat.
Resi sangat sakti ini, mulai menelisik setiap tiang gubuk. Sekali-kali dipegangnya tiang itu.
Resi mengernyitkan dahinya. Tanda dia bingung.
Dicoba untuk menelisik bagian bawah gubuk, tak menemukan apa-apa.
__ADS_1