BODYGUARD SANG SUNAN

BODYGUARD SANG SUNAN
episode 7n: Melihat Udara seperti Butiran Bening


__ADS_3

Pedanda Sudarno menyadari. Tak perlu meniadakan seluruh angin di sekitar, tapi cukup meniadakan angin di sekitar ubun-ubun. Bukankah, ketika angin berhembus ke arah barat, maka yang merasakan panasnya api, hanya yang duduk di sebelah barat bakaran kayu.


Bagaimana caranya meniadakan diri?


Hujaman ribuan jarum panas di ubun-ubun terus menggoda konsentrasi dan rileksnya. Bahkan, bukan hanya terasa panas, ubun-ubun Pedanda Sudarno sampai mengepulkan asap putih. Tanda pertemuan antara panas dan dingin.


Pedanda Sudarno tak menyerah. Dia terus berupaya menjaga rileks dan konsentrasinya.


“Sudah kepalang tanggung, lakukan sampai bisa, sebelum kepala Bapak Sudarno meleleh betulan karena panas," suara teriakan di kegelapan.


“Kenapa yang lainnya tidak mencoba?” tambah teriakan itu.


Orang-orang yang berdiri di bibir kolam, kaget.


Tapi, tak ada satu pun yang beranjak untuk semadi.


Mereka takut melihat bagaimana mimik tersiksa, yang terpampang pada wajah Pendanda Sudarno.


“Katanya ingin balas dendam!” suara teriakan di kegelapan.


Tak ada yang beranjak.


Mendengar ini, Pedanda Sudarno tambah bersemangat. Dia ingin balas dendam kepada Si Bungkuk.


Begitu nafsu balas dendam menguasai hatinya, Sudarno semakin bersemangat menemukan cara peniadaan diri.


Namun, panas di ubun-ubun semakin menggila. Asap putih yang keluar dari ubun-ubun semakin banyak.


“Duh Sang Hyang Widi, kenapa sampai begini? Kenapa begitu sakit dan panas,” keluh Pedanda Sudarno.


“Bapak Sudarno, saya tahu dari sini. Begitu nafsu balas dendam menguasai hatimu, maka, sejatinya dirimu ada. Semakin dirimu ada, maka panas di ubun-ubun kian memuncak!” suara teriakan dari kegelapan.


Pedanda Sudarno kaget alang kepalang.


Serta-merta, dia mengendorkan nafsu balas dendam. Serta-merta itu pula panas mulai melemah di ubun-ubun.


Maka, Sudarno berusaha keras menghilangkan nafsu membunuh si Bungkuk. Nafsu ingin balas dendam pun dibuang jauh-jauh. Panas menurun drastis. Namun tak hilang.


“Bagaimana ini?” pikir Sudarno bingung.


“Ingat burung gereja,” suara teriakan dari kegelapan.


Pedanda Sudarno tetap semadi. Agaknya dua kakinya seakan membeku, dan andai ada sinar. Akan terlihat putih pias, karena kedinginan luar biasa.


“Jika meniadakan semua udara di sekitar burung gereja, bukan saja burung gereja tak bisa terbang meski mengepakkan sayap, tapi juga mati karena tak bisa bernapas.”


Secercah harapan muncul pada Pendanda Sudarno. “Disebut meniadakan diri, bukan berarti menyatu dengan alam, tapi memilah, mana yang tetap ada, dan di bagian mana yang ditiadakan.”


“Ubun-ubunku kepanasan luar biasa, karena memang ada ubun-ubun. Baik, saya berusaha menghilangkan ubun-ubun, tanpa mengindahkan panas dari hujaman jarum,” gumam Pedanda Sudarno.


Dia pun mulai fokus kepada ubun-ubun. Perlahan, keberadaan ubun-ubun dihilangkan. Dia meyakini, kepalanya tanpa ubun-ubun.


“Plas!”


Panas di ubun-ubun menghilang.


Namun, hujaman jarum panas malah mengganggu di belakang kelopak mata. Otak Pedanda Sudarno seakan terbakar. Ini lebih menyakitkan dari pada panas di ubun-ubun.


Nyaris Pedanda Sudarno membuyarkan semadinya. Namun, dia segera berpikir, jika semadi dibuyarkan, maka dia akan menderita kesakitan panas, hingga lingsir matahari.


Pedanda Sudarno kian konsentrasi menghilangkan ubun-ubun dan kepalanya.


“Plas!”


Panas di belakang kelopak mata dan otak menghilang. Hanya saja, panas turun ke dadanya. Napasnya mulai sesak. Bahkan, saat mengeluarkan napas pun, banyak asap putih ikut dihembuskan.


Semua orang di bibir kolam masih menyaksikan perjuangan Pendanda Sudarno melawan panas.


Tak ingin dadanya pecah karena panas, Pedanda Sudarno mencoba menghilangkan keberadaan ubun-ubun, kepala, dan dadanya.

__ADS_1


“Plas!”


Panas mulai turun ke perutnya, meski ubun-ubun, kepala, dada sudah merasa nyaman.


Perut Pedanda Sudarno seakan kram, karena sangat panas.


Pedanda Sudarno seakan menghilangkan ubun-ubun, kepala, dada, dan perut.


Panas meluncur turun ke tulang ekor.


Air kolam di tempat dia duduk, mulai mendidih. Kepulan asap putih semakin banyak. Menutupi tubuh Pedanda Sudarno.


“Salah! Suara teriakan dari arah kegelapan.


Saking kagetnya, konsentrasi Pedanda Sudarno hilang. Ini menyebabkan, panas di tulang ekor langsung berpindah lagi ke ubun-ubun.


“Tidak seperti itu. Belajarlah dari burung gereja.”


Pedanda Sudarno tersadar.


“Bukan menghilangkan ubun-ubun dan anggota tubuh lain, tapi cukup menghilangkan keberadaan udara di sekitar ubun-ubun. Kenapa saya mengadari sedari awal? Tapi bagaimana caranya?”


Hening.


Tak ada lagi teriakan dari arah kegelapan.


Padahal, Pedanda Sudarno yakin akan dipandu sampai bisa.


Hening.


Pedanda Sudarno hanya mendengar suara giginya sendiri yang gemeretak.


Bingung. Ibarat anak bebek tidak ketemu induknya.


Akhirnya, Pedanda Sudarno mengatur napas.


Terus dan terus.


Lama.


Semua mata yang berdiri di bibir kolam, hanya bisa menatap, tanpa tahu harus berbuat apa.


Juga bingung.


Sementara seakan ribuan jarum panas terus menghujani ubun-ubun Pedanda Sudarno.


Rasanya, sudah di ambang hilang kesadaran.


Pedanda Sudarno menatap, butiran-butiran bulat seperti gelembung udara dalam air di selelilingnya. Ada kecil, ada besar. Semua bentuknya bulat sempurna.


Butiran-butiran kecil itu memasuki hidungnya, ketika Pedanda Sudarno menarik napas.


Ketika menghembus napas, yang muncul adalah butiran-butiran berwarna merah. Meneruak di antara butiran-butiran berwarna bening. Butiran merah akhirnya bercampur dengan butiran bening, menjadi butiran baru. Butiran baru warnanya merah memudar, namun tidak bening.


Butiran merah pudar ini melayang. Entah ke mana.


Pedanda Sudarno, dalam ambang ketidaksadarannya, melihat butiran-butiran bening ini, juga masuk ke dalam batang, dahan, ranting dan daun pohon waru.


Dalam ambang ketidaksadaran ini, Pedanda Sudarno menikmati keindahan pemandangan yang selama hidupnya tak pernah ditemui. Namun, seakan hujaman ribuan jarum panas tetap menyeruak di ubun-ubunnya.


Pedanda Sudarno merasakan, bukan hanya di sejujur muka, butiran-butiran bening ini juga berada di ubun-ubun, dan seluruh badannya. Seakan butiran bening ini menempel di sekujur kulit dan pakaiannya. Bahkan, dia melihat butiran bening ini berada di permukaan air kolam, perlahan butiran bening menyatu dengan air kolam.


Seakan hujaman ribuan jarum di ubun-ubun kian deras. Rasanya, rambutnya mulai rontok karena seakan kulit kepalanya meleleh. Otaknya mulai meleleh. Tempurung kepala menjadi bara.


Detik-detik menjelang pingsan ini, Pedanda Sudarno mencoba menghalau butiran-butiran bening yang menempel di ubun-ubunnya. Dia mengerahkan tenaga sisa-sisa untuk menghalau.


Gagal.


“Jadikan rambut, dan kulit kepala Bapak seakan daun talas. Jika daun talas, ada bulu-bulu halus sangat banyak, sehingga air tak mampu menyatu dengan permukaan daun. Maka, Bapak harus memunculkan bulu-bulu yang lebih halus, agar butiran bening tak mampu menempel di kulit kepala atau rambut,” suara teriakan dari kegelapan.

__ADS_1


Dalam kondisi nyaris pingsan ini, seakan Pedanda Sudarno melihat secercah sinar dalam angkasa yang gelap gulita. Ada kekuatan yang tak tampak, dan membimbing Pedanda Sudarno menuju kesadaran penuh. Tubuhnya seakan dialiri energi luar biasa. Sebuah kekuatan dahsyat dari dalam tubuh, yang setiap orang punya, namun hanya sedikit yang bisa menemukan atau menafaatkannya.


Kini, kondisi kesadaran Pedanda Sudarno perlahan pulih.


Mencoba melihat butiran-butiran bening dalam kesadaran penuh.


Memang, awalnya tidak kelihatan. Menjadi kabur. Mulai tampak. Akhirnya sangat jelas terlihat. Indahnya butiran bening.


Semua telah jelas dan gamblang.


Pedanda Sudarno menghadirkan selembar daun talas di bayangannya. Karena sudah bisa melihat butiran bening udara, maka dengan mudah melihat bulu-bulu sangat halus di seluruh permukaan daun talas.


Pedanda Sudarno melihat setetes air di daun talas, ibarat sebuah bukit bening, yang teronggok dan disanggah jutaan bambu. Bukit itu tak menempel di tanah hijau, yang tak lain adalah permukaan daun.


Di permukaan hijau itu, terdapat ribuan lubang-lubang, seakan gua. Butiran-buritan bening udara masuk ke dalam lubang-lubang, tak lama, keluar butiran warna merah.


“Daun talas pun bernapas, seperti manusia,” pikir Pedanda Sudarno, menyimpulkan apa yang dilihat dalam bayangannya.


Pedanda Sudarno mulai berikhtiar, menghadirkan bulu-bulu lebih halus, yang ditempatkan antara mulut gua, sehingga butiran bening udara tak bisa masuk. Caranya, dia mengambil satu bulu, dari jutaan bulu halus yang menyangga bukit setetes air itu, lalu dibelah menjadi sangat kecil.


Dibayangkan, satu butiran bening udara akan disangga oleh ribuan bulu-bulu sangat halus, tepat di depan mulut gua.


Pedanda Sudarno berupaya terus dan terus, hingga bisa membuat satu lubang di daun talas itu, seakan tertutup oleh ribuan bulu sangat halus. Butiran bening udara akhirnya tertahan, di mulut gua.


Pedanda Sudarno membuat ratusan jutaan bulu halus, sehingga menutup semua lubang gua di permukaan daun talas. Butiran bening udara tertahan.


Tak lama, daun talas layu.


Bayangan daun talas menghilang.


“Daun talas tak bisa bernapas,” pikir Pedanda Sudarno.


Tak menunggu lama, karena panas di ubun-ubun sudah tak terkira. Pedanda Sudarno mulai menghadirkan lagi selembar daun talas. Dia seakan mengambil bulu-bulu halus di daun talas, lalu setiap bulu itu dipecah menjadi ribuan bulu-bulu sangat halus. Bulu-bulu sangat halus ini mulai ditancapkan di ubun-ubun dan rambut.


Merata.


Dia merasakan, butiran bening udara tak lagi menyatu dengan permukaan kulit kepala, yang juga penuh lubang seakan gua. Bahkan mulut-mulut lubang itu juga tertutup bulu halus. Permukaan rambut, yang terlihat seakan pohon hitam kelam raksasa, juga tertutup penuh oleh bulu halus.


Butiran bening udara tak lagi menempel. Seakan butiran bening udara hanya hinggap di pucuk-pucuk bulu halus, tanpa menyentuh permukaan kulit kepala, atau rambut.


Serta merta, panas dari hujaman jarum panas menghilang.


Mimik muka Pedanda Sudarno mulai tenang, dan nyaman.


Semua mata di bibir kolam terbelalak.


Mereka juga menjadi tenang.


“Benar Bapak Sudarno. Butiran bening itu adalah udara, atau angin. Bapak sudah menguasai tahap pertama, dari ilmu Bayu Segoro. Tolong diajarkan caranya kepada Bapak-bapak yang lain,” suara teriakan dari arah kegelapan.


Hening.


Tak lama, Pedanda Sudarno menghentikan semadinya. Membersihkan diri, lalu bergabung dengan teman-temannya.


“Bagaiamana caranya?”


Pedanda Sudarno tak menjawab. Beringsut berbaring, lalu tertidur. Tenaganya terkuras luar biasa.


Semuanya pun memilih tidur.


Memanglah, jiwa kepemimpinan Pedanda Sudarno telah teruji. Esok harinya, dia membimbing ke-23 temannya untuk belajar cara menghilangkan hujaman ribuan jarum panas di ubun-ubun.


Butuh waktu 3 hari, hingga semua menguasai teknik menghampakan udara di permukaan kulit kepada dan rambut ini. Dalam tiga hari itu pula, Kawis Guwo tak menampakkan diri.


Barulah di hari ke empat, Kawis Guwo muncul.


“Rupanya Bapak-bapak semua telah menguasai teknik meminggirkan udara dari kulit kepala dan rambut. Ingat! Ini hanya langkah satu untuk bisa menguasai ilmu Bayu Segoro. Namun, jika telah menguasai langkah satu ini, maka selanjutnya akan terasa lebih mudah.”


Kawis Guwo lalu membentangkan kain hitamnya. Di mana di kain itu terlihat lukisan perahu-perahu dengan warna cerah. Dicari dua kayu untuk bisa membeber kain itu.

__ADS_1


“Ini langkah ke dua. Bapak-bapak harus bisa menceritakan, apa yang terjadi pada kain ini. kain ini adalah sebuah cerita. Karena Bapak-bapak sudah menguasai teknik menghampakan udara di kulit kepala, Saya yakin bapak akan segera menemukan cerita di balik kain ini. Selamat berlatih.”


__ADS_2