
Para pedanda dan Pak Lurah yang tidak ikut-ikutan tertawa. Sebab mereka merasa Mbah Bungkuk ini menyiapkan sesuatu.
Wajah pedanda dan Pak Lurah mulai tegang, di antara ribuan penonton yang tertawa terbahak-bahak.
Putaran Resi Witjak semakin kencang, bahkan seperti gasing.
Sunan Kembang Kuning alias Mbah Bungkuk diam. Bertelekan tongkat bambu kuning, dan dia berusaha tetap berpijak di bambu yang kian kerap digoyang Resi Witjak.
“Kenapa Resi Witjak bisa lengah?” gumam Pak Lurah sendiri.
“Resi sadarlah! Jenengan menuju kekalahan,” gumam Pak Lurah.
Pedanda tak lagi tertawa, malah wajahnya pucat pasi.
Dan... yang ditakutkan akhirnya terbukti.
“Berhenti!” teriak Sunan Kembang Kuning, sambil mendorongkan tongkat bambunya ke depan.
“Trak!”
Tubuh Resi Witjak yang sebelumnya berputar-putar dan sesekali menginjak bambu terapung, menghantam tongkat bambu.
Dia seakan menabrak karang yang sangat kokoh.
Karena tenaga putarannya sangat kuat, menjadikan tubuh Resi Witjak terpelanting.
Semua penonton yang tertawa terbahak, langsung terhenti.
Mereka kaget, melihat tubuh sang jago melanting seperti daun gugur.
Tubuh Resi Witjak berputar-putar di udara, mengarah ke sebuah batu besar.
Karena kecepatan jatuhnya, sangat mungkin tubuh resi Witjak akan hancur dan patah luluh lantak.
Dalam posisi yang sangat sempit itu, tiba-tiba kaki Sunan Kembang Kuning menghentak mambu, dan menjadikan daya lentingannya sangat kencang. Ditambah lagi tongkat mambu kuning dipukulkan ke batu, untuk menambah daya lenting.
Tubuh Sunan Kembang Kuning melesat jauh lebih kencang daripada kecepatan jatuhnya tubuh Resi Witjak.
Tubuh bungkuk Sunan Kembang Kuning hinggap dulu di batu yang akan menerima tubuh Resi Witjak.
Segera Sunan Kembang Kuning mengembangkan dua tangannya untuk meraih tubuh Resi Witjak yang meluncur turun.
Hap!
Tubuh Resi Witjak berhasil di bopong.
Resi Witjak tak jadi membentur batu.
Semua pemonton melongo.
Pedanda dan Pak Lurah menghembuskan napas kuat-kuat. Tanda dia sedari tadi menahan napasnya.
Resi Witjak begitu malu.
Mukanya merah padam, menahan marah.
“Hai musuh Allah, saya tak mau pertarungan ini berakhir cepat, karena engkau belum mengeluarkan seluruh kesaktianmu. Mari kita bertarung lagi,” kata Sunan Kembang Kuning, sembari melepaskan tubuh Resi Witjak begitu saja.
Sebelum tubuhnya mengenai permukaan air, Resi Witjak segera melenting dan hinggap di sebuah batu besar, dan langsung duduk bersila.
“Kurang ajar. Engkau telah menghinaku!”
“Siapa yang menghina? Malah, engkaulah yang menghinaku dengan main-main seperti gasing. Kan engkau tahu, tubuhku ini bungkuk dan sulit berjalan. Ayo kita bertarung wajar saja.”
Resi Witjak dengan segera membuka aji-aji miliknya.
Tiba-tiba air di kali itu menggelegak. Air itu membumbung tinggi, dan membentuk seperti kepalan tangan.
Dan agaknya, kepalan tangan taksasa dari air itu, hendak dipukulkan ke arah Sunan Kembang Kuning.
Namun, sebelum niat itu dilaksanakan, Sunan Kembang Kuning segera memukulkan tongkatnya ke air kali.
“Ambyar!”
Dan tiba-tiba saja, air yang sudah berbentuk kepalan tangan itu ambyar dengan sendirinya.
Ini menjadikan tubuh Resi Witjak basah kuyup.
Penonton di pinggir kali kaget.
Mereka tak menyangka jika si bungkuk yang untuk berjalan tertatih begitu, bisa membuyarkan ilmu tingkat tinggi Resi Witjak.
“Hai musuh Allah, sudahlah. Mengakulah kalah, dan jangan lagi engkau ganggu orang-orang yang ingin belajar agama baru. Agama yang membawa manusia kepada keselamatan dunia akhirat,” kata Sunan Kembang Kuning.
__ADS_1
“Ah, aku belum kalah! Sekarang terimalah ilmu ini.”
Resi Witjak segera bangkit dari duduk bersila, lalu mulai memeragakan jurus.
Lambat laun, dari sekeliling Resi Witjak muncul api.
Api kian membesar, bahkan, bisa membuat air di sekeliling Resi Witjak mendidih dan mengepulkan asap.
Ikan Mas berenang menjauh.
Sunan Kembang Kuning melirik sekeliling.
Tampak penonton di pinggir kali begitu takjub dengan kesaktian Resi Witjak.
“Wahai resi yang sombong. Kemampuan segitu saja, engkau pamerkan kepada orang-orang di sini. Wahai penduduk semua, saya bisa mengajarkan kalian semua ilmu seperti itu, hanya dalam beberapa jam!” teriak Sunan Kembang Kuning.
Teriakan ini menjadikan semua mata penonton mengarah kepadanya.
Dan Sunan Kembang Kuning segera menusukkan tongkat bambu kuningnya ke tanah.
“Trak!”
Sekali lompat.
Kaki kiri Sunan Kembang Kuning hinggap di ujung tongkat.
Lalu, dia memeragakan jurus yang sama persis dengan yang dimainkan Resi Witjak.
Tentu saja Resi Witjak kaget alang kepalang.
Sebab, ilmu aneh yang dia kuasai ini adalah warisan dari Resi Swadaraya dari Gunung Lawu.
Namun, musuh di hadapannya bisa memeragakan sama persis.
Bahkan, api yang mulai menyelimuti tubuh Sunan Kembang Kuning sangat besar, lebih panas, dan lebih membiru.
“Andai api besar ini saya tembakkan ke arahmu. Engkau pasti sudah gosong. Saya hinggap di ujung tongkat ini, karena saya tidak ingin menyakiti ikan di kali ini. Bukankah ikan-ikan mas di kali ini kalian sucikan. Penduduk semua, sekarang kalian tahu, siapa sebenarnya yang tidak sayang kepada agama kalian sendiri. Saya ataukah resi yang kalian takuti itu?”
Semua terdiam.
Dan memang, semua mata melihat, api yang ada di sekeliling tubuh Sunan Kembang Kuning begitu besar dan lebih menakutkan. Hanya saja, air di bawahnya tak mendidih, karena Sunan Kembang Kuning hinggap di sebuah tongkat yang cukup tinggi.
Terlihat penguasaan ilmu Sunan Kembang Kuning begitu sempurna. Bisa jadi api biru itu malah tidak panas.
Penduduk di pinggir kali semakin menjauh, karena tak tahan panas api itu.
Sunan Kembang Kuning juga menambah radius api birunya. Namun, tak panas.
Resi Witjak seakan tak percaya. Ilmu warisan Resi Swadaraya adalah tingkat tinggi. Untuk menempanya, butuh puluhan tahun. Namun, di hadapannya, sosok bungkuk yang ringkih ternyata bisa memeragakan jurus yang sama. Bahkan api yang muncul sudah berwarna biru. Setingkat lagi, api yang tercipta bisa berwarna putih.
“Apa kita teruskan pertarungan ini?” tanya Sunan Kembang Kuning.
Resi Witjak masih memeragakan jurus yang apinya bisa membakar apa pun itu. Api merahnya semakin besar.
Sunan kembang kuning santai saja.
“Berapa lama engkau bertemu dengan Swadaraya? Ilmu membunuh apa saya yang diajarkan kepada engkau?” teriak Sunan Kembang Kuning, dengan tujuan agar seluruh penonton turut mendengar.
Mendengar nama Resi Swadaraya disebut, para warga cukup kaget. Warga tahu, Resi Swadaraya adalah resi nomor utama, di Tlatah Tanah Jawa. Disebut namanya saja, sudah bisa membuat orang pingsan bahkan meninggal.
Dan nama resi yang berasal dari Gunung Tidar Tlatah Mataram itu, kini disebut sosok bungkuk. Bahkan, diyakini, ilmu api berpijar itu juga warisan dari Resi Swadaraya.
Agaknya teriakan Sunan Kembang Kuning mengena.
Resi Witjak agak gamang untuk meneruskan pertarungan.
Toh terbukti bahwa api yang diciptakan Si Bungkuk jauh lebih dahsyat daripada api yang diciptakannya.
Namun, sudah ratusan mata menyaksikan pertarungan ini.
Betapa malunya Resi Witjak, jika dia mengaku kalah begitu saja.
Namun, Sang Resi mulai ragu, akankah dia bisa mengalahkan sang musuh. Terbukti, dua hewan piaraannya bisa dibuat tidur nyenyak, dan juga dirinya sempat terlempar dan nyaris terhempas batu.
Kali ini, api yang tercipta juga masih kalah pamor.
“Sudahlah, kalau engkau bernafsu bertarung, saya tak segan akan mengeluarkan seluruh ilmu saya, dan engkau bisa terbunuh. Namun, jika kita sudahi pertarungan ini, maka, engkau akan selamat. Dan cukup kalian semua tidak mengganggu kami, itu sudah impas. Bagaimana Resi? Bagaimana Pak Lurah? Bagaiman pedanda?”
Namun, Pak Lurah tak memberikan jawaban.
Dia dan Pedanda kian yakin akan kemampuan si Bungkuk. Karenanya, mereka hanya diam saja.
Resi Witjak mulai tak sabar.
__ADS_1
Api menjilat-jilat mulai tak karuan.
Penonton kian menjauh. Mereka semua ngeri.
“Oh, engkau ingin bertarung. Baik. Ini saya tunjukkan ilmu sebenarnya milik Resi Swadaraya. Saya, murid kesayangannya, tak akan pernah mundur!” teriak Sunan Kembang Kuning sekencang-kencangnya.
Harapannya, penonton yang jauh pun bisa mendengar teriakan ini.
Efeknya memang mengena. Penonton pun terkejut. Resi Witjak juga demikian. Api yang menjilat mulai melemah.
“Saya adalah murid kesayangan Resi Swadaraya. Saya saksi kematian Resi Swadaraya. Saya yang mengurus mayatnya. Saya menguasai seluruh ilmu Gunung Tidar.”
Semua hening.
Api di sekitar Resi Witjak perlahan mulai memudar.
“Saya juga murid Resi Hitu Dawiya dari Mataram.”
Semua terkaget.
Satu resi yang dikenal sangat santun dan berakhlak mulia.
“Resi Witjak. Lebih baik kita sudahi pertarungan ini. Dan engkau tak akan bisa menang melawan saya, dengan ilmumu yang segitu.“
“Malah, saya berkenan mengajarkan seluruh ilmu. Baik dari Resi Hitu Dawiya maupun Resi Swadaraya kepada kalian semua.”
Api di sekeliling Resi Witjak benar-benar padam.
Hawa hangat masih terasa.
Sunan Kembang Kuning pun mulai mengerem api birunya. Lambat laun menjadi padam.
Sunan Kembang Kuning melompat turun dari tongkat bambu kuningnya.
Ditarik tongkat itu dari tancapan batu.
Dipakai untuk menyangga tubuhnya agar tak jatuh.
Penonton mulai berani mendekat.
“Ketahuilah. Agama saya Islam, sebagaimana diajarkan oleh Raden Rahmat Sunan Ampel. Pangeran dari Majapahit, tapi saya menguasai ilmu dari aliran Hindu. Bahkan, saya memperolehnya dari Resi terbaik di tanah jawa. Resi yang baik dan Resi yang jahat. Semua ilmunya ada pada saya.”
“Saya berkenan mengajarkan kalian semua ilmu-ilmu yang saya punya. Baik ilmu Hindu maupun ilmu Islam. Siapapun boleh memelajarinya.”
Sebagai bukti bahwa Sunan Kembang Kuning benar-benar menguasai ilmu dua resi itu, dipukulkannya tongkat itu ke arah batu ukuran sekepalan tangan.
“Blar!”
Tiba-tiba batu itu menyala.
Dan sekali lagi, tongkat itu dipukulkan ke air.
“Blar!”
Ada semacam lubang di aliran kali itu.
Lalu, batu menyala itu dilemparkan dengan tongkat ke lubang di air.
Air menutup.
Batu api tetap menyala dalam air.
“Itu buktinya.”
Semua mata menatap ke arah batu menyala itu.
Sangat menarik, dan semua terlihat begitu kagum dengan peristiwa di depan mata mereka itu.
Resi Witjak hanya menunduk.
Bayangkan, dia bisa dikalahkan begitu mudah oleh seorang bungkuk, di mana untuk berjalan saja dia tertatih.
“Hebat juga Bapak bungkuk ini. Yang diserang adalah mentalnya,” kata Pak Lurah.
Namun, Resi Witjak yang menjadi gamang.
Dia adalah sosok yang paling ditakuti di Singasari, namun dia dipermalukan begitu saja oleh lawannya.
“Baiklah Resi, sepertinya engkau belum terima atas kekalahanmu ini. Ayo kita bertarung tanpa harus membunuh satu sama lain,” tantang Sunan Kembang Kuning.
Resi Witjak yang sudah keder ini, hanya menunduk.
”Resi, bukankah engkau masih mempunyai ilmu simpanan yang tidak mungkin dipunyai orang lain, termasuk saya. Yaitu mengendalikan dua hewan raksasa piaraanmu, yang begitu menggetarkan Tlatah Singasari ini.”
__ADS_1