Bossku, Jodohku!

Bossku, Jodohku!
Rasaku dan rasamu


__ADS_3

"La!" panggil Daffa melirik sekilas, lalu fokus kembali kedepan kemudinya. Kini kedunya tengah berada dalam perjalanan menuju pulang.


"Iya Kak!" balas Vani seraya menolehkan wajahnya.


Daffa tak melanjutkan ucapannya. Terlihat ragu untuknya mengucapkan kata-katanya.


"Kenapa Kak?" tanya Vani lagi yang merasa heran dengan sikap pria disampingnya.


"Minggu depan Kakak mau kita tunangan."


Deg!


Vani terpaku mendengar penuturan itu. Kembali hatinya dibuat tak menentu. 'Tunangan?' satu kata yang tak pernah terpikir sebelumnya. Disaat dirinya ingin jujur dengan hatinya, keadaan justru membuat Ia kian terpojok.


"La!" panggil Daffa untuk kesekian kalinya. Tak ada sahutan dari sang gadis membuat Ia sedikit menaikan nada panggilannya, hingga sang gadis terlonjak kaget.


"Iya. Kenapa Kak?" tanya Vani.


"Kamu ngelamun?" tanya balik Daffa.


"Ah! Nggak." elak Vani, hingga Daffa menghembuskan napasnya panjang.


"Kakak tanya, menurutmu bagaimana kalo kita tunangan minggu depan?" tanyanya lagi untuk kedua kalinya.


"Mmm itu," Vani kembali terdiam, bingung harus mengatakan apa. "Biar kupikirkan dulu." lanjutnya seraya berbalik menoleh kearah jendela.


Bayangannya kembali pada kejadian tadi saat dirinya bersama sang pemilik hatinya. Kata-kata cinta dari sang pria mampu meluluhkan jiwa raganya dan janji yang sempat Ia ucapkan.


Flashback on~


"Emmm ..."


Vani bergeliyat bangun seraya membuka matanya yang masih terasa sepet. Menegakan tubuh dengan meregangkan otot lehernya yang terasa kaku. Hingga Ia tersadar sesuatu.


"Ya ampun! Apa aku tidur?" tanyanya bermonolg sendiri.


"Kamu gak tidur, cuma ngorok." balas seseorang dari sampingnya seraya ikut merenggangkan leher dan bahunya yang ikut kaku.

__ADS_1


"Astagfirulloh!" pekik Vani terlonjak, setelah menolehkan wajah pada pria disampingnya.


"Aka!!!" Ia sampai menutup mulut, merasa tak percaya, ternyata sang boss berada disampingnya.


Ia yang merasa memimpikan pria yang selalu menggetarkan hatinya itu, ternyata benar Ia tengah bersamanya. 'Jadi itu bukan mimpi? Dan sejak tadi aku memang tidur dibahunya?' batinnya bertanya-tanya.


Aska menghadap kearah sang gadis, lalu tersenyum melihat reaksi sang gadis yang sepertinya seluruh nyawanya belum terkumpul. Lalu merapihkan rambutnya yang berantakan.


"Kek nya kamu gak pernah berubah ya? Masih Vani yang sama." kekehnya.


Perlakuan itu benar-benar membuat Vani tak bisa berkutik. Hatinya berdebar hebat dengan detak jatung yang berpacu kencang. Otaknya seolah melayang entah kemana.


Aska meraih tangan yang menutupi bibir manis itu. Ingin melihat seluruh wajah cantik yang sekian lama Ia rindukan dengan jelas.


"Kamu semakin cantik. Aka hampir gak ngenalin kamu." tutur Aska. Melehoy sudah hati Vani, Ia kian terpaku mendengar pujian itu.


"Kamu tau? Setiap hari aka bertanya, seperti apakah gadisnya aka sekarang? Apakah dia masih tetap sama? Dan ternyata bidadari pun kalah cantik dengan gadisnya aka."


Melayang sudah entah kemana jiwanya Vani. Mendapati pujian dari pria yang Ia damba, sungguhpun membuatnya gila. Ia sampai mengigit bibir bawahnya untuk menahan jeritan dihatinya. Semburat merah nampak jelas dipipi putih itu. Dengan cepat Ia menunudukan kepalanya, menyembunyikan rona merah itu dari sang pria.


Lengkungan dari bibir Aska tak pernah pudar. Bahagia yang Ia rasa membuat Ia tak dapat melepaskan lengkungan itu. Ia raih tubuh ramping itu, lalu mendekapnya.


"Kamu yang sudah menguasai hati ini, dan tak akan pernah terganti sampai kapanpun." lanjutnya.


"Tapi-" Vani hendak berucap dan melerai pelukannya. Namun Aska semkain mepereratnya dan menyelak ucapan sang gadis.


"Daffa? Aka sudah tau semuanya. Dan kita akan hadapi ini bersama."


"Aka mohon, jangan menghindar! Aka sayang sama kamu sebagai gadisnya aka, bukan adik." pinta Aska dengan nada memohon.


Jatuh sudah buliran air dari ujung mata cantik itu, Ia membalas memeluk tubuh tegap sang pujaan tak kalah erat. Melasakan wajahnya didada bidang yang akan siap menjadi sandarannya. Menghirup aroma maskulin yang menenangkan hatinya. Menyalurkan rasa yang selama ini Ia pendam.


Begitupun Aska, Ia ciumi aroma rambut sang gadis dalam-dalam. Aroma baru yang akan menjadi candunya. Menciumi pucuk kepala sang gadis bertubi-tubi dengan belaian sayang pada surai hitam nan panjang itu. Membiarkan degupan jantung dari keduanya berdetak seirama.


Lama keduanya saling meluapkan rindu dan bahagia dalam pelukan yang seolah enggan untuk saling melepaskan. Berbagi kehangatan dari dingin yang menyelimuti hati mereka selama ini.


Aska melerai pelukannya, Ia rapihkan kembali rambut indah itu dan mengapus sisa jejak dipipi cantik itu. Ia tangkup kedua pipi sang gadis, lalu mendaratkan kecupan dalam didahinya.

__ADS_1


"Janji satu hal sama aka!" ucap Aska seraya mengangkat jari kelingkingnya.


"Apa?" tanya Vani dengan kerutan didahinya.


"Berjanjilah, kamu gak akan pernah menghindar! Kita akan melewati ini bersama. Kita akan berjuang bersama. Jadi jangan takut untuk jujur pada hatimu sendiri! Hem?" tuturnya.


Vani tersenyum, Ia membenarkan ucapan sang pujaan. Cukup sudah Ia membohongi dirinya sendiri. Sekarang Ia akan jujur pada diri sendiri, terutama hatinya. Seperti kata Sofi, kebohongannya akan semakin membuat orang-orang yang ada disekitarnya terluka. Dan Ia tak ingin menjadi orang yang semakin egois.


Ia akan jujur pada orang yang begitu baik, pria yang begitu setia menunggunya. Tak ingin memberi harapan yang sia-sia, Ia akan memberanikan diri untuk melakukan itu.


"Iya kak! Aku janji." balas Vani seraya ikut mengaitkan jarinya, hingga keduanya senyum bersama.


Flashback off~


**


Vani membuka matanya kala mengingat hal itu. Benar, Ia tak boleh semakin egois. Ia harus jujur pada dirinya dan juga pria disampingnya. Ia menoleh kearah Daffa dan melihat dalam pria tangguh yang selalu berkorban untuknya.


Ia kembali menunduk, bingung bagaimana cara memulainya. Apakah benar tindakannya tak akan membuat sang pria terluka? Apa benar semua akan baik-baik saja?


Daffa melirik sekilas kearah sang gadis, terlihat tatapan nanar dengan senyum yang sangat Ia paksakan.


'Aku tau apa yang kamu pikirkan La. Tapi gak bisakah ada sedikit ruang dihatimu untukku? Gak adakah kesempatan untukku menjadi bagian dalam hidupmu?' Lirih Daffa dalam hati.


Hari ini menjadi hari yang begitu menyakitkan untuknya. Mendapati sebuah kenyataan yang tak ingin Ia akui. Bohong jika Ia bisa mengikhlaskan sang gadis bersama sahabatnya. Namun Ia juga tak ingin menjadi orang yang egois. Merelakan, apa itu jalan terbaik?


Tak berselang lama kijang besi yang keduanya tumpangi sampai dipekarangan rumah Vani. Kedua manusia itu masih terdiam ditempat.


Hening!


Tak ada satupun dari mereka yang memulai obrolan. Keduanya masih menata hati dan pikiran mereka. Tak ingin mengambil langkah salah, membuat mereka harus bekerja keras untuk memikirkan hal itu. Hingga keduanya mengeluarkan kalimat sama dengan serempak.


"Ada yang ingin aku katakan!"


"Ada yang ingin Kakak katakan!"


\*\*\*\*\*\*

__ADS_1


Jangan lupa jejaknya yaa gaiss😙 tinggalkan like dan komennya! yang punya vote sama kembang boleh dong berbagi sama Aka yang sukses bikin anak orang baper😁


__ADS_2