
Masih dimalam yang sama. Sepasang kekasih yang baru pulang dari akad nikah Daffa dan Riska nampak hening didalam kijang besi yang ditumpangi keduanya. Tak ada sepatah kata pun yang keluar dari bibir kedua manusia itu.
Sofi masih kesal pada pria disampingnya. Hingga Ia enggan untuk menolehkan wajah pada pria menyebalkan yang sayang itu kekasihnya. Begitupun Putra, pria berwajah datar yang tengah mengemudi mobil itu.
Pria itu melirik sekilas pada sang kekasih disampingnya itu. Melihat sang gadis yang nampak cuek, membuat pria berkacamata itu kesal. Hembusan napas kasar terdengar dari bibir sexy Putra.
"Sampai kapan kamu mau diem terus?" tanya Putra menoleh sekilas dan kembali fokus.
Sofi mendengus kesal, Putra tak juga peka pada dirinya. Jika pasangan lain, akan membujuk saat pasangan mereka merajuk. Namun berbeda dengan pasangan ini. Sofi yang merajuk, Putra pun ikut-ikutan merajuk. Hingga kedunya sama-sama tak ingin mengalah dan sama-sama mempertahankan ego tinggi yang dimiliki mereka .
"Beib!!!" panggil Putra, namun tak ada sahutan apapun dari gadis itu.
"Ck! Bisa gak kamu berhenti kek anak kecil?" Pertanyaan pedas yang disertai decakan Putra sukses membuat Sofi menoleh dengan mata memicing ke arahnya.
"Apa kamu bilang, anak kecil?" tanya Sofi tak terima. Sofi tersenyum sinis melihat Putra yang hanya menatap lurus kedepan.
"Iya, aku anak kecil. Terus apa julukannya buat kamu? Aki-aki?" tantang Sofi.
"Kamu pikir kamu udah paling bener? Kamu tuh laki, kamu calon imam. Harusnya kamu bisa mengarahkan makmum kamu. Harusnya kamu bisa membujuk pasangan kamu." cerocos Sofi yang tak memberi kesempatan Putra untuk bicara.
"Kalo emang menurutmu aku kek anak kecil, terus kenapa kamu mau sama anak kecil kek aku? Harusnya kamu cari yang lebih dewasa, lebih tua, lebih mateng, emak-emak sekalian. Bukan kek aku, yang masih kecil, yang masih ingusan, yang masih banyak belajar." lanjutnya.
Tanpa Sofi sadari, Putra sudah menghentikan laju mobilnya dibahu jalan. Pria itu membuka sabuk pengaman, lalu membalikan tubuh gadis itu dan membungkam bibir yang tak mau berhenti mengoceh itu dengan bibirnya.
Seketika suara cempreng itu hilang, berganti dengan decapan merdu dari kedua manusia yang tengah menikmati pagutan mereka. Sekesal apapun Sofi, jika otak liarnya disuguhi hal itu. Tentu seketika jiwanya melanglang buana menuju puncak sang nirwana.
"Eummhh!!!"
Lenguhan Sofi membuat Putra semakin liar. Tubuh ramping itu sudah terduduk manis diatas pangkuan pria, yang tengah bermain didua buah favoritnya.
Sofi tak dapat menolak setiap sentunan dari sang kekasih. Tubuhnya begitu candu dengan sentuhan Putra yang begiu membaut Ia jauh dari kesadarannya.
Ditengah aktifitas panas mereka, adegan menegangkan itu harus terhenti dengan ketukan kaca dari luar mobil.
Kedua manusia itu terdiam. Bagai dejavu, hal yang menimpanya waktu itu kembali terjadi. Namun mengingat saat itu mereka tak tercyduk, mereka pun menanggapinya dengan santai.
Sofi hendak turun dari pangkuan Putra seraya menutup dres bgian depan yang kancingnya sempat terbuka itu, namun lelaki itu menahannya.
__ADS_1
"Mau kemana?" cegat Putra menahan pinggang Sofi.
"Ya turunlah. Orang-orang pada ngetuk pintu, nyuruh kita turun." balas Sofi.
"Udah biarin aja, mereka gak lihat kita!" sergah Putra seraya menenggelamkan wajah diceruk Sofi.
Sejenak hampir saja Sofi ikut hanyut, namun ketukan dari luar menghentikan otak liarnya.
"Ihh ... Udah Put! Tuh orang-orang malah tambah rame." protes Sofi, hingga Putra pasrah menjauhkan wajahnya.
"Kamu yakin kita gak kelihatan? Kok perasaan aku gak enak ya?" tanya Sofi merasa waswas.
"Yakin lah, kita kan-" penuturan Putra terhenti, kala Ia menyadari sesuatu.
Ia melirik kanan kirinya dengan tatapan tak percaya seraya mrnghembuskan napasnya berat. "Mampus!"
Sofi yang mengikuti gerak gerik sang kekasih, mendadak panik. Gadis itu segera turun dari pangkuan Putra dan duduk kembali dikursi yang tadi didudukinya. Tangan Sofi bergerak untuk merapihkan penampilannya yang berantakan.
Putra berdehem terlebih dahulu sebelum membuka kaca pintu mobil yang menampakan beberapa orang diluar sana. Pria itu juga mencoba menampakan wajah sesantai mungkin.
Putra membuka setengah kaca itu dengan sedikit memiringkan wajah untuk melihat mereka diluar.
"Ada apa, ada apa? Kalian lagi ngapain?" tanya salah seorang bapak dengan sarung yang menggantung dibahunya.
"Kita gak ngapa-ngapain, Pak." sangkal Putra.
"Woalah, anak jaman sekarang. Mau nganu kok dimobil?" ledek seorang bapak yang membawa pentungan, dari belakang bapak tadi.
"Kalian jangan bohong! Kita lihat aktifitas kalian dari tadi." peringat sang bapak. Sofi tertunduk malu, wajahnya sudah memerah mendengar penuturan bapak itu.
"Udah keluar dulu mas!" titah bapak ketiga.
Dengan terpaksa Putra keluar. Ia tak berani menjawab peringatan bapak itu yang benar adanya. Tak ingin membuat keadaan semakin runyam, Ia pun memilih diam dan keluar.
Setelah turun dari mobil, Putra kembali dicecar berbagai pertanyaan oleh ketiga bapak itu yang ternyata tengah melaksanakan ronda dikawasan komplek tempat tinggal Sofi.
"Si enengnya juga, turun dulu neng!" titah bapak yang membawa pentungan itu. Sofi pun ikut turun dari mobil dan berdiri disamping Putra dengan kepala menunduk.
__ADS_1
"Apa kalian suami istri?" tanya bapak yang mengaitkan sarung dibahunya itu.
Putra melirik kearah Sofi yang hanya menunduk. Ia bingung harus menjawab apa, apakah harus jujur atau sebaliknya?
"Aaa saya tau, kalian bukan suami istri 'kan? Si eneng ini yang tinggal dipersimpang gang mang Jaja itu 'kan?" cecar bapak yang membawa pentungan itu menunjuk Sofi, hingga gadis itu mendongak.
"Eh, iya bener. Si eneng ini yang tinggal dirumah bu Lia." balas bapak ketiga yang baru menyadari itu.
Putra dan Sofi hanya saling lirik dengan wajah tegang mendapati cecaran pertanyaan bapak-bapak itu. Hingga tiga orang lagi bapak-bapak datang menghampiri.
"Ada apa ini?" tanya salah seorang dari mereka.
"Ini Pak RT, mereka ke cyduk lagi berbuat yang tidak-tidak didalam mobil." balas bapak ketiga. Seketika bola mata pasangan itu membulat.
"N-nggak, kek gitu Pak!" sangkal Sofi dengan nada takut.
"Udah gak usah ngelak! Kami lihat kalian tadi." balas bapak berselendang sarung itu.
"Wah, kalo gitu kalian harus cepat dinikahin sekarang juga." celetuk bapak disamping pak RT.
"Maaf, Pak. Tapi-" belum sempat Putra protes, suara salah satu bapak menyelaknya.
"Iya bener itu, saya setuju! Kalo nggak komplek kita bisa kena sial." balas satu bapak lagi.
"Iya bener tuh, bener!" balas serentak bapak-bapak itu, hingga suasana riuh.
Kedua manusia itu tak mengelak lagi. Mereka hanya terdiam pasrah, karena memang mereka mengakui kesalahannya.
"Udah-udah!" lerai pak RT yang memnbiuat mereka diam.
"Saya setuju sama bapak-bapak ini. Saya gak ingin mengambil resiko, jika kalian gak segera dinikahkan." terang pak RT.
"Jadi, untuk menghindari hal yang gak diinginkan. Mau gak mau, kalian harus mau dinikahkan sekarang juga. Atau kalo nggak," pak RT menjeda kalimatnya sejenak.
"kalian bisa diarak mengelilingi komplek ini."
\*\*\*\*\*\*
__ADS_1
Maaf ya baru up, mak othornya tumbang🤧 Yuk jejaknya jangan lupa yaa!!