
"Kamu duluan!"
"Kakak duluan!"
Lagi-lagi keduanya mengucapkan kalimat yang sama dan serentak. Hingga mereka pun tertawa bersama.
"Ladies first!" ucap Daffa setelah Ia menghetikan tawanya.
"Nggak! Kakak aja dulu." balas Vani. Ia akan membiarkan terlebih dahulu sang pria yang menjadi kekasihnya itu memulai apa yang ingin Ia katakan.
"Emm ... Oke Kakak duluan." timpal Daffa dan disambut senyuman oleh gadis cantik itu.
Terlihat helaan napas gugup dari bibir pria tampan itu. Sepertinya Ia tengah menyiapkan mental untuk menghadapi segala konsekuensi dari apa yang akan Ia ucapkan.
"Emm ... Apa kamu bersedia untuk bertunangan dengan Kakak?" Pertanyaan yang sudah dapat ditebak oleh Vani akhirnya terucap juga dari pria yang begitu tenang itu.
Vani mencoba tersenyum seraya menatap wajah tampan itu. Setampan apapun pria yang kini berada didepannya, ternyata tak membuat Ia bisa membuka hati untuknya.
"Maafin aku Kak!"
Deg!
Daffa sudah tau apa jawaban dari gadis cantik didepannya. Namun Ia tak bisa menyimpulkan sebelum mengungkapkannya. Ia mencoba tersenyum meski ujung hatinya terasa ngilu.
"Aku tau ini pasti membuat Kakak kecewa, tapi aku gak ingin membuat Kakak semakin terluka." tutur Vani dengan hati-hati.
"Aku gak ingin terus memberi harapan yang tak bisa aku lakukan." lanjutnya.
Daffa menunduk seraya memejamkan mata. Ungkapan inilah yang Ia tunggu sedari dulu. Dibalik kata 'Iya' yang gadisnya ucapkan, Ia tau ada kata 'Tidak' yang terselip disana.
Genggaman dari tangan lembut itu membuat Daffa mendongak. "Aku sayang sama Kakak. Tapi rasa itu tak bisa lebih dari seorang adik pada kakaknya." ucap Vani.
Daffa tersenyum seraya membelai rambut sang gadis. "Iya Kakak tau. Justru ini yang Kakak ingin dengar darimu sejak dulu. Kamu selalu bilang iya, padahal hatimu berkata tidak." ucapnya.
"Kakak memang berharap, kamu bisa membuka sedikit hatimu untuk Kakak. Tapi Kakak sadar itu mustahil, hatimu sudah tertata rapih untuk orang lain." lanjutnya.
Vani berhambur memeluk pria tampan didepannya. Menyalurkan rasa terima kasih yang teramat dalam. Terima kasih karena sang kekasih, yang mungkin lebih tepatnya mantan kekasih bisa mengerti akan keadaannya.
"Maafin aku kak, maaf!" ucapnya.
"Gak perlu meminta maaf. Kakak yang seharusnya meminta maaf, sudah membuat kamu merasa tertekan dengan hubungan ini. Maafin Kakak!" balas Daffa.
__ADS_1
Vani sudah tak dapat membendung air matanya yang menggenang, hingga air itu tumpah didada Daffa. Vani menggelengkan kepalanya, menyangkal rasa bersalah yang prianya itu katakan.
"Nggak kak! Kakak gak salah, aku yang salah." lirihnya dengan isak tangis memilukan. Tak dapat dipungkiri rasa bersalah menyeruak dalam hatinya. Namun dibalik itu ada rasa lega yang pudar, rasa yang selama ini mengganjal didadanya.
Daffa hanya menggelengkan kepalanya dengan ikut mendekap erat tubuh ringkih itu, air matanya ikut jatuh seraya menumpahkan sakit yang menghimpit rongga paru-parunya. Namun itu terasa lebih baik baginya. Ia tak ingin terus berada didalam sebuah kepalsuan suatu hubungan, yang justru semakin membuat Ia terluka dan terus merasa bersalah.
Daffa terlebih dahulu melerai dekapannya. Menghapus jejak kebasahan yang begitu berantakan dipipi mulus itu.
"Udah jangan nangis lagi. Kamu makin cantik kalo nangis. Kakak kan jadi gak rela buat lepasim kamu." kekehnya. Vani mencoba tersenyum menanggapi hal itu.
"Kelihatan banget ya, mau lepas dari Kakak. Ampe dengan cepat senyum lagi." goda Daffa, hingga sang gadis berdecak. Daffa tergelak menanggapi hal itu.
"Udah gak usah ketawa, aku jadi makin pengen lari dari Kakak." goda balik Vani, lalu ikut tergelak kala tarikan hidung Ia dapat dari pria didepannya.
Keduanya tergelak bersama, meredam rasa yang sempat menyesakan dada keduanya. Interaksi dimana mereka baru kembali merasakan itu. Pasalnya semenjak hubungan mereka berubah status menjadi pacaran, interaksi itu berubah menjadi canggung.
Satu tahun mereka bertahan dengan hubungan yang sebenarnya tak perlu mereka jalani. Hubungan kakak beradik justru lebih tepat untuk mereka berinteraksi dengan baik.
'Ini bahkan lebih baik. Aku bisa melihat sosok dirimu yang sebenarnya.' batin Daffa tersenyum.
"Makasih ya, Kak!" ucap Vani.
"Untuk segalanya." balas Vani, hingga Daffa pun terkekeh.
"Udah berhenti bilang itu. Tau gak? Kata itu selalu bikin Kakak nyesek." ucap Daffa seraya memegang dadanya dramatis.
Hal itu sukses dapat tampolan dari sang gadis dengan decakan yang disertai kekehan. Daffa kembali tertawa.
"Jadi kita putus nih?" tanya Daffa memastikan disertai kekehan dan hanya dijawab gedikan bahu oleh Vani dengan senyum ledekan.
"Aishhh! Bukan putus ya, tapi Kakak ditolak." lanjut Daffa hingga Vani kembali tertawa.
"Aku doain, Kakak dapat gadis yang baik, yang bisa mencintai Kakak dengan tulus." ucap Vani mendoakan.
Daffa tersenyum menanggapi itu. Meski tak dipungkiri, doa itu bukan membuat Ia bahagia justru membuat Ia sakit. Namun Ia berusaha baik-baik saja didepan sang gadis. Adakah yang benar tulus mencintainya?
"Ya udah masuk, gih! Udah malam." titah Daffa seraya melirik jam dipergelangan tangannya.
"Gak mau mampir dulu? Keknya Sofi udah dirumah tuh." tawar Vani dan dibalas gelengan kepala oleh Daffa.
"Nggak ah, takutnya ntar berubah pikiran." kekeh Daffa, hingga Vani ikut terkekeh.
__ADS_1
Setelah berpamitan Vani pun turun dari mobil dan berjalan memasuki ruamahnya. Daffa terus menatap sang gadis hingga hilang dibalik pintu rumah sederhana itu.
Helaan napas panjang terdengar dari bibir pria tampan itu. Ia mengadahkan sejenak kepalanya pada kursi kemudi, mencoba menetralkan rasa pusing yang tiba-tiba menyerang kepalnya.
"Ya Tuhan, apa harus sesakit ini?" tanyanya bermonolog sendiri, seraya memegang dadanya yang sesak. Air matanyanya pun luruh begitu saja.
Tak ingin membuat sang gadis khawatir, Ia pun segera menyalakan mesin mobil dan melesat meninggalkan tempat itu. Tujuannya sekarang bukan rumah, tapi tempat dimana Ia bisa menenangkan diri. Ia mengirim pesan pada seseorang untuk menemaninya, sebelum melajukan kendaraannya.
**
Air merah dengan aroma pekat dalam botol dituangkan Daffa pada tiga gelas kecil yang tersedia. Kedua sahabatnya mengerenyit heran dengan kelakuannya.
"Kenapa?" tanyanya merasa heran, seraya mengangkat gelas itu.
"Are you oke?" tanya balik Putra. Pasalnya ini kali pertama, sahabatnya itu mengajaknya minum.
"Bukannya kita belum pernah melakukan ini? Malam ini kita habiskan malam kita dengan ini." balasnya seraya mengangkat gelas ditangannya dan menegaknya habis.
"Aku gak bisa minum itu." timpal Aska.
"Ayolah! Kita udah dewasa, minum sedikit tak akan membuat kita mabuk" balas Daffa, seraya menuang kembali minuman itu dari botolnya dan kembali menegaknya.
"Ayo Kak, cobalah! Ini gak seburuk yang kita kira." ucapnya seraya menyodorkan gelas berisi air itu. Aska menahan gelas itu dan enggan mengambilnya.
Daffa pun menyodorkan gelas itu pada Putra. Dengan terpaksa Putra mengambilnya dan menegaknya. Daffa pun tersenyum seraya menuang kembali pada kedua gelas kosong itu dan kembali menegaknya.
"Segelas aja kak! Minumlah untukku!" bujuk Daffa yang sepertinya mulai kehilangan kesadaran.
"Maaf Daf, aku gak bisa. Aku sudah berjanji pada kedua orangtuaku gak akan pernah nyentuh itu." balas Aska.
Daffa tersenyum, bahkan tertawa mendengar itu. Aska dan Putra saling melirik melihat tingkah sahabatnya yang tiba-tiba aneh menurutnya.
"Iya benar. Itulah bedanya aku dan kamu, Ka! Kamu selalu tepati janji-janjimu. Sedangkan aku, untuk melindungi seorang gadis saja aku tak bisa melakukan itu."
******
Ayo kencengin like dan komennya! tabur bunga biar semerbak wangi😆
Ada yang mau mas Daffa??🙈
__ADS_1