
"Emm ... Ini enak banget!" pekik Vani dengan girang. Ia begitu bersemangat melahap makanan yang dihidangkan ibu mertuanya.
Bahkan wanita itu melupakan kedua orang yang kini tengah menatap dirinya dengan wajah-wajah bingung. Aska melongo menatap sang istri yang begitu menikmati makanan yang Ia inginkan. Melihat cara makan sang istri yang nampak rakus sungguh membuat pria itu kenyang seketika.
"Aka, kenapa gak makan? Timom juga?" tanya Vani, menghentikan sebentar kunyahannya.
"Kamu beneran lapar Van?" tanya balik timom dengan tatapan yang masih sama.
"Iya, mom. Ini enak! Boleh aku abisin?" tanyanya.
"Iya, tentu. Boleh dong! Makan yang banyak ya, timom seneng lihatnya." balas timom berusaha tersenyum, meski dengan pikiran bingung.
"Aka kewapa da mwakan?" tanya Vani dengan mulut yang penuh makanan.
"Jangan ngobrol, Ay! Ntar keselek. Ini aka juga mau makan." peringat Aska dan hanya dibalas senyum oleh sang istri yang tak henti mengunyah itu.
"Kalian makan ya, timom mau anterin dulu makan buat papih." pamit timom, setelah menyiapkan makanan untuk suaminya diatas nampan.
"Emang papih kenapa mom?" tanya Aska heran.
"Biasa, encok papih kumat. Habis timom olesin salep tadi." kekeh timom.
"Eumm, pasti si papih gak kira-kira itu. Makin berumur, makin tegang segalanya kek nya ya?" kekeh Aska. Timom tergelak mendengar penuturan putranya itu.
Berbeda dengan Vani yang hanya tersenyum seraya menghentikan kunyahannya. Timom pun bergegas pergi menuju kamarnya, menemui pria paruh baya didalam sana uang dipastikan sudah merajuk tak terkira.
"Kak cobain ini!" Vani mengangkat sendok ditangannya, ingin menyuapi sang suami.
Aska tersenyum, Ia hendak menerima suapan itu. Namun tiba-tiba Ia mengingat jika makanan itu pastilah pedas. Hingga Ia pun menghentikan sendok yang hampir mencapai bibirnya itu.
"Nggak Ay, ini pasti pedes!" tolak Aska halus.
"Nggak kak, ini gak pedes 'kan cabenya cuma satu. Cobain deh!" bujuk Vani.
Dengan ragu Aska membuka mulutnya untuk menerima suapan itu. Tiba-tiba saja matanya membelakak. Kemudian dengan cepat Ia berlari dan memuntahkan makanan yang menyengat dilidahnya itu kedalam washtaple.
"Ya ampun, aka kenapa?" tanya Vani khawatir ketika Aska kembali duduk seraya mengambil air putih, kemudian menegaknya.
"Huh~ Hah~"
"Pedes, Ay!" desis Aska seraya mengibaskan tangan di depan mulutnya itu.
Aska yang tak pernah makan pedas, tentu saja langsung merasakan terbakar diarea mulutnya. Vani segera berlari kedapur, menuangkan air hangat dari termos, lalu membawanya menuju sang suami.
"Ini kak, minum dulu!" titahnya.
__ADS_1
"Tapi ini panas Ay." protes Aska.
"Nggak kak, aku kasih air dingin dulu dikit jadi anget. Dijamin pedasnya pasti hilang." jelas Vani.
Meski ragu, Aska pun mencoba saran sang istri. Diawal bibir dan lidahnya terasa tersengat, namun dua kali seruputan rasa pedas itu pun benar saja menghilang.
"Gimana?" tanya Vani memastikan.
"Iya, Ay benar. Pedasnya udah hilang." balas Aska merasa tak percaya.
"Tuh 'kan apa kubilang." kekeh Vani.
Keduanya tertawa sebelum akhirnya kembali melanjutkan makan siang mereka.
**
"Kok kesini? Ini bukan arah jalan ke kantor kak?" tanya Vani heran.
Aska tersenyum, "Aka mau kesuatu tempat dulu." balasnya.
Vani hanya ber 'oh ria', hingga kedua alisnya bertaut bingung akan arah yang mereka tuju.
"Kita ngapain kesini kak?" tanya Vani heran, kala kijang besi yang keduanya tumpangi sampai di sebuah tempat yang tak begitu jauh dari rumah timom.
Tangannya dengan sigap mengecek suhu pada dahi pria yang kini terus menyunggingkan senyum padanya. Bahkan seluruh wajah Aska mejadi sasaran tangan lembut itu.
Aska meraih tangan yang bertengger diwajahnya, "Aka gak apa-apa. Ada sesuatu yang ingin aka cek disini." jelas Aska, "ayo!" lanjutnya mengajak sang istri untuk turun dari mobil.
Meski dengan wajah yang masih terlihat bingung, Vani mengikuti gerakan sang suami keluar dari sana. Aska segera menggandeng tangan sang istri untuk memasuki bangun tinggi bercat putih dihadapannya.
Aroma menyengat dari obat-obatan mulai tercium, kala keduanya sampai diruangan nan luas itu. Aska menyuruh sang istri untuk duduk sikursi tunggu. Sementara itu, dirinya berlalu menuju meja pendaftaran.
Vani semakin dibuat bingung. Apa mungkin suaminya baik-baik saja, sementara mereka menyambangi tempat itu? Terlebih lagi, Aska langsung mendaptar tanpa Ia tau poli apa yang akan mereka kunjungi.
"Kak, serius deh aku nanya. Aka sakit 'kan?" tanya Vani semakin khawatir, ketika Aska mendaratkan bokong disampingnya.
Aska tersenyum, tangannya bergerak mengusek pucuk kepala sang istri. "Aka gak apa-apa, serius!" sangkalnya.
"Kalo gak apa-apa, kenapa kita kesini?" tanya Vani.
"Aka cuma mau mastiin sesuatu aja, Ay!" balas Aska dengan tangan membereskan rambut yang sedikit berantakn itu.
Ketika Vani hendak berkomentar, suara seseorang menghentikan gerakan bibirnya.
"Nyonya Vani!" ucap salah satu petugas dari meja pendaftaran itu.
__ADS_1
Tentu hal itu membuat alis Vani menaut semakin heran. Kenapa suaminya itu mendaftarkan dirinya? Pikinya.
"Ayo!" Lamunan Vani buyar seketika dengan suara Aska yang mengajaknya berdiri.
Vani hanya pasrah mengikuti sang suami yang menggandeng tangannya. Setelah mendapatkan surat dari pendaftaran, kini pasangan itu berjalan menuju sebuah poli yang berada di dilantai dua. Hingga mereka pun memasuki lift untuk sampai ditempat tersebut.
Senyum mengembang terus ditampilkan Aska. Tak ada penjelasan apapun dari pria tampan itu, namun Vani sudah tak ingin menanyakan hal yang sama lagi. Ia hanya mengikuti semua instruksi dari suaminya itu tanpa protes.
Tring!
Pintu lift terbuka, Aska kembali berjalan menggandeng tangan Vani hingga berhenti didepan sebuah pintu. Vani semakin menautkan alisnya bingung kala ia membaca tag yang tergantung diatas poli itu.
"I-ini?" Baru saja wanita itu hendak protes, Aska segera membawanya masuk kedalam ruangan itu.
"Selamat siang, tuan, nyonya! Ada yang bisa saya bantu?" tanya seorang wanita berjas putih, setelah mereka mendudukan diri dikursi dihadapannya.
"Siang juga, Dok! Jadi kami datang kesini ingin berkonsultasi. Beberapa hari ini banyak perubahan dari istri saya, seperti napsu makan yang meningkat, mood yang tak stabil, serta bulan ini istri saya sudah tidak mendapatakn tamu bulanannya." jelas Aska.
Sontak saja hal itu membuat Vani shok. Sedetail itukah sang suami memperhatikannya? Bahkan Ia lupa jika bulan ini belum mendapat tamu bulanan yang dimaksud.
Sang dokter tersenyum. Jarang sekali ada pasien yang berkonsultan, namun suaminya yang menjelaskan. Se perhatian itukah sang pria pada istrinya?
"Mungkinkah istri saya tengah memasuki masa kehamilan?" tanya Aska.
Vani menutup mulutnya mendengar pertanyaan Aska. Ia benar-benar tak menyadari hal itu.
"Mendengar dari tanda-tanda yang anda jelaskan. Kemungkinan apa yang anda pikirkan itu benar. Namun untuk lebih jelasnya, kita bisa melakukan tes terlebih dahulu." jelas sang dokter, kemudian mencari sesuatu yang Ia butuhkan.
Vani masih menatap tak percaya dengan berbagai pikiran yang melayang pada beberapa hari kebelalang, hingga genggaman tangan menyadarkannya.
"Jangan takut, Ay! Apapun hasilnya, kita harus terima." ucap Aska menyemangati. Vani tersenyum seraya menganggukan kepala.
"Mari, nyonya!" sang dokter mengajak Vani untuk pergi ke kamar mandi.
Setelah kepergin kedua wanita itu, wajah Aska berubah khawatir. Hatinya berdebar dengan kabar apa yang akan Ia dengar. Sesungguhnya ia begitu mengharapkan kehidupan baru hadir dirahim sang istri. Namun balik lagi, apapun hasilnya ia akan coba terima.
"Bagaimana dok?" tanya Aska dengan wajah harap-harap cemas. Begitupun Vani yang memperlihatkan wajah yang sama.
Sang dokter menatap sepasang suami istri itu bergantian, kemudian senyumnya mengembang menatap keduanya.
"Selamat tuan, istri anda positif hamil!"
\*\*\*\*\*\*
Ayo pada kirim hadiah sini, buat si dede utun🤭 kembang sekebon boleh tuh😁
__ADS_1