Bossku, Jodohku!

Bossku, Jodohku!
Melindungi


__ADS_3

Riska menutup mulutnya merasa tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Air bening dari ujung matanya kembali jatuh. Ia bingung dengan keadaannya sekarang dan melihat pria itu, sungguh hal itu membuat Ia frustasi.


Pria itu membukakan matanya yang terasa sepet. Ia berjalan mendekat dan duduk ditepi ranjang disamping gadis itu.


"Kamu gak apa-apa?" tanyanya.


Bukan menjawab Riska hanya menatap pria itu dan semakin mengencangkan tangisnya. Ia pukuli dada polos sang pria, dengan mengumpat kesal padanya.


"Kakak jahat! Kakak kenapa lakuin ini sama aku? Kenapa Kakak tega? Aku masih sekolah. Kakak jahat! Kakak jahat!" teriak Riska menumpahkan kekecewaannya.


Daffa segera meraih tubuh kecil sang gadis dan merengkuhnya. "Heii ... Kamu salah paham. Kakak sama sekali gak ngapa-ngapain kamu. Beneran!" ucapnya menenangkan.


Namun Riska masih histeris dengan terus melayangkan pukulan padanya. Bahkan gadis itu seolah tak mendengar penjelasnnya.


Ya, pria itu adalah Daffa. Malam itu, Ia yang ingin menyusul sang gadis ke toilet, karena khawatir sang gadis tak kunjung kembali. Justru mendapati sang gadis yang dipapah seseorang dengan keadaan sempoyongan. Ia mengikuti langkah mereka hingga Ia dibuat terkejut melihat kemana arah pemuda itu membawa sang gadis.


Dengan langkah cepat Daffa menyusul mereka menuju sebuah kamar dihotel itu. Baru saja pemuda itu membuka kamar, Daffa sudah lebih dulu menyusulnya.


"Breng sek!!"


Tanpa aba-aba, Daffa langsung melayangkan bogeman mentah pada pemuda itu. Ternyata pemuda itu adaah Leon. Leon tersungkur, hingga Riska terlepas dari rangkulannya. Dengan sigap Daffa menangkap tubuh sang gadis.


Melihat Leon yang hendak melawan, Daffa segera merebahkan Riska diranjang king size itu . Perkelahian pun tak dapat dihindari, adu tonjok dan adu umpatan pun dilayangkan dari keduanya. Hingga pada akhirnya Leon kalah telak oleh Daffa dan memilih meninggalkan tempat itu.


Setelah kepergian Leon, Daffa hendak membawa Riska untuk pulang. Nanun hal tak diduga didapatinya. Daffa yang hendak membangunkn tubuh sang gadis, justru harus terjerambab dan menubruk tubuh gadis itu hingga menindihnya, kala tangan Riska memeluk tubuh tegapnya.


"Aku mau kamu!" ucapnya berdesis seraya tangan lembut itu mencegkram kuat punggung Daffa.

__ADS_1


Daffa membolakan mata seraya menelan salivanya kuat-kuat mendapati perlakuan itu. Ia mencoba melerai pelukan itu, hingga harus sedikit memaksa untuk melepas tangan halus sang gadis.


"Kamu kenapa?" tanya Daffa menangkup pipi sang gadis, setelah Ia dapat terlepas dari pelukan itu.


Riska menyeringai dengan tatapan sayu penuh gairah. Ia balik menangkup kedua pipi Daffa. "Kakak! Sentuh aku, Kak! Aku menginginkannya." racaunya.


Tanpa aba-aba gadis yg terlihat liar itu menarik kepala Daffa dan menyambar bibirnya.


Deg


Daffa terpaku sejenak. Ia begitu shok dengan perlakuan gadis itu. Gadis itu dengan rakus menguasai bibirnya. Ia segera tersadar dan melepaskan tangan sang gadis.


"Kamu minum minuman itu ya?" tanyanya dengan bentakan.


"Iya, Kak. Aku minum itu dan rasanya enak kok . Tapi tubuhku rasanya panas. Aku pengen sentuhan Kakak." racaunya yang kembali menarik kepala Daffa hingga bibir mereka kembali bertemu.


Bohong jika Daffa tak merasakan aneh pada tubuhnya sendiri, benda berharganya sudah ikut menegang dibawah sana mendengar suara sexy yang terus terlantun dari bibir manis itu. Namun sekuat tenaga Ia mencoba menahannnya. Hati kecilnya menolak keras untuk melakukan apa yang diinginkan jiwa liarnya pada gadis yang hilang kesadarannya itu.


Daffa menggendong Riska ala brigde style menuju kamar mandi. Meski tangan Riska tak mau diam menjamah seluruh bagian tubuhnya, bahkan tak henti men cum bu area lehernya. Namun Daffa mencoba bertahan dengan imannya.


Ia mendudukan sang gadis dibawah pemandian. Meski Riska memberontak, dan hendak terus menyerangnya. Daffa tak kalah cepat dan segera menyalakan shower, hingga tubuh keduanya basah. Riska menjerit, kala air dingin menjalari kulitnya.


Daffa sengaja menggunakan air dingin untuk menghilangkan kecemasan yang sepertinya pengaruh dari sebuah obat. Meski Ia baru kali ini diposisi seperti itu, namun Ia pernah mempelajarinya dulu. Cara merehabilitas seseorang dari pengaruh obat-obatan dan semacamnya.


"Aaaaa dingin. Hentikan dingin!" jerit Riska hendak kabur, namun Daffa terus berusaha menahannya.


Dan tak lama kemudin, Riska pun menggigil dengan terus bergumam menyuruhnya untuk menghentikan air itu. Suara lirih, menandakan bahwa pengaruh obat itu kemungkinan sudah menghilang. Ia pun menghentikan air itu dan mencoba membangunkan sang gadis.

__ADS_1


Meski ragu, namun Ia harus melakukn itu. Ia buka seluruh kain basah yang melekat ditubuh sang gadis. Hingga gadis itu polos tanpa busana. Ini adalah pertama kali Ia melihat tubuh polos wanita didepan matanya. Ia terus berusaha menekan jiwa kelelakiannya dan segera membungkus tubuh itu dengan bathroob yang tersedia disana. Ia pun sama, menanggalkan seluruh kain ditubuhnya dan menyisakan boxer yang membungkus benda berharganya saja.


Daffa menggendong gadis itu dan mendudukannya diatas ranjang. Riska meringkuk dengan tubuh bergetar hebat. Daffa pun segera mengmbil handuk kecil dan membantu mengeringkan rambutnya. Setelah dirasa cukup, Ia membaringkan sang gadis dan membungkusnya dengan selimut.


"Bbbrrr di-dingin, Kak" cicitnya.


Daffa ikut berbaring dan memeluk tubuh yang berbalutkan selimut, yang masih bergetar itu.


"Tidurlah! Pejamkan matamu! Kakak akan menjagamu." titahnya.


Lambat laun Riska pun mulai memejamkan mata. Terlihat dari tubuh itu yang sudah berhenti bergetar, Daffa meyakini jika gadis itu sudah terlelap.


Ia bangkit dari posisinya. Lalu melihat jam dipergelangan tangannya, waktu sudah menunjukan pukul satu malam. Ia tak mungkin membawa sang gadis pulang dalam keadaan seperti ini.


Daffa pun berlenggang mengambil tas sang gadis yang tergeletak dilantai, mencari ponsel untuk menghubungi mamih sang gadis. Dan benar saja, baru juga Ia buka layar yang tak terkunci itu, deretan pnggilan tak terajwab tertera dari nomor yang ia yakini ibu dari sang gadis.


Ia pun mengetikan sesuatu didalam layar itu dan mengirimnya pada nomor tersebut.


"Smoga ini gak jadi kesalah pahaman panjang. Maafin Kakak Ris, Kakak gak bermaksud berbuat gak sopan karena sudah berani melihat tubuhmu. Kakak hanya ingin membantumu." ucapnya seraya membelai rambut gadis yang terlelap itu.


Spontan Ia pun mengganti panggilan 'saya' yang selalu Ia sematkan menjadi 'kakak'. Ada rasa ingin selalu melindungi gadisnya itu, meski itu hanya sekedar menjadi seorang kakak.


Ia pun mencari kain yang akan membungkus tubuhnya didalam lemari yang tersedia. Lalu mengambil itu dan menbawanya menuju sofa dengan bantal yang akan digunaknnya. Hingga Ia pun merebahkan diri dan mulai memejamkan matanya.


\*\*\*\*\*\*


Jangan lupakan jejaknya gaiss🤗

__ADS_1


__ADS_2