Bossku, Jodohku!

Bossku, Jodohku!
Bucin


__ADS_3

Brakkk!!!


pibtu terbuka dengan keras membuat pasangan yang tengah menikmati dekapan itu terkesiap. Reflek keduanya menoleh serempak kearah sumber suara.


"Kalian jahat!!!" pekik seorang wanita, si pelaku pembuka pintu tak kira-kira itu.


Seoasang manusia yang masih shok itu menatap tak percaya pada wanita yang memasuki ruangan itu. Wanita cantik itu menekukkan kesal searaya berjalan menghampiri mereka.


Didetik berikutnya Vani tersenyum, lalu melepaskan dekapan dari suaminya itu. Tanpa aba-aba wanita itu menubrukan diri pada tubuh Vani yang belum siap, hingga tubuh keduanya hampir saja kejengkang jika Aska tak menahan mereka.


"Ya ampun de, hati-hati dong!" peringat Aska.


"Apa?" tantang wanita itu. "Aku udah gak dianggap adek lagi keknya." gerutunya.


"Suutt!! Jangan ngomong gitu dong, Kiy!" bujuk Vani pada adik iparnya itu.


"Aku kesel sama kalian. Tega banget sih, masa nikah gak ngasih tau aku." omel Kia.


Wanita hamil itu baru diberitahu mengenai pernikahan sang kakak, sehari setelah acara sakral yang dadakan itu terlaksana.


"Iya. Maaf!" sesal Aska, tangannya terulur mengusap pucuk kepala sang adik.


Kia hanya mencebikan bibir pada sang kakak yang mendadak bwgitu mengesalkan menurutnya.


Vani tersenyum seraya memeluk tubuh Kia yang tadi sempat terlepas itu. "Jangankan kamu yang jauh, Kiy! Aku aja gak tau." celetuknya.


Seketika Kia melepaskn pelukan itu dengan wajah heran dan bingung menatap sahabat yang sekarang sudah menjadi kakak iparny itu.


"Maksudnya?" tanya Kia yang tidak mengerti dengan penuturan yang Vani lontarkan.

__ADS_1


"Aka kamu itu, nikahin aku disaat aku gak sadar." kekeh Vani hingga Kia membelakakkan mata dengan mulut terbuka lebar.


"Kesannya kek dipaksa banget ya?" lanjut Vani tertawa kecil.


Aska ikut teraemyum sefaya mengusek pucuk kepala sang istri. "Tapi ikhlas banget ya?" godanya.


"Banget!" balas Vani.


Keduanya tergelak, menyisakan Kia yang masih mencerna perkataan kakak dan kakak iparnya itu. "Apasih? Maksudnya ini gimana?" tanya Kia kebingungan.


Memanglah gadis itu menuruni beberapa sifat sang timom. Seperti berpikir sedikit lemot seperti ini dan khas cerewet yang begitu sama dengan timomnya.


"Maksudnya, aka nikahin aku saat aku gak sadar. Tau-tau pas bangun udah jadi istrinya." kekeh Vani.


"Isshh, aka gak gentel banget sih. Masa cewek lagi gak sadarkan diri dinikahin." protes wanita cerewet itu.


"Gak apa-apa de. Lagian," Aska menjeda kalimatnya sebentar, lalu merangkul bahu istrinya itu.


"Karena itu Aka." sahut Vani tersenyum.


"Dan hanya untukmu." balas Aska yang ikut tersenyum.


Kia menghembuskan napas panjang melihat kebucinan mereka. Bolehkah Ia protes pada mak othor untuk membiarkan dirinya dan sang suami melanjutkan kebucinannya?


"Heleh, bucin." ledek Kia yang mana justru membuat pasangan itu tergelak.


Tok! Tok! Tok!


Ketukan dipintu yang terbuka mengalihkan atensi mereka. Nampaklah seodang pria dengan senyuman tampannya.

__ADS_1


"Assalamualaikum!"


"Waalaikumsalam!"


"Om!" sapa Aska, yang langsung dapat tpolan dilengan dari sang adik.


"Ihhh aka, dibilangin jangan 'om' masih aja ngeyel." omel Kia.


"Cuma aku yang-" belum selesai ucapan Kia, Aska sudah menyelaknya terlebih dahulu.


"Boleh memanggil Om." selak Aska, hingga membuat Kia mencebikan bibir.


"Iya deh, aka ganti." ucap Aska mengalah. "Enaknya apa ya, om?" tanya Aska, ketika Rei mendekat kearah mereka.


"Udah dibilang jangan om!" Lagi-lagi Kia protes kala panggilan itu kembali disematkan sang kakak untuk suaminya itu.


Melihat sang kakak yang begitu mesra, Ia pun tak mau kalah. Ia segera mendekat kearah sang suami seraya menggandeng lengannya manja.


Aska terkekeh melihat tingkah sang adik. "Iya deh iya." balasnya.


"Bang!" panggilan Aska pada Rei sukses membuat Kia tergelak. Entah kenapa panggilan mengingatkan Ia pada sang papih.


"Ya mpun de, terus aka panggilnya apa?" protes Aska.


"Udah-udah, panggilan aja direbutin." lerai Rei. "Udah sebiasa kamu aja kak." sambugnya.


Vani hanya menggelengkan kepala menanggapi itu. Sungguh Ia begitu merindukan masa itu. Masa dimana kakak beradik itu adu argumen.


\*\*\*\*\*\*

__ADS_1


Jangan lupa jejaknya yaa🤗


__ADS_2