
Vani tertawa mendengar suara lirih sang kekasih tanpa ingin menjawab. Ia membantu sang kekasih bangkit dari tidurnya dan memberikan air mineral yanng Ia bawa tadi.
"Ahh~" terdengar helaan napas panjang dari pria yang berhasil menegak satu botol air penuh, berukuran dua ratus lima puluh mili liter itu.
Vani menatap tak percaya sang kekasih dapat menegak habis air yang Ia beli tadi. Aska terkekeh melihat ekspresi gadisnya itu.
"Kamu sih bikin Aka haus." celetuk Aska.
Vani menautkan alisnya tak mengerti. "Kok aku?" tanyanya heran.
"Iya kamu." goda Aska, hingga didetik berikutnya Vani pun mengerti dan langsung mendapat tampolan dibahunya.
"Aka ishhh ..."
Aska tergelak, mendengar rengekan manja dari bibir manis itu. Bahkan rasa manis itu masih menempel jelas dibibirnya. Rasa keleyengan dikepalanya hilang seketika, terobati dengan aktifitas yang sudah menjadi candu untuknya itu.
Keduanya terus bercanda dan bercerita masa tumbuh mereka. Dimana banyak hal yang menjadi alasan mereka bisa terpisah dan hilang kontak.
"Ini udah sore, kok kamu gak tidur?" tanya Aska yang masih heran dengan tidur dadakan yang selalu gadisnya itu lakukan.
Vani tersenyum, "aku cuma tidur kalo aku telat makan siang." balas Vani.
"Kenapa bisa gitu?" tanya Aska heran.
"Entah, aku juga gak tau. Waktu pemeriksaan dokter juga gak ada yang salah pada tubuhku." jelas Vani.
"Mungkin itu cara tubuh mengingatkanmu untuk gak lupain makan siang." balas Aska.
"Entahlah mungkin. Hanya tubuhku dan mak othor lah yang tau." jelas Vani lagi dan disambut gelak tawa mereka.
Selain candaan, mereka juga membahas tentang Daffa dan tante Rita. Satu rintangan yang benar-benar harus mereka hadapi. Harus ada rencana yang benar-benar matang untuk melewati segala konsekuensi yang kemungkinan akan terjadi.
"Jadi aka akan bicara sama tante Rita?" tanya Vani dan diangguki Aska.
"He'em!"
__ADS_1
Kini kedua sejoli itu tengah merebahkan diri diatas hamparan rumput hijau nan empuk ditempat Aska berbaring tadi. Menikmati langit senja yang mulai menguning.
"Tapi bagaimana dengan keadaannya? Apa tante Rita akan baik-baik aja?" tanya Vani merasa khawatir.
Aska menolehkan wajahnya menatap sang gadis dan tersenyum. Sungguhlah Ia begitu bangga pada gadis yang kini menjadi kekasihnya. Kelapangan hati dan segala ketulusannya, membuat Aska benar-benar telah jatuh cinta padanya.
Ia merapihkan anak rambut sang gadis, hingga Vani ikut menolehkan wajahnya dan menatap pria disampingnya itu.
"Yakinlah! Semua akan baik-baik aja. Niat kita baik, pasti Tuhan akan memberikan jalan yang terbaik." tutur Aska begitu bijak.
Vani ikut tersenyum menatap sang kekasih. Sungguhlah hatinya begitu tenang. Jujur, yang Ia takutkan hanya satu. Dan itu adalah keadaan tante Rita. Ia begitu takut akan terjadi sesuatu pada wanita baik itu. Namun Ia juga tak ingin melepaskan cintanya lagi.
**
"Padahal gak perlu dianter juga. Kek kemana aja?" kekeh Vani ketika sang kekasih memaksa untuk mengantarnya sampai didepan ruangan sang papa.
"Perjalanan kamu masih beberapa meter. Entar ditengah jalan, kamu digondol orang." balas Aska ikut terkekeh.
Keduanya tertawa sembari berjalan beriringan dikoridor penghubung yang akan membawa mereka menuju tempat tujuan. Hingga langkah mereka pun berhenti tepat didepan pintu putih.
"Mau masuk dulu?" ajak Vani.
Vani meraih handle pintu untuk menggeser benda tersebut. Keduanya pun siap memasuki ruangan itu dengan salam yang mereka lantunkan. Namun siapa sangka, ucapan mereka harus terpotong kala netra sejoli itu menangkap beberapa orang didalam sana.
Kedua manusia yang hendak masuk itu merasa shok bukan main. Ada sekitar sembilan orang yang sepertinya tengah menunggu mereka disana. Seluruh atensi didalam mengarah pada sejoli itu.
Ketakutan mulai menjalari hati gadis cantik itu, ketika netranya menangkap sosok pria paruh baya, dengan peci dan pakaian formalnya. Kemudian kedua orang yang sejak pagi ingin sekali Ia hindari turut hadir disana.
"Vani? Aka?!" sapa mama Lia menyadarkan lamunan gadis cantik itu. "Sini!" ajaknya.
Aska meraih tangan sang gadis dan hendak melangkahkan kakinya kedepan. Namun tanpa diduga Vani tak bergerak sama sekali dari posisinya itu. Ia masih terdiam, menatap nanar pada sang mama yang seolah memberi kode untuknya mendekat. Dari tatapan itu terlihat jelas raut wajah sang mama yang sepertinya telah menangis.
Vani perlahan memundurkan langkahnya, hingga Aska ikut menoleh kala tangannya ikut terseret kebelakang. Tanpa kata, Ia melepaskan tangan Aska dan lari meninggalkan tempat itu.
"Sayang!"
__ADS_1
"Vani!"
"Ila!"
Teriak semua orang disana memanggil gadis cantik itu. Aska menatap sejenak kearah semua orang, lalu nertanya menatap sang papih yang memeberi kode padanya. Tanpa berpikir panjang, Ia segera mengejar sang gadis yang entah berlari kearah mana.
"Sayang! Vani, tunggu!" teriak Aska memanggil sang gadis yang terlihat kian menjauh.
Vani terus berlari dengan perasaannya yang kacau. Setelah menunggu lift yang tak kunjung juga terbuka, Ia memilih tangga darurat sebagai tujuannya. Tanpa Ia sadari, Ia berlari naik keatas. Entah kenapa Ia memilih naik kebagian lantai paling tinggi bangunan itu.
Aska terus mengejar dengan tak henti memanggilnya. Dengan napas terengah-engah Aska tak menghentikan kakinya untuk tetap berlari melewati satu persatu anak tangga. Bahkan dengan langkah kakinya yang panjang dua sampai tiga anak tangga Ia lewati.
"Sayang! Hah~ hah~ berenti! Aka cape!" panggilnya dengan napas yang sudah senen kemis.
Sepertinya sang gadis tak mendengarnya dan masih tetap berlari. Hingga akhirnya Aska dapat mengejarnya setelah gadis itu sampai di luar rooptof.
Aska memeluk gadisnya dari belakang, dengan napas yang masih terengah-engah. Ia dapat merasakan getaran hebat dari tubuh sang gadis. Ia balikan tubuh itu dan menangkup wajah sang gadis yang tak mengeluarkan suara, hanya setetes air mata saja yang keluar.
Aska yang merasa khawatir, segera memeluk tubuh yang tak berhenti bergetar itu. Lalu membelai sayang surai hitamnya.
"Menangislah! Jangan ditahan!" titahnya seraya menciumi rambutnya.
Akhirnya suara itu keluar begitu lirih, hingga terdengar mampu menyayat hati. Namun itu lebih baik menurut Aska. Melihat sang gadis sebelumnya, lebih menyakitkan baginya. Ia meyakini tangisan dalam diam teramat menyesakan daripada tangis pecah yang ditumpahkan.
"A-aku mencintaimu kak. A-pa itu salah?" tanya Vani dengan suara tersendat-sendat disela tangisan itu.
"Nggak! Itu gak salah. Aka lebih mencintiamu." balas Aska. Tangis Vani kian pecah, bahkan suaranya semakin kencang. Seraya menumpahkan semua sesak didadanya.
Ternyata adegan itu menjadi tontonan orang-orang yang tadi didalam ruangan sang papa. Tanpa sejoli itu tau, mereka mengikuti hingga sampai diatas bangunan itu.
Semua orang disana begitu terharu dengan pasangan itu. Mereka dapat melihat kesungguhan dan cinta dari keduanya.
"Aska! Vanilla!"
\*\*\*\*\*\*
__ADS_1
Maaf ya, aku lupa nginggetin buat siapin tissue😂
Yuk jejaknya jangan lupa ya🤗