Bossku, Jodohku!

Bossku, Jodohku!
Tergoda


__ADS_3

Satu tangan Aska melepaskan genggaman itu dan beralih mengahapus jejak memanjang dipipi cantik itu.


"Kamu boleh cerita kapanpun saat kamu siap, ya!" titahnya dengan senyum yang membuat hati Vani menggangat.


Tak berselang lama pesanan pun datang. Mereka pun melupakan kesedihannya sejenak untuk menikmati makanan yang tersaji.


"Pasti tempat ini spesial untuk aka." ucap sang gadis disela makan mereka.


"Tentu. Tempat ini menajdi spesial dengan orang yang spesial." balas Aska dengan senyuman manis yang tak pernah luntur.


Vani terkekeh seraya menggelengkan kepalanya. Sungguh tak menyangka pria dihadapannya bisa menggombali seorang gadis. Mungkinkah Ia sering melayangkan gombalan pada gadis lain? Pikirnya.


"Isshh! Manis banget." ledek Vani. Aska pun tertawa kecil menanggapi itu.


"Kek nya pinter banget gombal ya? Hmm ... Pasti ceweknya banyak." lanjutnya dengn ledekan yang sama.


Aska kian tergelak menanggapi itu. Ia memang suka bersikap manis pada siapapun, namun soal urusan cinta ini benar-benar pertama untuknya.


"Apa menurutmu itu gombal?" tanya Aska menaikan satu alisnya.


"Mungkin!" kekeh Vani hingga keduanya tertawa.


Keduanya terus berbincang, membahas masa kecil yang tersimpan apik dimemori mereka. Mengenang masa dimana mereka jauh dan saling meindukan. Hingga tak terasa acara makan siang pun berakhir. Keduanya kembali ke kantor untuk kembali pada aktifitas mereka.


**


Sore pun tiba, para karyawan sudah siap untuk pulang. Vani dan sahabat cerewetnya tengah berjalan beriringan diloby. Mereka harus pulang lebih akhir karena tugasnya yang lambat selesai. Hingga mereka harus pulang dengan keadaan kantor yang sudah kian sepi. Langkah kedua gadis itu terhenti kala seorang wanita mengahadang jalan mereka.


"Ada apa ya mbak?" tanya Vani heran.


"Gak usah so manis. Dasar munafik!" ucap sang wanita dengan nada sinis.


"Eh mbak, itu lambe tolong dijaga ya!" sungut Sofi yang tak terima wanita itu bicara seenaknya. Apalagi itu menyangkut sahabatnya, tentu Ia tak terima.

__ADS_1


"Kenapa? Emang bener kan? Sebaiknya kalian gak usah banyak tingkah disini. Kalian tuh cuma anak magang yang belum tentu bisa kerja disini." sindir si wanita bernama Juwita itu.


"Kecuali ... Kalian memang beniat menggoda boss kita." lanjutnya dengan seringai diujung bibirnya, dengan menatap remeh pada kedua gadis itu.


Vani tersenyum manis, sangat manis. Hingga membuat wanita itu keheranan dan bersiap untuk membalas ucapan sang gadis. Ia yang pernah mendapat senyuman seperti itu tentu harus mempersiapakan kosa kata untuk membalas setiap ucapan dari gadis yang membuat Ia iri itu.


Bagaimana tidak? Ia yang sudah melihat beberapa kali sang gadis bersama bossnya keluar dari mobil yang sama, tentu merasa tak terima. Ia yang sudah lama memendam rasa pada sang atasan yang terlampau tampan itu, tak pernah mendapat lirikan apapun darinya.


Dan sekarang? Dengan mudahnya gadis baru, seorang anak magang bisa menggoda sang boss. Tentu hal itu membuat Ia meradang merasa iri dan tersaingi.


"Mbak tau? Bukan si boss yang tergoda oleh saya. Tapi saya, yang tergoda olehnya." ucapan Vani suksed membuat sang wanita tergelak. Apa yang diucapkan sang gadis, begitu terlampau percaya diri menurutnya.


"Hei! Percaya diri sekali kamu. Kalo mau terbang jangan tinggi-tinggi ntar jatoh, sakitnya gak kira-kira." ledek Juwita dengan percaya diri.


"Iya, betul itu mbak! Aku justru lebih suka berjalan dari pada terbang. Karena hidupku sebuah perjalanan bukan sebuah khayalan." balas Vani dengan senyum yang tak luntur dari bibirnya.


Wanita deewasa itu mengerenyitkan dahinya heran. Sepertinya otaknya tak berfungsi dengan baik. Dia yang salah bicara, apa sang gadis yang salah tanggapan? Hingga gelak tawa dari gadis cerewet membuat Ia semakin kebingungan.


"Nih ya, aku jelasin. Maksudnya tuh, hidup itu memang perjalanan, semua manusia itu berjalan gak ada yang terbang. Kecuali ... Mbak kunkun!" jelasnya disertai gelak tawa diakhir kalimatnya. Vani ikut terkekeh dengan penjelasan sahabatnya itu.


Ditengah perdebatan tiga wanita itu, objek pembahasan mereka datang menghampiri. Aska berjalan beriringan dengan sekretaris yang merangkap sahabatnya itu daria arah lift. Suasana yang tadinya riuh, kini senyap seketika.


"Selamat sore, Pak!" sapa Juwita dengan menundukan kepalanya hormat. Kedua gadis itu pun mengikuti pergerakan sang wanita.


"Sore!" balas Aska dengan senyumnya seperti biasa.


"Kita pulang sekarang?" tanya Aska hingga Juwita dibuat salting, kala mendapati uluran tangan dan ajakan dari sang boss.


"Pulang? Bapak ngajak saya pulang bareng?" tanya Juwita memastikan dengan mata berbinar disertai senyum yang menghiasi bibirnya. Aska dibuat keheranan dengan tingkah sang wanita, hingga terlihat jelas lipatan yang kentara didahinya.


"Bukan, maksud saya-" ucapannya terhenti, kala Ia dibuat terkejut dengan tingkah gadisnya.


Vani yang melihat reaksi wanita menyebalkan itu, merasa tak terima. Ada rasa kesal diujung hatinya dengan tingkah menggelikan dari wanita yang terlihat jelas tengah mencari perhatian pada kekasihnya itu. Tanpa diduga Ia meraih lengan sang pujaan, lalu menggandengnya mesra.

__ADS_1


"Tentu. Kita pulang sekarang." balasnya.


Seketika wajah Juwita berubah seratus delapan puluh derajat. Senyum manis itu pun luntur begitu saja. Benarkah apa yang Ia lihat? Sang boss dan gadis itu ...


Aska tersenyum seraya mengusek pucuk kepala sang gadis dengan gemas. Runtuh sudah kepercayaan diri yang dengan susah payah Ia bangun untuk menghadaapi sang boss. Ia yang selalu merasa insecure didepan sang boss tak pernah mengungkapkan apapun atau menyapanya sekalipun.


Dan sekarang dengan percaya dirinya Ia mengira dirinya yang diajak sang boss. Namun ternyata, itu hanya kepercayaan dirinya yang terlampau tinggi. Dalam hati Ia merutuki dirinya yang seperti menjilat ludah sendiri. Dengan perasaan menhan malu, Ia segera berpamitan dan berlenggang dari posisinya berdiri.


Sekuat mungkin, Sofi menahan tawanya supaya tidak pecah, hingga setelah kepergian wanita itu, Ia pun tergelak. Bahkan Ia melupakan sang boss dan sekretarisnya yang menatap dirinya.


Sofi yang tersadar, segera menghentikan tawanya. Kala tatapan tajam dilayangkan pria yang terekenal galak itu.


"Emm ... Maaf Pak!" sesalnya seraya menundukan kepala.


Aska hanya tersenyum menanggapi, berbeda dengan sang boss, Putra justru masih dengan eksprssi wajah yang sama.


"Yuk!" ajak Aska seraya mengigiring tubuh sang kekasih untuk segera bergerak meninggalakan tempat tersebut.


Dengan pasrah Vani mengikuti pergerakan kekasihnya itu. Begitupun Sofi yqng hendak berjalan mengikuti sahabatnya. Namun tanpa diduga Putra mencegat tangan sang gadis.


"Kamu mau kemana?" tanyanya.


"P-pulang, Pak." balas Sofi sedikit ragu dengan suara terbata.


"Dengan membuntutui mereka?" tanya Putra disertai tawa meledek, yang membuat sang gadis itu terdiam.


"Ikut aku!" ajak Putra menyeret tangan sang gadis.


Dengan reflek Sofi hendak nemberontak dan melepaskan cekalan tangan sang pria. Namun itu percuma, cekalan tanganya begitu kuat hingga Ia pasrah mengikuti sang pria didepannya.


\*\*\*\*\*\*


Jangan lupakan jejaknya yaa gaiss🤗

__ADS_1


__ADS_2