Bossku, Jodohku!

Bossku, Jodohku!
Celebek?


__ADS_3

"Kamu?" tanya Kia memastikan dengan mata yang sudah ikut memerah dan siap menumpahkan cairan beningnya.


Vani mengangguk mengiyakankan dengan wajah yang sudah dibasahi dengan lelehan air mata disertai isakan kecil dari bibirnya.


"Vani!!!"


Kia yang menyadari sang gadis adalah sahabat kecilnya segera menghamburkan diri kedalam pelukan itu. Memeluk erat tubuh ramping sahabat kalemnya disertai tangis yang sudah tak dapat Ia bendung.


"Kamu kemana aja? Aku kangen kamu." ucap Kia disela isak tangisnya.


Vani tak menimpali, terlalu sulit untuknya mengeluarkan kata-kata karena emosi yang mengganjal dihatinya, hingga Ia tak bisa mengungkapkan apapun. Hanya anggukan saja yang bisa Ia berikan.


Drama tangis pun tak dapat dihindari. Kedua wanita beda status itu masih sibuk dengan adegan pertemuan yang mereka ciptakan. Bahkan keduanya melupakan Aska yang hanya menjadi penonton drama reuni dengan hembusan napasnya panjang. Membiarkan kedua sahabat itu meluapkan rasa rindu mereka. Hingga terdengar ketukan pintu dan Aska pun mengizinkannya masuk.


Ceklek!


Pintu terbuka pelan, hingga menampakan seorang pria tampan yang membawa kantong kresek pesenan si bumil.


Rei yang melihat pemandangan itu mengerenyit heran. Ia menatap Aska, hingga kedua lelaki itu saling tatap satu sama lain. Rei mengangakat dagunya seolah bertanya kenapa. Namun Aska hanya tersenyum menanggapi.


Rei yang merasa khawatir, melihat sang istri berdiri dan mungkin sudah terlalu lama segera mendekat dan bertanya untuk melerai pelukan mereka. "Sayang ada apa?" tanyanya.


Benar saja satu kalimat yang diucapkan pria tampan itu mampu melerai pelukan kedua sahabat yang kembali dipertemukan setelah sekian lama.


"O-omm! Ini om." ucap Kia dengan suara tersendat, menahan isak dibibirnya.


"Vanii!!" pekiknya dengan air mata yang kembali deras.


Rei sedikit shok merasa tak percaya, namun didetik berikutnya Ia kembali menenangkan sang isteri. Takut terjadi apa-apa sama istri dan calon baby nya. Ia pun segera membawanya duduk disofa.


"Sayang udah yang!" ucapnya menenangkan seraya mendekap tubuh yang masih bergetar dengan suara sesenggukan itu.


Vani masih dengan posisi yang sama, hingga dekapan didapatinya dari pria yang mengakui dirinya calon istri itu. Vani menoleh dan sedikit menyunggingkan senyumnya. Tangan kekar Aska terulur untuk menghapus jejak kebasahan dipipi mulus sang gadis seraya mendekatkan wajah.


"Udah ya, kita makan siang dulu!" ajaknya dan diangguki pelan oleh sang gadis.


"Atau mau bobo siang dulu?" goda Aska menaik turunkan alisnya dengan tawa kecil dibibirnya.


Vani tersenyum malu menanggapi itu. "Apa sih kak?" elaknya dengan wajah yang memerah.

__ADS_1


Aska tertawa melihat ekspresi itu. Ia sengaja membuat suasana hati gadisnya kembali ceria. Hal itu tentu menjadi perhatian si ibu hamil yang cerewet itu. Ia terus memperhatikan interaksi keduanya yang terlihat jelas tengah dimabuk cinta.


"Ehemm!!!"


Kia berdehem membuat atensi sejoli yang sedari tadi sibuk berdua itu menoleh kearahnya.


"Bentar! Ini bau-baunya kek ada celebek ya?" celetuk Kia dengan mata menyipit melihat kedua manusia yang tengah berdiri itu.


Sejoli itu mengerenyit tak mengerti dengan penuturan calon ibu itu. Bukan hanya sejoli itu saja, pria tampan disampingnya pun tak mengerti akan ucapan sang istri.


"Celebek apaan yang?" tanya Rei dengan liaptan dahinya.


Kia yang melihat wajah ketiga orang itu keheranan berdecak kesal. "Isshhh masa gitu aja pada gak tau. CLBK, masa gak tau? Cinta lama belum kelar. Ya ampun!" jelasnya dengan cerocosan khas sang timom yang begitu menempel pada dirinya.


Kedua pria itu tergelak mendengar penjelasan wanita cerewet kesayangan mereka. Baru ngeuh dengan apa yang dimaksud si ibu hamil itu. Sedangkan Vani hanya tersenyum. Ternyata sahabatnya ini tak pernah berubah. Benar, tak ada yang berubah dari mereka. Terkecuali papanya.


Ia menunduk mengingat sang papa yang kini masih dengan keadaan yang sama. Ternyata raut wajah gadis cantik itu terekam jelas oleh indera penglihatan si bumil yang begitu jeli.


"Kenapa Van?" tanya Kia, hingga Vani sedikit terlonjak.


"Hah?! N-nggak!" balas Vani sedikit gagap.


"Kenapa, hem?" tanya Aska seraya membelai lembut pipi yang tak terlalu chuby itu.


Vani tersenyum membalas tatapan sang kekasih yang mengandung banyak pertanyaan didalamnya. "Gak apa-apa kak!" balasnya meyakinkan.


"Benar? Jangan bohong!" tanya Aska memastikan.


"Beneran!" balas Vani kembali meyakinkan. Hingga Aska tersenyum seraya mengusek pucuk kepalanya gemas.


"Ya udah, kalo gitu kita berangkat sekarang." ajak Aska.


"Kemana?" tanya Vani yang sepertinya melupakan percakapannya tadi.


"Tidur." balas Aska dengan nada godaan. Vani pun tertawa kecil mendengar itu.


Aska tersenyum menanggapi itu. Tanpa mengeluarkan kata lagi, Ia merangkul pundak sang gadis dan menggiringnya keluar ruangan itu.


"Kalian mau kemana?" tanya Kia namun tak dihiraukan sejoli yang tengah merajut rasa yang kini tengah keduanya saling ungkapkan.

__ADS_1


"Isshh aka ngeselin deh, aku kan baru ketemu sama Vani. Eh main sosor aja!" omel wanita cantik itu dengan ciri khas cerocosannya.


Rei terkekeh mendengar penuturan sang istri. "Itu tuh bukan main sosor, nyosor tu kek gini." ucap Rei menyambar bibir ranum itu, lalu mengecupnya sekilas.


"Om ihh!!" rengek Kia dengan manja.


"Kenapa?" goda Rei.


"Kurang." balas Kia membuat sang suami tergelak.


"Yuk kita lanjut!" ajak Rei mengulurkan tangan seraya berdiri.


"Kemana?" tanya Kia heran.


"Kita cari hotel." ucap Rei menyeringai dann disambut senyum menggoda dari sang istri.


"Ayo!" ajak Kia dengan cepat menyeret lengan suaminya. Sepasang suami istri itu pun pergi meninggalkan ruangan sang kakak.


**


"Apa kamu suka?" tanya Aska pada gadis didepannya.


Kini pasangan sejoli itu tengah berada disebuah restoran kekinian. Keduanya menduduki kursi dengan meja bundar diarea outdoor dilantai teratas bangunan itu. Hingga menampilkan pemandangan kota dengan gedung-gedung bertingkat, jalan yang dipadati kendaraan pun begitu jelas terlihat dari tempat mereka berada.


"He'em" balas Vani menganggukan kepala dengan mata berbinar, berdecak kagum melihat keindahan disana.


Semilir angin membuat sinar mentari yang menyengat tak mampu memanaskan tubuh mereka.


Aska menggenggam kedua tangan sang gadis dan mengecup punggung tangannya. Sungguh perlakuan itu kembali membuat Vani melayang. Perlakuan manis itu begitu menenangkan hati dan jiwanya.


"Apa pun yang terjadi, jangan sungkan untuk bicara! Apa pun yang ada dipikiran kamu ungkapkan pada aka. Sekarang aka adalah pelindungmu, calon suamimu." tuturnya dan dibalas senyuman gadis cantik itu.


"Kita bisa saling berbagi dalam segala hal apapun. Sejatinya pasangan itu bukan hanya sekedar status. Tapi bisa menjadi tempat ternyamannya dalam segala hal." lanjutnya, hingga Vani mengembangkan senyum manisnya dengan rembasana ir dari kedua ujung matanya.


"Ceritalah! Jangan kau tutupi hatimu! Kau boleh terlihat tangguh dihadapan orang lain, maka terlihatlah rapuh hanya dihadapan aka!"


\*\*\*\*\*\*


Maaf kemalaman, ada drama dulu dikit🙈Jangan lupa jejaknya yaa! Biar aka makin bucin😍😍

__ADS_1


__ADS_2