Bossku, Jodohku!

Bossku, Jodohku!
Kencan pertama


__ADS_3

"Kita mau kemana?" tanya Vani merasa aneh, kala kijang besi yang ditumpangi dirinya dan sang kekasih melesat melewati belokan yang harusnya menuju tempat tinggalnya.


Aska tersenyum seraya melirik kearah sang gadis, kemudian fokus kembali kedepan melihat kemudinya. "Apa kamu gak mau ngenalin calon suami kamu ini, pada kedua orang tuamu? Hem?" goda Aska.


Vani terkekeh menanggap itu, bahkan Ia belum sempat menceritakan perkara itu pada sang mama. Ia yang tau kemana arah tujuan mereka, akhirnya mengerti. Mungkinkah kekasihnya sudah mengetahui mengenai papanya? Pikirnya.


"Aka tau?" tanya Vani memastikan.


Aska menyunggingkan senyumnya, tangan kirinya bergerak menggenggam tangan kanan sang kekasih, hingga gadis itu pun menoleh.


"Tentu. Gak ada yang gak aka ketahui mengenai dirimu. Semua hal tentangmu adalah prioritas utama untukku sekarang." ucapnya seraya membawa tangan itu kedepan bibir dan mengecup punggung tangannya lembut.


Blush!


Semburat merah itu kembali muncul begitu saja. Tak ada lagi kata yang mampu Vani ucapkan, bibir bawahnya tertarik kedalam dengan gigitan untuk menahan jeritan hatinya yang hampir saja lolos. Penuturan manis yang diucapkan Aska, sungguh membuat Ia melayang. Sepertinya mulai sekarang Ia harus siap untuk mendengar kalimat-kalimat puitis itu setiap saat dari bibir sexy sang kekasih.


"Harus ya semanis itu?" tanya Vani dengan nada ledekan.


Aska tertawa mendengar ledekan itu, hingga Ia mengucek pucuk kepalanya gemas. "Memangnya terdengar begitu?" godanya. Hingga keduanya tergelak bersama.


**


Tak berselang lama mobil yang mereka tumpangi terparkir apink diparkiran rumah sakit. Aska sengaja ingin menemui sang calon mama mertua untuk meminta izin membawa putrinya kencan malam ini.


Keduanya memasuki gedung tinggi itu menuju ruangan dimana sang papa masih berbaring lemah disana.


Ceklek!


"Assalamualaikum!"


"Waalaikumsalam!"


Ternyata didalam sana tak hanya ada sang mama, namun ada juga seorang wanita paruh baya yang kini tengah duduk berdua disofa diruangan didalam sana.


"Ma, tan!" Vani menghampiri mereka dengan menyalimi takzim tangannya.


"Baru pulang, La?" tanya sang wanita yang ternyata mamanya Daffa, dengan senyuman ramah pada gadis cantik itu.

__ADS_1


"Iya, tan! Tante udah dari siang?" tanya sang gadis.


"Nggak, baru aja datang." balasnya. "Oh iya ini bukannya?" tanyanya pada pria yang kini masih berdiri didepan pintu ruangan dengan berfikir keras, mengingat sang pria yang seperti Ia kenali.


Aska tersenyum seraya menghampiri ketiga wanita itu. "Siang Tan,Ti?!" sapanya, seraya menyalimi kedua paruh baya disana bergantian.


"Apa tante melupakan saya?" tanya Aska. "Saya Aska." balasnya.


"Ya ampun Nak Aska! Ini beneran Nak Aska temannya Daffa ya?" tanya Tante Rita, mama ya Daffa memsstikan.


Aska kembali senyum menanggapi. "Iya tan. Tante apa kabar?" tanyanya lagi.


"Alhamdulillah, baik. Kamu sendiri bagaimana kabarnya?" tanya balik tante Rita.


"Alhmduliah saya juga baik." balas Aska.


"Kamu kenal Ila?" tanya tante Rita merasa heran karena sepasang sejoli itu daatng bersamaan.


Vani dan mama Lia saling lirik mendengar penuturan tante Rita. Kedua wanita itu hanya diam, bingung harus menjawab apa. Aska yang dapat membaca situasi segera mengalihkan pembicaraan mereka.


"Iya kami sekantor." balas Aska dan diangguki oleh sang wanita yang sepertinya masih menginginkan penjelasan lebih.


Tante Rita mengerutkan dahinya heran. "Benarkah?" tanyanya dan diangguki Aska.


"Dia gak ada pulang kerumah, apa mungkin langsung pulang kembali ke kota X?" tanyanya semakin heran. "Apa dia sengaja menemuimu?" tanyanya pada Aska.


"Bisa disebut bekerja sambil reunian." kekeh Aska hingga wanita yang masih cantik diusianya itu ikut terkekeh.


"Kamu tuh bisa aja." balas tante Rita.


"Ya udah, kita ngobrolnya diluar aja ya!" ajak mama Lia dan disetujui mereka.


Mereka pun keluar dan memilih berbincang di taman rumah sakit. Sedangkan didalam ruangan setelah kepergian keempat orang itu, terlihat gerakan kecil dari telunjuk kanan papa Ivan. Sepertinya suara mereka dapat didengar pria baya yang masih terbaring lemah diatas brankar itu. Namun matanya masih saja enggan untuk terbuka.


Sementara itu ditaman, tante Rita terus membicarakan hubungan antara putranya Daffa dengan Vani. Bahkan tante Rita tak segan memperkenalkan Vani sebagai calon menantunya. Aska hanya tersenyum menanggapi, tau pastilah wanita itu begitu menginginkan kekasihnya menjadi calon anggota keluarganya.


Vani yang melihat itu tentu tak tega dengan sang kekasih harus mengetahui semua itu. Ia pun memutar otak, agar bagaimana bisa keluar dari situasi itu. Hingga ide muncul, memberinya solusi.

__ADS_1


"Ya udah Pak Aska, kita berangkat sekarang!" ajak Vani seraya memveri kode pada Aska.


"Kalian mau kemana?" tanya tante Rita yang kembali dibuat aneh.


Vani yang masih belum siap untuk mempublish hubunga mereka, tentu beralibi agar wanita itu tak mencurigainya Ia tak ingin tante Rita sanpai memcurigai itu.


"Jadi, pak Aska ada pertemuan dengan klien dan butuh bantuan aku." balas Vani mencoba beralaskan dan ditimpi anggukan kepala oleh wanita itu.


Aska yang mengerti itu tersenyum. Ia hanya mengangguk sebagai jawaban mengikuti permainan gadis cantik itu. Hingga keduanya pun bisa menjauh dari kedua ibu itu.


Terlihat Vani terus menarik dan membuang napasnya panjang. Sepertinya dia begitu yegang dengan situasi itu. Hingga genggaman hangat ditangannya, sukses membuat Ia menoleh.


"Jangan terlalu dipikirkan! Kita akan bicakan ini pelan-pelan. Aka yakin, tante Rita pasti ngerti." ucap Aska namun wajahnya terus menatap lurus kedepan.


Kini keduanya tengah berjalan beriringan di lorong rumah sakit dengan tautan tangan yang begitu erat.


Vani tersenyum menanggapi itu, entah kenapa setiap kata yang keluar dari bibir tampan itu begitu menenangkan hatinya. Hingga kekhwatiran yang Ia rasa sejak tadi, hilang sekestika.


"Iya kak! Makasih ya udah mengerti!" ucap Vani tulus, dengan membalas genggan itu erat.


Aska menoleh dan melebarkan senyumnya. Lalu mengusek pucuk kepalanya gemas. "Bisa ganti kata terima kasih itu?" tanyanya.


Vani tertawa mendengar itu, "kenapa?" tanyanya.


Aska menghentikan langkahnya seraya memabalikan tubuh mereka, hingga berhadapan. Lalu mennggenggam kedua tangannya.


"Kamu tau? Ada kata yang lebih ingin aka dengar darimu dari kata terima kasih." turturnya hingga Vani menagangkat satu alisnya tak mengerti.


"Apa?" tanya Vani.


"Aku siap menikah dengan aka!" balas Aska terkekeh.


Vani pun tertawa untuk menetrelkan detak jantungnya. Sungguhlah kata-kata sang kekasih membuat Ia tak karuan. Tanpa menjawab Vani segera menarik tangan Aska untuk keluar dari tempat itu.


**


Setelah mengantar pulang sang gadis untuk bersiap, kini mereka sudah berada ditempat yang sudah Aska tentukan untuk kencan pertama mereka. Sebuah restoran dengan tema romantis menjadi pilihan mereka untuk dinner malam ini.

__ADS_1


\*\*\*\*\*\*


Jangan lupakan jejaknya yaa🤗


__ADS_2