
Vani tersenyum melihat bayangan sang suami didepan cermin. Pria tampan yang bertelanjang dada, dengan kain putih yang hanya membungkus benda pusaka yang sepanjang pagi sukses membuat Ia melayang itu tengah menggososk rambutnya yang basah dengan kain kecil ditangannya.
Vani terus menatap cermin memperahtikan sosok gagah itu. Air yang masih mengucur dari rambutnya yang basah, terlihat mengabsen seluruh bagian indah tubuh itu. Dan hal itu sungguhpun menggoda imannya. Apalagi bayangan tadi pagi, saat sang suami begitu perkasanya membuat Ia tak berhenti men de sah.
Aska bukan tak melihat tatapan itu, namun Ia sengaja membiarkan mata indah itu menikmati tubuhnya. Satu sudut bibir Aska tertarik, tatapan memuja dari sang istri sungguh membuat hatinya menghangat.
Ia menunduk mendekatkan wajahnya kesamping sang istri yang tengah duduk dikursi meja rias, dengan membiarkan tanganya bertengger dikepala sang istri bersama handuk yang masih menempel disana. Lalu tatapannya mengarah kedepan menatap wajah cantik itu dari pantulan cermin.
"Apa kamu bahagia?" tanya Aska.
Pertanyaan itu sukses membuat gadis cantik itu terkekeh. Ditanya bahagia? Tentu. Dia adalah orang yang paling bahagia sekarang.
Vani menangkup sebelah pipi suaminya, "Apa masih perlu ditanyakan?"
Aska tersenyum lebar mendengar itu. Mungkin ini yang orang sebut dunia serasa milik berdua. Karena apapun yang mereka lakukan hanya ingin dilakukan berdua dengan senyum yang tak mau pudar dari wajah mereka.
Aska mengecup sekilas pipi sang istri dan tangannya beralih memeluk pundaknya dari belakang. "Meski kamu berkata 'tidak'. Aka anggap itu 'iya'." ucapnya.
Vani ikut melebarkan senyumnya, "Apapun itu. Untuk Aka, jawabanku tetap 'iya'." balas Vani seraya mengusap tangan yang bertengger dilehernya.
Senyum terus terukir dari pasangan pengantin baru itu. Rasa bahagia yang mereka rasakan sudah tak dapat diungkapkan dengan kata-kata.
"Aka mau makan apa, hem? Biar aku buatin." tanya Vani.
Teringat akan pesan sang mama yang selalu mengingatkan Ia untuk bisa pandai memanjakan suami, membuat Ia teringat untuk memanjakan perutnya juga.
"Gak usah. Aka udah pesan makanan dari aplikasi ijo. Bentar lagi juga nyampe." balasnya.
"Oh ya?" tanya Vani tak percaya dan diangguki suaminya itu.
Vani menghembuskan napasnya panjang. "Maafin aku ya, ka! Harusnya aku bangun pagi dan masak buat Aka." sesal Vani.
Terlihat raut wajah gadis itu yang menyesali ketidak pekaannya sebagai seorang istri. Ia terlalu memikirkan rasa ngantuknya , hingga melupakan tugas dan kewajibannya.
Aska kembali mengecup pipi itu sedikit lama, lalu menegeratkan pelukannya dengan dagu Ia biarkan menyangga dibahu sang istri.
__ADS_1
"Gak ada yang perlu dimaafin. Kita ini pengantin baru, wajarlah kalo hanya ingat kasur." kekeh Aska dan sukses dapat tampolan manja dari gadis cantik itu.
"Isshhh aka nih, aku kan harus belajar jadi istri yang baik." balas Vani.
"Buat aka kamu udah menjadi istri yang baik. Sangat baik!" selak Aska.
"Saking baiknya, Aka sampai kalah dironde terakhir." godanya.
"Aka ihh ...." rengek Vani dengan wajah merah menahan malu. Sungguh Ia pun tak menyangka, jika dirinya bisa seliar itu diatas ranjang.
Aska tergelak seraya mengeratkan dekapan itu. Ia tak memedulikn tangan yang tak henti memukuli tangannya itu. Bibirnya berulang kali mengecup pipi kemerahan itu. Hingga suara bel menghentikan canda tawa mereka.
"Bentar, aka buka pintunya dulu ya! Kek nya itu paket kita deh." Aska hendak meraih handle pintu kamar, namun Vani segera menyegatnya.
"Tunggu, kak!"
Aska menoleh mengangkat dagunya, seolah bertanya 'apa?'
"Aka belum pake baju. Ntar kalo yang kirim cewek gimana coba?" tanya Vani denga nada omelan.
Ia segera membuka lemari pakaian dan mengambil kaos polos dengan celana pendeknya. Ia juga mengambil kemeja putih dari dalam sana.
"Sementara kamu pake ini dulu, ntar Aka suruh seseorang bawa baju ganti buat kamu." ucap Aska memberikan kemeja itu pada sang istri.
"Kenapa harus kemeja kak? Kaos kek yang aka pake kan bisa." tanya Vani heran.
"Lebih bagus kemeja." balas Aska seraya mengganti pakaiannya.
Vani menaikan alisnya tak mengerti. Fokusmya kini pada kelakuan sang suami yang dengan berani bergantian pakaian dihadapannya. Bukan suaminya yang malu. Namun dirinya lah yang merasa malu akan hal itu.
Aska tersenyum melihat ekspresi sang istri. Ia mendekat seraya membisikan sesuatu, "itu lebih membuatmu sexy."
Aska terkekeh seraya berlenggang meninggalkan kamar. Vani melongo mendengar itu. Sekarang pria itu lebih terdengar mesum setelah menikah. Ia kira, Aska adalah tipikal pria yang tak menyorot akan kemolekan tubuh pasangannya. Namun tetap saja, menyangkut hal itu sumainya tetap lelaki normal yang begitu memuja tubuhnya.
Vani ikut terkekeh disertai gelengan kepala. lalu Ia pun mengenakan kemeja itu untuk menutupi tubuhnya yang mulai menggigil. Setelah selesai, Ia juga merapihkan tempat tidur yang sangatlah berantakan itu. Menggulungkan sprei yang sudah tak berbentuk, yang terdapat tetesan noda merah dan sisa ****** ***** yang sudah mengering diatas kain itu.
__ADS_1
Vani tersenyum, itu akan menjadi sejarah untuk Ia kenang dimasa mendatang. Ia mengangkat kain itu bersama pakaian mereka yang berserakan diatas lantai dan juga selimut kedalam keranjang kotor. Lalu mengangkatnya dan membawanya keluar kamar.
"Kamu ngapain, yang?" tanya Aska yang baru selesai melakuakn transaksi dengan kurir makanannya.
"Aku mau nyuci. Loundry nya sebelah mana?" tanya Vani.
"Udah kamu gak usah cape-cape! Ntar aka nyuruh seseorang buat nyuci." titah Aska.
"Gak apa-apa kak. Lagian ini bekas," Vani menghentikan ucapannya, mendadak ragu untuk mengucapkan itu.
Aska terkekeh mendengar itu. Ia mendekat setelah menyimpan makanannya diatas meja makan.
"Udah, ntar aja! Yuk makan dulu." ajak Aska.
Ia menyimpan keranjang jangkung itu, dan segera menggandeng tangan sang istri menuju meja makan. Vani pun hanya pasrah mengikuti langkah suaminya.
Bak putri raja, Aska tak membiarkan sang istri untuk melayaninya. Justru Ialah yang kini tengah menyiapakan makanan untuk mereka. Vani dilarang keras, walau hanya sekedar mengambil piring.
"Ya ampun kak! Ini kebalik. Harusnya aku yang nyiapin semua ini, bukan Aka." protes Vani. Tentu Ia pun ingin melayani suaminya dengan baik. Namun kenapa malah keadaannya tertuker begini?
"Gak kebalik. Tugas kamu udah tadi pagi, nah sekarang giliran aka yang bertugas." balas Aska, hingga sang istri terkekeh.
"Ntar habis makan giliaran kamu lagi yang bertugas." kekeh Aska.
"Iya deh. Ntar habis ini aku yang nyuci piringnya sama nyuci pakaian juga." balas Vani.
"Bukan itu tugasnya!" selak Aska.
Vani mengerutkan dahinya tak mnegerti. Mungkinkah yang dimaksud suaminya itu menyapu dan mengepel lantai? Pikirnya.
Aska tersenyum melihat itu. Ia mendekatkan wajahnya seraya berbisik.
"Tugas kamu cuma satu, bantuin Aka bikin adonan."
\*\*\*\*\*\*
__ADS_1
Mak othor ikutan bucin euyy🤣🤣 yuk jejaknya jangan lupa yaa! masih lanjut ya, tungguin...