Bossku, Jodohku!

Bossku, Jodohku!
Lamaran atau perintah?


__ADS_3

"Isshhh ... Udah ya, bapak gak usah modus. Saya gak akan kepancing lagi kek sebelum-sebelumnya." protes Sofi mengahdangkan dua tangan didepan wajah pria dihadapannya.


"Oh ya? Bukannya kau begitu menginginkannya?" goda Putra mencekal tangan sang gadis dengan senyum smirknya.


"Bukankah bibirku begitu memabukan? Sampai kau menutup mata, menikmati manisnya bibirku?" pertanyaan itu sungguh membuat Sofi meradang.


"Dihh ngaco. Udah deh cepetan jalan!" titah Sofi seraya menegakan diri melihat kedepan. Menyembunyikan rasa malunya.


"Ayo! Bapak Putput yang terhormat." ucap Sofi memerintah dengan ledekan diakhir kalimatnya.


Mendapat perintah sekaligus ledekan itu, tentu membuat pria arogan itu meradang. "Apa kau bilang?" tunjuknya pada wajah sang gadis yang justru semakin menantangnya.


"Apa?" tantang Sofi menoleh kembali, dengan mendongakan wajahnya.


"Bapak PUT-PUT." ledeknya dengan menekan kata dipanggilan unyu itu.


Sofi tersenyum meledek seraya menjulurkan lidahnya. Ia hendak berbalik mengalihakn pandangannya kedepan. Namun sayang pergerakannya kalah cepat dengan apa yang dilakukan pria itu.


Melihat senyum dengan juluran lidah itu nyatanya bukan membuat Putra geram. Justru Ia begitu tergoda dengan lengkung senyum dan lidah panjang yang menarik perhatiannya itu.


Dengan cepat Ia meraih tengkuk sang gadis dan menyambar lidah yang terjulur itu dengan bibirnya. Mata Sofi membola sempurna. Tak tanggung-tangung, Putra memainkan lidah Sofi dengan lidahnya bahkan membelitnya agar tak lepas.


Lagi-lagi Sofi hanya terpaku. Otaknya menolak keras, namun tubuhnya mendorong untuk Ia membalas perlakuan itu. Hingga Ia pun terlena dibuatnya. Bukan perlakuan lembut lagi seperti sebelumnya yang dilayangkan Putra, namun sebuah ciuman kasar yang kian menuntut.


Putra membawa tubuh sang gadis keatas pangkuannya. Sofi benar-benar tak bisa mengelak kala sesuatu dalam dirinya menginginkan lebih. Apalagi ketika tangan besar itu sampai didepan dadanya dan sukses membuka beberapa kancing depannya.


Tautan itu terlepas, namun bibir Putra semakin liar diceruk sang gadis. Tangannya bergerak memainkn dua buah didepannya yang masih terahalang bungkus.


"Mmmhhh ..."


De sa han Sofi melantun begitu saja. Jiwanya melayang mendapatkan sentuhan yang baru pertama Ia rasakan. Tubuhnya berleok tak mau diam, menikamti perlakuan pria diahadapannya. Ia membusungkan dada kala bibir Putra sampai di buah besar berharhaganya yang menyembul keatas. Bahkan tangannya reflek menenggelamkan kepala Putra lebih dalam diantara dua buah itu.


Mendapat respon seperti itu, membuat Putra semakin tertantang. Satu tanggannya bergeliyara kebelakang sang gadis dengan belaian lembut yang semakin membuat Sofi ikut liar. Satu tangannya lagi memainkan buah yang tak dilahap mulutnya.


"Uhhh ... Put! Mmhhh ..."

__ADS_1


De sa han dari bibir Sofi semakin membuat keduanya tak terkendali. Denyutan pada bagian benda berharga mereka terasa menegangkan dan ingin dimanjakan. Pergerakan tubuh Sofi kian menimbulkan gesekan dibawah sana. Dan hal itu sukses membuat Putra ikut men de sah.


"Uhh ... Fi!"


Tangan Putra siap untuk menyingkap rok milik Sofi, namun suara ketukan dikaca mobil berhasil menghentikan aksinya.


Tok! Tok! Tok!


Keduanya terdiam dan menoleh. Sofi menatap kearah pria dihadapnnya. Sepertinya Ia baru menyadari, jika dirinya sudah berada dipangkuan Putra. Ia melirik tubuh bagian depannya yang sudah berantakan.


Dengan cepat Ia menutupkan baju untuk menutupi bagian dadanya yang terbuka Ia hendak berteriak, namun Putra segera membungkamnya dengan tangan.


"Suutt!!!" titahnya menempelkan jari telunjuk dibibirnya.


Sofi memeluk erat dadanya dengan ekspresi terkejut bukan main. 'Bodoh! Kenapa aku bisa kek gini?' gumamnya dalam hati.


Ternyata ketukan itu berasal dari seorang pria tak dikenali. Melihat dari tampilannya, sepertinya Ia seorang cleaning service. Putra tak membuka pintu mobilnya. Keadaan kaca mobil yang tak tembus pandang, membuat aktifitas mereka tak diketahui. Bahkan dilihtat dari luar, mobil itu seperti tak berpenghuni. Namun gerutuan orang itu terdengar jelas oleh mereka.


"Ini orang kemana ya? Parkir mobil kok sembarangan. Dasar orang kaya. Apa-apa suka seeanknya." gerutunya, lalu pergi meninggalkan tempat itu.


"Menikahlah denganku!" pinta Putra.


Bukan permintaan romantis yang didengar Sofi. Namun terdengar sebuah perintah yang tak boleh ditolaknya.


"Apa itu sebuah lamaran?" tanya Sofi dengan nada ledekan.


"Bukan itu perintah!" sungut Putra. "Sudah jelas dari kalimatnya, masih nanya lagi." gerutunya.


"Aiiisshh ... Ngajak nikah kok kek ngajak perang." balas Sofi dengan gerutuan kesal.


"Terus maunya kamu kek gimana?" tantang Putra.


"Ya, yang romantis gitu Pak! Jangan kek nyuruh ob motocopy." protes Sofi.


"Banyak ngomong ya. Tinggal jawab aja, apa susahnya sih." sungutnya lagi.

__ADS_1


"Kok bapak jadi nyolot? Niat ngelamar gak sih?" tanya Sofi yang ikut tersulut.


Putra menarik napas seraya gigi menggeretak dengan mata bergulir, menahan kekesalannya. Lalu Ia pun menghembuskan napasnya kasar. Diminta romantis, sungguh itu bukanlah type nya. Namun Ia juga sudah terlanjur menginginkan gadis didepannya. Gadis yang setiap malam menghantui tidurnya.


"Oke! Saya tanya sekali lagi. Bersediakah kau menikah denganku?" tanyanya, yang masih tak terlihat ketulusan dimatanya itu.


"Ck!" Sofi berdecak kesal seraya memalingkan wajahnya kesamping. Dengan tangan yang masih berpangku menutupi dadanya.


Putra kembali menghembuskan napasnya kasar. Ia meraih kedua tangan sang gadis dan menggenggamnya erat. Seketika wajah Sofi kembali menatap kearah Putra dan menatap mata yang kini begitu serius menatapnya.


"Sofi ... Maukah kau menikah denganku? Hidup dan menua bersamaku?" tanyanya, lalu Ia mengecup kedua punggung tangan itu.


Sofi terpaku, kali ini ucapan pria itu begitu terlihat tulus. Terlihat dari guratan matanya yang terpancar penuh harapan. Satu tetes air matanya jatuh begitu saja. Benarkah Ia tengah dilamar seorang pria? Pria mengesalkan yang sayangnya selalu Ia rindukan?


Sofi menganggukan kepalanya. Putra menatap tak percaya gadis dihadapannya. "Kamu serius?" tanyanya memastikan.


"Aku bersedia menikah denganmu, Putput." jawaban dari Sofi yang disertai kekehan membuat keseriusannya ambyar seketika.


"Ck!" Putra berdecak kesal seraya matanya ikut bergulir dengan wajah menekuk.


Sofi tergelak melihat ekspresi itu. Ia meraih pipi Putra dan menangkupnya. Lalu mengecup bibir sexy itu sekilas.


"Aku siap menikah denganmu." ucap Sofi tersenyum bahagia, hingga lengkungan bibir Putra tertarik sempurna. Tanpa ragu Ia menyambar kembali bibir itu. Mengulang kegiatan yang sempat tertunda tadi. Namun sebelum kebablasan lagi, mereka menghentikan aktifitas itu dan melajukan mobil yang ditumpanginya menuju kantor.


**


Sementara itu, dilain tempat seorang pria tengah mengemudikan kijang besinya dengan pikiran melayang pada kejadian tadi malam. Menjadi saksi di pernikahan seorang sahabat adalah suatu kebahagiaan tersendiri untuk sebagian orang. Namun bagaimana jika yang dinikahi sahabatnya itu adalah gadis yang dicintai?


Daffa menarik dan menghenbuskan napasnya berulang kali. Jika ditanya dirinya baik-baik saja, tentu Ia baik-baik saja. Namun untuk mengikhlaskan itu butuh beberapa waktu untuknya bisa keluar dari zona menyakitkan itu.


Ditengah kegundahan hatinya tiba-tiba saja, mobilnya menabrak sesuatu didepan sana.


Braakkkkk!!!!!


\*\*\*\*\*\*

__ADS_1


Jejaknya, awas jangan lupa🤭 kasih bonus dong, bunga atau vote gitu😂 oh iya, nonton iklan juga dukung mak othor loh.. buat yang ada waktu tonton iklannya juga yaa.. iklannya ada diberanda.. klik hadiah, ada iklan, terus tonton! ada kesempatan 10x setiap hari.. lumayan dukungan buat mak othor, apalagi yang kehabisan bunga sama vote. boleh dicoba ya!!🤗


__ADS_2