Bossku, Jodohku!

Bossku, Jodohku!
Mabok mobil


__ADS_3

"Udah-udah, yuk duduk!" ajak wanita yang sedari tadi terdiam melihat adegan didepannya, seraya menepuk bahu dua wanita yang masih berpelukan itu.


Akhirnya dua wanita itu pun melerai pelukannya dan duduk sesuai intruksi dari wanita yang sudah mendaratkan diri disalah satu kursi itu.


"Oh iya Van, kamu inget dia gak?" tanya Sena menunjuk wanita didekatnya. Wanita itu tersenyum kalem menatap Vani.


Vani mengerutkan dahinya, tentu Ia tau hanya ada satu wanita yang selalu dekat dengan wanita cerewet itu. "Kak Jinjin?" tanyanya.


Jingga menganggukan kepalanya sebagai jawaban. Vani kembali berdiri dan memeluk wanita yang ikut berdiri itu. Mereka pun bertukar kabar dan duduk kembali ditempat mereka masing-masing.


"Jadi kakak lagi hamil?" tanya Vani merasa tak percaya pada wanita yang tengah makan seblaknya dengan rakus.


Sena dan Jingga pun ikut makan siang bersama sejoli itu. Setelah merasa lapar dan capek karena hampir seharian berbelanja dua calon ibu itu pun tak menolak ajakan Vani untuk makan bersama.


"Iya nih! Belum bulat sih." kekeh Sena seraya meraba perutnya yang belum terlihat menonjol.


"Terus kak Jinjin juga?" tanya Vani lagi dan diangguki wanita kalem itu.


"He'em ... Makanya kamu cepet nikah juga sama aka. Biar kita hamilnya barengan." celetuk Jingga.


"Iya, bener tuh! Sama Kia juga. Ntar kita bisa periksa bareng, shopping baju bayi bareng, apalagi ya Jin?" dengan hebohnya Sena nyerocos tanpa henti.


"Olahraga dan banyak lagi deh." lanjutnya dan hanya disambut kekehan dan anggukan Jingga.


Vani tersenyum mendengar cerocosan wanita yang begitu sama dengan sahabatnya itu. Menikah? Itu memang yang Ia inginkan. Namun apakah untuk menuju jalan itu? Apakah rintangannya tak akan sulit? Pikirnya.


Aska tersenyum melihat sepupu dan sepupu iparnya yang begitu heboh mengobrol dengan kekasihnya. Pembahasan antar wanita membuat Ia tak ingin ikut campur pada obrolan mereka. Lalu Ia pun memilih untuk mengecek email lewat ponselnya dari sekretarisnya.


**


"Baiklah, kapan-kapan main kerumah ya!" ucap Sena.


"Iya, kak! Ntar aku main." balas Vani.


"Ya udah kita pulang dulu ya, bye!" pamitnya setelah cipika cipiki, disusul Jingga juga.


Kedua bumil itu akhirnya berlenggang meninggalkan keduanya yang masih stay berdiri ditempat itu.

__ADS_1


"Mereka lucu ya kak? Sahabat jadi iparan." kekeh Vani menatap punggung keduanya yang mulai menghilang dibalik tembok.


"Iya. Entar kamu juga kek gitu sama Kia." balas Aska.


Vani mengalihkan atensinya pada sang kekasih dan tersenyum seraya menggigit bibir bawahnya. Hari ini begitu penuh dengan kata nikah. Benarkah Ia bisa menikah dengan pria pujaannya ini.


Aska mendekatkan wajahnya kedepan telinga sang gadis. Hal itu membuat Vani sedikit terkesiap, hingga penuturan Aska sukses membuat Ia membolakan matanya.


"Jangan digigit! Itu jatah aka." bisiknya dengan nada menggoda.


"Aka ihh ..." Vani memukul bahu sang kekasih yang menggodnya, hingga memunculkan rona merah dipipinya.


Aska tertawa melihat ekspresi sang gadis. Sungguh Ia begitu senang menggodanya. Warna merah dipipi putih itu begitu menggemaskan menurutnya.


"Kita kemana sekarang?" tanya Aska seraya merangkul bahu sang pujaan.


"Emm ... Aku ingin berkunjung ke suatu tempat." balas Vani tersenyum.


"Kemana?" tanya Aska dengan menautkan alisnya penasaran dan hanya ditanggapi senyum gadis cantik itu.


Vani melepaskan rangkulan Aska dan beralih menggandeng lengan kekasihnya itu, seraya menyeretnya pergi. Aska terus bertanya kemana? Namun Vani tak menjawabnya, Ia hanya menyeret tangan kekar itu hingga keluar dari bangunan tinggi tersebut.


"Kamu serius?" tanya Aska merasa tak percaya.


"Kenapa? Aka meragukanku?" tanya Vani seraya tangannya bergerak memasang sabuk pengamannya.


"Bukan begitu." balas Aska. "Kapan kamu belajar nyetir mobil?" tanyanya memastikan.


"Emm..." Vani nampak berpikir sebentar seraya mengetuk-ngetuk dagunya. "Mungkin saat aku kelas sepuluh." lanjutnya dengan cengiran kuda.


"Hah?!" Aska menatap tak percaya pada sang gadis yang sudah siap menggerakan stir.


Perasaannya mendadak tak enak, Aska merasa kurang percaya akan kemampuan sang gadis. Hingga Ia pun ingin mencegatnya, namun Vani sudah mulai menjalankan mobilnya.


"E-ehh bentar du..lu!"


Mobil melesat bagai diarena balapan. Aska yang belum siap merasa shok. Hingga reflek tangannya berpegangan pada handle pintu.

__ADS_1


"Yang, yang, jangan becanda! Pelan-pelan!" titah Aska yang mulai merasa mobilnya semakin tak terkendali.


"Gak! Aka tenang aja, ini pelan kok." balas Vani yang masih fokus dengan kemudinya.


"Astagfirulloh! Ini kenceng banget yang. Pelanin dikit, kita belum nikah loh." protes Aska yang merasa takut akan cara sang gadis mengemudikan kijang besinya.


Vani tak memedulikan protesan sang kekasih. Ia justru menaikan kecepatan mobil hingga kijang besi itu sampai disebuah taman.


Keduanya keluar dari benda itu, namun baru saja keluar Aska langsung berlari kesebuah semak-semak. Tanpa diduga-duga Ia memuntahkan seluruh isi perutnya disana. Vani yang ikut menyusul segera memijit tengkuk sang kekasih yang masih menunduk disana.


"Uhwek! Uhwek!"


"Aka gak apa-apa?" tanya Vani khawatir, dengan tangan yang terus bergerak ditengkuk itu.


Aska menggelengkan kepala seraya napas yang terengah-engah. Dirasa cukup Vani membawa sang kekasih duduk direrumputan empuk dan menyenderkan tubuh ringkih itu dibawah pohon rindang.


"Aka tunggu bentar disini ya!" titah Vani dan diangguki Aska.


Vani berlenggang meninggalkan Aska disana dan membeli sesuatu disebuah stand makanan. Tak membutuhkan waktu lama Ia kembali menemui sang kekasih yang ternyata tengah merebahkan diri di atas rumput itu.


Vani tersenyum melihat itu, Ia ikut mendudukan diri disana dan mencoba membangunkan pria tampan itu.


"Kak minum dulu!" ucap Vani menepuk pipi Aska. Namun tak ada pergerakan dari Aska.


'Apa dia tidur?' batin Vani. 'Perasaan aku gak lama diwarung tadi.' lanjutnya dalam hati.


Vani menundukan mendekatkan wajahnya dan kembali menepuk pipi itu. "Kak bangun, minum dulu!" titah Vani.


Aska yang merasa lemas karena seluruh isi perutnya terkuras, memilih memejamkan matanya. Selain itu, kepalanya juga terasa bergoyang hebat akibat mabok mobil tadi.


Mendengar panggilan sang gadis, Ia masih enggan membuka matanya. Namun ketika indera penciumannya mengendus aroma mint yang menyejukan dari sang gadis, matanya pun terbuka.


Melihat bibir ranum yang hanya berjarak beberapa senti saja dengan bibirnya, membuat Ia tak tahan untuk tak menyecapnya. Hingga dengan cepat tangannya menahan tengkuk sang gadis, lalu meraup bibir yang begitu menantangnya itu dengan kembali memejamkan matanya.


Vani terlonjak mendapat serangan dadakan itu. Namun lambat laun, Ia mulai menyeimbanginya. Ia ikut memejamkan matanya seraya menikmati gerakan lembut dari bibir manis itu. Membuka sedikit mulutnya dan membiarkan lidah Aska melesak lebih dalam. Decapan terdengar merdu dari dua insan yang tengah bertukar saliva itu, hingga keduanya saling melepaskan setelah dirasa kehabisan oksigen.


Aska melepas tautan bibirnya dengan napas terengah-enagah. "Nikah yuk!"

__ADS_1


\*\*\*\*\*\*


Masih ada nih! Jejaknya hangan lupakan yaa🤗


__ADS_2