
Hari semakin larut, namun seorang gadis masih enggan keluar dari kamar mandi. Ia masih sibuk mematut diri didepan cermin. Hingga membuat pria yang sudah merebahkan diri diatas ranjang kingsize itu merasa khawatir.
Tok! Tok! Tok!
"Ris! Kamu lagi ngapain?" teriak Daffa seraya mengetuk pintu tersebut.
Hening tak ada jawaban apapun dari dalam sana. Dan hal itu membuat Daffa semakin khawatir. Sekali lagi Daffa mengetuk pintu itu.
"Ris, kamu tidur ya?" teriaknya lagi.
"Ris, cepat keluar! Ini udah malam, ntar kamu masuk angin lagi." teriaknya lagi. Namun masih belum ada jawaban dari dalam sana.
"Ini anak ngapain sih didalam? Apa mungkin tidur? Atau, jangan-jangan dia pingsan lagi." gumam Daffa bermonolog sendiri.
"Ris, buka pintunya. Jangan bikin takut deh! Gak lucu tau gak? Cepet buka pintunya!" titahnya lagi masih dengan menggedor pintu tersebut.
Karena sudah terlalu khawatir, hingga membayangkan sesuatu terjadi pada istri kecilnya itu. Ia pun dengan terpaksa mendobrak pintu kamar mandi.
Brakkk!!!
Tepat saat pintu didorongnya dengan tubuh, tepat saat itu pula Riska membuka pintu tersebut, hingga...
Brukkk!!!
Kedua manusia itu terjatuh bersama, dengan Daffa menindih tubuh sang istri. Tangan Daffa reflek, menahan kepala dan pinggang Riska yang hampir mencium lantai.
Deg!
Keduanya terpaku dengan tatapan saling mengunci. Bukan aroma sabun saja, yang mampu membangkitkan sesuatu dibawah sana, namun penampilan Riska yang mendadak berbeda hari ini.
"Kamu gak apa-apa?" tanya Daffa memutuskan tatapan mereka.
Buru-buru Riska hendak bangun, hingga Daffa pun mengangakat tubuh itu untuk berdiri tegak. Daffa menatap tak percaya pada penampilan Riska saat ini. Kain tipis yang digunakan gadis itu, sukses membuat Ia menelan salivanya kuat-kuat.
Riska yang ditatap menundukan pandangannya. Merasa malu akan penampilannya sendiri. 'Astaga, memalukan! Dahlah aku ganti baju lagi.' gerutunya dalam hati.
"Emm... A, aku ganti baju dulu kak!" dengan cepat Riska hendak berbalik, namun tangan Daffa segera mencegatnya. Bahkan tubuh Riska sampai berbalik dan menabrak tubuh tegap itu.
Deg!
__ADS_1
Lagi dan lagi, jantung Riska berdegup dengan kencang. Ilmu yang Ia pelajari dari para suhu, sungguh membuatnya senam jantung. Bagaimana tidak, tatapan Daffa berhasil membuat bulu kuduknya meremang seketika. Takut? Tentu saja. Ini pertama kali baginya untuk menyerahkan diri, menjalankan kewajiban sebagai seorang istri sesuai intruksi dari Kia.
Benda kenyal nan ranum milik sang gadis begitu menantang dimata Daffa, hingga tanpa aba-aba Ia menyambar benda itu. Menyecapnya lembut penuh perasaan. Riska sedikit ragu untuk membalas perlakuan itu. Namun lambat laun, Ia pun dapat menyeimbanginya. Bahkan tangan Riska bergerak hingga bertengher dileher Daffa.
Dirasa mendapat balasan dari sang istri, Daffa pun tak menyia-nyiakan hal itu. Has ratnya yang tertunda dari malam pertama sudah tak dapat Ia bendung lagi. Apalagi Ia mengingat kembali pesan Aska untuk bisa membobol malam ini, membuat Ia bersemangat untuk melakukan hal itu.
Ia menggiring tubuh sang istri menuju kasur, merebahkan tubuh mungil itu, hingga Ia mengukungnya. Tanpa melepas pagutan yang kian menuntut itu. Perlahan namun pasti, kain tipis dari tubuh sang istri terlepas. Bukan buah besar yang pernah Ia lihat difilm-film dewasa itu. Namun buah berukuran imut yang justru terlihat menuntut yang terpampang didepan matanya.
"Ihh malu kak!" Riska dengan cepat menutup dua aset berharganya itu dengan kedua lengannya.
Terlalu malu untuknya bertelanjang, apalagi didepan seorang pria. Pipinya bersemu merah dengan mata tertunduk malu. Daffa tersenyum, Ia melupakan siapa istrinya itu. Gadis yang masih begitu polos. Hingga Ia harus begitu sabar menghadapinya.
"Gak apa-apa, kita ini suami istri. Kamu juga boleh melihat tubuh kakak." ucap Daffa yang kemudian melepas kaos ketat yang melekat ditubuhnya.
Ia meraih tangan sang istri dan membawanya kedepan dada. Hal itu tentu membuat mata Riska membulat menatap kearah Daffa.
"Sentuhlah! Apa yang ada di diri kakak adalah milikmu."
Daffa kembali menyambar bibir yang sedikit terbuka itu, mengabsen setiap isi didalamnya. Tangannya bergerak memainkan buah mungil yang terpampang tadi.
Riska yang baru pertama kali mendapat sentuhan diarea sensitifnya, tentu merasakan sensasi yang luar biasa. Rasa ingin tau dan ingin dijamah lebih sukses melantunkan nada merdu dan sexy yang semakin menantang Daffa.
Mendengar alunan dari suara sang istri, membuat Daffa semakin liar. Bibirnya berjalan menelusuri setiap lekukan tubuh mungil itu. Hingga entah sejak kapan kain dari tubuh mereka sudah terlepas berhamburan tak tentu arah.
"Bolehkah?" bisik Daffa dengan napas memburu dan hanya diangguki Riska dengan napas sama pula.
Daffa mencoba mengarahkan si jack yang sudah tegak sedari tadi, menyapa si nona yang sudah basah. Mencoba menerobos gua kecil yang masih orisinil, hingga pekikan terdengar dari bibir Riska.
"A...a... Sakit Kak!" pekik Riska.
"Tahan ya, cuma sebentar aja. Nanti juga nggak!" balas Daffa mencoba menenangakan.
"Tapi sakit Kak! Itu yakin gak bakal robek?" celetuk Riska meringis kesakitan.
"Gak bakalan. Kamu percaya sama Kakak. Nanti pasti enakan." bujuk Daffa.
"Kakak udah ngalamin ya? Sama siapa?" tanya Riska merasa tak terima jika suaminya sudah berpengalaman dalam hal bobol membobol.
"Ya nggak lah! Itu kata orang. Ini yang pertama juga buat Kakak." balas Daffa.
__ADS_1
"Tapi ka-"
Cup!
"Kita lanjut ya, nanggung ini!" pinta Daffa setelah memotong ucapan Riska dengan kecupan.
"Tapi sakit Kak!" protes Riska.
"Ini udah terlanjur, baru kepalanya aja. Kita coba lanjut ya, siapa tau bener makin lama makin enak." balas Daffa.
"Tapi-"
"Akhhh!!!"
Karena sudah terlanjur, Daffa pun semakin melesakan senjata kebanggaannya semakin dalam hingga menyesakan si nona dibawah sana. Gelenyar panas terasa membara dari sejoli yang kini bersilaturahmi.
"Gimana? Apa sakit? Maaf ya!" sesal Daffa.
Nyatanya rasa penasarannya lebih tinggi dari rasa kasihan ketika melihat setetes air mata dari sang istri. Ia mengecup seluruh wajah itu sebagai tanda permintaan maafnya.
Riska yang juga penasaran, dan ingat kembali akan nasihat Kia perkara dosa, hanya mengangguk pasrah. Berharap semua akan berubah nikmat seperti yang mereka katakan.
"Kamu nya rileks ya, jangan tegang! Kita lakukan pelan-pelan." titah Daffa dan diangguki Riska.
Daffa kembali menyambar bibir Riska, untuk memberi ketenangan pada sang istri yang tampak tegang. Tak lupa tangannya kembali bergerak memainkan pucuk buah mungil itu, hingga suara sexy itu kembali terlantun dari bibir Riska.
Daffa pun mulai menggerakan tubuhnya. Menggali tempo yang mulai membawa mereka menuju nirwana. Hingga didetik-detik si jack akan menyemburkan bibit-bibitnya. Tiba-tiba saja Riska mendorong tubuh Daffa, hingga Daffa terguling kesamping.
"Kenapa?" tanya Daffa heran bercampur kesal. Karena hampir saja Ia mencapai puncak, konsentrasinya harus ambyar begitu saja.
"Kita melupakan sesuatu."
"Apa?"
"Si kokom!"
\*\*\*\*\*\*
Ini siapa yang hrus disalahin? Si kokom kah?🙈🤣🤣 yuk jejaknya jangan lupa yaa🤗
__ADS_1