Bossku, Jodohku!

Bossku, Jodohku!
Dicium Om Om!


__ADS_3

Ckkkiittt!!!


Daffa menginjak pedal remnya secara mendadak. Namun tetap saja, sesuatu didepan sana tertubruk bagian depan mobilnya. Dengan cepat Ia membuka pintu mobil dan keluar untuk memastikan apa yang sudah Ia tabrak.


"Astaga!"


Daffa terkejut, kala melihat sebuah motor matic tergeletak dijalan bersama seorang gadis berseragam putih abu yang tengah meringis kesakitan dengan tangan menahan kakinya.


"Kamu gak apa-apa?" tanya Daffa menghampiri.


Ia berjongkok dengan menekuk satu kakinya. Lalu tangannya meraih pundak sang gadis yang tengah tertunduk itu.


Sang gadis mendongak dengan air mata yang sudah membanjiri pipinya. Rasa perih dibagian lututnya membuat Ia tak bisa menahan air yang mendesak untuk keluar. Namun alangkah terkejutnya Ia kala melihat siapa yang menyapanya.


"Bapak 'kan?" tunjuknya pada wajah Daffa.


"Ck! Bisa gak sih kamu tuh jangan panggil saya Bapak? Saya belum bapak-bapak, belum punya anak, belum nikah juga." protes Daffa yang begitu kesal dengan panggilan sang gadis yang selalu memanggilnya bapak.


Sang gadis menghapus pipinya kasar. "Terserah!" ucapnya seraya ingin berdiri.


Namun sepertinya lututnya terluka dalam, hingga Ia tak bisa berdiri dengan benar. "Akkhhh!!!" desisnya meringis menahan perih dilutut itu.


Dengan sigap Daffa menangkap tubuh sang gadis yang hampir terjatuh. Hingga tubuh itu mendarat dipelukannya. Mata keduanya saling menatap. Menyelami rasa aneh yang menggetarkan dada mereka.


'OMG! Sumpah. Dia tampan sekali.' batin sang gadis mengagumi wajah Daffa yang begitu terlihat teduh dimatanya.


'Ada apa denganku? Kenapa jantungku seperti ini?' tanya Daffa bertanya-tanya dalam hati.


"Eheemm!!"


Daffa berdehem keras seraya menegakan tubuh sang gadis. "Kita kerumah sakit!" ajaknya.


"Gak usah Om! Aku gak apa-apa." balas sang gadis seraya merapihkan roknya yang kotor.


"Om?" tanya Daffa memastikan dengan tatapan tak percaya.


Sang gadis menoleh kearah gadis itu. "Kenapa? Katanya jangan panggil bapak, ya udah aku panggil om." jelasnya membuat Daffa menghembuskan napasnya kasar.


Setua itukah dirinya? Bahkan Ia tak memiliki seorang keponakan. "Ya udah terserah kamu. Sekarang kamu ikut saya, biar motor kamu ntar diambil orang bengkel." ajaknya menggandeng tangan sang gadis.


Gadis itu masih terdiam ketika Daffa menyeret tangannya untuk mengikuti langkah diirnya.


"Aku gak mau ikut. Aku gak apa-apa kok." tolak gadis itu.


Daffa menoleh dan kembali menatap gadis itu. "Ikut dengan saya. Saya berniat baik buat obatin luka kamu!" ajaknya.

__ADS_1


"Tapi ..." terlihat raut wajah takut dari sang gadis yang dapat ditangakap indera penglihatan Daffa.


"Jangan takut, saya gak akan ngapa-ngapain kamu!" ucap Daffa yang tau akan gegalagat sang gadis.


"Lagian mau aku apain coba, bocah bau kencur kek gini." gumamnya pelan.


"Apa Om?" tanya sang gadis yang mendengr gerutuan tak jelas dari pria itu.


"Gak ada. Ayo cepetan!" ajaknya lagi.


Sang gadis mencebikan bibirnya. Padahal Ia mendengar sekilas gerutuan itu, yang menyebutkan dirinya bau kencur.


"Nggak! Aku gak mau ikut." tolaknya lagi. "Ntar aku diculik lagi." gumamnya.


"Ck! Siapa juga yang mau culik kamu. Gak ada untungnya juga." protes Daffa berdecak kesal. Lama-lama gadis itu menyebalkan juga. Pikirnya.


"Ya 'kan siapa tau, Om mau culik aku. Terus jadiin aku sugar baby nya Om." balas si gadis mengeluarkan opininya.


Daffa menghembuskan napasnya panjang. Ternyata bicara sama anak kecil sungguh membuat Ia kesal sendiri. Apalgi menghadapi gadis cerewet seperti ini, sungguh membuat tensi darahnya naik drastis.


Tak ingin menimpali lagi cerocosan sang gadis, Daffa menggendong sang gadis ala bridge style. Hingga gadis itu menjerit kaget.


"E-ehhh! Om apa-apaan? Turunin aku nggak!" protesnya.


"Om mau culik aku ya? Turunin gak atau aku teriak nih!" ancam sang gadis seraya menggoyangkan tubuhnya.


Hingga setelah pintu itu terbuka, Daffa yag hendak mendudukn sang gadis harus ikut terjerembab ketika gadis itu berontak. Hingga tubuhnya menindih tubuh sang gadis. Bukan itu saja, bibir Daffa sukses bertemu dengan bibir sang gadis.


Deg!


Jantungnya berpacu dua kali lipat lebih cepat, begitupun sang gadis yang merasakan hal yang sama. Keduanya terpaku dengan mata saling mengunci. Hingga sang gadis tersadar dan segera mendorong tubuh tegap itu dengan keras.


"Ihhh! Om mesum!!" pekiknya.


Daffa terdorong, namun kepalanya justru mentok pada langit-langit dan terbentur. Karena tak dapat menyeimbangi tubuhnya. Lagi-lagi Daffa kembali terjerambab dan menindih sang gadis.


Baru saja dirinya ingin segera bangun suara seseorang dari luar membuat Ia terkejut, hingga kepalanya kembali terbentur seperti tadi.


"Hey! Kalian ngapain?" tanya seorang pria menghampiri bersama satu teman disampingnya.


"Wah, kalian lagi ***-*** ya!" ucap temannya itu.


Daffa mengeluarkan kepala seraya memegangnya. Kemungkinan kepalanya benjol karena karena dua kali mencium langit-langit mobilnya.


"Kita gak ngapa-ngapain Pak!" elak Daffa.

__ADS_1


"Gak mungkin gak ngapa-ngapain. Buktinya tuh gadis berantakan. Pasti kalian lagi berbuat yang tidak senonoh 'kan?" todong pria itu penuh curiga.


Keadaan sang gadis yang begitu berantakan, membuat mereka berfikir negatif tentang itu. Padahal itu sisa Ia tersungkur tadi dengan motornya.


"Tolongin aku, Pak! Om ini mesum. Masa di cium-cium aku. First kiss aku hilang deh. Huuu ..." sang gadis menangis, membuat kedua pria itu semakin yakin.


Satu pria membantu sang gadis keluar dari mobil itu, satu pria lagi menghadapi Daffa. Untuk menginterogasinya lebih dalam.


"Pak, beneran Pak! Ini tuh salah paham. Saya gak ngapa-ngapain dia. Serius Pak!" Daffa membela dirinya sendiri.


Ia bahkan menjelaskan detail dari awal kejadian yang menimpanya itu. Ditengah penjelasan itu, tiba-tiba suara dering dari ponsel sang gadis berbunyi.


Gadis itu menerima panggilan itu dan menangis.


"Mamih! Tolongin Riska Mih! Riska dicium Om! Om!" pekiknya dengan tangisan kencang.


Kedua pria itu terkekeh mendengar kejujuran dan kepolosan sang gadis. Setelah mendengrar penjelasan Daffa, mereka pun mengerti dengan apa yang terjadi. Daffa menatap tak percaya si gadis dengan hembusan napas kasar. Tangannya bergerak memegang pelipisnya yang tiba-tiba saja berdenyut.


"Bisa panjang ini urusannya." gumamnya.


**


"Kalo gitu kami permisi dulu yaa, bu. Mas!" pamit kedua pria yang mengantar Daffa dan gadis itu kerumah sang gadis.


"Iya. Maksih ya, Pak!" balas Mamih Riska.


Riska masih sesenggukan didekapan sang mamih. Terlihat gadis itu selain cerewet, juga sangatlah manja.


"Maafin saya bu! Saya tidak sengaja menyenggol motor putri ibu." ucap Daffa dengan tulus.


"Ibu juga gak perlu khawatir. Saya sudah nenyuruh seseorang untuk membawa motor putri ibu ke bengkel." Lanjut Daffa.


"Iya. Saya sudah memaafkan kamu. Saya juga gak akan mempermasalahkan ini kepihak berwajib. Tapi saya ingin tanya sesuatu." balas Mamih Riska.


Daffa menaikan sebelah alisnya, tau apa yang akan ditanyakan wanita paruh baya itu, Ia pun harus siap-siap menjawabnya.


"Apa benar kamu mencium putri saya?" tanyanya.


"Itu ... Itu salah paham bu! Saya-" belum juga ucapan Daffa selesai mamih Riska menyelak ucapannya.


"Kalo gitu, kamu harus nikahin anak saya!"


\*\*\*\*\*\*


Ayo jejaknya gaisss.. masih lanjutt yaa🤗

__ADS_1


__ADS_2