
"Kalian?" tunjuk Putra menatap tak percaya pada sejoli itu bergantian.
Sofi segera menutup mulutnya, karena sudah berbicara keras. Vani menghembuskan napasnya pelan seraya menundukan kepala, menyesali ucapannya yang tak sempat Ia teruskan. Hingga meninmbulkan salah paham disana.
Ketiga orang itu keluar dari dalam lift dan berhadapan dengan kedua pria beda generasi itu. Pria berkacamata disamping putra menatap tajam pada ketiga orang itu. Tatapan itu mampu membuat Sofi menunduk takut. Vani yang sudah menunduk, tak melihat jelas siapa kedua pria dihadapannya.
"Jelasin apa maksudnya?" tanya pria paruh baya itu dengan nada marah.
"Itu cuma slah paham, Pih." balas Aska dengan santainya.
'Pih?' batin Vani.
Karena penasaran Ia pun mendongakan wajahnya. Matanya membulat menatap wajah tak asing pria itu. Wajah yang sama yang sewaktu kecil Ia takuti. Wajah itu tak berubah masih tetap tampan diusianya yang sudah tak muda lagi.
"Ck! Kalo jelasin itu yang detail. Apa maksudnya kamu tidur sama gadis ini? Bukannya dia karyawan kamu?" cecar papih Age dengan berbagai pertanyaan seraya berakacak pinggang.
"Timom bilang kamu kembali sama Vani, terus mau duain dia gitu sama gadis ini?" tanyanya lagi seraya menunjuk Vani.
"Ingat, Ka! Kamu tuh cowok, harus gentle. Janga suka mainin perasaan cewek. Gak ada pengajarannya dikamus kita buat nyakitin cewek!" peringatnya.
"Gak usah mau jadi buaya, kita gak ada turunan buaya!" lanjutnya lagi masih dengan nada yang sama.
"Iya gak ada. Adanya turunan meong kalah sama macan." balas Putra.
"Bener tuh!" balas papih Age menyetujui, hingga Ia tersadar sesuatu.
"Kamu bilang apa tadi, meong?" tanya papih Age tak terima, pada Putra.
"Iya, om kan kek meong kalo depan onty!" celetuk Putra yang sudah tak segan lagi pada pria yang memiliki mulut pedas seperti ya.
"Enak aja kamu ngomong. Memprioritaskan wanita itu bukan berarti meong. Udah jangan banyak komentar, nikah dulu sana biar tau memprioritaskan pasangan. Jangan keasyikan solo!" balas papih Age dengan sengit.
"Atau jangan-jangan kamu udah belok lagi!" selidik papih Age.
"Ya nggaklah om! Saya masih tegak dan gak akan belok." balas Putra tak terima.
"Tapi saya denger nama kamu udah ganti." selak papih Age.
__ADS_1
"Ganti apa? Nama saya tetap Putra Atmaja." balas Putra sedikit keheranan.
"Bukannya nama kamu sekarang Putput?" Pertanyaan yang terdengar sebuah pernyataan dari pria paruh baya itu, sukses membuat gadis yang sedari tadi tertunduk itu mendongak dan tergelak.
Sungguh nama yang sangat menggelikan ditelinga Sofi. Seorang pria dengan wajah datar memiliki nama unyu, itu terdengar luar biasa menurutnya. Hanya dia seorang yang tertawa sampai terpingkal-pingkal. Sedangkan sejoli itu hanya melipat bibir menahan tawanya.
Merah sudah pipi Putra. Apalagi mendengar tawa gadis dihadapannya yang terdengar mengejeknya. Ingin sekali Ia membungkam bibir yang tak henti tertawa itu, namun niatnya harus Ia urungkan kala mengingat situasi dan kondisinya saat ini.
"Diam!" tegas Putra pada sang gadis. Seketika Sofi pun menghentikan tawanya dan masih melipat bibirnya.
Papih Age sendiri hanya terkekeh dengan gelengan kepala. Kemudian fokusnya beralih pada gadis cantik yang begitu kalem itu. Entah kenapa Ia merasa tak asing melihatnya.
"Jadi, siapa namamu? Benar kamu udah berbuat macam-macam sama anak saya?" tanyanya.
"Pih!!" peringat Aska yang tak ingin papihnya sampai mencecar berbagai pertanyaan yang akan menyakiti perasaan keksihnya.
Namun papih Age mengangkat tangannya agar Aska diam tak menyelaknya.
"Kamu tau kan peraturan kantor. Sesama karyawan tidak diizinkan memiliki hubungan." lanjut papih Age.
"Tapi kan Pak. Ila sama pak Aska bukan karyawan sama karyawan, tapi karyawan sama bossnya." celetuk Sofi yang langsung menutup mulutnya.
Papih Age menatap gadis cerwet yang mengingatkannya pada seseorang. Ia yang hendak menegur menjadi ragu dan mengurungkan niatnya. Kala gadis itu mengingatkannya pada sang istri dan adik cerewetnya.
"Ck sama aja!" balas papih Age dengan decakan kesal.
Ia beralih melihat lagi kearah Vani. "Sebaiknya kamu jauhin boss kamu. Dia udah punya kekasih, kamu masih muda jangan mau jadi pelakor." celetuk papih Age tanpa filter.
"Pihh!!" peringat Aska lagi dengan tegas.
"Apa? Itu tu kenyataan. Papih juga gak bakal ngasih duit atau konfensasi semacam itu." jelas sang papih.
"Emangnya drama Pak, pake sogokan segala?" celetuk Sofi untuk kedua kalinya.
"Suuuttt!!" Putra memberi peringatan pada gadis yang tak mau diam itu.
Vani tersenyum manis menanggapi itu. Papih Age menaikan sebelah alisnya melihat sang gadis yang begitu santai menanggapi ucapannya. Terlihat tenang sama seperti putranya itu.
__ADS_1
"Saya tanya sekali lagi, siap nama kamu?" tanya papih Age.
Vani menghembuskan terlebih dahulu napasnya pelan. "Saya Vanilla, om!" balas Vani.
Seketika dahi papih Age berkerut, merasa tak mengerti. Hingga tangan Vani yang meraih tangannya, berhasil membuat Ia terkesiap dari lamunannya. Vani menyalimi takzim tangan pria yang dulu sering Ia takuti.
"Smoga Om gak lupa sama saya." ucap Vani.
"Kamu? Vani?" tebak papih Age memastikan dan diangguki Vani dengan senyuman yang tak luntur dari bibirnya.
"Ya ampun! Kenapa gak bilang?" tanya papih Age merasa bersalah sudah bicara sembarangan pada gadis itu. Mereka pun terkekeh melihat kejadian tersebut.
Papih Age menghembuskan napas panjang. "Ya udah kita ngobrolnya didalam. Kaki Papih udah pegel nih!" Sang papih yang sudah tak sanggup menahan bobotnya tubuhnya, segera lebih dulu memasuki ruangan putranya.
Aska dan Vanilla pun mengikuti dari belakang. Berbeda dengan Vanilla, Sofi masih tak bergerak dari posisinya dan melihat sahabatnya menghilang dibalik pintu ruangan sang boss.
Ia hendak kembali memasuki lift untuk kelantai dimana Ia berada. Hingga pergerakannya tehenti kala tasnya nyangkut di sesuatu.
"Eeehh!!!" Sofi berbalik, hingga menatap sang pri yang tengah mencomot ujung tali tasnya.
Terlihat wajah datar itu yang mentap entahlah pada gadis dihadapannya. Sofi menatap balik dengan raut heran.
"Ada apa ya, Pak?" tanya Sofi dengan sedikit ragu.
"Siapa yang izinin kamu pergi?" tanya Putra.
"Nggak ada Pak!" balas Sofi masih dengan nada yang sama.
"Masuk ke ruangan saya!" titahnya dan diangguki cepat gadis itu.
Setelah pria itu berbalik dan hendak memasuki ruangannya, Sofi pun berlenggang mengikuti. Keduanya pun sampai didalam ruangan itu. Sofi mendekat kearah sang atasan yang memunggunginya.
"Maaf Pak, ada yang bisa saya bantu?" tanya Sofi dengan kembali ragu.
Putra berbalik hingga tubuh mereka hendak bertabrakan. Mata keduanya bersitatap dan saling mengunci.
"Apa bibirmu ga bisa dien, hem? tanyanya seraya mendekatkan wajahnya dan tanpa diduga benda kenyalnya mrnyambar milik sang gadis hinga Sofi membelakak merasa tak percaya.
__ADS_1
\*\*\*\*\*\*
Jempolnya juga, jangan lupa yaa🤗