
Seorang gadis terbangun kala sinar lampu begitu menusuk matanya. Ia yang terbiasa tidur dikegelapan, tentu terganggu akan sinar yang menyilaukan matanya itu. Keadaan diluar yang masih gelap, membuat cahaya lampu masih begitu terang didalam ruangan itu. Tangannya meraba pelipisnya yang masih menyisakan denyut. Hingga Ia tersadar sempurna, kala merasa sesuatu menimpa perutnya.
"Astaga!" Vani shok bukan main. Matanya membola sempurna, kala tangan kekar bersemayam diperutnya.
Ia memutar kembali memori otaknya malam tadi. Hingga berhenti disebuah kejdian yang ingin Ia lupakan.
"Gak mungkin!" gumamnya pelan seraya menggelengkan kepala.
Dengan perlahan Ia menolehkan wajah. Netranya menangakap tubuh tegap yang terbaring disampingnya, Ia menelan salivanya kuat-kuat melihat tubuh besar itu. Lalu netranya naik keatas hingga tepat diwajah tampan seseorang.
Vani melongo melihat pemandangan itu. Ia mengerjapkan matanya berulang kali merasa tak percaya dengan apa yang Ia lihat. Bahkan Ia mengucek matanya untuk memastikan itu.
"Aka?!" gumamnya.
Pergerakan demi pergerakan membangunkan pria tampan itu dari mimpi indahnya. Bagaimana tidak? Sekarang Ia benar-benar sudah memiliki gadis didekapannya dan tak akan ada lagi yang dapat memisahkan mereka. Kecuali maut yang telah Tuhan takdirkan.
Aska membuka matanya, pemandangan pertama yang Ia lihat wajah cantik seorang gadis yang kini sudah sah menjadi istrinya. Wajah polos yang begitu menggemasakn diindera penglihatannya.
Ia mendekatkan wajahnya dan mengecup dalam kening sang gadis. Vani memejamkan matanya, merasakan dingin dari benda kenyal yang ternyata itu bukanlah sebuah mimpi.
"Selamat pagi sayang!" sapa Aska dengan senyuman yang menggambarkan keadaan hatinya sekarang.
"Aka?!" bukan menjawab sapaan Vani kembali memastikan. Takut jika itu hanya mimpi atau matanya yang masih siwer karena baru saja terbangun.
"Apa, hem?" tanya Aska dengan ekspresi yang sama.
Vani mengangkat sebelah tangannya. Lalu membelai pipi dan rahang pria didepannya ingin memastikan sekali lagi keraguannya. Tangan lembut itu mampu membuat Aska memejamkan mata. Hati dan jantungnya berdebar mendapat perlakuan seperti itu.
Ia raih tangan yang bertengger di pipi dan mengecupnya, seraya membukakan mata yang sempt terpejam. Tau pastilah sang gadis tengah kebingungan dan kini ingin memastikan. Ia pun memberi penjelasan.
"You're my mine! You're my wife Vanilla!" ucapnya.
Vani berhambur kedalam dekapan pria yang kini mengaku sebagai suaminya itu. Menyembunyikan bulir hangat dari rasa bahagia yang Ia rasa. Aska membalas dekapan itu tak kalah erat. Sungguhpun itu sebuah kebahagaiaan yang tak terkira untuk keduanya.
"Jangan nangis lagi ya! Mulai sekarang, kamu dilarang keras untuk menangis! Jika tidak, aka akan hukum kamu." larang Aska dengan sedikit memberi ancaman. Vani tak bersuara, Ia hanya menganggukan kepalanya sebagai jawaban.
__ADS_1
Aska melerai pelukannya dan menangkup pipi cantik itu. Lalu ibu jarinya bergerak menghapus lelehan dari jejak kebasahan disana.
"Coba tunjukin! Aka belum lihat senyuman manis kamu?" goda Aska.
Vani mencoba tersenyum sesuai perintah suaminya. Senyum manis yang begitu tulus, lengkungan bibir yang menandakan kebahagiaannnya saat ini.
"Nah, kan cantik!" puji Aska seraya menoel hidung mancung itu.
Blush!
Pipi putih itu berubah merah dengan pujian dari suaminya itu. Sungguh hal itu semakin membuat Aska gemas. Ingin sekali Ia mengigit kulit merah itu, jika saja Ia tak takut ditendang dari tempat Ia berbring kini.
"Masa malam pertama udah nangis. Belum juga aka apa-apain." godanya dan langsung dapat tampolan manja didada dari sang istri.
"Apa sih! Emang mau diapain?" sergah Vani dengan wajah menahan malu. Padahal Ia tau apa maksud pria dihadapannya ini, namun Ia pura-pura polos untuk mempertahankan egonya.
Aska terkekeh mendapati tanggapapan itu. "Mau aka ajak bikin adonan baby. Boleh?" bisiknya.
Hembusan napas sang suami denga suara sexy nya, membuat bulu kuduk Vani meremang seketika. Ia mengigigit bibir bawahnya dengan mata terpejam. Aska kembali terkekeh dan mendekap tubuh ramping sang istri.
"Tapi gak disini." ucapnya hingga Vani mendongak dengan berbagai pertanyaan yang tersirat diwajahnya. Sepertinya Ia belum menyadari dimana kini keberadaan mereka.
Aska tertawa melihat kebingungan dari gadisnya itu. "Kenapa? Menurutmu kita dihotel?" godanya.
"Isshh! Bukan gitu. Aku kan lupa." balas Vani dengan raut wajah kesal.
"Oh iya, aka lupa. Kamu kan pingsan." goda Aska lagi, kemudian Ia pun tergelak.
Vani mengerucutkan bibrnya. Ia memang lupa dengan apa yang terjadi semalam. Bahkan Ia tak tau mahar apa yang diberikan suaminya itu. Ia mengangkat tangan kirinya, hingga Ia tersenyum melihat benda melingkar yang tersemat dijari manisnya.
Aska menghentikan tawanya dan meraih tangan putih dengan jari lentik milik sang gadis, lalu membelai lembut tangan itu.
"Kamu pasti lupa kejadian semalam. Apa mau aka ingatkan?" tanya Aska dan diangguki semangat dari sang gadis.
"Boleh!"
__ADS_1
"Jadi, Malam tu ...."
**
Flash back on~
"Ka!" sapa papih Age
Pria yang duduk dikursi disamping brankar itu menoleh. Ia tak melepaskan tangan sang kekasih barang sedikit pun. Bahkan berulang kali Ia mendaratakan kecupan dipunggung tangan sang gadis.
"Iya, Pih!" balasnya.
"Jadi gimana, mau nikah sekarang apa ntar aja?" tanya sang papih.
Sungguhpun pertanyaan itu membuat Ia kesal bagaimana mungkin Ia bisa menikahi gadisnya yang terbujur lemah diatas brankar itu.
"Apa sih Pih! Vani masih belum sadar. Itu gak penting sekarang bagiku. Yang terpenting sekarang keadaan gadisku untuk segera sa." balas Aska.
"Ck! Kamu tuh. Nikah juga penting." balas papih Age dengan decakan kesal. Ia melirik kanan kiri dan mulai berbicara pelan.
"Kamu tau gak? Timom sama mamanya Vani udah bekerja keras buat bujuk mamanya Daffa. Apa kamu mau nyia-nyiain kesempatan ini? Kalo tiba-tiba mamanya Daffa berubah pikiran, gimana coba?" tanya papih Age yang mulai mengingatkan rencana awal mereka.
Aska terdiam sejenak, mencerna ucapan sang papih yang ada benarnya juga. Sampai ditahap ini bukanlah hal mudah baginya. Mengingat rintangan yang bersangkutan dengan kesehatan seseorang, membuat Ia harus berpikir dua kali untuk menolak melanjutkan rencana mereka.
"Lagian kamu harus bersyukur. Mamanya Daffa dengan suka rela membawa pak penghulu untuk kalian." lanjut papih Age.
Aska mengangguk mengerti. "Baikalah! Aku akan menikahi Vani sekarang juga." balasnya dan disambut senyuman dari sang papih.
Setelah kesepakatan itu. Kini pak penghulu dan semua orang yang sempat menunggu diluar ruangan sudah stay mengerumuni Aska yang berhadapan dengan papa Ivan dan pak penghulu. Bahkan papih Age meminta pihak rumah sakit untuk menyiapkan meja dan kursi untuk sang mempelai pria. Ia juga meminta salah satu dokter dan Daffa yang akan menjadi saksi disana.
"Gimana, sudah siap?" tanya pak penghulu yang sedari tadi begitu sabar menunggu drama yang dilakukan keluarga kliennya itu. Untung saja acara ini dilangsungkan malam. Jika siang, sudah pasti Ia akan kabur untuk pergi ke pengantin yang lain.
"Saya siap, Pak!"
\*\*\*\*\*\*
__ADS_1
Ayo jejaknya jangan lupa ya! tunggu lagi up nyaa🤗
yang add fb mak othor, inbok yaa! yang belum ayo di add... "Nuryanti AdeMaulana"