Bossku, Jodohku!

Bossku, Jodohku!
Calon istri?


__ADS_3

Semua karyawan sudah memasuki kantor. Begitupun kedua sahabat itu. Mereka sudah sampai dimeja mereka. Sebelum duduk dikursinya, Vani dibuat heran dengan keadaan mejanya. Ia mengerenyitkan dahinya melihat sebuah paperbag yang bertengger disana.


"Punya siapa ini?" tanyanya.


"Wihh! Kayaknya kamu dapat fans baru, La!" goda Sofi menyenggol-nyenggol bahu sahabatnya itu.


Vani hanya tersenyum menanggapi. Tak ingin langsung menyimpulkan, Ia pun bertanya pada salah satu senior disana.


"Mba, Wid! Boleh tanya, ini milik siapa ya?" tanyanya.


"Entah! Aku juga baru datang. Coba kamu lihat, mungkin ada surat atau kartu dari pengirimnya!" balas Mbak Widya memberi saran.


"Udah La buka aja!" Sofi ikut memberi saran dengan menggebu.


"Gak gitu Fi, takutnya ini punya siapa." balas Vani yang masih ragu untuk membukanya.


"Aku rasa itu emang buat kamu. Buktinya itu ditaroh dimeja kamu." balas Mbak Widya menimpali.


"Iya, La. Bener tuh, cepet buka!" titah Sofi yang sudah kepo tingkat dewa.


Akhirnya Vani pun pasrah mengikuti saran kedua wanita beda usia itu. Keadaan yang masih sepi dan hanya mereka bertiga saja, meyakinkannya, jika benda itu bukan dari orang yang kerja ditempat yang sama.


Ia buka dan mengintip isi paperbag itu dengan sahabatnya yang ikut mengintip, matanya mengerenyit melihat itu. Sebuah kotak yang mampu membuat mata Sofi membelakak.


"Ya ampun. Ponsel La!" pekiknya. Dengan cepat Ia ambil kotak itu dari dalam sana dan memamerkan benda itu kehadapan Mbak Widya.


Alih-alih memperhatikan kotak ponsel keluaran terbaru itu. Vani justru lebih tertarik pada sebuah kartu didalam sana. Senyumnya terukir kala membaca isi dari kartu itu.


"Aka tunggu ucapan terima kasih darimu! Temui aka diruangan, dijam makan siang."


"Ciee ..." dengan usilnya Sofi menggoda Vani.


Mbak Widya yang tak mengerti hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Tak ingin ikut campur dalam urusan para gadis Ia pun berlenggang pergi meninggalkan keduanya.


"Wihh! Siap jadi bu boss nih?" goda Sofi lagi. Vani yang tak ingin orang lain mendengar percakapan mereka segera mengangkat telunjuknya keatas bibir untuk memberi kode pada sahabatnya.


"Suutt!!!"


"Jangan membuat masalah deh!" peringat Vani.

__ADS_1


"Masalah apanya? Biarlah semua orang tau, kalo kamu keasayangan si boss." balas Sofi dengan sedikit teriakan. Sontak saja Vani pun membekap sahabatnya itu.


Sofi berontak hendak melepaskan bekapan tangan sahabatnya, namun Vani tak membiarkan itu. Aksi bercanda dan gelak tawa terdengar riuh diruangan luas yang hanya berpenghuni dua gadis itu.


Ditengah canda tawa mereka suara deheman keras sukses membuat kedua gadis itu mengalihkan atensinya.


"Ehemm!!"


Mereka pun seketika segera berdiri tegak dengan membukukan badan, memberi hormat pada pria yang tengah berdiri diambang pintu dengan kedua tangan yang Ia masukin kedalam saku celananya.


"Kamu!" tunjuknya pada salah satu gadis, lalu menggerakan jari memberi kode agar salah satu gadis untuk mendekat.


"Sa-saya Pak!" jawab Sofi dengan sedikit tergagap. Gadis yang ditunjuk pria dengan wajah datar itu ternyata Sofi.


"Apa ada orang lain dibelakangmu?" tanyanya dengan nada sinis.


"Y-ya nggak ada Pak." balas Sofi dengan sedikit kesal dengan nada bicara sang atasan.


"Bawa segera dokumen laporan yang saya suruh kemarin ke ruangan saya. Sepuluh menit, saya tidak suka membuang waktu. Mengerti!" jelasnya dengan nada yang sama.


"Iya Pak!" balas Sofi menunduk dengan wajah kian kusut.


Pria itu berlenggang meninggalkan tempatnya berdiri. Menyisakan Vani dengan senyumnya, dan Sofi dengan kekesalannya.


"Udahlah Fi, sepuluh menit. Ayo cepat, aku bantu siapin!" peringat Vani agar sahabatnya itu segera bergerak mencari apa yang dibutuhkan atasannya itu.


Sofi pun pasrah dan mengikuti saran dari Vani. Ia bergegas mencari dan mengumpulkan apa yang diperlukan dan segera pergi menuju kandang macan itu.


Sementara itu Vani hanya tersenyum seraya menggelengkan kepalanya, merasa kasihan dan lucu bersamaan akan tingkah sahabat cerewetmya itu. Ia pun mendudukan diri, menatap benda kotak diatas meja itu. Senyumnya terukir kala tanganya menjangkau benda itu dan memainkanya ditangan.


"Darimana dia tau aku butuh ini?" tanyanya bermonolog sendiri.


Tiba-tiba Ia mengingat kejadian didalam mobil waktu itu. Sang boss sempat melihat ponselnya yang retak akibat terjatuh saat dihalte. Namun Ia tak menyangka, sang boss akan membelikan benda itu untuknya.


Ia tersenyum mengingat itu, Ia yang sempat berpikir sang boss tengah bertukar pesan dengan kekasihnya menjadi malu sendiri. Ternyata Ia tengah diperhatikan kala itu. Namun Ia tak akan menerimanya begitu saja. Ia ingin membeli keperluan dirinya dari hasil keringat sendiri.


**


Tring!

__ADS_1


Pintu lift terbuka, Vani keluar dari dalam benda itu dengan perasan sedikit gugup. Hingga Ia terus menarik dan membuang napasnya berulang kali, dengan kedua tangan menggenggam erat tali paperbag digenggamannya.


Ia meminta izin pada sekretaris wanita didepan ruangan sang boss. Setelah mendapat izin dari penghuni ruangan itu akhirnya Vani pun memasukinya.


Terlihat tubuh tegap itu tengah menghadap kearah jendela kaca besar yang menampakan jalan padat kendaraan dibawah sana.


"Siang Pak?!" sapa Vani menundukan kepala, memberi hormat pada orang tertinggi dikantor itu.


Aska tersenyum mendengar suara lembut itu seraya membalikan tubuhnya mengahadap sang gadis yang masih tertunduk.


Ia mendekat kearah sang gadis, tanpa aba-aba pria tampan itu mendekap tubuh ramping sang gadis. Hal itu sontak membuat Vani terkesiap.


"Kita lagi berdua, gak usah panggil bapak!" titahnya. Vani hanya tersenyum menanggapi.


"Aka merindukanmu." lanjutnya seraya menghirup dalam-dalam aroma sampo yang menempel dirambut sang gadis.


Vani tersipu mendengar penuturan itu. Tak dipungkiri Ia pun merasakan hal yang sama. Dengan sedikit ragu Ia membalas memeluk tubuh tegap itu dan mencium aroma khas yang sudah mencandui indera penghirupannya.


"Udah kak lepasin, ntar ada yang lihat!" titah Vani setelah sekian lama, takut-takut ada yang memergoki mereka.


"Sebentar lagi, biarkan seperti ini." balas Aska.


"Jangan gitu kak! Ini bisa menjadi contoh buruk buat karyawan aka." peringat Vani dengan sedikit omelan.


Aska tersenyum menanggapi. "Apa salah jika Aka bersikap seperti ini pada calon istri aka?" tanyanya.


Blush!


Merah sudah pipi Vani mendapati penuturan itu. Calon istri? Benarkah itu? Ia sampai melesakam wajahnya lebih dalam didada bidang itu.


"Aka!!" rengek Vani dengan nada yang terdengar manja ditelinga sang boss.


Aska tertawa mendengar rengekan itu. Serata bibir yang tak henti mengecup pucuk kepala sang gadis. Ia melerai pelukannya dan menangkup kedua pipi sang gadis.


"Bolehkah aku menemui papamu?" tanya Aska menatap dalam mata sang gadis.


Vani tersenyum tipis. "Buat apa? Papa-" belun juga ucapannya selesai pria didepannya sudah menyelaknya dengan menempelkan jari telunjuk dibibir ranum itu.


"Buat meminta izin untuk menikahi putri tidur yang teramat cantik ini."

__ADS_1


\*\*\*\*\*\*


Jangan lupa jejaknya yaa gaisss🤗


__ADS_2