
"Setelah kami benar-benar pindah, saya selalu mengingatkan Vani agar gak dekat dengan lelaki manapun, karena ada Aska yang menunggunya." lanjutnya.
"Hingga ... Vani benar-benar menjaga hatinya untuk suami kecilnya." lanjutnya lagi dengan raut wajah yang semakin sendu.
"Pada saat Daffa meminta izin untuk berpacaran sama Vani, saya sedikit ragu. Namun mengingat kami gak tentu kapan kembali, bahkan mungkin mereka sudah melupakan hal itu. Saya mencoba untuk mengizinkan Daffa dan Vani bersama. Dan saya yakin, Daffa orang yang tepat untuk menjaga putri saya."
"Tapi ... Semua diluar dugaan. Vani begitu setia dengan hatinya. Tanpa saya tau setiap malam Ia menangis merindukan Aska." lanjut mama Lia. Luruh juga air matanya. Entah air mata apa itu, yang jelas raut wajahnya mengungkapkan, jika Ia tak baik-baik saja.
Tante Rita ikut sendu mendengar cerita itu, hingga Ia ikut mengeluarkan air matanya. Timom Siska menatap tak percaya kearah kedunya. Apa benar itu beneran berhasil? Pikirnya. Ia yang sempat ragu akan drama dadakan yang dilakukan sahabatnya itu, benar-benar merasa tak percaya.
"Kalo saja Sofi gak ngasih tau saya, saya gak akan pernah tau. Kalo ternyata Vani mencintai suami kecilnya itu. Dia selalu terlihat baik-baik saja dihadapan saya. Dia tak pernah memperlihatkan kesedihan atau ketidak sukaannya didepan saya." lanjut mama Lia.
"Saya berasa gagal, menjadi mama yang diharapkan putrinya. Saya bahkan gak tau apa yang membuat dia bahagia." lanjutnya dengan isak tangis yang begitu memilukan.
Tante Rita berdiri dan mendekat, Ia mendekap tubuh ringkih itu untuk mencoba menenangkannya.
"Udah Bu, jangan nangis! Kita memang gak tau apa yang bakal terjadi. Mungkin sekarang Vani memang jodohnya dengan Daffa." ucap tante Rita.
Seketika mama Lia menghentikan tangisnya. 'Kok Daffa?' batinnya bertanya-tanya.
"Saya yakin, Daffa adalah kebahagiaan yang dicari oleh Vani." lanjutnya.
Mama Lia melongo mendengar itu. Matanya berkedip cepat dengan otaknya yang tiba-tiba ngeleg. Sebenarnya disini siapa yang salah tangkap? Apa sedari tadi Ia bicara tak sampai diotak dan hati bu Rita? Pikirnya.
Timom Siska menepuk jidatnya sendiri melihat itu. Sepertinya tante Rita kurang memahami apa yang dimaksud dengan tujuan pembicaraan itu. Terdengar hembusan napas panjang dari bibir wanita yang masih imut diusianya itu. Sepertinya Ia harus turun tangan untuk menambahkan sedikit bumbu pada pembicaraan mereka.
Drama pun dimulai. Timom Siska mulai mengeluarkan air matanya. Entah itu disebut air mata buaya atau apa, yang jelas demi sang putra Ia rela melakukan apapun. Termasuk menyelipkan sedikit kebohongan demi kebaikan mereka.
"Li, udah Li! Mungkin ini jalan takdir yang harus kita hadapi. Aka sama Vani mungkin gak bisa bersama. Dan kita harus ikhlas." ucapnya dengan isakan tangis.
"Aku tau Sis. Tapi bagaimana dengan hati mereka. Bukannya kamu juga bilang Aska menolak semua perempuan demi menunggu istri kecilnya pulang?" jelas mama Lia.
__ADS_1
"Iya, aku tau. Mereka mempunyai ikatan batin yang kuat untuk saling menjaga hati. Mereka saling meyakinkan untuk kembali bersama. Tapi, kita harus mengakui keadaannya sekarang Li. Ada Daffa, dan mereka harus bisa untuk gak bersama." balas timom Siska lagi.
Keduanya terus menangis untuk lebih meyakinkan tante Rita. Tak ada penimpalan apapun dari wanita paruh baya itu.
"Aku merasa bersalah banget, bahkan berdosa sama putriku sendiri. Maafin mama Van, maafin mama!" lirihnya dengan tangis semakin kencang.
"Udah Li, udah!" balas timom menenenangkan. Ia terus menenangkan seraya mendekapnya.
Tante Rita melepaskan dekapannya, membiarakn keduanya larut dalam tangis mereka. Ia memutuskan untuk segera bertemu dengan Daffa dan meminta penjelasan padanya.
"Maaf Bu Lia, Bu Siska." ucap tante Rita hingga meleraikan pelukan mereka.
"Saya dapat chat dari orang rumah. Saya mohon permisi dulu ya, sore nanti saya temui Ibu dirumah sakit." pamitnya.
"Ah iya, Bu! Maaf merepotkan. Maaf Ibu harus dengerin curhatan saya." sesal mama Lia.
"Gak apa-apa Bu, saya benar-benar terharu mendengarnya. Tapi sayang, saya harus pulang dulu. Lain waktu, saya ingin mendengar ceritnya lagi. Saya permisi dulu ya!" pamitnya dengan segera beranjak dari tempat itu.
"Gimana ini?" tanya timom Siska.
"Entahlah ... Aku bingung. Sepertinya kita sudah gagal." balas mama Lia, hingga helaan napas panjang terdengar kembali dari bibir kedunya.
Setelah makan siang yang kesorean, kini kedua wanita itu kembali kerumah sakit. Tepatnya keruangan papa Ivan, untuk membahas akan hal itu. Tak lupa timom Siska juga mengabari suaminya untuk segera mengunjunginya diruangan itu.
**
Waktu pun semakin sore. Papih Age pun datang menemui mereka. Ia yang harus menyelesaikan dulu pekerjaannya, akhirnya baru bisa berkunjung kesana. Meski Ia tak tau apa yang sudah dilakukan istrinya itu.
"Apa? Nikah? Disini?" tanya papih Age setelah mendengar cerita sang istri terlebih dahulu.
Timom mengangguk, membenarkan pertanyaan suaminya. Papih Age menghebuskan napasnya kasar. Sungguhpun baru pertama kali Ia mendengar permintaan aneh putranya.
__ADS_1
"Kenapa harus dadakan? Kenapa harus disini?" cecar pria tampan yang menolak tua itu dan dijawab gedikan bahu istrinya.
"Bukan itu pertanyaannya. Lebih tepatnya, gimana dengan keadaan bu Rita sama Daffa. Apa mereka menerima itu?" tanya papa Ivan.
"Itu yang kami bingungkan. Tak ada respon apapun dari bibir bu Rita. Aku takut terjadi apa-apa sama dia." lirih mama Lia.
Ditengah pembicaraaan itu, Putra dan Sofi yang sengaja dipanggil mereka pun datang. Kedua orang itu dituntut untuk menceritakan tentang sahabatnya masing-masing itu. Sesuai dugaan, sejoli itu memang mempunyai perasaan yang sama. Bahkan mereka dibuat shok dengan kenyataan hari ini yang mengatakan sejoli itu tak masuk kerja bersama.
Pintu ruangan diketuk cukup keras dari luar. Hingga seseorang menggeser benda itu, setelah mendapat izin dari penghuni didalamnya. Ternyata Daffa dan mamanya lah yang datang memasuki ruangan itu, disusul pria paruh baya dibelakangnya, dengan setelan formal dan peci yang dikenakannya.
"Bu Rita? Ini?" tanya mama Lia merasa tak percaya.
"Iya. Saya sudah membicarakan ini dengan Daffa." balas tante Rita.
Setelah pulang dari kafe tadi tante Rita segera bicara dan meminta penjelasan dari Daffa. Akhirya Daffa pun dapat menceritakan itu dengan pelan dan juga tenang. Meski sedikit tak terima, namun Ia tak ingin egois. Bahkan tau pastilah sang putra yang akan menjadi korbannya. Itu mungkin lebih baik, daripada mereka sudah terlanjur lebih jauh. Itu akan lebih menyakitkan untuk putranya.
"Saya dan Daffa sengaja menyiapkan ini." Ucapnya menujuk pak penghulu dengan dagunya. "Kami ingin melihat Aska dan Vanila menikah sekarang." lanjutnya.
Dengan cepat mama Lia memeluk tubuh tante Rita. Berulang kali kata terima kasih Ia lontarkan pada wanita paruh baya itu. Air matanya luruh bergitu saja. Rasa haru dan bahagia menyelimuti keadaan disana.
**Flash back off~
\*\*\*\*\*\*
Ayo gaiss crazy up yaa🤗 jangan lupa jejaknya! Besok siap unboxing oke**..
Add fb mak othor yuk! Biar bisa ngobrol bareng. Ntar aku bikin grup buat kalian!
FB: Nuryanti AdeMaulana
Ig: @adenuryanti21
__ADS_1