
"Bagaimana keadaan Papa sekarang?" tanya Vani pada sang pap yang kini tengah duduk diatas brankar.
Terlihat pipi tirus itu kini sudah mulai terisi kembali. Dua minggu sejak dinyatakan sadar, kini papa Ivan sudah banyak perubahan. Ia sudah bisa bicara dengan lancar. Seluruh anggota tubuhnya sudah dapat digerakan dengan baik. Tinggal kaki saja yang masih sulit untuk berjalan dengan normal.
"Alhamdulillah, sekarang sudah mulai terasa enakan." balas Papa Ivan dan diangguki Vani disertai senyumnya.
"Emm ... Van!" sapa sang papa sedikit ragu.
"Iya, Pa!" balas Vani mendongak.
"Papa boleh tanya sesuatu?" tanyanya dan kembali dibalas senyum gadis cantik yang sudah siap untuk berangkat bekerja itu.
"Apa?" tanya balik Vani seraya memainkan tangam sang papa yang begitu putih.
"Apa kamu yakin mau memilih aka?" tanya sang papa, dan hal itu sukses menghentikan aktifitas sang gadis.
"Kenapa Papa tanya itu?" bukan menjawab, Vami kembali bertanya pada sang papa dengan serius.
"Sebenarnya, ada yang papa sepakati dengan almarhum pak Wisnu." balas papa Ivan dengan ragu.
"Sepakati? Apa?" tanya Vani yang mulai sedikit waswas. Entah kenapa jantungnya tiba-tiba berdegup kencang untuk mendengar kalimat selanjutnya dari sang papa.
"Papa dan pak Wisnu sepakat untuk menjodohkan kamu sama Daffa." balas papa Ivan .
Deg!
Benar, apa yang dikhawatirkan Vani benar-benar terjadi. Haruskah Ia kembali melupakan cintanya? Haruskah Ia hidup dengan pria yang sama sekali tak pernah Ia cintai? Vani hanya terdiam seraya pikiran yang sudah melayang kemana.
"Papa gak maksa kamu. Tapi, apa tidak sebaiknya kita tak mengingkari janji yang sudah kita sepakati?" tanya papa Ivan.
Vani mencoba tersenyum semanis mungkin. Perkataan papanya memanglah benar setiap janji memanglah harus ditepati. Lalu bagaimana janjinya pada sang kekasih sewaktu kecil dulu?
"Biar kupikirkan lagi, Pa!" pungkas Vani. Ia tak ingin sang papa khawatir dan melihat dirinya yang rapuh.
Ditengah pembicaraan ayah dan putrinya itu ketukan pintu yang berlanjut benda itu terbuka, mengalihkan perhatian mereka. Seorang wanita paruh baya dengan pria yang diyakini putranya memasuki tempat itu.
"Assalamualaikum!" sapanya.
__ADS_1
"Waalaikumsalam!" balas kedua penghuni ruangan itu.
Segera pria yang masuk itu menyalimi takzim tangan papa Ivan. Begitupun wanita paruh baya yang meyaliminya dan Vani yang menyalimi takzim wanita itu. Menyalimi orang yang lebih tua secara takzim adalah adalah adat sopan yang tak lepas dari keluarga mereka.
"Pak Ivan, gimana kondisinya sekarang?" tanya wanita dengan membawa sebuket bunga ditangannya.
Papa Ivan tersenyum ramah pada tamu mereka. "Alhamdulillah, sekarang sudah lebih baik!" balas papa Ivan.
"Syukurlah!" balasnya ikut tersenyum.
"Maaf ya, baru sempat jenguk. Pas dikasih tau pak Ivan udah sadar, saya lagi ikut Daffa." sesalnya, "mau cepat kesini, eh, dianya sibuk." lanjutnya seraya menunjuk putranya.
Papa Ivan tersenyum menanggapi. "Iya, gak apa-apa bu. Saya justru berterima kasih pada Ibu dan Nak Daffa, karena sudah terlalu banyak membantu kami." balasnya dengan wajah sendu.
Papa Ivan kembali mengingat kejadian lima tahun silam, dimana dirinya bersama temannya harus mengalami tragedi naas yang membuat ayah Daffa meninggal dunia.
"Gak papa Pak, jangan sungkan. Sebentar lagi kan kita jadi keluarga." celetuk tante Rita.
Deg!
Vani melengos mendengar penuturan itu. Keluarga? Ia memang menganggap keluarga Daffa sebagai keluarganya juga. Namun bukan keluarga yang seperti wanita paruh baya itu pikirkan.
"Oh iya, calon mantu tante udah cantik nih. Mau berangkat kerja?" tanya tante Rita pada Vani dengan nada menggoda.
Vani mencoba tersenyum dan bersikap sebiasa mungkin. "Iya tan. Sebentar lagi aku berangkat." balasnya seraya melirik jam yang melingkar dipergelangan tangannya.
"Ya udah diantar Daffa aja!" tante Rita menyarankan putranya untuk mengantar.
"Gak usah tan. Aku lagi nunggu-" Vani tak meneruskan ucapannya, bingung harus berkata jujur atau Ia harus berbohong.
"Mungkin Sofi udah nunggu diluar. Kakak antar sampai bawah, ya." selak Daffa yang tak ingin sang mama terus bertanya.
Setelah berpamitan, Daffa dan Vani pun keluar dari sana setelah mama Lia kembali dari rumah untuk mengambil keperluannya.
"Maaf!" ucap Daffa ketika keduanya tengah berjalan menuju lift, setelah sedari tadi keluar ruangan hanya ada keheningan diantara mereka.
"Untuk apa? Kakak gak salah." balas Vani tersenyum dengan tatapan lurus kedepan.
__ADS_1
Daffa menoleh kearah sang gadis yang terlihat baik-baik saja. Seperti biasa, hanya senyum yang terlihat dari wajah cantik itu.
"Karena kakak belum bisa membicarakan tentang kita pada mama." sesal Daffa.
Vani menghela napasnya pelan. "Sampai kapan?" tanyanya.
Daffa menghentikan langkah kaki dan diikuti gadis disampingnya. Lalu menghadapkan diri pada sang gadis hingga mereka berhadapan.
"Maaf!" sesal Daffa lagi.
Vani menghembuskan napasnya pelan, "bicaralah sama tante, aku tau ini gak mudah. Tapi ini akan makin sulit untuk kita."
"Kakak tau. Tapi," Daffa menggenggam tangan Vani, membawanya kedepan.
"Gak ada kah satu kesempatan untuk kita memulai ini lagi?" tanyanya.
Vani melepaskan genggaman itu pelan, "aku harus berangakat." balasnya disertai senyuman manisnya.
Ia berbalik, seketika raut wajahnya berubah seratus delapan puluh derajat sendu dengan satu tetes air dari salah satu ujung matanya. Pikirannya kacau, bahkan kepalanya berdenyut hebat mendapati semua ini. Ia terus berjalan semakin cepat menuju lift, hingga pintu lift itu terbuka lebar. Ia pun segera masuk dan menutup pintu itu.
Ia menutup mulutnya untuk menahan isak tangis yang semakin menyesakan dadanya. Air matanya berjatuhan tak dapat lagi Ia bendung. Tak ada yang tau tangisan gadis cantik itu. Keheningan seperti itulah yang akan menjadi tempat untuk menumpahkan rasa sesaknya.
Tring!
Lift itu sampai dilobi. Dengan cepat Vani mengusap kasar pipinya untuk menghilangkan jejak kebasahan dipipi mulus itu. Kemudian menghembuskan napasnya kasar seraya berjalan keluar dari sana.
"Pagi sayang?!" sapa Aska yang baru keluar dari mobil putihnya dengan senyum yang mampu menenangkan hatinya.
Vani tersenyum dan segera berhambur memeluk tubuh tegap itu dengan menyembunyikan wajah sendunya itu didada vidang itu. Bahkan Aska sampai hampir terjengkang mendapat serangan dadakan dari gadisnya itu.
"Hei ada apa?" tanya Aska hendak melerai pelukan sang sang gadis, namun Vani semakin mengeratkanya.
"Biarkan seperti ini, sebentar saja." balasnya.
Meski tau pasti lah ada yang tak beres dengan gadisnya, namun sepertinya sang gadis tengah membutuhkan dadanya. Aska membelai rambut panjang itu dan mencoba menenangkannya.
"Menangislah, dan cukup disini!"
__ADS_1
...******...
Jangan lupa like dan komennya yaa! Hari senin Vote dong🤗