Bossku, Jodohku!

Bossku, Jodohku!
Kekasih bohongan


__ADS_3

Semua mata tertuju pada pasangan yang begitu terlihat serasi itu. Riska menggandeng lengan Daffa dengan mesra. Kini sepasang kekasih bohongan itu sudah masuk dan menghampiri sang pemeran utama.


Beberapa gadis menatap jengah pada Riska yang menggandeng pria yang terlihat begitu tampan, namun Riska tak memperdulikan itu. Fokusnya pada temannya Shifa untuk memberi selamat padanya. Selain para gadis julid itu, ada pun seorang pemuda yang diam-diam menatapnya dari kejauhan. Terlihat seringai tipis dari ujung sudut bibirnya. Namun hal itu tak diketahui gadis cantik itu.


Setelah memberi ucapan pada temannya, Riska mengajak Daffa untuk duduk disalah satu meja disana. Meski acara bertema sweet seventen, namun ternyata isi didalamnya tak sesuai dengan tema tersebut. Banyak minuman memabukan yang tersaji disana.


"Kalian masih anak SMA, gak sepantasnya meminum minuman kek gini." protes Daffa, seraya menggeser gelas itu dari hadapannya.


Jangankan anak dibawah umur seperti gadis dihadapannya itu, Ia saja tak yakin bisa meminum itu.


"Emangnya ini minuman apa?" tanya gadis itu dengan polosnya.


"Kamu beneran gak tau?" bukan menjawab Daffa justru balik bertanya.


"Nggak! Aku kan baru pertama ikutan acara kek gini. Si papih mana mau ngizinin aku pergi." balas Riska.


Daffa tersenyum mendengar itu. Gadis itu benar-benar manja dan polos. Ia melihat sekeliling, banyak gadis yang berpakaian sexy bersama pasangannya. Bahkan mereka tak segan bermesraan didepan umum. Bukan itu saja, minuman yang sangat dirinya hindari justru seperti sudah tak asing lagi digenggaman mereka. Namun berbeda dengan gadis disampingnya, yang lebih cuek. Disaat gadis lain sibuk cari perhatian, ia justru sibuk dengan layar pipih ditangannya.


Daffa menatap bangga gadis disampingnya itu. Ditengah pergaulan jaman sekarang, ternyata masih ada gadis sepeerti Riska. Mungkin akan sangat beruntung lelaki yang bisa mendapatkan dia.


'Kenapa aku berpikiran begitu? Bahkan perbedaan usiaku dengannya jauh sekali.' batinnya.


Daffa segera menghilangkan pikiran-pikiran itu dari otaknya. Jujur Ia memang mengagumi sosok gadis itu karena kepribadiannya yang jauh berbeda dari gadis lain. Namun Ia juga menyadari, perbedaan usia mereka sangatlah jauh. Hingga Ia menepis segala pemikiran tentang gadis itu.


"Kak!" sapaan Riska sukses membuat Daffa terkesiap.


"Hah?! Iya!" balasnya sedikit gelagapan.


"Aku ke toilet dulu bentar ya! Jangan kemana-mana, jangan kabur!" pamit Riska seraya memberi peringatan.


"Iya, iya! Sana, jangan lama-lama!" balas Daffa yang ikut memberi peringatan.


"Oke, Kakak ayang." balas Riska disertai cengiran kudanya, lalu berlenggang dari posisinya.


Daffa tersenyum merasa tak percaya dengan panggilan menggelikan, namun mampu membuat Ia salting itu. Ia pandangi punggung sang gadis hingga hilang ditelan belokan.

__ADS_1


"Kenapa dia menggemaskan sekali? Ya ampun!" gumamnya seraya mengembang kempiskan pipi untuk menghilangkan rasa panas, yang tiba-tiba saja menjalari wajahnya.


Sementara itu, Riska yang baru saja keluar dari toilet dihadang seseorang yang tak Ia kenali. Riska menatap heran seorang pemuda yang menghadangi jalannya. Dilihat dari wajahnya pemuda itu terlihat tampan dan keren. Namun Ia tak mengenali siapa orang itu.


"Haii ... Kamu Riska 'kan?" tanyanya dengan senyuman manis yang diumbarnya.


"I, ya!" jawab Riska ragu. "Siapa ya?" tanyanya.


Pemuda itu mengembangkan senyumnya, lalu mengulurkan tangannya. "Kenalin, aku Leon. Aku kelas 12 IPA." ucapnya memeperkenalkan diri.


Dengan ragu, Riska membalas uluran tangan itu dan menganggukan kepalanya.


"Boleh kita mengobrol sebentar?" Tanyanya dengan begitu ramah.


Riska berpikir sejenak, Ia tak ingin mengobrol dengan orang asing. Namun Ia juga tak ingin dicap sebagai orang sombong, karena tak mau diajak ngobrol.


"Emm ... Baiklah! Sebentar aja ya, aku ditungguin seseorang soalnya." balas Riska.


"Oke!" balas pemuda itu dengan mempersilahkan Riska berjalan lebih dulu.


Riska berjalan dan diikuti pemuda itu. Tanpa gadis itu tau, Leon menyeringai dibalik punggungnya.


"Lima menit, aku hanya punya waktu segitu." ucapnya dan diangguki pemuda itu.


Leon menggerakan jarinya meminta seorang waiters memberinya minum untuk mereka. Seorang pria menghampiri dan memberikan dua gelas berwarna kuning kehadapn mereka.


"Minumlah!" titah Leon.


"Gak usah, aku gak haus. Lagian aku gak minum minuman memabukan." balas Riska, hingga membuat Leon tersenyum.


"Tenang aja, ini minuman aman.Ini cuma jus kok. Lagian gak semua minuman disini beralkohol." terang Leon dan dibalas 'oh ria' oleh gadis itu.


Merasa tenggorokannya kering, Ia pun meminum minuman itu. Satu sudut bibir Leon tertarik. Ternyata begitu mudah merayu gadis ini. Pikirnya.


'Sebentar lagi kau akan jadi milikku, Riska!' batin Leon menyeringai.

__ADS_1


"Oh iya, kamu mau ngomong apa?" tanya Riska setelah menegak setengah minuman berwarna kuning itu.


"Aku cuma mau minta nomor ponsel kamu. Apa boleh?" tanya Leon.


"Emmm ..." Riska tampak kembali ragu. Dia bingung harus menjawab apa. Ia ingat kembali pesan sang mamih untuk tak sembrangan memberikan nomor ponsel yang baru dikenalnya.


Meskipun Leon kakak kelas dan satu sekolah dengannya. Namu tetap saja Ia tak mengenali pemuda tampan didepannya itu. Ia hendak menjawab, namun tiba-tiba saja kepalanya mendadak pusing.


Ia pegang pelipisnya yang terasa berat. Masih terlihat senyuman manis dari pria itu. Namun semakin lama penglihatannya semakin kabur dan tak lama kemudian menjadi gelap.


**


Riska mengerjapkan mata, kala sinar mentari menyilaukan indera penglihatannya. Ia raba pelipisnya yang masih terasa berat. Ia mencari sesuatu yang setiap pagi membangunkannya. Namun tangannya tak dapat menggapai benda tersebut.


"Ck! Dimana sih?" tanyanya berdecak kesal.


Ia mendudukan diri dengan mencoba mengucek matanya. Mata indah itu terbuka sempurna, namun ada satu hal yang mengganjal disana. Ia baru menyadari ternyata dirinya bukanlah dikamar miliknya. Manik itu bergulir memindai keadaan sekitar yang napak sepi.


"Ini?" Riska benar-benar kebingungan mendapati dimana keberadaannya kini.


Otaknya berputar kembali pada kejadian malam tadi, dimana dirinya bertmu dengan pemuda bernama Leon. Dari situ Ia tak mengingat apapun lagi.


Ia meraba tubuh depannya, dan alangkah shoknya Ia ketika mendapati tubuhnya yang hanya mengenakan bathroob. Seketika Ia memekik kencang, dengan memeluk tubuhnya sendiri.


"Aaaa!!!!!" jeritnya yang langsung diringi tangis.


"Mamih!!!"


Hal itu sukses membangunkan pria yang tengah tertidur diatas sofa. Pekikan lantang sang gadis begitu menggema diruangan kamar nan luas itu. Dan itu sungguh mengganggu indera pendengaran pria yang kini hanya bertelanjang dada.


"Ck! Berisik!!!" Ia berdeacak kesal seraya bangkit dari posisinya. Matanya terlihat sepet untuk terbuka. Sepertinya, Ia baru berberapa jam terlelap atau mungkin juga belum terlelap sama sekali.


Riska menghentikan tangis dan jeritannya. Ia menatap kearah seseorang disofa itu. Matanya membelakak kala melihat penampilannya.


"Ka-kamu?!"

__ADS_1


\*\*\*\*\*\*


Jangan lupakan jejaknya yaa🤗


__ADS_2