Bossku, Jodohku!

Bossku, Jodohku!
Malam pertama


__ADS_3

"SAH!!"


Satu kata yang seharusnya membuat sepasang calon mempelai tersenyum bahagia. Namun hal itu tak berlaku untuk pasangan Putra dan Sofi. Bukan karena tidak ingin menikah atau karena salah memilih pasangan, namun karena cara mereka bersumpah dihadapan Tuhan lah yang menurut mereka salah.


Setiap pasangan memanglah menginginkan acara sakral itu berjalan sesuai impian mereka. Banyak persiapan yang dilakukan oleh kedua mempelai untuk momen besar didalam hidupnya. Begitupun dengan kedua mempelai dadakan itu.


Rencana ingin menggelar akad tikah besar-besar dengan banyak tamu, harus diurungkan. Kala mereka harus menerima kenyataan yang membuat mereka harus menikah didepan pak Kyai dan beberapa orang saja sebagai saksi. Bahkan mereka tak bisa menghadirkan keluarga mereka disana. Waktu yang menunjukan hampir tengah malam, tentu membuat mereka harus pasrah mengadakan acara nikah dadakan itu.


"Udah, neng gak usah sedih!" ucap salah seorang dari bapak-bapak yang mencyduk mereka tadi, ketika melihat wajah murung gadis itu.


"Sekarang udah halal. Monggo, mau ngapa-ngapain juga." kekeh salah satu satunya lagi.


"Saya ucapkan selamat untuk Nak Putra dan neng Sofi. Semoga menjadi keluarga sakinah, mawadah dan warohmah." ucap pak Kyai tersenyum dan diiyakan Putra.


"Perlu kalian ketahui, pernikahan itu bukan dilihat atau diukur dari berapa harga yang kita keluarkan. Bagaimana pun dan dimana pun kalian menikah? Ingat satu hal. Niat tulus dari hati kalian lah yang paling penting." pesan pak Kyai, yang seolah tau kegundahan pasangan pengantin baru itu.


Keduanya menganggukan kepala mengiiyakan petuah yang diberikan tetua disana.


Setelah acara sakral itu selesai, ketiga bapk yang mencyduk berpamitan untuk kembali meronda. Begitupun pak Kyai yang kembali ke kediamannya.


Tersisa sepasang pengantin, pak RT dan kedua orangnya, serta papa Ivan dan mama Lia yang sempat dipanggil ketiga bapak tadi sebagai perwakilan dari Sofi. Sedangkan orang tua Putra yang jauh juga tak dapat menghadiri.


"Ya udah sekarang kalian pulang. Ingat langsung ke apartemen, jangan dijalan!" pesan mama Lia yang terdengar lebih pada sebuah ledekan.


"Isshhh Tante ...." Sofi berdesis kesal.


Wanita paruh baya itu tergelak melihat raut wajah gadis yang sudah Ia anggap putrinya itu. Ia yang hanya memilik seorang putri, berasa memiliki dua putri kembar yang bersifat bertolak belakang.


Mama Lia yang memang berteman baik juga dengan ibunya Sofi, tentu sudah tak sungkan lagi pada gadis cantik itu. Sofi yang seorang anak yatim, tentu tak menunggu wali untuk menikah. Hanya restu dari sang ibu yang jauh lah yang didapatkan gadis itu.


Begitupun keluarga Putra yang memang berada diluar kota. Mereka hanya memberi restu lewat sambungan telepon saja.

__ADS_1


**


Hening.


Mendadak suasana menjadi canggung didalam mobil itu. Sepasang pengantin baru dadakan itu tengah dalam perjalanan pulang ke apartemen Putra.


"Kenapa? Apa kamu nyesel?" tanya Putra memulai obrolan.


Sofi menghembuskan napas panjang, "gak juga. Cuma-" gadis itu menunduk tak meneruskan ucapaannya.


"Bulan depan kita adain resepsi." selak Putra.


Sofi mendongak, lalu menoleh kesamping. Melihat wajah tampan itu denga raut heran. Putra melirik sejenak kearah gadis yang nampak meminta penjelasan itu. Lalu terkekeh.


"Aku tau, kamu lagi mikirin itu 'kan?" todongnya.


"Isshh ... Paan, nggak ahh!" elak Sofi.


"Gak usah bohong! Aku tau, hati kamu lagi bertanya-tanya. Kenapa pernikahan kita harus kek gini, 'kan?" tanya Putra.


Ia raih tangan gadis itu, lalu membawanya kedepan bibir dan mengecupnya.


"Seperti kata pak Kyai, niat kita lebih pentung dari semua itu." ucapnya, hingga gasis itu tersemyum dibuatnya.


Tak berselang lama, kijang besi yang ditumpangi sepasang pengantin baru sampai dibaseman apartemen. Ksduanya turun, lalu memasuki loby.


"Kenapa tegang banget?" ledek Putra.


Kini keduanya tengah berada didalam lift menuju unit tempat tinggal Putra.


"Ishhh ...." rengek Sofi memukul lengan pria itu. Namun Putra segera mencegatnya.

__ADS_1


Ia cekal lengan gadis itu, mendorong sedikit tubuh sang gadis utjk berdandar didinding lify itu.


"Kita lanjutin yang tadi." ucap Putra. Tanpa aba-aba Ia menyambar bibir yang tadi Ia nikmati itu.


Tring.


Pintu lift terbuka. Putra menggiring tububh ramping itu keluar tanpa melepas paguatn mereka. Hingga sejoli itu sampai didepan unitnya.


Mereka begitu menikmati pagutan itu, hingga suara decapan menggema diruangan depan. Putra mengangat tubuh sang gadis, menggendong tubuh itu seperti koala. Kemudian membawanya memasuki kqmar miliknya.


Merebahkan tubuh ramping itu diatas kasur king size yang tergelar didalam sana. Tangannya bergerak tergesa untuk membuka resleting dress sang gadis. Hingga kain yang melekat menutupi tubuh Sofi sudah tergeletak dilantai.


"Bentar, aku kemar mandi dulu!" tahan Sofi, ketika bibir Putra hendak menggapai area ceruknya.


Sofi bangkit, hingga membuat Putra yangs udah siap ikut bangkit. Dengan wajah sedikit kesal, Putra pun menbiaraknnya.


Gadis itu berlenggang dengan hanya menggenakan kain yang mentupi dua buah berharganya. Putra ganya tersenyum melihat pemandangan yang membangkitkan Jiwa liarnya.


Selang beberapa menit, Sofi keluar dari dalam ruangan itu, Putra yang merbahkan diri pun bangkit. Pria yang bertelanjang dada itj tersenyum melihat sang istri mendekat.


"Stop! Diam disitu."


Putra yang hendak menyerang, mengerenyit heran. "Kenapa?" tanynya. Ia bahkan dibuat bingung kala Sofi meraih bathrob yang tergantung didekat pintu kamar mandi.


Ia berjalan dan meraih tasnya. Tentu hal itu membaut Putra semakin bingung. Lalu gadis itu mengambil sesuatu dari dalam sana.


"Itu?" tanya Putra shok.


Sofi tersenyum tanpa dosa, seraya memperlihatkan benda dalam pack plastik itu.


"Maaf ya, malam pertamanya harus diskip dulu!"

__ADS_1


\*\*\*\*\*\*


Maaf yaa gaiss, mak othor sibuk dunia nyata😂 yuk jejaknya jangan lupa yaa🤗


__ADS_2