
Acara makan malam pun selesai, perut sejoli itu sudah terisi kembali dengan makanan. Cacing yang tadi berdemo, seketika bungkam dengan berbagai lauk yang masuk keperit mereka.
"Gimana? Sudah kenyang?" tanya Aska dan dijawab anggukan gadis cantik itu.
"Hmm ... Banget!" balas Vani mengelus perutnya, hingga Aska terkekeh dibuatnya.
Atensinya tertuju pada ujung bibir sang gadis. Aska meraih tissue dan mendaratkan tangannya diujung bibir ranum itu. Mengahapus jejak makanan yang menempel disana.
Kembali Vani dibuat terpaku dengan perlakuan manis pujaannya itu. Mata keduanya bertemu dan saling mengunci. Saling menikmati degup jantung yang berdetak saling bersahutan. Sungguh tak ada yang dapat menggambarkan rasa bahagia yang mereka rasakan saat ini.
Aska mengadahkan tangan agar disambut sang gadis. Vani tersenyum seraya menyambut uluran tangan itu.
"Apa kita akan dansa?" tanya Vani setelah mereka berdiri.
"Sepertinya gak usah." balas Aska.
"Kenapa? Bukannya aka udah siapin musik kek di film-film itu?" tanya Vani terkekeh.
"Tadinya mau gitu. Berhubung aka gak bisa lakuin gerakan-gerakan semacam itu, jadi aka skip aja bagian itu." balas Aska tersenyum menampilkan deretan giginya.
Seketika Vani tergelak mendengar itu. Ini adalah aka nya yang dulu. Aka yang selalu apa adanya, dan itu tak berubah. Vani berhambur memeluk tubuh tegap itu. Melesakan wajahnya didada bidang yang selalu jadi perlindungannya itu.
"Makasih, aka selalu menungguku!" ucap Vani.
Aska tersenyum seraya membalas mendekap tubuh ramping itu dan membelai rambutmya.
"Makasih, tetap menjaga hatimu untuk aka!" ucap Aska.
Keduanya hanyut dalam pelukan hangat yang mereka ciptakan. Hingga suara dering ponsel menyadarkan mereka. Vani meraih layar pipih itu dan membawanya kedepan telinga.
"Assalamualaikum Ma!" sapanya.
"Apa?" pekiknya terkejut, hingga benda itu jatuh dari tangannya. Seketika air matanya luruh dan tubuhnya pun hampir ambruk jika saja tak ditangkap Aska.
"Ada apa?" tanya Aska begitu khawatir.
"Papa! Papa!" jeritnya dengan air mata berdesakan keluar.
__ADS_1
Aska yang mengerti langsung mendekap tubuh itu untuk menenangkannnya. "Kamu tenang dulu ya, kita kerumah sakit sekarang." balasnya seraya melerai pelukan itu dan ditimpali anggukan oleh Vani.
Aska menghapus terlebih dahulu jejak kebasahan dipipi mulus itu dan segera menuntun tubuh itu untuk keluar dari sana.
**
"Ma!" sapa Vani, ketika melihat sang mama diruang tunggu bersama wanita seumuran yang menemaninya disana.
Mama Lia mendongak melihat kearah putrinya, seketika tangisnya kembali pecah. Vani segera berhambur memeluk tubuh ringkih yang bergetar itu.
"Papa Van, Papa!" jerit sang Mama didalam dekapan putrinya itu. Vani hanya mengangguk sebagai jawaban.
Seperti biasa Ia akan bersikap tegar dihadapan orang lain terutama sang mama. Meski hatinya begitu sakit, namun Ia tak ingin menunjukan sisi rapuh dan hal sebaliknya. Ia ingin menunjukan kekuatannya didepan sang mama. Agar Ia ikut kuat dan semangat menghadapi semua itu.
Wanita disamping mama Lia ikut menangis melihat betapa kuatnya kedua wanita beda generasi itu menghadapi semua ini. Jika Ia diposisi sahabatnya itu, tentu Ia tak bisa setegar mereka. Ia membiarkan mereka hanyut dalam pelukannya, saling meluapkan rasa sakit yang mereka rasa saat ini.
Atensinya teralihkan pada pria yang kini masih berdiri menatap keduanya. Ia mengerenyit heran, sedang apa putranya itu disini? Mungkinkah putranya itu tau mengenai kondisi sahabatnya? Pikirnya.
"Aka!" sapanya.
"Timom!" balas Aska yang baru ngeuh, ternyata timom tercintanya ada disana.
"Kamu? Udah tau?" tanya sang timom dengan sedikit ragu menatap kearah sang putra dan dua wanita itu bergantian. Aska mengangguk sebagai jawaban.
"Ya ampun!" timom sampai menepuk jidatnya. Bisa-bisanya sang putra tau, tapi dirinya justru tak tau mengenai itu.
Baru saja wanita yang masih cantik diusianya itu ingin berkomentar, kedua wanita yang tadi berpelukan itu melerai pelukannya. Hingga sang timom tak meneruskan kalimatnya.
"Udah ya Ma, jangan nangis lagi!" ucap Vani menenangkan sang mama, seraya menghapus jejak kebasahan dipipi cantik itu.
Tangis sang Mama pun mulai mereda. Vani menghembuskan napasnya pelan. Sungguh jika tangisnya tak dikeluakan ketika bersama sang kekasih tadi, mungkin saja sekarang Ia tak bisa menahannya. Untung saja bahu kekar itu dengan senang hati bisa menjadi sandaran untuknya.
Ia berbalik dan menatap wanita yang masih cantik diusianya itu. Meski kulit putih itu sudah sedikit mengendur, namun wajah imut itu masih terlihat jelas tak terlekang oleh umur.
"Timom!" cicit Vani dengan mata berakaca-kaca.
"Vani!" sapa timom diringin isakan yang begitu mengaharukan. Dengan cepat Ia segera menyambar tubuh gadis itu dan mendekapnya erat.
__ADS_1
"Timom, kangen banget sama kamu, Nak!" ucapnya disela isak tangisnya. Vani hanya menganggukan kepalanya sebagai jawaban.
Sungguhpun Ia masih merasa tak percaya dapat bertemu kembali dengan keluarga sang pujaan yang sudah seperti keluarganya sendiri itu.
Timom melerai dekapannya dan menghapus air dipipinya dengan kasar, lalu mengahapus jejak dipipi sang gadis dengan lembut.
"MasyaAlloh, Nak. Kamu cantik banget. Timom bener-bener pangling lihat kamu." pujinya dan disambut senyuman oleh Vani.
"Timom juga tetep cantik. Lebih cantik malah." puji balik Vani.
"Ck! Kamu bisa aja, udah kriput kek gini juga." balasnya hingga keduanya terkekeh.
Vani beralih menatap sang mama yang masih menunduk sendu. "Sebenarnya apa yang terjadi, Ma?" tanyanya.
"Tadi tuh, Papa kek kemarin. Terus lagi detak jantungnya kembali gak berfungsi." tuturnya dengan deraian air mata yang luruh kembali.
Vani kembali mendekap sang Mama untuk menguatkan, hingga pintu ICU terbuka dan nampak seorang pria bersetelan jas putih denga beberapa orang yang memakai baju yang sama mengikut pria itu.
Segera keempatnya bangkit dari duduk mereka dan menghampiri sang dokter yang masih diambang pintu.
"Bagaimana Dok, keadaan suami saya?" tanya mama Lia dengan antusias. Terlihat guratan takut dan khawatir dari wajah cantik itu.
"Gak apa-apa bu, alhmdulillah puji syukur, pak Ivan sudah dinyatakan sadar." tutur sang dokter dengan senyum ramahnya.
"Alhamdulillah!" puji syukur dari keempat orang itu ikut terlantun disana. Terdengar hembusan napas panjang dan lengkung bibir bahagia dari mereka.
"Namun beliau masih lemah. Saya sarankan, ibu dan keluarga jika ingin melihat mohon bergantian. Dan jangan dulu bertanya apa pun padanya. Biarkan beliau istirahat dulu sampai besok!" jelas sang dokter dan diiyakan mengerti oleh mereka.
Setelah kepergian sang dokter, mama Lia berhanbur memeluk tubuh sang putri.
"Akhirnya Van, papa kembali. Papa kembali." pekik sang mama dengan air mata bahagia yang kembali membanjiri pipinya.
"Iya, Ma! Ini berkat doa dan kesabaran Mama merawat papa. You're the best Mom!" balas Vani yang ikut meluruhkan air matanya.
Timom dan Aska yang melihat itu tersenyum, melihat keluarga itu tersenyum kembali, tentu membuat anak dan ibu itu ikut merasa bahagia.
\*\*\*\*\*\*
__ADS_1
Kasih bawang dulu dah🤣
Jangan lupa jejaknya yaa gaiisss😘