Bossku, Jodohku!

Bossku, Jodohku!
Timom


__ADS_3

"Jadi ...?" Dengan ragu Vani mencoba bertanya, "timom,"


Aska tersenyum, tentu Ia mengerti dengan apa yang akan dikatakan sang istri. Ia usek pucuk kepalanya gemas.


"Timom adalah wanita hebat, yang dengan ikhlas menjaga dan menyayangiku tanpa tapi." jelas Aska.


"Sosok malaikat yang Tuhan kirim disaat aku membutuhkan sosok seorang ibu. Baginya kasih sayang tak terhalang oleh darah. Kasih sayangnya begitu tulus tanpa batas. Timom adalah sosok paling berharga dihidupku." lanjutnya.


"Timom segalanya untukku!"


Satu tetes air mata keluar kembali dari ujung mata Aska. Air mata syukur, karena Tuhan memberi kesempatan dirinya untuk memiliki dua wanita hebat yang begitu menyayangi dan ikhlas berkorban untuknya.


Vani ikut meneteskan air matanya, lalu memeluk tubuh tegap itu dan ikut merasa haru akan penuturan sang suami yang begitu menyayangi orang tuanya.


Aska tersenyum dan membalas mendekap tubuh ramping yang berada disampingnya itu. Setelah selesai berjiarah, kini sepasang pengantin itu tengah duduk dibangku yang memuat dua orang disebuah taman yang tak jauh dari pemakaman itu.


"Kak!" Vani yang bersandar didada Aska mendongakan wajah agar bersitatap.


"Hem?" balas Aska yang ikut menunduk.


"Lapar!" kekeh Vani disertai senyum yang menampilkan deretan giginya.


"Aisshhh, istri aka lapar ya? Kasihan! Energinya habis semalam ya?" ledek Aska, lalu tergelak.


Tampolan manja dilayangkan Vani pada wajah tampan Aska dengan ikut tergelak. Vani membenarkan penuturan suaminya itu. Semalaman Ia tak sedetik pun diberi celah untuk beristirahat, seluruh karbonya terbakar dengan aktifitas panas mereka semalaman.


"Ya udah yuk!" ajak Aska mengulurkan tangan, Vani pun menyambut tangan sang suami hingga keduanya berdiri bersama.


"Mau makan apa?" tanya Aska.

__ADS_1


"Emm" Vani tampak berpikir dengan atensi memindai deretan gerobak yang berjejer dipinggir taman. Lalu telunjuknya reflek menunjuk salah satu stand makanan dengan gerobak berwarna biru dari salah satu gerobak disana. "Itu!"


Aska menoleh dan atensianya mengikuti arah telunjuk Vani. "Baso?" tanyanya.


"He'em!" Vani mengangguk antusias.


Aska mengusek pucuk kepala sang istri dengan gemas disertai senyum yang tak luntur dari bibirnya. Ia pun melangkahkan kaki seraya menggandeng tangan sang istri menuju tempat tujuan mereka.


Keduanya duduk berdampingan diatas bangku panjang didalam tenda biru itu setelah memesan terlebih dulu.


"Kak As?!" Sapaan sesorang membuat sepasang manusia itu menoleh.


Seorang gadis berbalut seragam putih abu menghampiri mereka dan tanpa ragu duduk didepan mereka dengan napas ngos-ngosan.


"Riska! Kamu kenapa?" tanya Aska heran, begitupun Vani yang melihat gadis itu sendiri.


"Ha-pe." balasnya terputus-putus dan tanpa izin, ia menyambar minunan Vani dideapnnya.


Sepasang manusia itu dibuat tercengang dengan tingkah sang gadis. Apakah gadis ini kabur dari sekolah? Pikir mereka.


"Apa kamu dari sekolah? Bukannya ini hari minggu, ya?" tanya Vani heran.


"Bentar, aku tarik napas dulu!" ucap Riska dengan napas yang masih terengah-engah, bahkan Ia juga mengambil minuman milik Aska. Sepertinya gadis itu benar-benar kehausan.


Aska dan Vani hanya saling lirik. Hingga keduanya tersenyum kala tau penyebab sang gadis seperti itu. Pastilah gadis itu tengah kabur dari suaminya. Pikir mereka.


"Haii Daf?" sapa Aska. Seketika Riska membelakakan mata, lalu mengikuti tatapan sepasang pengantin itu, yang tepat kearah sampingnya.


Byurrr!!!

__ADS_1


Air yang baru memasuki mulut Riska, sukses keluar kembali dan menyembur tepat kehadapan pria yang sudah duduk disamping gadis itu. Sepasang pengantin itu tertawa melihat pasangan dihadapannya.


"Ya ampun! Maaf kak, maaf! Aku gak sengaja" sesal Riska seraya mengelap wajah sang suami dengan kedua tangannya. Dafa hanya diam dengan ekspresi datarnya.


"Lagian Kakak ngapain ngagetin sih?" protes Riska seraya tangannya tak berhenti bergerak dari wajah sang suami.


Tangan Daffa bergerak menghentikan tangan Riska hingga mata keduanya bertemu. Suasana mendadak tegang, hingga Aska dan Vani menghentikan tawa mereka. Lalu atensi mereka menatap sepasang manusia itu dengan tatapan yang sama tegangnya.


Tanpa diduga Daffa menundukan kepala, lalu mengusapkan wajahnya pada rok abu yang dikenakan Riska. Ketiga orang itu membolakan mata, mulutnya terbuka lebar. Merasa shok dengan tingkah Daffa yang diluar dugaan mereka.


"Kakak ih, ngapain?" pekik Riska seraya menggoyangkan bahu suaminya itu.


Berbeda dengan Riska, Sepasang pengantin itu sudah melipat bibir. Menahan tawa yang hampir saja pecah kembali.


Daffa bangkit dan kembali menegakkan tubuhnya. Ia tersenyum tanpa dosa, seraya mengusek pucuk kepala Riska gemas. Dan hal itu tentu membuat Riska menganga, sungguh suaminya itu begitu mengesalkan. Pukulan pun dilayangkan Riska pada Daffa. Hingga mereka pun tergelak dengan canda tawa riuh dari keempat manusia itu.


\*\*\*\*\*\*


**Jangan lupa jejaknya yaa gaiss .. Maaf ya up nya akhir-akhir ini telat🙏


Pada bikin perlombaan apa nih?🤭 Selamat merayakan HUT RI ke 77🎉🎉 Merdeka🇮🇩🇮🇩


Yuk ramaikan kolom komentarnya yaa🤗**



Ter Aka-Aka😍


__ADS_1


Ay nya Aka🤭


__ADS_2