
"Sabar Daf! Riska masih terlalu muda untuk tau hal dewasa. Kamu bisa membimbingnya pelan-pelan." saran Aska.
Lepas makan siang, kini ketiga pria itu masih asyik berghibah ria. Dengan ditemani tiga cangkir kopi, mereka masih meceritakan pernikahan mereka yang serba dadakan itu.
"Iya Daf, jangan buru-buru! Lama-lama dia juga ngerti, gimana caranya melayani suami dengan benar." balas Putra ikut menimpali.
Daffa menghembuskan napas panjang. Bukan saran seperti itu yang Ia harapkan. Soal malam pertama atau sentuh menyentuh, biar waktu yang menjawab. Namun Ia meminta pendapat bagaimana cara menghadapi istri mungilnya itu? Bagaimana mengarahkan gadis labil itu untuk menjadi soerang istri?
Namun sepertinya, kedua pria itu salah fokus dengan pembicaraan mereka. Mungkin karena istri mereka sudah lebih dewasa dari istri kecilnya, membuat mereka tak kesulitan apapun dalam menjalani hari yang baru dimulainya itu.
"Ya ampun! Apa hanya urusan ranjang yang kalian tau?" protes Daffa.
Kedua pria itu hanya terkekeh menanggapi itu, hingga membuat hembusan napas panjang kembali terdengar dari Daffa disertai gelengan kepala.
"Tapi, itu juga lebih penting. Si jack butuh sarang buat semedi, bro." celetuk Putra menepuk bahu Daffa.
Lagi-lagi toyoran diberikan Daffa untuk sahabat yang selalu asal jiplak saat bicara itu. Aska tergelak mendengar bahasa planet dari Putra. Sungguh hari ini kedua sahabatnya itu membuat Ia tak henti tertawa. Hingga Ia melupakan sang istri yang sedari tadi tak henti menghubunginya. Keadaan layar pipih Aska yang sengaja ia silent, membuat Ia tak menyadari hal itu.
**
Sementara itu didalam toilet seorang gadis, yang lebih tepatnya seorang wanita terus melihat dan menempelkan benda pipih ditangannya kedepan telinga berulang kali. Ia berjalan mondar mandir didepan washtaple, berharap suara seseorang terdengar dari benda itu. Disertai hembusan napas panjang, ia terus mencoba menghubungi seseorang.
"Gimana La?" tanya Sofi yang baru keluar dari salah satu bilik, lalu menghampiri sahabatnya itu.
Vani menggelengkan kepala, "kek nya masih sibuk." ucap Vani beropini.
Sofi menggembuskan napas kasar. "Ngeselin nih para lakik. Bilangnya mau makan bersama. Eh, malah ngilang entah kemana." gerutunya seraya mencuci tangan diwashtaple.
__ADS_1
Vani tersenyum, Ia pun sama penasaran tentang keberadaan para lakik itu. Namun Ia mencoba positif thinking, berpikiran jika ketiga sahabat itu tengah mengadakan reuni.
"Udah lah, Fi! Ayo kita pergi!" ajak Vani.
"Yakin, mereka gak akan marah?" tanya Sofi.
"Kalo Putra aku gak tau. Kalo aka udah pasti nggak. Aku udah chat dia, nih!" balas Vani memperlihatkan layar pipih ditangannya.
"Kalo si boss aku percaya, dia kan paling bucin sama kamu. Tapi sekertaris galak itu," Sofi tak meneruskan ucapannya.
"Udah percaya deh, sekretaris galak yang sayangnya suami kamu itu pasti ngizinin. Apalgi kalo ntar malam kamu sogok, pasti apapun tentangmu oke aja tuh." kekeh Vani.
"Ck! Gak segampaang itu." balas Sofi berdecak kesal dengan wajah yang menekuk.
"Kenapa?" tanya Vani heran.
"Aku gak bisa nyogok dia." balas Sofi. Tentu jawaban itu membuat Vani keheranan.
Ia memang tak menanyakn detail tentang malam pertama sahabatnya itu. Menurutnya itu terlalu privasi untuk ditanyakan. Namun sang sahabat yang tak pernah memiliki rem dalam bicara itu, tentu membeberkannya tanpa ragu.
Vani menggandeng lengan sahabatnya itu untuk keluar dari dalam sana. Mencoba menghibur wanita yang masih perawan itu agar tak badmood lagi. Entahlah apa yang membuat Sofi terus menekuk wajahnya. Entah karena sang suami yang tak menghubunginya, atau karena malam pertama yang gagal.
**
"Selamat makan!" ucap salah seorang pria, ketua tim dua designer.
"Selamat makan!" balas beberapa orang yang menjadi anggota tim disana, termasuk Vani dan Sofi.
__ADS_1
Kini semua tim dua tengah mengadakan makan siang bersama. Ada sekitar enam orang yang tengah memutari meja bundar diruangan luas itu. Pak Aldo, sang ketua tim sengaja mengajak anggotanya untuk mentraktir mereka disebuah restoran yang tak jauh dari kantor.
"Untuk merayakan keberhasilan tim kita!" ucap pak Aldo mengacungkan minumannya dan diikuti timnya.
"Smoga kedepannya, kita semakin konsisten dan ide kita selalu menjadi kebanggaan perusahaan. Semangat!" lanjutnya.
"Semangat!" balas mereka serempak.
Treng!
Suara dentingan gelas dari keenam orang disana menandakan mereka akan memulai acara makan siang mereka. Makanan sudah tersusun rapih memenuhi meja bundar itu. Mereka pun mulai memakan makanannya.
"Oh iya, La! Kek nya kamu dekat banget ya sama si boss. Apa sebelumnya kamu udah kenal beliau?" tanya mbak Tania, salah satu seniornya disana.
Vani terdiam sejenak, lalu tersenyum. "Iya. Kami udah kenal dari kecil." balasnya.
"Wah bagus itu. Kamu gak susah mau kerja disini." balas pak Arya, seniornya juga.
Vani hanya tersenyum menanggapi. Lalu Ia melirik kearah Sofi dan mbak Widya yang tampak tersenyum. Sepertinya wanita itu sudah mengetahui hubungannya bersama sang boss. Karena seringnya melihat mereka bersama.
"Eh, tapi La. Aku denger kamu punya hubungan khusus ya sama si boss." tanya mbak Tania lagi.
Tentu gosip kedekaran mereka sudah merebah kesemua penjuru kantor, hingga semua penghuni mengetahui hal itu.
"Emm ... Itu...."
"Iya, hubungan kami sangatlah khusus."
__ADS_1
\*\*\*\*\*\*
Jangan lupa jejaknya yaa gaiss🤗