
"Ya udah Timom pulang dulu ya!" pamit sang timom pada gadis didepannya. Kala mereka tengah berada diparkiran gedung tinggi itu.
"Iya, makasih ya Mom." balas Vani. Tak lupa Ia menyambar tangan ibu dari pujaaannya itu dan menyalimi takzim.
Timom tersenyum seraya membelai rambut gadis cantik yang ingin Ia akui menjadi menantunya itu. Sungguh emosinya begitu terkuras hari ini. Rasa bahagia, sedih, takut, dan khawatir bercampur menjadi satu.
Ia yang tiba-tiba mendapat panggilan dari nomor baru, sempat menolaknya. Takut-takut orang iseng yang ingin menghipnotisnya, membuat ibu dua orang anak ini begitu waspada dengan panggilan masuk dari nomor baru itu. Namun siapa sangka, setelah menolak panggilan itu beberpaa kali. Ia pun penasaran dan mengangkatnya.
Dan ternyata Ia dibuat shok mendengar suara tak asing ditelinganya. Suara yang sudah lama tak Ia dengar. Timom pun segera melesat menuju rumah sakit untuk menemui sang sahabat yang sudah lama tanpa kabar. Acara reunian harus terhenti karena kondisi papa Ivan yang mendadak drop, hingga akhirnya disinilah Ia sekarang sudah siap memasuki mobil Aska untuk pulang terlebih dahulu.
"Aka antar timom dulu ya, ntar kesini lagi." ucap Aska dan diiyakan Vani disertai anggukan.
Ia genggam kedua tangan sang gadis dengan senyum semangat yang mampu membuat gadis itu mengikut gerak bibirnya.
"Jangan takut, percayalah semua akan baik-baik aja! Hem?" ucap Aska seraya membelai pipinya dan dibalas anggukan lagi dari gadis itu.
Aska menarik kepala sang gadis dan mengecup dalam kening itu. Tentu hal itu membuat sang timom tersenyum dari dalam mobil. Sepertinya pasangan sejoli itu melupakan orang tua didalam sana.
Tiinnnn!!!
Satu bunyi klakson yang di tekan sang timom sukses membuat mereka terlonjak dan gelagapan. Mereka melupakan cctv didalam mobil itu.
Keduanya terkekeh dengan kelakuan sang timom yang mengacaukan susana romantis mereka.
"Ya udah, kamu masuk gih! Aka gak lama kok." titah Aska.
"Iya. Udah sana! Timom keburu ngamuk lagi." usir Vani terkekeh.
Aska tersenyum menanggapi itu. "Tau aja kamu!" ucapnya seraya mengusek pucuk kepalanya gemas.
"Udah cepet sana!" Melihat sang kekasih yang masih setia menatapnya membuat Vani kembali mengusirnya.
"Iya-iya, bawel." balas Aska seraya mencubit gemas hidung sang gadis. Keduanya tergelak dengan kelakuan mereka sendiri.
Hingga teriakan sang timom barulah membuat kaki Aska bergerak. "Aka buruan! Papih udah pulang. Pasti udah nungguin tuh." teriaknya.
"Iya Mom, iya!" balas Aska.
"Ya udah, Aka pergi dulu ya!" pamit Aska untuk kesekian kalinya.
__ADS_1
"Iya!" kekeh Vani.
"Bye!" ucpnya lagi seraya melambaikan tangan.
"Ya ampun! Udah sana hati-hati!" usir Vani. Kali ini Ia mendorong tubuh tegap itu agar segera mendekati mobil. Aska tertawa seraya berjalan menuju pintu kemudi.
"Bye, sayang!" timom membuka kaca dan melambai pada gadis cantik yang masih berdiri ditempatnya.
"Bye, timom! Hati-hati, ya!" pesannya dan diiyakan wanita itu.
Mobil pun melesat meninggalkan parkiran menuju jalan raya. Vani kembali memasuki bangunan tinggi itu, kembali keruang dimana sang papa sudah dipindahkan.
Ceklek!
Pintu dibuka Vani, Ia menghela napasnya pelan melihat sang mama yang tertidur pulas diatas kursi disamping brankar sang papa. Ia mengambil selimut kecil dan menyelimuti tubuh ramping itu, lalu mengecup kening sang mama penuh perasaan.
Vani memasuki kamar mandi untuk mencuci muka dan mengganti pakaian dengan piyama sang mama. Setelah selesai, Ia memlilih keluar meninggalkan ruangan untuk mencari angin. Sepertinya makan eskrim akan sedikit membangkitkan kembali semangat di dirinya.
Ia melangkahkan kaki keluar dari ruangan itu setelah mengambil mantelnya. Tujuannya adalah mini market yang Ia kunjungi bersama sang kekasih waktu itu. Waktu menunjukan pukul sembilan tiga puluh malam, dipastikan kantin rumah sakit sudah tutup dan Ia harus mencari apa yang Ia butuhkan.
Baru saja kakinya menginjak trotoar, pekikan klakson menghentikan langkah kaki gadis itu.
Tin! Tin!
"Kamu mau kemana?" tanya Aska dengan cepat keluar dari pintu kemudinya. Melihat parkiran yang langgang, membuat Ia memarkirkan mobil itu sembarangan.
"Ya ampun Kak. Parkir yang bener lah!" peringat Vani.
"Gak apa-apa, sepi juga." timpal Aska terkekeh seraya mendekat.
"Mau kemana sih?" Aska yang belum mendapat jawaban kembali bertanya lagi.
"Mau cari angin." balas Vani disetrai senyumnya.
"Daripada cari angin, mening cari aka." kekeh Aska hingga Vani pun melakukan hal yang sama.
Aska mengadahkan telapak tangan, meminta tangam lembut sang gadis menyambutnya. Vani menatap ulpurna tangan itu dan menyambutnya antusias. Menautkan jari jemari mereka. Aska membawa jemari keduanya memasuki saku mantel yang Ia gunakan. Hingga rasa hangat menjalari tubuh keduanya dari tautan itu, mereka pun berjalan beriringan dengan senyum yang tak luntur dari bibir keduanya.
"Apa aka beneran gak punya kekasih sebelumnya?" tanya Vani hati-hati, memulai obrolan ditengah perjalanan mereka .
__ADS_1
"Kenapa? kamu gak percaya?" bukan menjawab, Ia justru membalikan pertanyaan. Vani tersenyum seraya menggelengkan kepala. Tentu Ia tak mempercayainya begitu saja.
Aska menghentikan langkahnya, hingga sang gadis ikut berhenti disampingnya. Dengan alis yang bertautan. "Kenapa?" tanyanya.
"Ada sesuatu yang ingin aka tunjukan!" ucap Aska, seraya memegang kedua bahu Vani. Tentu hal itu membuat gadis cantik itu seakin heran menatap keseriusan diwajah sang kekasih.
Aska kembali menggenggam tangan sang gadis dan mengajaknya berjalan. Bukan ke tempat tujuan pertama mereka. Tapi justru membawa sang gadis berbelok dan menyebrangi jalan raya yang sudah mulai langgang pengendara.
Aska membawa sang gadis menuju bangunan tinggi yang Vani yakini, pastilah tempat tinggal sang kekasih. Keduanya memasuki lift untuk sampai diunit yang dituju.
Tring!
Pintu lift pun terbuka, mereka pun sampai didepan pintu berwarna hitam. Aska membuka pintu itu dengan acsess card miliknya, hingga pintu terbuka dan menampakan ruangan dengan sofa tertata rapih design ruangan yang mampu memanjakan mata Vani.
"Wow!" gumamnya berdecak kagum menelisik seriap ssudut ruangan itu.
"Aka tinggal disini?" tanya Vani merasa tak percaya dan diangguki Aska.
"He'em! Gimana menurutmu?" tanya Aska.
"Apanya?" tanya balik Vani dengan mata yang masih belum berhenti menyapu seluruh ruangan itu.
"Tempat ini? Apa kamu menyukainya?" tanya Aska lagi.
"Tentu. Ini luar biasa." balas Vani.
Aska tersenyum menanggapi itu. "Baiklah! Jadi nanti kalo kita udah sah, kita akan tetap tinggal disini."
Celetukan Aska tentu membuat gadis itu menoleh dwngan garis wajah yang tersirat berbagai pertanyaan. Sah? Menikah? Pikirnya.
Aska yang melihat ekspersi itu kembali tersenyum. Vani memalingkan wajahnya untuk tak melihat senyum mematikan dari pria tampan itu.
Aska beralih kebelakanh sang gadis dan memeluknya dari belakang.
Deg!
Jantung keduanya kembali berdegup tak beraturan. Bahkan Vani bisa mendengar jelas suara degupan sang kekasih dibelakangnya.
"Tak apa, biarkan seperti ini sebentar saja!"
__ADS_1
\*\*\*\*\*\*
Jangan lupa jejak, ditinggal yaaa🤗