Bossku, Jodohku!

Bossku, Jodohku!
Kawin gantung


__ADS_3

Flash back on~


[Bantu aku Mom! Tolong bujuk tante Rita untuk merestui hubungan aku dengan Vani, bagimanapun caranya. Aku ingin menikahi Vani malam ini juga di rumah sakit.]


Sepenggal chat dari Aska sungguh membuat ibu dua anak itu kelimpungan. Hingga Ia segera menemui sahabatnya dirumah sakit untuk membicarakan apa yang diinginkan putranya itu.


"Hah? Maksudnya, kek gimana?" tanya mama Lia tak percaya.


"Isshhh, telmi lu dipelihara mulu deh." protes timom Siska seraya menoyor bahunya.


"Iya maaf, makin tua kan makin telmi." balas mama Lia cengengesan.


Timom hanya geleng-geleng kepala mendengar itu. Meski mereka sudah berumur, namun kebiasaan mereka tak pernah lepas. Bahkan saat berdua seperti ini kedua wanita itu masih terlihat cantik dengan kesompalkan yang masih melekat.


"Jadi gimana dulu?" tanya timom, setelah untuk kedua kalinya Ia menjelaskan tentang keinginan putranya itu.


"Kita temui dulu Bu Rita. Sepertinya a Ivan masih bisa ku kendalikan." balas mama Lia. Seketika tawa timom pecah, hingga sukses membuat mama Lia keheranan.


"Lu kenapa?" tanyanya.


"Jadi lu masih panggil suami lu aa?" tanya timom yang kembali tergelak. Entah kenapa panggilan itu begitu lucu terdengar ditelinganya.


"Lah, kenapa? Itu panggilan udah nempel dari hati, gak mungkin juga dapat diganti." balas mama Lia.


"Ya gak lu panggil papa atau apa, kek anak lu gitu. Lah ini masih tetep aja aa." lagi-lagi wanita dua anak itu tergelak.


Mama Lia berdecak kesal mendengar tawa yang terdengar meledek dari sahabatnya itu. Ia pun penasaran dengan panggilan yang wanita itu sematkan untuk suaminya.


"Terus lu sendiri gimana? Masih panggil abang?" tanya Lia penasaran.


"Iya!" balasnya lalu tergelak. Hingga toyoran didapatkan dari sahabat somplaknya itu. Meskipun mereka sudah berumur, sang timom tak pernah merubah apapun pada dirinya.


Tak mau lama-lama dalam pembahasan absurd mereka yang menyita banyak waktu. Kini mama Lia sudah menghubungi tante Rita dan memintanya bertemu di kafe dekat rumah sakit yang kini kedua wanita itu duduki.


**


"Selamat siang, Bu!" sapa tante Rita menyapa kedua wanita itu, seraya mendaratakan pipinya dipipi mama Lia bergantian.

__ADS_1


"Siang, Bu!"


"Oh iya, Bu. Kenalin ini Siska, mamanya Aska." ucap mama Lia memperkenalkan sahabatnya itu.


Keduanya pun bersalaman dan cipika cipiki, seperti yang dilakukan dengan mama Lia. Lalu setelah itu mereka pun mendaratkan bokong mereka dikursi dengan meja bundar itu.


Meski Aska dan Daffa berteman, namun mama keduanya tak pernah bertemu. Jarak kampus mereka yang jauh, membuat mereka tak ada kesempatan untuk memperkenalkan kedua orang tua mereka.


"Pesen makan dulu, Bu!" tawar mama Lia.


"Gak usah, Bu. Saya sudah makan." balas tante Rita dan dibalas senyuman mama Lia.


Ia melirik sekilas kearah sahabatnya, begitu pun timom Siska. Kedua wanita itu saling lirik, dengan kaki saling menendang.


'Cepet ngomong!' batin timom Siska.


'Lu yang ngmong!' batin mama Lia.


'Lu yang kenal dia. Lu lah yang ngomong.' batin timom Siska.


Keduanya terus berperang batin dengan mata saling mengode. Tante Rita yang melihat gelagat aneh dari kedua wanita yang lebih muda darinya itu merasa aneh. Hingga Ia pun berdehem keras untuk mengalihkan atensi mereka.


"Ehemm!!!"


Deheman itu sukses membuat kedua wanita itu gelagapan. Timom Siska mendelik tajam pada sahabatnya itu, hingga mama Lia pasrah dan siap mengeluarkan ucapannya.


Ia menarik dan menghembuskan napasnya terlebih dahulu untuk memulai obrolan mereka. Bagaimana pun, Ia harus memulai obrolan itu. Ia ingin putrinya bahagia dengan pilihannya sendiri.


"Jadi, begini Bu," ucap mama Lia menjeda kalimatnya. Entah kenapa Ia begitu gugup untuk berbicara. Ia takut salah bicara pada wanita didepannya dan akan menimbulkan hal yang tak diinginkan.


Tante Rita mengerenyit heran dengan sudah siap memasang telinganya lebar-lebar untuk mendengarkan pengungkapan penting yang akan dilontarkan wanita didepannya itu.


"Emm ... Apa Ibu sedang baik-baik aja?" tanya mama Lia.


Seketika pertanyaan itu membuat timom Siska menghembuskan napasnya kasar seraya mata yang bergulir kesal. Sementara tante Rita yang mendengar itu melongo, lalu terkekeh.


"Saya baik kok, Bu. Kenapa Ibu tanya itu?" tante Rita menajwab, lalu bertanya heran.

__ADS_1


Timom Siska menggaruk pelipisnya yang tiba-tiba saja gatal. Kenapa juga sahabat somplaknya itu bertanya hal yang aneh? Pikirnya.


Mama Lia tersenyum. "Maafin saya, Bu. Maksud saya bukan itu." sergahnya.


"Saya hanya takut, kesehatan Ibu sedang kurang baik. Karena mungkin apa yang ingin saya sampaikan akan mempengaruhi kesehatan Ibu." jelas mama Lia.


Tante Rita tersenyum, merasa senang calon besannya begitu perhatian padanya. "Nggak, Bu. Alhamdulillah, saya lagi baik. Saya siap mendengarkan apa yang ingin Ibu katakan." balas mama Rita.


Pernyataan dari tante Rita membuat kedua ibu itu mengangguk-anggukan kepalanya.


"Jadi gini, Bu," Lagi-lagi mama Lia menjeda kalimatnya dan kembali menarik dan menghembuskan napasnya berulang kali.


"Sejak kecil Vanilla adalah sosok gadis yang introvert. Sangat sulit untuknya bergaul dengan teman-teman dan orang-orang sekitarnya." ucap mama Lia seraya memutar kembali memorinya ke belasan tahun silam.


"Dulu ... cara saya memperkenalkan Vani kedunia luar, adalah dengan membawanya kerumah sahabat saya ini, Siska." lanjutnya tersenyum dengan melihat sekilas kearah wanita disampingnya.


"Siska memiliki putri yang seumuran dengan Vani, jadi mereka bermain bersama. Dan Aska yang lebih tua dari mereka, selalu menjadi pengayom untuk mereka."


"Vani dan Aska semakin dekat. Bahkan Vani begitu bergantung pada Aska. Apapun mereka lakukan bersama. Hanya pada Aska, Vani mencurahkan segala isi hatinya." mama Lia menjeda ucapannya itu dan tante Rita masih stay mendengarakan. Sepertinya cerita mama Lia begitu menarik untuk didengarnya, apalagi dengan gaya bahasa dan cengkok yang digunakan mama Lia, begitu terdengar dramatis.


"Dan ketika hari dimana kami akan pindah, Vani menangis tak ingin berpisah dari mereka. Dan yang membuat kami tersentuh, Vani gak ingin jauh dari Aska. Ia takut gak ada yang bisa melindungi dirinya. Ia takut gak ada yang mau ngasih bahu untuknya tidur siang. Dan dia takut Aska menikah dengan orang lain."


Timom Siska menoleh mendengar hal itu. 'Iya kah? Apa mungkin gadis kecil bisa mengungkapkan itu? Bukannya itu keinginan dia?' batinnya.


"Jadi sebelum kami pergi, saya dan papanya Vani, beserta Siska dan suaminya memutuskan untuk melaksanakan kawin gantung." jelas mama Lia dengan ekspresi sendu.


Namun hal itu justru membuat timom Siska membelakak dengan mata terbuka lebar. 'Wah somplak, ni emak-emak! Dasar drama queen.' batinnya.


Tante Rita yang mendengar itu, terlihat terharu. Sepertinya cerita mama Lia sungguh menyayat hatinya.


Mama Lia menghembuskakan napasnya kasar. Sebelum melanjutkan ceritanya dengan raut wajah sendu. Oh sungguh! Akting mama Lia patut diacungi jempol.


Timom Siska menunduk, lalu menyanggah kepala dengan tangannya. Seraya memijit pelipisnya yang tiba-tiba saja berdenyut.


\*\*\*\*\*\*


Kalo ada waktu satu bab lagi yaa.. unboxingnya majuin besok ya🤭 mau drama queen dulu, bareng emak-emak ini🤣

__ADS_1


__ADS_2