Bossku, Jodohku!

Bossku, Jodohku!
Dinner


__ADS_3

Gadis cantik dengan dress mocca selutut yang membalut tubuh rampingnya dengan rambut yang dibiarkan tergerai, sungguh membuat seorang Aska terpana. Direktur muda itu sampai tak daat mengedipkan matanya kala melihat kescantikan dan keanggunan dari gadis yang Ia akui kekasihnya itu.


"MasyaAlloh, cantiknya!" puji Aska dengan tulus menatap kagum pada sang gadis yang baru keluar dari kamarnya itu.


Vani tersenyum malu mendengar pujian yang menurutnya berlebihan itu, hingga suara cempereng seorang gadis membuyarkan lamunan Aska.


"Udah Pak, jangan ditatap terus! Ntar mata bapak copot!" kekeh Sofi.


"Cepet bawa pergi sana. Takut ntar make up nya keburu luntur lagi." lanjutnya meledek kedua sejoli yang tengah dimabuk cinta itu.


Vani berdecak seraya menyonggol tangan Sofi yang bertengger dibahunya. Memdapati godaan seperti itu membuat gadis cantik itu malu. Begitupun Aska, Ia sampai menggaruk tengkuknya salah tingkah.


Setelah berpamitan pada sahabat cerwetnya itu, sejoli itu pun berangkat. Mereka memasuki mobil dan melesat menuju tempat tujuan. Sebelum mengantar Vani pulang dari rumah sakit, Aska juga mampir ke apartemen dirinya untuk membersihkan diri terlebih dahulu.


**


"Beneran mau dinner?" tanya Vani memastikan. Ia pikir acara seperti itu begitu resmi menurutnya.


Saat bersama Daffa, Ia pernah diajak dinner oleh pria tampan itu dan hal itu begitu terasa asing untuknya. Terasa kaku dan tak sesuai dengan gaya hidupnya.


Aska terkekeh mendengar pertanyaan itu. Pertanyaan yang terlihat dipenuhi rasa khawatir didalamnya. "Kenapa? Kamu gak suka?" tanyanya.


"Bukan begitu. Tapi ..." ucapan Vani berhenti, Ia bingung harus bagaimana menjelaskannya.


Ia ingin kencan ala remaja lainnya, yang tak terlihat resmi dan kaku. Ia ingin menghabiskan malam kencannya dengan santai dan penuh dengan hal manis yang akan selalu Ia kenang indah nantinya.


"Kita akan makan malam dulu, abis itu kita lanjut kemanapun kamu mau." balas Aska menatap sekilas kearah sang gadis. Vani yang kurang memahani menautakn alisnya tak mengerti.


"Ya ampun! Aka tuh laper, apa kamu gak laper?" tanya Aska menggodanya. Bukan Vani yang menjawab, tapi suara cacing diperutnya lah yang menjawab pertanyaan sang pria.


Kruyuk! Kruyuk!


Atensi keduanya pun tertuju pada asal sumber suara, membuat Aska tertawa dan Vani menunduk malu. Ia sampai menutup mata dengan kedua tangannya.


"Ya ampun, memalukan!" cicitnya.


Aska menghentikan tawanya dan mengusek pucuk kepala sang gadis dengan gemas. "Udah gak usah malu! Jangankan cuma suara perut keroncongan, suara kentut kamu pun. Aka siap dengar." kekehnya. Tampolan pun melayang mengenai lengannya dari sang tangan lembut itu. Hingga pria tampan itu tergelak.

__ADS_1


"Apa sih kak ih, jorok!" protes Vani.


"Apanya? Itu bener kok. Ayo dong kentut, udah lama aka gak denger suara merdu itu!" ledek Aska serauaya menaik turunkan alisnya.


"Aka ihh!!" Vani yang malu kembali melayangkan pukulan dibahu kekar itu. Merasa malu karena sang kekasih membuka kembali aib masa kecilnya dulu didepan readers. Kan readers jadi tau, si cantik suka kentut sembarangan.


"Nggak-nggak bercanda." elak Aska menagan tangan sang gadis dengan sebelah tangannya.


"Tapi beneran!" lanjutnya, lalu tergelak. Tampolan pun kembali dilayangkan bertubi-tubi dari sang gadis hingga mereka tergelak bersama.


Tak terasa mereka pun sampai ditempat tujuan. Sebuah restoran sederhana, namun terkesan romantis menjadi pilihan Aska. Entah kenapa Ia memilih tempat itu untuk menjadi temaptnya makan bersama sang kekasih. Suasana yang terlihat autentik, membuat Ia begitu menyukai tempat itu.


"Hai kak As!" sapa seorang gadis belia menyapa mereka, ketika baru saja menginjakan kaki ditempat itu.


"Hai Ris." balas Aska tersenyum membalas sapaan gadis cantik itu.


Gadis SMA itu menautkan alis melihat siapa gadis cantik yang digandeng pria yang selalu menjadi idolanya itu. Lambaian tangannya luruh melihat gandengan tangan yang terlihat begitu mesra dimatanya itu.


"Yah! Kakak udah punya pacar ya?" tanyanya dengan wajah sendu.


Aska terkekeh melihat itu. Tau bahwa gadis kecil yang selalu Ia anggap adiknya itu begitu mengidolakan dirinya dan pastilah dia merasa kecewa, ketika melihatnya menggandeng seorang gadis.


"Calon istri?" pekiknya merasa tak percaya.


Vani tersenyum begitu manis pada gadis cantik itu. Lalu mengulurkan tangan untuk memperkenal diri.


"Hai, aku Vanilla."


Riska menatap kesal gadis yang harus Ia akui begitu cantik itu. Dengan sedikit terpaksa Ia pun menyambut jabatan tangan itu.


"Riska!" balasnya dengan wajah ditekuk.


Ditengah perkenalan itu, datang seorang wanita paruh baya menyapa mereka.


"Eh, ada Aska ya?" sapanya.


"Hai, Ti!" sapanya menyalimi takzim wanita itu diikuti Vani juga.

__ADS_1


"Oh iya ini siapa Ka?" tanyanya.


"Ini calon istri Aska Onty. Namanya Vanilla." balas Aska.


"Vanilla?" tanya sang wanita merasa tak asing dengan nama itu, dan didetik berikutnya matanya membola menatap sang gadis dari atas hingga bawah menelisik penampilan gadis cantik dihadapannya.


"Ya ampun! Ini Vanilla, putrinya bang Ivan?" tanyanya merasa tak percaya dan disanbut senyum manis Vani.


"Iya Onty, saya Vani. Putrinya papa Ivan. Onty masih ingat aku?" tanyanya.


"Ya ampun, Vani!" wanita itu langsung berhambur memeluk gadis cantik itu. "Kamu apa kabar Nak?" tanyanya.


"Aku baik. Onty Feby apa kabar?" tanya balik Vani.


"Baik!" Ia melerai pelukannya dan kembali menelisik wajah cantik itu.


"Bener bang Ivan, emang nempel banget dikamu." kekeh wanita yang masih cantik diusianya.


"Idih mamih, sebut-sebut nama mantan. Aku bilangin papih ya!" ledek Riska mengancamnya.


"Apaan sih kamu ini. Jangan macem-macem ya! Mau uang jajan kamu mamih potong, hem?" ancam balik onty Feby membuat sang gadis mencebikan bibirnya.


Aska tertawa melihat pertengkaran ibu dan anak yang tak asing itu. Vani hanya tersenyum simpul, sungguh lah Ia tak mengerti dengan apa yang dimaksud keduanya.


Keluarga Aska memanglah berlangganan makan diresto itu, bukan hanya keluarganya saja tapi seluruh keluarga besarnya juga sering diundang onty Feby untuk mencicipi menu baru yang Ia buat. Hubungan mereka memang selalu dekat dan taj berubah dari dulu.


"Kak As, kakak kenapa buru-buru milih calon istri sih? Kenapa gak nunggu aku aja, tinggal satu tahun lagi loh aku lulus." celetukan Riska sukses mendapatkan jeweran ditelinga dari sang mamih.


"Aww!! Aww!! Sakit Mih." pekiknya memegang tangan sang mamih yang bertemgger didaun telinganya.


"Kamu tuh ya, kalo ngomong. Sekolah dulu yang bener. Jangan mikir pacar-pacaran!" omel wanita paruh baya itu pada sang putri yang selalu menggoda putra temannya itu.


"Ya ampun, Mih sakit! Lepasin!" rengeknya, sqng ih yang tak tega langsung melepaskannya. Riska mencebikan bibir seraya memegang dau telingnya yang kemungkinan memerah.


"Ck! Kamu tuh jadi anak gadis gak ada manis-manisnya. Jual mahal dikit napa?" protes sang mamih.


"Aku gak mau jual mahal, yang ada ntar kek mamih. Yang mencintai om Ivan dalam diam." balas Riska seraya melesat meninggalkan posisinya. Takut-takut dapat lemparan sendal dari sang mamih Ia pun memilih pergi.

__ADS_1


\*\*\*\*\*\*


Jangan lupakan jejaknya yaa gaiss🤗


__ADS_2