
"Hei ... Sini kau! Sembarangan kalo ngomong." teriak onty Feby, putrinya itu sungguh pun keterlaluan.
Bagaimana bisa Ia bicara seperti itu dihadapan orang lain yang tak lain adalah putri dari pria yang dimaksud putrinya itu. Dengan menahan malu yang teramat dalam, Ia mencoba sebiasa mungkin didepan pasangan sejoli itu.
"Jangan dengerin Riska ya, dia memang gitu! Suka bikin rusuh." ucapnya dengan mencoba teesenyum pada mereka dan hanya ditanggapi senyuman dari pasangan kalem itu.
"Eh iya, Onty sampai lupa. Ayo cari tempat duduk dulu!" ajak wanita paruh baya yang masih cerewet itu, seraya menggiring mereka menuju kursi didekat kaca besar dilantai atas.
"Gimana? Kek nya disini cocok buat kalian." tanya Onty Feby.
Vani menatap kagum pada suasana tempat itu. Meski itu hanya dua lantai, namun atap yang dibuat dari kaca sungguh menampakan pemandangan bintang yang tembus terlihat dari ruangan itu. Belum lagi posisi tempat itu yang berada didataran tinggi membuat tempat itu berasa memiliki beberapa lantai. Hingga pemandangan lampu kerlap-kerlip dari jalanan yang dipenuhi kendaraan, nampak indah terlihat jelas dari sana.
"Woww!! Amazing."
"Iya kan? Kamu pasti suka." ucap onty Feby memastikan.
"Iya Ti, ini luar biasa. Cantik sekali." balas Vani dan disambut senyuman wanita itu.
"Ya udah kita lanjutin nanti ya, obrolannya. Onty mau bikin dulu makanan spesial buat kalian." ucapnya dan diabalas senyuman dan anggukan keduanya.
"Makasih ya, Onty!" ucap Aska dan diiyakan sahabat timomnya itu seraya meninggalkan mereka disana.
Senyum manis dari bibir ranum itu terus mengembang menatap kagum pada pemandangan diluaran sana. Lampu yang dibuat temaram, sungguh membuat suasana kian romantis.
Aska ikut tersenyum melihat wajah bahagia sang kekasih. Ia meraih tangan halus yang bertengger dimeja itu dan mengelusnya lembut. Dan hal itu tentu membuat atensi Vani berpindah kearahnya.
"Apa kamu suka?" tanyanya dan dijawab anggukan Vani.
"He'em, apa ini resto milik onty Feby?" tanya Vani memastikan.
"Iya. Ini resto beliau. Aka sama keluarga sering diajak nyicip makanan disini." balas Aska dan diangguki gadis cantik itu.
"Apa tadi putrinya onty?" tanya Vani lagi. Entah kenapa Ia sedikit tak suka dengan sikap sang gadis yang begitu agresif pada kekasihnya itu.
"Iya." balas Aska dan diangguki Vani yang tiba-tiba memalingkan wajah pada jendela itu.
Aska yang terlalu peka, tentu tau makna dari sikap gadisnya. "Apa kamu cemburu?" godanya.
Vani menolehkan kembali wajahnya kedepan dan tersenyum. "Mana ada." sangkalnya.
"Iya kah? Ck! Aka kira kamu cemburu." tanyanya dengan nada menggoda.
__ADS_1
Vani terkekeh menanggapi itu. "Apaan? Dia gak ngapa-ngapain Aka juga. Mungkin lain cerita, kalo dia nyentuh Aka." ucapnya dan disambut usekan gemas dipucuk kepalanya.
"Aku kira kak Rizky gak punya adik. Ternyata adiknya cantik juga." tutur Vani dengan nada menyindir.
Aska terkekeh mendengar itu. Inilah definisi cemburu yang tak mau diakui. Dari bibir berkata 'tidak' dalam hati justru sebaliknya. Sepertinya kaum perempuan memanglah mempunyai pemikiran itu, dan hal itu yang membuat mereka terlihat spesial.
"Setiap perempuan itu cantik. Tapi banyak lelaki yang selalu ingin melihat sisi lain dari itu." balas Aska.
"Contohnya?" tanya Vani dengan tautan dikedua alisnya.
"Kepribadian mungkin? Seperti aka yang selalu ingin tau," Aska sengaja menjeda kalimatnya dan menatap aneh kearah sang gadis.
Ia mencondongkan tubuhnya hingga wajahnya tepat didepan wajah sang gadis. Vani terpaku kala hembusan napas hangat Aska menyapu wajahnya.
"Aka ingin tau, apa kamu masih suka ngorok?" bisik Aska tepat didepan telinganya.
Seketika pertanyaan nyeleneh itu sukses membuat wajah cantik Vani memerah. Aska tersenyum lebar melihat ekspresi yang begitu menggemaskan itu menurutnya.
"Ihh Aka ..." rengek Vani mengeplak tangan lengan sang pria yang begitu enteng menggodanya itu. Aska tergelak menerina serangan itu, hingga deheman seseorang mengalihkan atensi mereka.
"Ehem! Ehem!"
"Ciee ... Manis banget sih kalian." goda onty Feby seraya menyiapkan piring berisi makanan diatas meja itu. Keduanya hanya tersenyum kikuk menanggapi.
Setelah selesai menyajikan berbagai hidangan diatas meja bundar itu, dua wanita itu berpamitan.
"Ya udah onty tinggal deh, selamat menikmati ya!" pamitnya.
"Iya. Makasih Onty!" ucap Vani dan diiyakan wanita yang masih terlihat cantik itu.
"Wah kek nya enak-enak nih!" Vani menatap antusias semua makanan di meja itu, matanya berbinar melihat semua menu yang menggugah selera makannya.
Matanya kian berbinar kala melihat sesuatu berwarna kuning disana.
"Pisang!" pekik kedua sejoli yang sama-sama begitu mengidolakan si kuning itu. Lalu, keduanya tergelak dengan kekompakan yang ditunjukan mereka.
"Baiklah! Sekarang aka ngalah dulu, pisangnya buat kamu. Ntar kamu yang harus ngalah ya. Kalo udah punya pisang Aka!" celetuk Aska yang tiba-tiba membuat pipi Vani memerah.
"Aka .. Apaan sih ih?" rengek Vani menahan malu.
Aska terkekeh, entah kenapa menggoda sang gadis sungguh menyenangkan untuknya. Ia yang selalu tampil kalem, mendadak nyeleneh didepan gadis pujaannya.
__ADS_1
Merekapun sepakat untuk mengisi terlebih dahulu perut mereka yang sudah keroncongan, sebelum kembali melanjutkan obrolan mereka. Sesekali Aska menyuapi sang gadis, begitupun Vani yang tak mau kalah untuk bergantian menyuapi sang kekasih. Keduanya terus bercanda seolah dunia milik mereka berdua, membuat darah mendidih dari seseorang yang tengah memperhatikan mereka.
"Kenapa sesakit ini? Ternyata nengikhlaskan seseorang, tak seperti mengikhlaskan uang." ucapnya sendu. Ia segera berdiri dan meninggalkan tempat duduknya.
Mungkin jika Ia berpindah tempat dan tak melihat sejoli itu lagi, hatinya akan sedikit tenang. Namun perkiraannya salah baru saja Ia menapaki lantai bawah beberapa langkah, seorang gadis mencegatnya.
"Ehh! Mau kemana pak? Ini makanannya udah jadi, bayar dulu!" cegatnya dengan satu tangan megadah dan satu tangan yang stay memegang tangan kekar pria didepannya.
"Pak? Apa saya Setua itu?" tanya Daffa merasa tak percaya.
"Ya, ya mungkin!" balas sang gadis merasa gugup kala mata tajam itu menatapnya.
Pria itu tak mau lagi basa basi. Ia segera berlenggang lurus, namun sang gadis kembali mencegat tangan kekar itu.
"Berhenti pak, atau saya teriak!" cegatnya.
"Ya ampun! Lepasin nggak!" tegas Daffa dengan nada pelan namun penuh penekanan.
"Nggak! Bapak pasti mau kabur. Ayo bayar dulu!" ucap sang gadis yang begitu kekeh.
"Siapa yang mau kabur, saya tu-"belum juga selesai, sang gadis sudah menyelaknya lagi.
"Alah alasan. Ini tu jalan keluar pak. Jadi bapak gak bisa alasan lagi!"
"Tolong berhenti bicara," ucapnya seraya menahan sang gadis dengan telapak tangan didepan, seolah mengatakan 'stop!'. Wajahnya memucat menahan sesuatu.
"Kenapa? Bapak mau pura-pura sakit, biar gak bayar? Gak mempan sama saya." tanya sang gadis yang tak berhenti mengoceh.
Daffa mengambil dompet dari celana jeans nya dan mengeluarkan satu kartu dari sana. Lalu memberikannya pada sang gadis. "Nih ambil. Taruh makanananya dimeja itu." tunjuknya menunjuk sebuah meja kosong dengan ekspresi tak karuan.
Mata sang gadis membola merasa tak percaya melihat kredit card itu. "Terus bapak mau kemana?" tanyanya tak mengerti.
"Ck! Banyak tanya. Lepasin! Saya mau ke toilet." karena sudah tak tahan lagi menahan hajatnya, Daffa menepis kasar tangan sang gadis dan berlenggang pergi tergesa menuju toilet yang berada diarah jalan keluar.
Sang gadis menatap punggung pria itu seraya menggigit bibir bawahnya. Merasa malu karena sudah salah sangka padanya.
"Ya ampun Riska, memalukan!"
\*\*\*\*\*\*
Jangan lupakan jejaknya yaa🤗
__ADS_1