
"Percayalah! Kakak gak ngelakuin apapun padamu. Kakak hanya membantumu." ucap Daffa meyakinkan sang gadis yang kini masih terisak didadanya.
Riska masih tak menjawab, rasanya sakit jika terjadi sesuatu padanya. Namun Ia juga tak bisa menyimpulkan itu.
Daffa yang merasa gadis itu sudah terlihat tenang, segera melerai dekapannya.
"Kamu percaya 'kan sama Kakak?" tanya Daffa memastikan.
Riska Terdiam dengan sisa isak kecil dari bibirnya. Keadaan ini terlalu membingungkan baginya. Terdengar dari suaranya, pria itu sepertinya berkata jujur. Namun Ia juga tak bisa mempercayai begitu saja. Apalagi dengan keadaanya sekarang ini.
"Heii... Kamu percaya 'kan?" tanya Daffa sekali lagi.
"Be-beneran?" tanya Riska dengan sisa sesenggukan yang masih ada.
"Beneran. Kakak berani sumpah, Kakak gak ngapa-ngapain kamu." balas Daffa.
"Te-terus, ke-kenapa a-aku telanjang?" tanyanya tebata yang diiringi tangis lagi dari bibir gadis itu.
Daffa menghembuskan napasnya panjang. Ia kembali merengkuh tubuh itu. "Maafin, Kakak! Itu ..." Daffa terlihat ragu untuk menjawabnya.
Tak mendapat jawaban dari pria itu, Riska melerai dekapannya dan menatap Daffa dengan wajah beribu tanya.
"Apa? Kenapa Kak?" tanya Riska.
"Jadi semalam tu ..." akhirnya Daffa pun menceritakan tentang kejadian semalam.
Alangkah shoknya Riska mendengar jika pria dihadapannya ini mengetahui seluruh lekuk tubuhnya. Reflek Ia pun memeluk dadanya sendiri merasa waswas pria itu.
"Ck! Gak usah kek gitu. Udah tau juga." gerutunya seraya melengos.
"Ihhh ... Kakak ngeselin. Kok berani-beraninya sih telanjangin aku?" omel Riska.
"Kakak kan udah bilang, Kakak terpaksa. Kalo gak kek gitu, kamu bisa sakit." balas Daffa yang mulai ikut tersulut.
"Lagian bentuk tubuh kecil kek gitu, siapa juga yang mau?" gerutunya dengan suara makin kecil dan wajahnya kembali melengos.
"Isshhh ...." Riska menatap kesal pada pria itu.
Sudah sang pria dengan sadar menelanjangi dirinya, dan lagi dikatakan kecil membuat Ia sedikit tak terima. Pada kenyataannya dua buah berharganya begitu besar. Bahkan melebihi ukuran gadis seumurannya. Dan sekarang pria itu menyebutnya kecil, sungguh lah Riska ingin sekali memabawa Daffa ke klinik untuk memeriksakan mata.
__ADS_1
"Ck! Mamih ... Aku pengen pulang!!" Riska mengerang frustasi mengingat keadaannya.
Daffa kembali menghembuskan napasnya kasar. "Udah lah bentar lagi kita pulang. Gak mungkin juga kan kita pulang dengan keadaan kek gini?" balas Daffa. "Tunggu sebentar lagi, seseorang akan datang membawakan kita pakaian ganti."
Riska hanya mencebikan bibirmya mendengar itu. Daffa memilih untuk memasuki kamar mandi untuk membersihakn dirinya. Sedangakn Riska masih terdiam diatas kasur dengan berbagai pertanyaan yang menenuhi otaknya. Ia masih penasaran dan belum percaya, benarkah sang pria tak menyentuhnya?
Tangannya bergerak menyikap selimut, mencari sesuatu dibawah sana. Ia ingat pembahasan malam pertama bersama teman-temannya disekolah waktu itu. Noda darah! Ia melihat kebawah tempat dudukanya dan tak menemukan apa yang dia cari.
"Aman!" gumamnya.
Kemudian Ia teringat lagi, malam pertama yang sakit dibagian inti perempuan. Untuk membuktikan itu, Ia pun bangkit dari tempat tidur, lalu berdiri dan mulai berjalan-jalan kecil.
"Yesss ... Aman!" ucapnya kegirangan, bahkan Ia sampai melakukan tepuk tangan kecil.
"Berarti benar, Kakak itu jujur. Terus? Dia benar-benar lihat tubuh aku dong?" ucap Risla bermonolog sendiri.
"Isshhhh memalukan!" gumamnya seraya menutup wajah dengan kedua tangannya.
Sungguh Ia akan sangat malu pada pria tampan itu. Hingga Ia tersadar akan satu hal. Sesuatu yang membuat Ia terjebak disana.
"Leon? Berani-beraninya dia jebak aku." gerutunya dengan berkacak pinggang.
Ditengah segala pemikirannya, ketukan pintu kamar membuat gadis itu terkesiap. Ingin Ia membuka pintu itu, namun rasa takut tiba-tiba menyelimutinya. Daffa yang baru keluar dari kamar mandi dengan mengenakan bathrob dan tangan yang bergerak menggosok rambutnya, segera membuka pintu itu.
"Biar Kakak aja!"
Ceklek!
Pintu terbuka dan nampaklah pasangan paruh baya yang kini menatap kesal padanya. Daffa yang tengah menunggu seseorang dibuat kaget dengan kedatangan keduanya. Begitupun Riska dibelakang sana yang sudah menutup mulutnya.
"P-pak, Bu!" sapa Daffa shok.
Bughh!!!
Satu tonjokan keras didapatnya dari pria dihadapannya itu. Ia tersungkur dengan sudut bibir yang kebas dan berdarah. Riska shok bukan main melihat sang papih yang begitu kerasnya menonjokan kepalan tangan pada pria yang sudah menjadi pacar bohongannya itu.
Pria itu maju, masuk lebih dalam keruangan tersebut. Ia meraih kerah handuk yang dikenakan Daffa.
"Berani sekali kamu berbuat yang tidak-tidak pada putri saya, hah?!" tanyanya dengan wajah mengeras.
__ADS_1
"Maaf Pak, saya tidak berbuat apa-apa sama putri Bapak!" bela Daffa.
"Cih! Tidak berbuat apa-apa kau bilang? Dengan keadaan kalian kek gini?" tanyanya geram dan hendak kembali menghajarnya.
"Pih! Pih, jangan Pih!" cegat Riska menahan tangan sang papih.
"Riska?!" tanya sang mamih tak percaya. Bagaimana bisa putrinya malah membela pria breng sek itu? Pikirnya.
"Mih! Kakak gak salah. Ini hanya salah paham." bela Riska, membuat kedua orang tuanya menatap tak percaya.
"Kamu?!" bentak papih Rio pada putrinya itu.
"Maaf Pak, kita bisa bicarakan ini baik-baik. Disini kita terjebak. Dan saya berani bersumpah, kalo saya sama sekali tidak berbuat hal yang melanggar agama ataupun asusila pada putri Bapak. Saya disini benar-benar hanya membantu dia." jelas Daffa.
"Apa ucapanmu bisa dipercaya?" tanya papih Rio.
"Tentu Pak, saya berani melakukan apapun. Karena saya yakin, saya tidak bersalah." balas Daffa.
"Baiklah kalo begitu. Saya akan percaya sama kamu. Kalo kamu mau menikahi anak saya, sekarang juga." tegas papih Rio.
Deg
Daffa dan Riska terpaku mendengar itu. Menikah? tanya mereka dalam hati. Bukan hanya kedua tersangka itu saja, mamih Feby hampir kehilangan kesadaran dirinya mendengar itu.
"Pih! Apaan sih?" protes Riska. "Aku masih sekolah, baru mau kelas 12. Masa mau dinikahin? Astaga yang benar saja." gerutunya kesal.
"Pihh!!!" peringat mamih Feby, namun sang papih menghentikan dengan mengangkat telapak tangannya. Seketika mamih Feby pun tak berkutik dengan penyelakan suaminya.
Papih Rio masih menatap tajam pada pemuda didepanya. Sebagai seorang ayah tentu Ia tak terima sang gadis bisa dalam keadaan seperti itu. Meski benar pria itu tak melakukan apapun pada putrinya, namun tetap saja ke khawatiran begitu menyelimuti ayah dua orang anak ini. Apalagi pria ini yang kemarin meminta izin membawa putrinya pergi, hingga mereka tercyduk disatu kamar dengan keadaan seperti ini.
Daffa menghembuskan napasnya pelan. Sungguhlah Ia dalam dilema besar saat ini. Jika Ia mengiyakan permintaan pria itu, Ia benar-benar harus siap lahir dan batin menjadi seorang suami untuk seorang gadis belia. Namun jika Ia menolak, Ia tak bisa membela dirinya dan tak bisa membuktikan jika dirinya memang tak bersalah.
"Bagaimana?" tanya papih Rio memastikan.
"Baiklah! Saya akan menikahi Riska, hari ini juga."
\*\*\*\*\*\*
Nikah euyyh🤣🤣 Jangan lupakan jejaknya yaa gaisss🤗
__ADS_1